Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Aneh tapi nyata


__ADS_3

Pengawal yang membuntuti Aira menelpon Aldi dan memberi tahu apa saja yang di lakukan sang istri.


Aldi bersama sekertarisnya di dalam kantor, mereka menyiapkan berkas-berkas untuk presentasi, karna sebentar lagi ia akan meeting dengan beberapa Klein.


Saat sedang sibuk meneliti berkas yang akan di tanda tanganinya, ia pun mendapat telpon dari kedua pengawal istrinya tersebut.


"Hallo pak bos, kami sekarang berada di taman pinggir kota dan terlihat istri anda sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang muda dan tampan."


"Apa? Sial!" Aldi berdiri dan melempar berkas yang ada di atas mejanya.


"Astaga, " ucap sang sekertaris yang kaget karna melihat peringai Aldi yang tiba-tiba berubah mendadak.


"Sinta! batalkan meeting saya ada urusan mendadak!" Seru Aldi yang langsung keluar dari ruanganya.


"Tapi pak Klein kita sudah_" Sinta menghenti kan kata-katanya karna si bos sudah tak terlihat lagi.


Dengan geram Aldi berjalan cepat masuk ke dalam lift dan langsung menuju parkiran mobilnya.


Aldi menuju tempat yang di tunjuk sebagai lokasi keberadaan sang istri, urat-urat Aldi menegang dengan mata yang nanar menatap jalanan yang ia tempuh.


Sementara di dalam mobil, Tari mendengarkan percakapan Aira dan Romeo, Tari menjadi cemburu tak kala mendengar rayuan dan kebucinan yang Romeo tunjukan kepada Aira.


"Ah loh Rom, kenapa dengan gue ngak pernah seromantis itu sih, " dengusnya dengan masih mendengarkan percakapan tersebut melalu earphonenya.


Tari memperhatikan dengan teliti gerak gerik kedua insan yang berada di bangku, yang tak begitu jauh dari posisinya sekarang.


Melihat Aira dan Romeo berpelukan sontak membuat Tari kaget, namun yang membuat ia semakin kaget adalah kehadiran Aldi yang tiba-tiba tersebut.


"Ya ampun Aldi,.aduh mampus gue,.mereka bisa bertengkar nih, "dengus Tari, ia pun menutup matanya karna tak sanggup melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.


Benar saja Aldi yang sudah emosi,.berjalan cepat seperti banteng yang ingin menyerunduk mangsanya.


Langkah Aldi semakin cepat tak kala melihat Romeo yang seperti begitu menikmati pelukan hangat istrinya.


Tangan gemetar Aldi mencengram kerah baju kaos yang di kenakan Romeo dari belakang.


Bruk....uk dengan sekuat tenaga ia menghempaskan tubuh Romeo hingga ambruk di tanah dan dalam beberapa detik saja Aldi mendaratkan pukulanya berkali-kali di wajah Romeo.


"Abang!!"pekik Aira, kejadian yang sangat cepat tersebut sempat membungkam mulut Aira.


"Mas Aldi! sudah Mas!" ucap Aira yang panik melihat Aldi yang brutal memukul wajah Romeo,sementara Romeo ia hanya mengelak beberapa kali tanpa melawan Aldi, Romeo sadar jika saat itu dirinyalah yang salah.


Namun seolah tak puas Aldi terus menghujamkan pukulanya mesti terkadang meleset.


"Sudah Mas ! Aira mohon," pinta Aira memelas, ia menangis ketika melihat darah segar mengucur di tepi bibir Romeo.


"Sudah Mas!!" Aira menghalangi Aldi untuk meanjutkan seranganya, ia pun berdiri di antara keduanya.


"Sudah Mas, ini salah Aira, Aira yang meminta bang Romeo untuk menemui Aira," ucap Aira dengan sedikit terisak.


Romeo menyeringai kesakitan, sebenarnya bukan nya ia tak mampu melawan Aldi, ia sendiri merasa jika saat itu ia lah yang bersalah.


Aldi menatap tajam kearah Aira, tubuhnya gemetar karna menahan emosinya, ia begitu cemburu melihat adegan tersebut.


Tapi melihat Aira yang seperti ketakutan, Aldi membuang mukanya kearah lain sambil mendengus kesal.


"Maaf Mas," ucap Aira yang merasa menyesal, ia pun menyadari kesalahnya, Aira menundukan wajahnya.

__ADS_1


Tanpa di duga Aldi menunjukan reaksi yang berbeda, yang langsung merangkul tubuh Aira," Aira sayang... ayo kita pulang," ucap Aldi dengan mesra seolah tak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.


Aira tergaman terpaku melihat keanehan Aldi, bahkan saat dirinya salah pun Aldi tak menunjukan emosinya dan masih bersikaf lembut dan Romantis terhadapnya.


"Iya, mas Aldi sayang, "sahutnya sambil merangkul mesra tangan Aldi.


Mereka berdua pun meninggalkan Romeo yang sedang meringis.


Aldi tersenyum saat melihat wajah Aira, namun Aira melihat ada sesuatu yang aneh dari senyum tersebut.


Aldi merangkul tangan Aira dengan tangan yang gemetar karna masih merasakan emosi.


Aira sendiri merasa ada yang aneh dari sikaf Aldi tersebut, biasanya Aldi akan marah dan berkata-kata kasar terhadapnya jika ia melakukan kesalahan.


"Apa mungkin mas Aldi akan menghukumku?" Aira bermonolog dalam hatinya, ia pun menatap hati-hati pada wajah pangeran tampanya tersebut.


Suasana terasa kaku karna Aira sendiri merasa jika Aldi masih sangat emosi.


"Mas Aldi sayang kita mau kemana?" Aira memberanikan diri untuk memulai dialog mereka.


"Kekantor sayang, mas Aldi ada meeting," sahut Aldi dengan lembut.


Aira menelan ludahnya, ia semakin bingung melihat tindak tanduk Aldi yang sangat berbeda, bahkan Aldi tak memarahinya sedikit pun padahal jelas-jelas Aldi melihat ia dan Romeo sedang berpelukan.


Mereka pun sampai di mobil, dengan sigaf Aldi membuka kan pintu untuk Aira, kemudian ia berlari kecil menuju sisi lainya.


Setelah memasang seatbelt pada Aira, ia juga memasang seatbelt untuk dirinya, dengan kecepatan minimum ia memutar mobilnya perlahan bergerak keluar dari tempat itu.


Aira masih binggung dengan sikaf Aldi, apa sebenarnya yang terjadi pada Aldi, ataukah ini hanya sandiwara Aldi untuk menghukumnya setelah ini.


Berkali-kali ia melirik wajah suaminya terlihat tegang tersebut.


Dengan tangan yang bergetar dan nafas yang memburu, Aldi memeluk Aira serta mencium pucuk kepalanya, Aira menggigit ujung kukunya melihat keanehan yang terjadi pada suaminya, bahkan detak jantung Aldi terdengar berdegup kencang di telinga Aira, menandakan ia berusaha melawan emosinya.


***


Tari panik melihat keadaan Romeo dari kejauhan, setelah Aldi dan Aira meninggalkan tempat itu, barulah ia turun dari mobil dan menghampiri Romeo yang sedang meringis menyentuh perut bagian kirinya.


Romeo merasa kesakitan karna pukulan Aldi tepat mengenai luka operasi di bagian perut sebelah kiri, ia sedikit mengerang hingga harus meringkuk menahan sakit pada bagian luka jahitanya.


Dengan tergesa-gesa Tari menghampiri Romeo.


"Rom, lo ngak apa-apa kan? " tanya Tari panik, ia menyentuh pundak Romeo agar Romeo menggangkat kepalanya.


Akh, Romeo meringis, dengan tetap menyembunyi kan wajahnya.


Tari semakin panik, ia sangat mengkhawatirkan Romeo.


"Rom, biar gue lihat keadaan loh, apa yang sakit Rom?" netranya mulai berkaca-kaca karna sedih melihat orang yang ia cintai tengah meringis kesakitan.


Romeo tak menjawab ia hanya menggelengkan kepalanya.


Luka yang Romeo rasakan pada tubuhnya tak seberapa sakit dengan luka hatinya saat itu.


"Rom gue bantu loh berdiri ya?" Tari meraih tangan Romeo untuk berdiri tapi di tepis olehnya.


"Gue ngak apa-apa, "cetusnya seraya mencoba bangkit sendiri.

__ADS_1


Ketika Romeo bangkit baru lah Tari bisa melihat luka pada wajah Romeo, yang terlihat jelas adalah luka di tepi bibir dan hidung Romeo yang mengeluarkan darah segar.


Alangkah kagetnya Tari melihat keadaan Romeo saat itu, dengan gemetar ia mencari sesutu untuk membersihkan luka pada wajah Romeo.


Tari menarik beberap lembar tissu basah yang ada di tasnya, dengan tangan yang gemetar ia pun menjangkau wajah Romeo dengan lenganya.


"Akh," Romeo meringis saat luka tersebut menyentuh tissu yang mengandung alkohol.


Romeo meraih tissu pada genggaman Tari kemudian ia mengelap sendiri pada luka bagian wajahnya.


"Rom maaf-" Tari.


"Gue ngak apa-apa," sahut Romeo yang hendak berlalu meninggalkan tempat itu.


Romeo berjalan sambil membersihkan sisa noda darah pada wajahnya, sementara Tari membuntutinya dari belakang.


Rom, loh ngak apa-apa? atau kita kerumah sakit saja Rom?" ucap Tari sambil berjalan di belakang Romeo.


"Gue ngak apa-apa," sahut Romeo datar.


"Tapi Rom, gue khawatir melihat kondisi loh! kita kerumah sakit saja, lo punya luka bekas operasikan jadi_."


Gue ngak apa-apa Tari, sahut Romeo sambil mendengus.


"Tapi Rom, bagaimana_"


"Gue ngak apa-apa Tari! bentak Romeo sambil berpaling melihat kearah Tari.


Tari kaget seketika wajahnya tertunduk, air mata pun perlahan menetes di pipinya.


Melihat Tari yang syok karna bentakannya, Romeo merasa bersalah.


"Gue ngak apa-apa Tari,lo ngak usah khawatir, " ucap Romeo dengan nada yang melemah.


Tari terisak, beberapa detik mereka bungkam, mata Romeo masih memperhatikan Tari yang berdiri dan menangis di hadapanya.


"Tapi gue sangat mengkhawatirkan loh Rom, gue ngak bisa tenang sebelum memastikan keadaan loh baik-baik saja," tutur Tari terbata-bata karna menahan isakanya.


Romeo merasa bersalah, ia pun memeluk Tari," Maaf ya Tar, gue sudah membentak loh, tapi beneran gue ngak apa-apa," ucap Romeo sambil mengusap pundak Tari untuk menenangkannya.


Tari merasa senang berada dalam dekapan kekasih hatinya, ia sangat berharap suatu saat cintanya dapat berbalas.


"Please Rom, lo ikut gue kerumah sakit, gue ngak mau terjadi sesuatu pada loh Rom," ucap Tari masih merangkul Romeo.


"Ngak lah, gue sudah biasa berantem Tar,jadi ngak akan terjadi apa-apa, sudah ya lo ngak usah khawatir,"ucap Romeo sambil melepas pelukanya.


"Ya sudah gue ikut loh pulang, gue takut terjadi sesuatu pada loh di jalan, " bujuk Tari.


"Iya deh, kita kebengkel saja, semalam gue nginap di rukonya Doni."


Tari tersenyum simpul, ia pun menggangguk.


Mereka pun berjalan beriringan, dengan berani Tari mengait lengan Romeo dan menggandengnya, Romeo melirik sebentar kearah lenganya, ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tari tersenyum simpul, hatinya berbunga-bunga karna bisa menggandeng tangan sang pujaan hatinya, lamunan nya pun melalang buana membayangkan jika saat ini ia dan Romeo berjalan menuju pelaminan. (ngak segitunya juga keles 😆😆😆)


wow apa yang terjadi dengan Aldi ya?

__ADS_1


Bagaimana selanjutnya kisah cinta Tari dan Romeo ya?


tetap dukung author dengan cara like, komen dan vote, bunga dan kopi juga boleh, he he


__ADS_2