Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bersiap


__ADS_3

Malam minggu ini Dinda tengah menikmati makan malamnya bersama keluarganya, wajahnya terlihat murung.


"Dinda beberapa hari ini kok mama ngak pernah melihat Arsel? " tanya Dasti karna melihat Dasti yang terlihat murung.


"Ngak apa-apa kok Ma."


Hubungan Arsel dan Dinda merenggang sejak Arsel mencurigai Dinda yang ternyata menyukai Arsyad.


Meski belum ada kata putus dari Arsel.Namun, sejak beberapa hari ini ia tak pernah bicara secara langsung maupun melalui sambungan telpon.


Setelah makan Dinda menuju kamarnya berbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya.


Apa aku harus kembali mendekati Arsyad? ' batin Dinda.


***


Nando sedang berada di kamarnya, ia sedang melakukan sambungan telpon.


"Bagaimana? persiappan akad Nikahnya?"


"Beres Pak, kami sudah meminta salah satu ustadz di sini untuk menikahkan keponakan Bapak, calon mempelai prianya juga sudah hadir di sini. "


"Bagus! sesampainya di sana, akad nikah harus segera di laksanakan! " Nando.


Nando menutup telponnya dengan senyum sumringahnya.


"Bagaimana dengan rencana kita Papi? " tanya Mala sembari mendekat ke arah Nando.


"Sudah beres Mami, papi menyuruh Frans untuk membawa Nisa berbulan madu ke tempat yang jauh dari sini. Dengan demikian Nisa tak bisa kabur lagi, dan mau tak mau ia akan ikut kemana saja suaminya dan melupan pacarnya itu. Supaya kita bisa leluasa mencari berkas-berkas berhaga milik ayahnya." Nando.


"Ehm, lalu bagaimana dengen aset dari Herman? apa setelah mendapatkannya kita sudah bisa langsung mengalihkan atas nama kita? " tanya Mala.


"Belum, satu-satunya jalan adalah dengan menjual aset mereka, kita manipulasi data kita bilang jika hutang Herman sangat banyak dan hanya bisa di bayar dengan menjual aset-asetnya. Nisa masih polos dia tak akan tahu hal sebenarnya.


"Tapi Papi apakah akan semudah itu Papi? "


"Tenang saja Mami! kalau ada uang semua beres. " Nanto tersenyum menyeringai. Begitu pun dengan kedua pasangan tersebut mereka sudah tak sabar menikmati hasil penjualan aset dari harta peninggalan orang tua Nisa.


Nando dan ayah Nisa memang bersaudara, tapi dari dulu mereka tak pernah akur karna kecemburuan Nando. Karna Orang tua mereka mempercayakan perusahan keluarganya pada ayah Nisa.


Semenjak itu Nando berusaha menyingkarkan sang kakak.


***

__ADS_1


Pagi-pagi sekali Nisa sudah menyiapkan beberapa lembar pakaiannya dan di masukan kedalam tas ranselnya.


Sebelum men-silent smartphone-nya.Nisa terlebih dahulu menelpon Arsyad.


"Assalam mualaikum, selamat pagi!" sapa Arsyad ketika melihat Nisa yang tampak cantik di layar smartphone-nya.


"Waalaikum sallam. Syad aku sudah mau berangkat nih, doain ya semoga tak terjadi sesuatu di perjalanan. Jujur saya aku trauma melakukan perjalanan jarak jauh."


Arsyad yang tadinya tegah berbaring, langsung bangkit. "Kalau kamu merasa ngak enak hati, ya kamu ngak usah ikut. "


"Tapi ngak bisa Syad.Tante ku maksa aku agar aku ikut, katanya ada sesuatu yang penting."


Arsyad menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Ya sudah, aktifkan GPS kamu, Nanti aku ikut kamu dari belakang."


"Ha, Jangan! Nanti ketahuan Syad. "


"Kamu tenang saja, aku hanya ingin memastikan jika keadaan kamu baik-baik saja."


"Kamu ngak nginapkan? " tanya Arsyad.


"Ehm, kata tante ku sih cuma sehari saja." Nisa.


"Ehm, ngak usah repot, aku bisa jaga diri ku sendiri kok. " Nisa.


"Ngak repot kok Nis, aku hanya ingin memastikan keadaan kamu baik-baik saja. Karna aku pasti menyesal jika sesuatu terjadi pada kamu. "


" Ehm terserah deh.Kalau gitu aku tutup telponya dulu ya, mereka pasti sudah menunggu ku. " Nisa.


"Assalamualikum," Nisa.


"Wa'alaikum salam," Arsyad.


Arsyad langsung turun dari kamarnya dan menuju kamar Aldi.


"Bunda!" tok! tok! tok!


Tak berapa lama kemudian Aira membuka kan pintu.


"Ada apa sih Dek! Adik kamu lagi tudur! ribut saja pagi-pagi."


Arsyad masuk dan duduk di tempat tidur .

__ADS_1


"Yah Arsyad ijin mau ke luar kota, temani Nisa."


"Hah! "Aldi yang tengah bermalas-malasan segera bangkit.


"Ngapain kalian keluar kota Dek?!" tanya Aldi syok.


"Ngak apa-apa sih Yah, aku hanya mengkhawatirkan Nisa yang di ajak oleh paman dan tantenya keluar kota. Mendadak lagi. "


"Emang kenapa sih Dek, ya wajarlah mungkin mereka lagi liburan. " Aira.


"Bukan begitu Bunda, menurut cerita Nisa akhir-akhir ini Tante dan Omnya tuh bersikap baik sama dia, padahal sebelumnya mereka itu sering berlaku kasar pada Nisa, dan aku pernah beberapa kali aku melihat dan menyaksikan langsung Nisa di marahi oleh tante dan omnya. Bahkan aku punya video dan rekaman suara ketika Nisa di marahi dan mereka menjambak rambut Nisa. "


Arsyad membuka video dan rekaman yang menampilkan kekerasan yang di rekam olehnya.


Dalam record tersebut memperdengarkan suara Nisa yang menangis karna rambutnya di jambak oleh Mala.


Aira dan Aldi saling memandang.


"Bukan itu saja Bun, Nisa mengira ada konspirasi untuk mencelakai dan merebut harta milik ayahnya. Dan Nisa mencurigai semua ada kaitannya dengan pamannya tersebut. Aku khawatir Bunda, Nisa akan kembali jadi korban seperti keluarganya." Arsyad.


"Apa benar begitu Dek ?" tanya Aira.


"Iya Bunda, aku khawatir saja, makaya aku minta ijin untuk membuntuti mobil yang membawa Nisa," papar Arsyad.


Aldi dan Aira kembali saling memandang. Jika mereka mengjinkan Arsyad pergi sendiri mereka begitu khawatir.


"Ya Sudah Dek, kamu pakai supir pribadi saja, Ayah akan utus beberapa orang bodyguart untuk mengawasi dan menjagamu. Laporkan kepada kami segala sesuatu yang terjadi." Aldi.


"Iya Dek, Nanti Bunda akan konpirmasi langsung dengan pihak kepolisian setempat, jika memang ada tindak pidana atau perbuatan yang tak menyenangkan terjadi di sana." Aira.


Arsyad tersenyum, ia pun menghambur memeluk Aira. "Terima kasih Bunda," ucapnya seraya mencium Bunda.


Arsyad kembali menghampiri Aldi.


"Terima kasih Ayah," ucap Arsyad yang menghambur memeluk Aldi.


"Iya Dek, tapi kamu harus hati-hati ya. Jangan gegabah. Nanti akan,ada beberapa orang yang akan membantu kamu jika kamu menghadapi masalah," ucap Aldi sambil mengacak rambut Arsyad.


"Kalau begitu aku pergi dulu Ayah-Bunda." Arsad.


"Iya Hati-hati." Aldi dan Aira.


Arsyad keluar dari kamarnya dan bersiap untuk pergi ke luar kota. Ia melihat GPSnya untuk mengetahui keberadaan Nisa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2