
Sudah tiga hari sejak peristiwa tersebut terjadi, Aldi, Tari dan juga Heru mereka tak pernah keluar dari kamar setelah itu.
Masing-masing mereka merasa malu untuk menunjukan wajah mereka, yang paling berdampak dari ketiganya adalah Tari, Tari sempat syok dan kehilangan kepercayaan dirinya, ia malu untuk bertemu orang.
Tari mengurung diri di dalam kamarnya di temani Maya yang selalu setia mendampingi dan membujuk Tari untuk mengembalikan rasa kepercayaan dirinya.
Bagaimana tidak, bertahun-tahun menjalin cinta bersama Aldi, hingga mereka hampir kebablasan, kini ternyata ia tahu bahwa Aldi adalah saudaranya, begitu pun dengan Heru, ia dan Heru yang menikah dan hampir saja meleka melakukan hubungan sebagai suami istri, yang ternyata Heru adalah abang kandungnya, Tari benar-benar terpuruk dan membuatnya menjadi seorang yang minder.
Sudah tiga hari ketiga saudara itu tak bertemu, apalagi saling menyapa, Aldi dan Heru bahkan tak pernah ke kantor setelah kejadian tersebut.
Selain merasa malu, Heru tak ingin bekerja apalagi sampai meminpin perusahan tersebut, karna sebagian sahamnya masih atas nama Rita.
Betapa Heru merasa malu terhadap adiknya sendiri, ia bahkan mencubui adik kandungnya dengan penuh gairah pada malam itu.
Heru duduk di atas ranjangnya sambil menjambak rambutnya sendiri, seraya menangis dalam diamnya.
Sedih,marah, kecewa perasaan itu menghantuinya saat ini dan membuatnya kehilangan keberanian untuk bertemu banyak orang.
Satria telah mekakukan tes DNA pada Tari, untuk membuktikan kebenaran dari semua keterangan Aldi.
Dan hasilnya tes menyatakan jika Tari memang mewarisi kromosom kedua orang tuanya yaitu Maya dan Satria.
Berita yang membahagian dan mengharukan untuk Maya, bertahun tahun ia menanti untuk bertemu sang putri, meski kenyataan tak seperti yang ia rasakan.
Selama ini Maya memang merasa jika Rahma masih hidup, ia selalu memimpikan gadisnya tersebut, hingga membuat Maya hampir depresi, naluri seorang ibu mengatan jika Rahma masih hidup, namun keyakinan Maya tersebut di tentang oleh Satria, Satria merasa jika Maya tak bisa menerima kenyataan, jika bayi perempuan mereka meninggal sesaaat setelah di lahirkan.
Sudah tiga hari Maya dan Tari berada di kamar, hanya sesekali Maya keluar, seolah ingin meluapkan rasa rindu dan kasih sayang yang selama 22 tahun terpisah, Maya tak pernah beranjak sedikit pun jauh dari Tari.
" Bagaimana Pa hasil tes DNA nya?"tanya Maya pada Satria yang baru saja dari rumah sakit.
"Iya Ma, Tari adalah Rahma, putri kandung kita, papa sendiri tak tahu bagaimana caranya Rita bisa menukar bayi kita dengan bayi orang lain," ucap Satria dengan mata yang berembun.
Maya merasa senang dengan berita tersebut,ia kembali memeluk Tari dalam dekapanya, begitupun Satria, meski pada awalnya Satria kurang yakin jika Tari adalah anaknya.
Satria memeluk dan mencium kening Tari, tiba-tiba saja ia merasa kan kerinduan dan kebahagian karna tanpa di duga, putri mereka kini ada di hadapan mereka, ketiganya saling memeluk haru dan bahagia.
Heru menghempas kan tubuhnya di tempat tidur sambil menjerit, Akh.....Ia berusaha melupakan kejadian malam itu, tapi selalu saja tak bisa lupa, kejadian tersebut benar-benar mengubah sosok seorang Heru, Heru melempar dan membanting semua yang ada di hadapanya, dan itu membuat Satria menjadi khawatir akan Heru.
Setelah keributan yang terdengar di kamar Heru, Satria pun langsung menemui putra sulungnya tersebut, setelah menemukan kamar Heru yang berantakan, ia mencari Heru ke semua sudut ruangan dalam kamar tersebut dan menemukan Heru yang melamun di balkon kamarnya.
Satria menghampiri Heru, yang berada di balkon kanmarnya.
Satria menepuk pundak Heru dari belakang.
"Apa yang terjadi pada mu Nak?" Tanya Satria.
Heru hanya diam sembari mengedarkan pandanganya kesegala arah.
Mata Heru memerah, sifat tenang dan sabar dari Heru tak lagi terlihat saat itu, Heru terlihat berantakan.
Satria berdiri di samping Heru, ia masih menepuk nepuk pundak kekar anak sulungnya tersebut.
"Pabrik kita mengalami masalah Heru, dan apa kau akan berdiam diri seperti ini saja? menunggu pabrik kita sampai di tutup?" tanya Satria.
"Biarkan saja, kenapa Heru harus peduli? bukan kah pabrik itu milik Aldi dan mamanya? Kenapa tidak menyuruh Aldi saja untuk mengurusnya?" Jawab Heru dengan ketus.
__ADS_1
Satria menghela nafas panjang, ia sangat mengerti dengan perubahan sikaf Heru sejak peristiwa beberapa hari yang lalu.
"Papa tahu kamu marah, kau sedih kecewa dan sebagainya, tapi kamu harus ingat Heru, kamu dan Aldi tetaplah bersaudara, apa yang di lakukan oleh mamanya bukan lah kesalahan Aldi, Heru."
Heru menitikan air matanya," Heru tak menyangka ternyata sampai saat ini bunda Rita masih dendam terhadap Mama pa, bahkan apa yang di lakukannya tersebut sangat kejam!, bagaimana mungkin ia terpikir untuk menikahkan kami, sedangkan ia sendiri tahu kami bersaudara, dan Mama, bertahun tahun mama berusaha melupakan kepergian putrinya, mama sangat terpukul Pa, begitupun Tari, seharusnya dia tumbuh diantara kita, begitu teganya bunda Rita terhadap kita Pa, lalu kenapa Heru harus peduli kepada dia dan anaknya," tutur Heru ia kembali meneteskan air mata.
Satria memeluk putra sulungnya sambil mengusap dada Heru.
"Kamu boleh Nak, marah, kesal, tapi jangan sampai merubah perasaan kamu terhadap Aldi, bagaimana pun juga Aldi adalah saudara kamu, sampai kapan pun," ucap Satria.
"Sebagai anak tertua, kamu lah yang akan menggantikan papa saat papa tiada, papa akan percayakan kedua adik kamu kepada kamu Heru, jangan pernah membeda-bedakan perasaan kamu terhadap Aldi, dia juga darah daging papa, sama seperti kamu dan Tari, jika kamu menyakitinya, maka sama saja kamu menyakiti papa, tapi jika kamu menjaga dan melindungi Aldi, maka sama saja kamu melindungi dan menjaga Papa," ucap Satria dengan haru.
"Dari dulu papa tak pernah mengajarkan perbedaan antara kamu dan Aldi, bahkan papa selalu membeli pakaian, mainan dan segala sesuatu untuk kalian dengan barang dan jumlah yang sama, tak pernah ada perbedaan di antara kalian."
"Kita adalah keluarga Aldi, dan hanya kita yang dia punya, bukan kah kamu sangat menyayangi Aldi nak? Lalu kenapa perasaan kamu bisa berubah?" Tanya Satria.
"Heru kecewa Pa, perasaan Heru sakit, bunda Rita telah menyakiti mama dan adik Heru, Heru masih tak bisa menerimanya," papar Heru menangis memeluk papanya.
"Iya sayang tapi kamu adalah ujung tombak kedua adik kamu, kamu harus bisa memimpin dan menjaga mereka, cuma kamu yang bisa papa andalkan untuk menjaga mereka."
"Bersihkan hati kamu Heru, jangan biarkan rasa sakit hati kamu menjadi dendam, jika seperti itu, lalu apa bedanya kamu dan Rita."
Heru menanggis melepaskan pelukanya pada Satria, ia meringkuk memikirkan ucapan papanya, semua yang di katakan papanya memang benar, tapi tak semudah itu ia bisa melupakan peristiwa yang mengancurkan nama baik ia dan keluarganya, bahkan ia dan Tari harus menanggung malu akibat dari pembatalan pernikahan mereka.
Apa yang akan di katakan orang terhadapnya, jika ia telah menikahi adiknya sendiri.
Heru menatap kearah depan tatapan matanya kosong, seperti sedang memikirkan beban berat.
"Heru!" Panggilan Satria membuyarkan lamunan Heru.
"Ayo Heru, kamu bangkit lagi dan rangkul adik-adik kamu dalam pelukan kamu, mereka juga terluka, dan kamu harus menjadi contoh bagi keduanya, sebesar apa pun masalah yang kalian hadapi, kalian tetap bersaudara, dan sebagai anak tertua kamu lah yang harus bangkit duluan, bantu mereka untuk bangkit dari keterpurukan mereka Nak," ucap Satria sambil menarik tanggan Heru untuk bangkit.
Heru bangkit dan menatap sendu mata sang ayah yang sedang berbinar menatapnya.
"Kamu adalah kebanggaan papa Heru, selamanya akan jadi andalan bagi papa, seperti nama kamu Khairunman yaitu lelaki terbaik, kamu akan jadi lelaki terbaik, terbaik untuk keluarga kamu untuk anak dan istri kamu kelak, juga terbaik untuk adik-adik kamu," papar Satria dengan menatap bangga anaknya.
Heru merasa terharu seketika ia menghambur memeluk Satria.
***
Aira mengusap lembut rambut Aldi di pangkuannya.
Sudah tiga hari Aldi tak pernah keluar dari kamar.
"Mas," ucap Aira yang membangunkan Aldi yang tertidur di pangkuanya.
"Hm, kenapa sayang?" tanya Aldi dengan mata yang terpejam.
"Mas, sampai kapan mas akan seperti ini? Kenapa mas Aldi seolah menghindari semua orang di rumah ini?" tanya Aira dengan nada yang lembut.
Aldi membalikan tubuhnya menghadap Aira, sapuan lembut Aira mampu menyejukan hatinya dan meredam emosinya.
Aldi menjangkau wajah Aira dan mengusap lembut pipinya, Aira melempar senyum manis pada suaminya tersebut, kemudian ia meraih tanggan Aldi yang mengusap pipinya, dengan penuh perasaan Aira mengecup punggung tangan Aldi.
"Mas Aldi belum siap Aira, mas Aldi malu pada keluarga mas Aldi sendiri." Paparnya pada Aira ia pun bangkit dari baringnya dan duduk menghadap istrinya.
__ADS_1
Aldi menghempaskan nafas panjang nya, menatap wajah cantik wanita yang ada di hadapanya.
"Tapi mas, ini bukan kesalahan mas Aldi, mas Aldi ngak perlu khawatir, mereka tak kan pernah menyalahkan mas Aldi atas kejadian ini," ucap Aira lembut dengan tanggan yang menakup wajah tampan suaminya.
Aldi menelan salivanya, wajahnya tertunduk sesaat, sejurus kemudian ia memeluk Aira.
"Bukan itu yang membuat mas Aldi resah Aira, adalah hal yang wajar jika mereka mengucilkan mas Aldi di keluarga ini, mengingat apa yang dilakukan mama terhadap mereka, tapi yang mas Aldi takutkan adalah, apa yang mama lakukan akan menjadi karma untuk kita dan anak-anak kita sayang."
"Seperti Edo yang harus menanggung karma atas perbuatan ayahnya, hingga ia harus menikahi perempuan yang telah di rusak oleh Retno, mas Aldi takut kejahatan yang di lakukan oleh mama harus di tanggung oleh kita, Mas ngak mau anak-anak kita mengalami nasib serupa Aira," ucap Aldi sedih.
Aira semakin erat memeluk Aldi, mendengar penuturan Aldi, Aira juga merasa takut, ia merasa takut saat karma tersebut terjadi di hadapanya.
"Berjanjilah Aira seperti apa pun masalah yang menimpa rumah tangga kita, kamu ngak akan meninggalkan mas Aldi."
Aira mengulas senyum simpul," Ia mas, itu semua tergantung mas Aldi, bagaimana caranya menjaga rumah tangga kita Mas, bukanya mas Aldi sendiri adalah kepala keluarga, Aira akan ikut kemana saja mas Aldi membawa bahtera rumah tangga kita."
"Tapi sebagai istri mas, kamu juga harus lebih mengerti mas Aira, jika mas Aldi emosi, kamu harus bisa menenangkan mas Aldi, bukan malah menambah mas semakin emosi."
"Bagaimana caranya kita bisa mempertahan kan rumah tangga kita Aira, jika kita tak saling mengerti, kamu lihat sendiri betapa hebatnya badai yang mengguncang di awal pernikahan kita Aira, kita kehilangan calon anak kita, kita hampir berpisah dan kini kamu sedang menghadapi kasus hukum yang besar karna mas Aldi."
Aira tersenyum simpul "Setiap masalah pasti ada jalan penyelesaianya, jika kita berniat menyelesaikanya, tapi jika kita lari, maka masalah tersebut malah semakin mengejar kita." Aira.
"Ayo Mas, kita temui mereka, kita selesaikan masalah ini," ajak Aira sambil menarik lembut tangan Aldi.
Aldi menggangguk dan menuruti Aira, mereka pun keluar dari kamar.
Aira mendengar suara sedikit berisik di kamar Tari, ia pun menarik lembut tangan Aldi menuntunnya menuju kamar Tari dan mereka berdua di kejutkan dengan suasana haru dimana Tari dan Heru saling berpelukan seraya menangis haru, begitupun Satria dan Maya.
Heru yang menyadari kehadiran Aldi dan Aira, ia pun melepaskan pelukanya terhadap Tari, Heru berpaling dan menghampiri Aldi dan Aira.
Aldi merasa gugup, ini lah pertama kalinya mereka berdua bertemu, dan ia sendiri merasa jika terakhir kali ia dan Heru bertemu mereka terlihat sungkan.
Heru kini berada di hadapan Aldi, dengan menundukan wajah dan menggigit bibirnya Aldi menguatkan tekadnya untuk meminta maaf.
"Maaf kan Aldi Mas," ucapnya gagap,dengan wajah yang masih tertunduk.
Heru menggangguk pelan, ia pun menarik tangan Aldi mendekati Tari.
Setelah mereka bertiga berkumpul pada satu titik, Heru merangkul kedua adiknya dan memeluk mereka.
Kedua adiknya pun saling memeluk Heru.
Mereka seketika menangis haru," Kini kita tak lagi berdua bersaudara Di, kita adalah tiga bersaudara yang akan saling menjaga dan menyayangi, tak ada perbedaan antara kita, kau dan Tari adalah Adik mas Heru, kalian sama dan mas Heru tak kan pernah membedakan kalian Di, " ucap Heru, mereka pun saling merangkul, Heru menciumi pucuk kepala kedua adikya, menandakan kasih sayangnya sebagai seorang kalak tertua.
Adegan tersebut membuat Satria dan Maya haru, mereka pun memeluk ketiga anaknya dan di ikuti oleh Maya.
Adegan tersebut membuat siapa pun yang melihatnya menjadi menangis haru, kejadian tiga hari yang lalu malah semakin membuat mereka dekat dan saling menyayangi.
Tinggalah Aira sendiri, melihat menantunya berdiri mematung, Satria memanggilnya.
"Kemarilah Aira bukan kah kau adalah bagian dari kami juga," ucap Satria.
Aira yang ikut merasakan haru tersebut, kemudian berlari menghambur memeluk kelimanya, mereka pun merenggangkan pelukan untuk menerima Aira dalam pelukan mereka.
Hehe, jadi baper, kalian ngak baper? iya deh tinggal kan like komentar dan lain lainya ya, terima kasih karna masih setia nembaca karya author remahan ini 😆.
__ADS_1