Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Patah hati


__ADS_3

"Tapi Bunda Alia_"


"Alia! Ayah dan Bunda tak akan pernah merestui kamu, kami tak punya masalah dengan Bagas, kami bersimpati terhadapnya, tapi darah yang mengalir pada diri Bagas lah, yang membuat kami tak bisa menerima Bagas, sampai kapan pun!" Aldi.


Hah, Alia mendongkak kan kepalanya menatap Aldi.


Ayah dan Bundanya tak pernah membentaknya apalagi berkata kasar, tapi hari ini, kedua orang tuanya tersebut menunjukan sikap emosional yang tinggi saat ini.


Alia tertunduk, ia tak kuasa untuk membantah.


"Maaf Kak, seandainya Kakak punya calon lain selain Bagas. Bunda mungkin bisa pertimbangkan, tapi tidak jika dengan Bagas Kak!" Aira.


Alia semakin tak mengerti, apa sebenarnya yang terjadi.


Seandainya ayah Bagas yang bersalah, kenapa dia yang harus menanggungnya.


"Sekarang Ayah tanya sama kamu! kamu punya calon lain sekain Bagas?!"tanya Aldi dengan tegas.


Alia menatap Aldi seraya menangis, ia pun mengelengkan kepalanya.


"Tapi Alia cinta sama Bagas Yah, hiks hiks hiks," ucap Alia seraya menangis.


"Tidak! sekali tidak ya tidak Alia! kalau kamu sudah tak punya calon lain, maka kamu harus mau Ayah jodohkan dengan Ghael!"


Hah Alia mendongkak kan kepalanya menatap Aldi hiks hiks hiks.


"Ayah ingin yang terbaik untuk kamu Nak, kamu harus mau menikah dengan abang, secepatnya ayah atur pernikahan kalian," ucap Aldi keduanya pun meninggalkan Alia yang menangis sendiri.


Alia kembali menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan kembali menagis.


***


Ghael merasa bahagia pulang kerumahnya ia langsung menelpon orang tuanya.


"Hallo assalammualaikum Bang," ucap Tari.


"Waalaikumsalam Ma, Ma uncle setuju dengan rencana Abang," ucap Ghael dengan mata yang berbinar menatap Tari.


"Alhamdullilah Nak," nanti Mama sama Papa segera datang untuk melamar Alia," ucap Tari bahagia.


"Tapi sebelumnya biar papa yang bicara pada uncle, guna menentukan tanggal lamarannya," papar Tari.


"Iya Ma, uncle bilang jika lebih cepat, lebih baik," papar Ghael.


"Iya sayang, sepertinya kamu atau uncle mu itu yang ngak sabar?"Tari dengan maksud menggoda anaknya.

__ADS_1


"Abang juga ngak sabar Ma," ucap Ghael malu-malu.


Tari tersenyum melihat wajah Ghael yang tertunduk malu.


"Mama juga ngak sabar pingin nerima menantu dan nimang cucu,"ucap Tari.


"Iya Ma, bukan orang lain juga, yang jadi menantu mama."Ghael tersipu


"Ehm kalau jodoh ngak kemana Bang, kamu persiapin saja semua Bang, nanti sisanya biar Mama yang urus." Tari.


Setelah bicara pada orang tuanya Ghael pun berbaring di atas tempat tidurnya seraya menatap langit-langit.


Aku tahu Alia kamu cuma menganggap aku saudara, meski saat ini belum ada cinta di hati kamu untuk aku, aku yakin suatu saat aku bisa membuat mu mencintai ku dan melupakan Bagas.


***


Di tempat terpisah Alita sedang menyantap makan malam dengan sedih dan tak bersemangat.


"Lita, kamu masih memikirkan Ghael?" tanya Dasti.


Doni pun menoleh ke arah putrinya, ia begitu kasihan pada Alita yang batal di jodohkan.


"Ngak kok Ma, " jawabnya lesu.


"Iya Ma, "jawab Alita, ia pun menikmati santapannya' setelah selesai, Alita langsung menuju kamarnya.


Doni dan Dasti saling melirik," Salah kita juga Pa, seolah memberi harapan palsu pada anak-anak kita, harusnya kita tak melakukan hal tersebut apalagi anak jaman sekarang pergaulan mereka luas," Dasti.


"Ehm, iya Ma, semoga saja Alita segera melupakan Ghael dan menemukan lelaki yang mencintainya dengan tulus."


Di tempat yang berbeda Alia dan Alita menangis di kamar masing-masing.


"Hiks hiks hiks, bagaimana perasaan Alita jika ia tahu kalau aku akan di nikahkan dengan Abang?" hiks hiks.


"Aku juga ngak bisa bayangkan apa yang terjadi dengan Bagas seandainya ia tahu cinta kami tak mungkin di restui, hiks hiks hiks."


"Oh Tuhan kenapa cinta serumit ini." Alia


***


Aldi berada di ruang kerjanya sedang melakukan sambungan telpon.


"Jadi Rom kapan kalian akan datang?" Aldi.


"Kalau kamu sudah setuju, acara lamarannya langsung pertunangan saja Di, sekalian keliarga besar kita di undang," Romeo.

__ADS_1


"Ehm, boleh juga, kira-kira kapan?"


"Minggu ini saja Di, kebetulan gue lagi ngak sibuk," ucap Romeo.


"Tapi Rom, loh sudah bilang sama Doni?"tanya Aldi.


" Sudah Di, si Doni juga ngerti dia, katanya dari pada mereka menikah tetapi rumah tangga mereka ngak harmonis, mending perhodohan tersebut di batalkan." Romeo.


"Ya sudah nanti kita undang mas Heru sekeluarga Rom sekalian menentukan hari pernikahan mereka," Aldi.


"Iya kok kayaknya loh yang ngebet sih Di?" tanya Romeo dengan nada bercanda.


"Iya, akhirnya gue punya menantu yang bisa gue andalalin buat ngelola perusahaan gue Rom, " sahut Aldi.


"Oh jadi itu makanya loh setuju nerima anak gue jadi mantu?"


"He he salah satunya ya itu," jawab Aldi dengan tawa terkekeh.


" Ah loh gue, aset gue tuh! gue yang sekolahin juga," dengus Romeo.


"Harus nya loh bersyukur, harta gue ngak kemana-mana, dari pada dengan orang lain? belum tentu juga dia cinta sama anak kita, siapa tau dia nikahin anak kita hanya karna harta?" Aldi.


"Bener juga sih Di, ya sudalah sampai jumpa hari minggu nanti."Romeo.


Mereka pun menutup telponnya.


Aldi kembali menui Aira yang terlihat bersedih duduk bersadar pada headboard tempat tidur mereka.


"Bun, kenapa lagi sih? kok sedih banget kayaknya?"tanya Aldi yang duduk dan menghampiri Aira.


"Gimana ngak sedih Yah, Bunda sebenarnya ngak tega sama Kakak, kita seperti terlalu memaksakan kehendak kita Yah, hiks hiks hiks, Aira menangis." Aira.


"Bun itu karna kita itu begitu mencintai anak kita Bun, Kakak belum pengalaman dengan hidup ini, jatuh cinta dan putus cinta itu hal yang wajar lah di usia seperti mereka..Ayah juga yakin suatu saat kakak pasti bisa menerima abang seperti kita dulu menikah juga bukan karna cinta, setelah menjalani rumah tangga bersama baru kita saling memahami satu sama lain, semua butuh proses Bun." Aldi.


"Dan yang paling penting, Ghael itu keluarga kita, keponakan kita Bun, sedangkan Bagas, Ayah ngak mau karna kehadiran Bagas sebagai bagian dari keluarga kita, Bunda akan selalu ingat tentang apa yang dilakukan Retno terhadap Bunda, belum lagi cucu kita yang akan lahir, dengan demikian setiap saat Bunda akan teringat dengan Retno itu," papar Aldi seraya memeluk istrinya.


Iya Yah, kadang Bunda berfikir kasihan juga sama Bagas, tapi mau gimana lagi, semua memang bukan kesalahan Bagas, tapi dengan hadirnya Bagas di rumah ini, Bunda takutnya akan selalu mengingat hal buruk yang pernah terjadi, sampai sekarang Bunda masih trauma Yah, papar Aira seraya menangis memeluk suaminya."


Aldi merangkul Aira.


"Pelan-pelan kita jelasin Bun sama Kakak, dia pasti mengerti, dan kita doakan semoga Bagas dapat jodoh yang terbaik." Aldi.


"Iya Yah, semoga saja," Aira.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2