
"Romeo!!"
Pekik Doni sambil mengejar Romeo, Doni melompat dan menerjang Romeo yang tersungkur.
Doni kembali menindih sahabat nya tersebut.
"Lo jangan nekat bro, kita sedang berurusan dengan hukum, lo bawa lari kemana saja Aira, mereka pasti bisa menemukanya." ucap Doni masih menindih tubuh Romeo.
Romeo menitikan air matanya, Doni pun berdiri agar Romeo bisa bangkit.
"Trus apa gue harus diam saja Don, gue ngak mau Aira di penjara Don, gue ngak mau hidupnya menderita di penjara Don," ucap Romeo dengan tubuh yang terguncang karna menahan tangis.
"Makanya lo tenang Rom, kita pikirkan cara, sekarang kita harus beritahu Aldi kejadian yang sebenarnya, lo tunggu di sini Rom, biar gue bicarakan baik-baik sama Aldi." Doni mulai melangkahkan kakinya.
"Tunggu Don gue ikut," Romeo pun berdiri.
"Jangan Rom, loh tunggu di sini, kalau loh di tangkap polisi lo pasti di introgasi, sekarang loh sembunyi, loh pegang hape gue, gue akan kasih kabar ke loh secepatnya Rom."
Doni merogoh tasnya untuk meraih ponselnya.
"Ini loh pegang, loh jangan kabur lagi ya Rom, lo pasti aman di sini, gue ngak mau loh di introgasi dan lo di pukul habis-habisan oleh mereka supaya loh ngaku di mana Aira."
"Trus gue hanya diam di sini tanpa berbuat sesuatu apa pun?" dengus Romeo.
"Doni menghela nafas panjang, Untuk sementara diam mu itu emas, kalau loh nekad lagi, maka bukan cuma loh yang terkena dampaknya, tapi juga keluarga Lo," ucap Doni sambil menepak dada Romeo, ia pun berlalu.
Romeo mematung beberapa saat, ia coba mencerna kata-kata Doni, dan benar apa yang dikatakan Doni, ia hanya bisa bersembunyi, agar polisi tak mengendus keberadaanya dan meminta keterangan darinya.
***
Mendengar penuturan simbok, Heru langsung bergegas kembali kerumah sakit, rasanya ia harus mengcansel semua meetingnya, pikiranya pasti tak fokus, selain keadaan Aira yang memburuk, kini Aira dalam penangan kasus penusukan yang menyebabkan korbanya tewas.
Pikiran Heru begitu kalut, pasalnya ini bukan kasus main-main, ini kasus pembunuhan.
"Apa yang harus gue lakukan?" Tanya Heru pada dirinya sendiri.
Heru menggigit jarinya, "Apa gue harus telpon pengacara terhebat untuk mengurusi kasus Aira?"
"Apa karna ini Aira kabur bersama Romeo pada malam itu?"
__ADS_1
Berbagai pertanyaan terus terlontar dari mulut Heru, tapi hanya jawaban abstrak yang ia dapatkan, maklum saja Heru begitu kalut, apalagi ia tak tahu dengan jelas permasalahanya hanya membaca surat penangkapan tersebut secara sekilas.
Heru menepak jidatnya sendiri, kemudian menggigit bibirnya, ia binggung bagaimana cara memberi tahu Aldi, sedangkan saat ini Aldi juga sedang terpuruk.
"Ya Tuhan masalah apa lagi ini, aku yakin semua ini adalah alasan di balik kaburnya Aira bersama Romeo, Aira kenapa kamu ngak terus terang sama mas Heru Aira," sesal Heru, ia pun menitikan air matanya.
"Gue harus bicarakan masalah ini sama mama dan papa, gue ngak ngerti sama sekali, " guman Heru.
"Tapi yang terpenting keadaan Aira harus segera membaik, Aira pasti punya alasan di balik perbuatan nekatnya."
"Aira, Aira, semoga kamu sabar dan kuat dalam menjalani semua ini, aku berjanji akan melindungi kamu dan berupaya sekuat mungkin, agar kamu terbebas dari tuntutan ini," guman Heru, ia pun mempercepat laju mobilnya.
Doni mengejar mobil Heru, setelah mendapatkan keterangan dari satpam bahwa Aira di rumah sakit, Doni pun langsung menuju rumah sakit seraya membuntuti mobil Heru.
Keadaan jalanan cukup lenggang mungkin hari masih terlalu pagi, tanpa memakan waktu yang banyak Heru sudah memasuki halaman parkir di sebuah rumah sakit sementara Doni mengikutinya tepat berada di belakang Heru.
Heru berjalan cepat setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi., langkahnya menuntunya memasuki pintu utama dari rumah sakit tersebut.
Langkahnya tercekal tak kala mendengar seseorang memanggil namanya.
"Mas Heru!"
"Mas Aira sakit apa?" pertanyaan itu langsung terlontar dari mulut Doni karna ia juga merasa khawatir.
Aira bukanlah bukan siapa-siapanya tapi, ia sendiri merasa Aira punya magnet tersendiri yang membuat ia bisa begitu peduli dan simpati padanya, mungkin karna mereka mendengar kisah pedih di kehidupan masa lalu Aira.
"Aira keguguran Don," sahut Heru sambil melanjutkan langkahnya.
"Astaga, tapi kenapa mas?" tanya Doni bergedik, Doni berusaha mengimbangi langkah kaki Heru.
"Ceritanya panjang Don, dan sekarang ada kasus hukum yang menyeret Aira," sahut Heru, ia masih melanjutkan langkahnya.
"Jadi mas sudah tahu?" tanya Doni.
Heru menghentikan langkahnya sambil mengkerutlan keningnya," Jadi maksud mu kau sudah lebih dahulu tahu?"
"Iiya Mas, gue tahu dari Romeo dan alasan Romeo membawa Aira lari pada malam itu adalah untuk melindungi Aira dari kasus hukum."
"Selain itu Aira terlihat kacau dan stress, ia begitu tertekan selain masalahnya bersama Aldi, Aira hampir mengalami perkosaan pada malam itu, dan karna Aira ingin membela diri, dengan kalap ia menusukan pisau tersebut kepada korban, karna Aira syok dan semakin tertekan, Romeo pun membawa Aira lari untuk menenangkan pikiranya."papar Heru.
__ADS_1
Nafas Heru terasa sesak, sungguh apa yang dialami adik iparnya sungguh berat, air mata Heru menggenang, betapa Aira menderita dengan semua permasalah yang menimpanya secara bertubi-tubi.
"Aira, kenapa ini harus menimpa kamu," ucap Heru dengan suara paraunya.
"Maafkan mas Heru Aira, mas Heru ngak bisa melindungi kamu dari bahaya," ucap Heru dengan air mata yang meluncur deras langsung dari netranya.
"Heru bersandar pada dinding, ia sendiri merasa bersalah, ia tak dapat membayangkan bagaimana Aira menjalani hari-harinya dalam keadaan tertekan dalam keputusasaan hidupnya.
Sementara mereka terus memandang sinis Aira, dan menggapnya sebagai pengkhianat.
Tanpa sadar Titik air mata juga jatuh di sudut netra Doni yang menggenangkan air mata.
"Sudalah mas, tak perlu di sesali semua yang terjadi, sekarang bagaimana caranya kita menolong dan mendukung Aira agar ia bisa terbebas dari tuntutan hukum," ucap Doni sambil menepuk pelan pundak Heru.
***
Aldi menyeka wajah Aira dengan air hangat, dengan penuh kelembutan dan kasih sayang ia membersihkan tubuh sang istri.
Aira membuka matanya perlahan, melihat Aira sadar, Aldi merasa bahagia, ia pun memeluk tubuh istrinya tersebut.
"Aira, mas Aldi senang karna kamu sudah sadar sayang, maafkan mas Aldi ya Aira, mas Aldi janji tak kan membiarkan kamu sendiri lagi,"ucapnya sambil memeluk dan menangis diatas tubuh Aira,.
Lengan lembut ia pun mengusap kening Aira dan menciumnya dengan penuh perasaan, hingga air matanya menetes di pipi Aira.
Tak sedikit pun Aira merespon, bahkan tatapan matanya tetap lurus kearah depan, tatapan matanya kosong.
"Sayang, kenapa kamu diam, kamu mau marah sama mas Aldi, mas Aldi akan terima, ayo kamu bangkit dan pukul mas Aldi sekuat-kuatnya sayang, kamu maki saja mas Aldi sepuas-puas kamu, tapi jangan diamkan mas Aldi seperti ini Aira," ucapnya sambil mencium punggung tanggan Aira berkali-kali.
Aira masih tak bereaksi, Aldi pun mencium kening dan bibirnya, tapi Aira juga tak bereaksi.
Tatapan matanya kosong, bibirnya mengatup, tak ada reaksi apapun, hanya kedipan pada kelopak matanya yang menandakan ia dalam keadaan siuman.
"Sayang, Kamu kenapa sayang?" tanya Aldi sambil memperhatikan tatapan mata Aira yang kosong.
Aldi melambaikan tangganya kerah Aira, tapi juga tak bereaksi, Aira seperti terbawa dalam lamunan hampanya.
"Aira!" Tangis Aldi memanggil nama Aira.
Apa yang terjadi pada Aira ya
__ADS_1
Nah tanda cinta dari autor untuk kamu, Author dah crazy up, tinggal kamu tinggalkan tanda cinta untuk author, dengan mendukung terus karya recehan author ini, dengan like, komentar, bunga mawar atau pun vote, tapi author ngak menerima sendal jepit ya, al sendal jepit author banyak habis nyolong di masjid ( hehe bercanda, dasar author kelesππππ)