
Tari melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Romeo menarik tangan Aira entah kenapa masih ada rasa cemburu di hatinya meski ia sendiri tahu jika Aira hanya mencintai suaminya.
"Ada apa Aira?"tanya Tari yang mendekat dan berusaha menepis perasaan tersebut.
Mereka tersentak, dan melepaskan genggamanya.
Romeo pun kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Ehm, Aira mau minta bantuan," ucapnya sedikit gugup.
"Bantuan apa?"tanya Tari yang penasaran sekaligus keki melihat keduanya secara bergantian.
"Aira minta tolong sama Mbak Tari dan bang Romeo untuk menyusul mas Aldi, Aira khawatir," rengeknya kepada Tari.
"Emang Aldi kenapa?"tanya Tari heran.
Romeo kembali dari mengambil kunci mobilnya yang berada di atas nakas.
"Nanti saja Mbak jelasinnya di dalam mobil, udah ngak ada waktu Aira takut terlambat."ucap Aira gelagapan, ia terlihat begitu khawatir.
"Iya, gue ambil tas dulu."Tari pun masuk ke kamarnya kembali dan keluar dengan sling bagnya.
"Ayo kita pergi," ucap Romeo yang melangkahi mendahului keduanya.
Meski meras binggung, namun Tari mengikuti keduanya.
Ketiganya pun langsung menuju garasi di mana mobil Romeo tertata rapi di dalam ruangan tersebut.
Tak ada obrolan hingga mobil Romeo perlahan melaju meninggalkan gerbang rumah mereka.
Setelah di dalam mobil, barulah Aira bercerita.
"Aira sebenarnya ada apa sih?"tanya Tari yang berada kursi depan, samping Romeo.
"Mas Aldi tadi pagi dapat pesan dari mama Rita Mbak, katanya setelah tiga bulan tak melakukan kontak, baik melalui sambungan telpon atau bertemu langsung, tiba-tiba saja mama Rita meminta bertemu pada suatu tempat, mas Aldi merasa curiga, tapi ia tak punya pilihan, selain menemui mamanya, mas Aldi juga ingin memastikan bahwa mama Rita dalam keadaan baik-baik saja Mbak," papar Aira.
Ehm, Tari mengguman.
"Trus kita kemana nih?"tanya Romeo.
"Kita ikuti saja GPSnya Bang, kayaknya mas Aldi dalam perjalanan menuju luar kota," ucap Aira seraya menunjukan Romeo layar handphonenya.
Romeo menambah laju kecepatanya, karna mereka memasuki jalan raya bebas hambatan.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan diam, Tari yang terlelap karna merasa lelah setelah pergulatan panasnya dengan sang suami.
Romeo tetap fokus seraya sesekali melirik kearah belakang melalui kaca mobilnya.
Wajah Aira terlihat begitu tegang dan cemas, sesekali ia merubah gaya duduknya karna merasa gelisah.
__ADS_1
"Kamu ngak apa-apa Aira?"tanya Romeo sambil meliriknya sebentar kearah belakang.
"Ngak Bang, Aira cuma khawatir, bisa ngak Bang di percepat laju mobilnya,"ucap Aira.
Romeo pun menggangguk seraya menambah laju kecepatannya dan kurang dari satu jam mereka sudah sampai dan mendekati titik dari map Aira.
Spot tersebut mengarah kepada sebuah villa yang berada di puncak sebuah bukit.
Setelah berjalan mendekati spot tersebut, mereka melihat kearah villa untuk memastikan jika Aldi berada di dalam villa itu.
Mobil Aldi terparkir di depan teras villa tersebut, ada juga sebuah mobil mewah yang tak asing bagi Aira, yaitu mobil mama Rita.
Setelah memastikan tempat tersebut, Romeo menepikan mobilnya, ia memang sengaja tak membawa masuk mobilnya kedalam halaman dari villa tersebut.
Romeo mengguncang tubuh Tari seraya memanggilnya agar tersadar dari tidurnya.
Tari perlahan membuka mata dan melihat ke sekeliling.
"Ini dimana Rom?"tanya nya heran.
"Villa nyokapnya Aldi kali," sahut Romeo sambil melepas seatbeltnya.
Aira sudah turun duluan seolah tak sabar, ia pun menghampiri pintu gerbang yang menjulang tinggi tersebut.
Aira mencoba membuka pintu gerbang tersebut namun di cekal oleh kedua lelaki yang bertubuh tegap dan tinggi.
"Mau apa kamu?"tanya lelaki tersebut kepada Aira dengan suara baritonnya.
"Oh, maksud kamu pria yang bernama Aldi?"tanya lelaki yang lainya.
"Iya! Mas Aldi suami saya!"teriak Aira.
Romeo buru-buru menghampiri Aira, ia takut jika kedua lelaki tersebut menyakitinya.
"Ha ha ha, Tuan Aldi menyuruh saya untuk berjaga-jaga di sini, karna ia sedang asik-asikan bersama calon istrinya," ujar Pria tersebut sambil tertawa terpaksa.
Aira menyeritkan dahinya memicingkan mata melihat kedua lelaki tersebut.
Ia sama sekali tak percaya dengan apa yang di bicarakan kedua lelaki itu, karna ia lebih percaya pada suaminya.
"Buka pintu ini!, kalau ngak aku dobrak!" Seru Romeo sambil mendorong kuat pintu gerbang yang terbuat dari besi tersebut.
Meski kedua lelaki itu terlihat sangar, namun tak sedikit pun Romeo merasa gentar.
"Ha ha ha, habisi saja mereka," ucap salah seorang dari mereka.
Lelaki yang berbadan tegap itu kemudian membuka pintu gerbang untuk mereka, karna merasa akan sangat mudah mengalahkan satu pria dan dua wanita.
Keduanya memasang aba-aba untuk menyerang Romeo dan Romeo juga sudah memasang kuda-kudanya.
__ADS_1
Melihat suaminya akan di keroyok, Tari dengan segera melemaskan otot-ototnya agar rileks dan konsentrasi dalam menghadapi kedua bandit tersebut.
Mereka pun memulai duel, Kedua orang tersebut menyerang Romeo secara bersamaan.
Namun Tari tak tinggal diam, dengan cepat ia melompat dan mengeluarkan jurus tendangan mautnya kearah salah satu dari mereka, Alhasil salah satu dari kedua penjahat tersebut tersungkur ke tanah.
Tanpa menunggu lama ia kembali menerjang penjahat tersebut dengan menginjak bagiam vital pria itu dengan kakinya.
Akh! teriak pria itu sambil memegang kaki Tari,
Dengan gesit Tari menduduki perut buncit pria tersebut dan berkali-kali melesatkan pukulan dengan tinjuanya kearah wajah dan perut lawan duelnya, dan yang terakhir ia menekakan titik pembuluh darah pria tersebut untuk melumpuhkanya.
Pria tersebut hanya seperti pecundang saat berhadapan dengan Tari.
Tubuhnya melemah karna Tari menekan syaraf yang menekan aliran darahnya, hingga membuat tubuh lelaki tersebut melemah dalam beberapa saat.
Romeo seperti mendapat lawan seimbang, keduanya saling memukul dan menangkis, melihat sang suami yang terdesak, Tari berlari menghampiri mereka, sekuat tenaga ia menjambak rambut pria tersebut kemudian menekuk betisnya dengan menendangnya dengan kuat, lelaki tersebut roboh seraya berlutut di hadapan Romeo.
Mereka pun kembali melumpuhkan keduanya dengan menghajarnya hingga pingsan.
"Wah mbak Tari hebat," ucap Aira sambil berlari kecil mendekati Tari.
"Mbak Tari hebat banget, ajarin Aira dong ilmu beladiri," ucap Aira.
"Iya Aira, semua orang tahu cara memukul dan menyerang tapi tak semua orang tahu tentang tekhik melumpuhkan lawan, meski kita bertubuh besar, tapi jika tak tahu tekhik melumpuhkan dan mengunci,maka kita hanya akan terlihat lemah dan mudah untuk di kalahkan, maka dari itu, setiap perguruan bela diri diajari teknik mengunci dan melumpuhkan lawan, bukan hanya dengan cara menyerang dan bertahan," papar Tari sambil berjalan beriringan dengan Aira.
Ehm, guman Aira.
"Ayo kita cari Aldi," cetus Tari
Mereka pun memasuki villa sepi tersebut, seraya memanggil-manggil nama Aldi.
Aldi! mas Aldi!, "teriak mereka hingga menggema di seruh ruangan.
Satu satu mereka memeriksa ruangan yang ada di villa, sembari memanggil Aldi.
Hingga tibalah mereka pada sebuah kamar, tanpa ragu mereka mendobrak pintu yang ternyata tak di kunci tersebut.
"Mas Aldi!" teriak Aira syok ketika melihat suaminya tergeletak nyaris tanpa busana di samping Aura.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ia mendekati Aldi.
"Mas Aldi!"teriak Aira saat melihat tubuh Aldi tergeletak dengan buih di sudut bibirnya.
Aira menangis sejadi-jadinya seraya mengangkat tubuh sang suami, dengan lembut ia membuka mulut Aldi dan memasukan jari telunjuknya ke mulut Aldi, agar racun yang masuk bisa keluar dari tubuhnya.
Benar saja, Aldi pun memuntahkan cairan hijau, Aira mengangkat leher Aldi, agar cairan tersebut tak masuk kembali ke dalam mulutnya.
"Mas Aldi!" teriakan Aira menyatu dengan tangisannya memecah kesunyian tempat tersebut.
__ADS_1
Like, komen, vote dan hadiahnya