Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Cinta Suci


__ADS_3

❌Awas bab ini Mengandung adegan romantis❌


Setelah serangkaian acara akad nikah, Arsyad dan keluarga membawa istrinya pulang ke rumah mereka.


Sebelum pulang mereka pun berpamitan pada seluruh penghuni pondok pesantren.


Di dalam kamarnya, Arsyad membantu Nisa membereskan barang-barangnya.


Sebagian pakaian Nisa ia sumbangkan untuk beberapa santriwati yang nasibnya hampir serupa dengan dirinya.


Arsyad melingkarkan tangannya pada lingkar pinggang Nisa.


Ia pun memeluk Nisa dari belakang.


"Rasanya aku tak sabar menunggu kita sampai di rumah," ucap Arsyad sambil berbisik mesra di telinga Nisa.


"Ehm memangnya jika sampai ke rumah, kamu mau apa?"tanya Nisa yang pura-pura tak tahu maksud suaminya.


"Pingin kangen-kangenan. Sudah lima tahun aku menunggu.Namun, saat itu aku bisa sabar. Tapi setelah berdekatan dengan mu, aku justru jadi ngak bisa sabar," ucapnya seraya mencium ceruk leher Nisa.


"Ehm. Sepertinya kau harus puasa beberapa hari lagi. Karna aku sedang palang merah."


"Hah? Massa?" tanya Arsyad kaget dengan nada kecewa.


Nisa tersenyum seraya membalikan tubuhnya berhadapan langsung dengan Arsyad.


Tanganya mengusap-ngusap dada bidang sang suami, senyum merekah di bibirnya.


"Tenang saja, aku hanya bercanda kok. Malam ini aku sudah siap menjadi milik mu," ucap Nisa seraya mengecup bibir Arsyad lembut. Tapi justru di balas dengan ganas oleh Arsyad.


Arsyad semakin menganas, ia pun semakin memperdalam ciumannya, Hingga membuat Nisa kesulitan untuk bernapas.Tangannya meremas lembut pinggang sang istri menahan hasratnya yang bergejolak.


Nisa menorong pelan tubuh Arsyad agar tak kebablasan.


"Hm, Arsyad sudah! Nanti saja," ucap Nisa ketika tangan Arsyad kembali mencengkramnya.


Arsyad menatap wajah Nisa dengan penuh damba.


"Ayo kita pulang secepatnya," ucap Arsyad yang seolah tak sabar, karna mereka tak mungkin unboxing di kamar itu.


"Ayo!"


Sebelum keluar dari kamar Nisa kembali menutup wajahnya yang hampir berantakan karna kebuasan sang suami.


Arsyad juga meninggalkan jejak pada leher Nisa.


Setelah meminta ijin dan berpamitan Arsyad membawa pengantinnya pulang kerumah.


Arsyad dan Nisa berada di kursi belakang sementara Aldi dan Aira duduk di depan.


Di dalam mobil bahasa tubuh mereka,mengisyaratkan kerinduan yang belum terlampiaskan.


Sepanjang perjalanan Nisa menyandarkan kepalanya pada dada bidang Arsyad, sementara satu tangan Arsyad mlingkar di pinggang ramping milik sang istri.


Tangan satunya menggenggam erat tangan Nisa.

__ADS_1


Mereka memang berempat di dalam mobil tersebut, Namun, kedunya seperti merasa dunia ini milik mereka berdua.


Dari bahasa tubuh dan tutur kata keduanya yang selalu terdengar mesra. Arsyad dan Nisa saling bercerita tentang pengalaman mereka selama lima tahun berpisah.


Terkadang terdengar canda dan tawa dari cerita mereka, tapi ada juga vibra kesedihan yang terasa dari beberapa ceita dari pengalaman Nisa.


Aldi dan Aira hanya jadi pendengar dari kisah mereka. Pasangan suami istri tersebut terkadang ikut tersenyum mendengar dan melihat kemesraan keduanya.


Sepaanjang perjalanan mereka hanya diam.


Aira menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami, mereka ikut merasa bahagia atas kebahagiaan yang di rasakan oleh pengantin baru tersebut.


Beberapa jam setelah itu mereka pun tiba di rumah.


Arsyad dan Nisa terlalu asik bercerita tanpa terasa mereka pun sudah sampai.


Rumah terlihat sepi. Tak ada acara apapun karna rencananya resepsi pernikahan Arsyad dan Nisa akan berlangsung sebulan lagi.


"Alhamdullilah akhirnya sampai juga di rumah."


Mereka berempat pun turun. Arsyad meminta assisten rumah tangganya untuk membawa barang-barang sang istri di kamar mereka.


Sementara Arsyad tanpa basa-basi langsung membawa istrinya menuju kamar pengantin mereka


Aldi dan Aira duduk di ruang tamu.


"Ayah bunda. Kami langsung ke kamar!" Arsyad.


"Hah ngak ngobrol dulu Dek?"tanya Aira.


"Nanti saja Bun!" Seru Arsyad seraya menarik tangan Nisa menuju kamar pengantin mereka.


Aira dan Aldi pun saling melempar senyum.


"Dedek makin mirip sama kamu Yah," ucap.Aira seraya bersandar pada bahu Aldi.


"Namanya juga masih muda. Ayah yang tua aja selalu semangat kalau yang namanya begituan," ucap Aldi seraya menaik turunkan alisnya memberi kode.


"Ehm maunya. Sadar Yah sudah tua!" ucap Aira seraya menarik hidung Aldi.


"Ayolah Bun. Mumpung Rayyan ngak ada di rumah," bisik Aldi seraya menggigit telinga Aira. Tatapan matanya pun sayu menatap penuh damba.


Kalau sudah seperti itu Aira tak akan bisa menolak.


"Ih dasar tua-tua keladi, makin tua makin jadi, " dengus Aira.


"Gitu dong Bun." Aldi mencolet dagu Aira.


Sepasang suami istri itu pun langsung naik menuju kamar mereka.


Sebelum melakukan pertarungan sengitnya Aira meminum pil KB, ia tak ingin kejadian serupa terulang kembali dan hamil lagi.


***


Asisten rumah tangga pun membawa koper milik Nisa ke kamar mereka.

__ADS_1


Sesampainya di kamar Nisa melepas pakaian syar'inya karna merasa gerah setelah melakukan perjalanan dari luar kota.Rencananya ia akan mandi.


Sementara Arsyad sudah duluan berada di kamar mandi.


Nisa mengenakan handuk yang hanya menutupi dada dan bagian pahanya saja.


Sambil menunggu sang suami yang berada di kamar mandi. Ia pun duduk di meja rias membersihkan sisa-sisa make upnya.


Arsyad keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang dan dan rambut yang basah, rungan tersebut pun sektika menjadi harum semerbak.


Arsyad mendekati Nisa yang berada di depan meja riasnya.


Ia pun berdiri dan mendaratkan ciuman pada ceruk leher Nisa.


"Ayo sayang, "ucapnya sambil menarik tangan Nisa dan menariknya dalam dekapannya.


"Nanti dulu aku belum mandi."


"Nanti saja mandinya. Nanti juga kotor lagi," ucapnya seraya menarik handuk yang menutupi tubuh Nisa.


"Arsyad, !"Nisa seraya memukul pelan tubuh Arsyad.


Arsyad langsung merangkul tubuh Nisa yang sudah setengah bugil itu, kemudian menggangkatnya diatas tempat tidur.


Jantung Nisa berdetak kencang ketika melihat Arsyad yang tersenyum mesum ke arahnya.


Tak terbayang betapa indahnya penyatuan mereka yang terjadi di saat keduanya sedang merasakan rindu se rindu-rindunya.


Arsyad meletakan tubuh Nisa di atas tempat tidur kemudian mencumbunya sampai hasratnya terbakar dan tak mampu menahan lagi.


Berkali-kali Nisa mencari napas karna terus di hujani ciuman panas Arsyad. Tak sampai di situ Arsyad juga bergeleria mencumbu setiap jengkal tubuh Nisa.


Napas mereka saling memburu dengan hasrat yang tak lagi mampu di tahan.


Nisa terlentang dengan tubuh Arsyad yang sudah berada di atas tubuhnya.


Tangannya meremas sprey dengan mata yang terpejam menahan rasa sakit ketika sang suami menghujaminya serangan bertubi-tubi hingga mengoyak kegadisannya.


Nisa menggigit bibinya menahan rasa sakit dengan teriakan yang tertahan.


Arsyad terus melengkuh sepanjang pertarungan perdananya. Ia begitu bahagia karna memiliki cinta yang suci, sesuci istrinya.


Air mata bahagia meleleh di pipi Nisa, betapa ia bahagia telah memberikan sesuatu yang paling berharga miliknya untuk sang suami tercinta.


Satu hentakan terakhir membuat kedunya melengkuh panjang.


Arsyad roboh di atas tubuh sang istri yng sudah di penuhi jejak-jejak kemerahan di setiap jengkalnya.


Keduanya pun saling melempar senyum. Puas dan bahagia.


"Terima kasih Nisa kau telah menjaganya untuk ku," ucap Arsyad.


Nisa tersenyum seraya meraba wajah Arsyad yang di penuhi oleh keringat.


"Ehm bukannya kita sudah saling janji tuk saling setia." Nisa.

__ADS_1


"Iya aku janji akan setia sampai mati." Ia pun memeluk Nisa dan menciumnya dengan penuh cinta.


Bersambung.


__ADS_2