Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Cinta bertepuk sebelah tangan


__ADS_3

*Kupikir tanpa kamu aku akan baik-baik saja, namun ternyata setelah kepergian kamu, baru aku sadari, kau telah mengukir rindu yang sangat menggebu, cinta yang sangat kuat dan rasa sakit yang amat pedih, hingga membuatku lupa bagaimana caranya untuk berdiri dan menghindari semua ini.*Romeo POV.


Di depan cermin Tari memoles wajah ayu nan rupawanya dengan make tipis, meski demikian tetap membuatnya terliat cantik.


Tari menghabiskan sebagian waktunya paginya untuk fitting baju dan berbelanja kebutuhan acara ijab qabul, yang akan berlangsung tak kurang dari seminggu lagi.


Saat pandangan matanya mengedar, ia melihat dua amplop undangan yang terletak di meja riasnya dan belum di kirim, ia pun berinisitatif untuk mengantar sendiri undangan pada Doni dan Romeo.


Butuh keberani bagi Tari untuk mengantar undangan tersebut kepada Romeo, sesungguhnya hati nya masih berharap pada Romeo, meski pernikahanya sudah di depan mata.


Tari keluar dari kamarnya, dengan menggunakan busana kasualnya, dengan celana panjang berbahan denim dan kaos berukuran over size, membuatnya nyaman dan terlihat santai di sore hari ini.


"Tari mau kemana?" tanya Nova yang melihat Tari keluar dari kamarnya.


"Mau ngantar undangan Ma, " sahut Tari sambil menutup pintu kamarnya.


Tari dan Nova berhadapan.


"Aduh Tari! tiga hari lagi kamu menikah, masih banyak ritual yang harus kita lakukan, ngak usah pergi. "cegah Nova


"Sudah tulis saja alamatnya, nanti mama akan suruh orang untuk mengantarkan undangannya, ngak perlu juga kamu sampai keluar dari rumah hanya untuk mengantar undangan."


Wajah Tari cemberut karna di larang oleh mamanya, tapi apa pun caranya ia harus bertemu dengan Romeo untuk yang terakhir kalinya.


Tari memikirkan cara bagaimana agar ia mendapat ijin keluar, bujuk mama saja, mama kan orang yang ngak tegaan.


"Sekali ini saja ya Ma, karna dalam beberapa hari lagi Tari akan menikah, please-please " mohonya memelas sambil menakup kedua tanganya kearah dada.


Nova memutar bola matanya kesegalah arah sambil menarik nafas panjang dan menghempaskanya dengan berat.


"Iya deh terserah kamu saja, tapi jangan lama-lama ya Tari, karna kamu harus luluran lagi nanti malam dan besok kamu sudah tak boleh keluar lagi ya"


"Iya Ma,.sebentar aja kok," ucap Tari ia pun mendekati Nova mencium kedua pipi ibu angkatnya.


Nova menggeleng kepala melihat Tari yang berlalu, meski Tari bukanlah anak kandungnya, tapi ia begitu menyayangi Tari, bahkan ia sendiri rela di cerai oleh suaminya karna mempertahankan Tari.


***


Tari memesan taksi online untuk sampai ke bengkel, ia yakin Romeo ada di bengkel bersama Doni.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di bengkel, sekitar dua puluh menit perjalanan.


Tari melihat kearah jendela dan melihat pepohonan yang menghiasi di setiap sudut jalan, untuk meredakan suasana hatinya yang sedang berkecambuk, saat seperti ini saja, ia masih berharap Romeo akan datang dan membatalkan pernikahannya.


Heru memang pria yang baik, tapi entah kenapa ia tak bisa mencintai Heru,bahkan karna kehadiran Romeo, tak butuh waktu beberapa lama bagi Tari untuk bisa move on dari Aldi.


Namun sayang Romeo tak pernah merasakan hal yang sama terhadapnya.


Berkali-kali ia mendongkak kan kepala, agar ai matanya tak sampai jatuh dan menetes membasahi pipinya.


Tari pun mencoba mengatur nafas agar bisa mengontrol emosi yang hampir meledakan jantungnya.


Rasanya terasa sesak sekali, ia terpaksa menerima perjohonan untuk membayar hutang budi mamanya, tapi ia merasa lebih sesak lagi, karna cintanya bertepuk sebelah tangan, lelaki pujaanya lebih memilih menutup diri, dari pada menerima cintanya yang ia berikan dengan setulus hati.


"Kali ini aku harus bisa melupakan Romeo,.karna sebentar lagi aku akan resmi di persunting oleh Heru," gumanya lirih sambil menyapu titik air mata yang menetes di pipi.


Setibanya di tempat yang ia tuju, taksi tersebut berhenti, setelah membayar Tari pun turun.


"Tunggu di sini sebentar ya Pak, saya ngak lama," ucap Tari pada sopir tersebut.


"Iya Neng," sahut sang sopir.


Setelah membuka pintu mobil dan keluar dari taksi tersebut, Tari segera menghampiri Romeo di bengkel.


Dari kejauhan ia melihat Romeo dan Doni sedang ngobrol, dengan irama jantung yang tak menentu, Tari berjalan perlahan menghampiri keduanya.


Semakin dekat dengan keduanya, Tari merasakan detak jantungnya yang semakin kencang.


Saat sedang ngobrol, tiba-tiba pandangan Doni mengarah kearah jalan dimana ia melihat Tari yang melangkahkan kakinya mendekati mereka.

__ADS_1


"Eh Rom, ada Tari tuh." tunjuk Doni dengan memalingkan wajahnya kearah Tari.


Romeo segera menoleh keaarah Tari yang sedang berjalan menghampiri mereka.


"Hai Tar," sapa Doni ketika Tari telah dekat dengan mereka.


"Hai juga Don,"sambut Tari sambil tersenyum simpul.


Romeo berhenti dari kesibukanya dan menghampiri Doni, ia menyunggingkan senyum sekilas kearah Tari.


"Oh ya Rom, Don, kedatangan ku kemari mau mengantar ini untuk kalian berdua," ucapnya sambil melihat kearah Doni.


Tari menunjukan dua lembar undangan dengan sampul putih, undangan indah tersebut berhias dengan pita emas dan terukir nama kedua mempelai yaitu Tari dan Heru.


Doni dan Romeo meraih undangan tersebut masing-masing satu.


"Jadi juga loh menikah dengan Heru Tar, selamat ya," ucap Doni sambil membolak balikan undangan tersebut.


Tari membalas dengan senyum simpulnya, kemudian matanya kembali mengarah ke arah Romeo yang terlihat datar.


Romeo memepak-nepakan undangan tersebut di telapak tanganya dengan wajah yang tertunduk.


Melihat sikaf Romeo yang tampak acu, Tari semakin kesal, ia jadi semakin geram namun tak mau ia tampakan, sikafnya seolah biasa-biasa saja.


"Oh ya gue harap loh berdua hadir ya di hari bahagia gue," ucap Tari, kemudian ia menggigit bibir bagian bawahnya dengan lembut mencoba menahan perasaannya.


Sesekali matanya melirik ke arah Romeo yang tetap diam.


Suasana terasa kaku, apalagi tak satu kata pun keluar dari mulut Romeo, ia bahkan terkesan menghindari tatapan mata Tari.


Doni yang melihat gelagat keduanya yang terlihat sungkan, ia pun mengambil inisiatif sendiri, "Sepertinya mereka memang butuh waktu untuk berdua," gumanya lirih.


"Oh ya, gue tinggal dulu ya,"ucap Doni yang langsung beranjak menuju belakang bengkel, tanganya mengebas bahu Romeo dengan undangan, mungkin sebagai isyarat kepada Romeo agar dirinya bicara pada Tari dari hati ke hati.


Romeo menatap kepergian Doni, sebenarnya ia sendiri tak tahu harus bicara apa kepada Tari.


"Duduk Tar," ucap Romeo mempersilakan Tari untuk duduk di bangku.


Suasana hening beberapa saat, entah apa yang membuat keduanya merasa canggung, padahal Tari dan Romeo adalah orang yang blak-blakan dan bukan type yang pendiam.


Setelah beberapa lama hening, Romeo memecah keheningan dengan memulai obrolanya.


"Selamat ya Tar, gue doakan semoga pernikahan loh lancar dan loh bisa hidup bahagia bersama Heru,"ucap Romeo datar tanpa menoleh kearah Tari.


Suasana hening kembali hening sejenak, tak ada sahutan apapun yang terdengar dari mulut Tari.


Karna merasa tak ada tanggapan apa pun dari Tari, Romeo mengalihkan pandanganya kerah Tari.


Ia melihat bulir bening perlahan menetes di pipi mulus milik Tari, dan dengan segera Tari menghapusnya.


Romeo menatap heran kearah Tari, ada rasa penasaran dalam dirinya kenapa Tari menangis?


"Loh kenapa Tar?" tanya Romeo lirih.


Tari masih tak bergeming, berkali-kali ia mengnyeka air matanya,sementara Romeo masih menatapnya dengan heran, Romeo tak mengerti kenapa Tari sampai menangis.Ia menelan salivanya, Apa aku menyakitinya? gumanya lirih.


"Kamu kenapa Tar?" tanya Romeo kembali kali ini telapak tangganya menyentuh bagian dari dagu Tari.


Romeo mengubah posisinya dari duduk di samping Tari, berpindah dengan cepat dan kini ia berada di hadapan Tari dalam keadaan berlutut.


"Apa ada yang menyakiti hati mu?" tanya Romeo kepada Tari kembali, kali ini netra mereka beradu pandang.


Genangan air mata terlihat pada kelopak mata Tari yang sendu, matanya mengisyaratkan sesuatu yang tak bisa di sembunyikan, perasaan kecewa dan terluka terhadap seseorang yang berada di hadapanya saat ini.


Melihat wajah Tari, Romeo menyadari kesalahannya, harusnya ia tak mempermainkan perasaan pada hati yang sedang terluka, kesalahanya adalah ia pernah memberikan harapan pada Tari, namun bukan nya mengobati lukanya, ia justru menambah luka dengan menyiramnya dengan air garam.


Romeo menyentuh dagu Tari dan mendongkakan kepalanya yang tertunduk, dengan pelan ia menyapu titik air mata yang jatuh menetes di pipinya.


"Maaf kan aku Tar, aku hanya bisa memberi harapan kepada mu saja, aku tak punya keberanian untuk_"

__ADS_1


Belum sempat menyelesaikan ucapan nya Tari sudah menghambur memeluknya.


Beberapa saat Tari menangis di pelukan Romeo, ia membiarkan air matanya mengalir dengan deras, rasa yang sudah lama tertahan itu kini ia tumpahkan saat itu juga.


Romeo semakin binggung, ia sendiri tak tahu harus bagaimana, Romeo menelan salivanya dan mempererat pelukan terhadap Tari.


Kali ini ia kembali merasa bersalah, lagi-lagi ia menyakiti hati wanita, meski itu dilakukanya tanpa sengaja.


Meski berat dan akan sangat menyakiti Tari, tapi ia harus berkata jujur, ia sendiri tak bisa membuka hatinya untuk Tari.


"Maaf Tar, tapi ini lebih baik, aku hanya tak ingin kau berharap lebih jauh, aku ingin kau bisa melupakan semua yang terjadi di antara kita," ungkap Romeo dengan lirih.


Tari menangis sejadi-jadinya, ia bahkan memukul dada Romeo, mengungkapkan kekesalanya.


Romeo mencium pucuk kepala Tari seraya memeluknya semakin erat.Perlahan air matanya pun menetes mendengar tangisan pilu Tari.


Beberapa saat suasana menjadi hening hanya terdengar suara isyak tangis dari Tari.


Setelah mencurahkan perasaanya dalam dekapan Romeo, Tari sedikit tenang, ia mempererat pelukanya terhadap Romeo dan mencurahkan perasaan yang tersisa, karna setelah ini, ia tak mungkin lagi bisa memeluk Romeo.


"Sekali lagi maafkan aku Tar, aku tak pernah bermaksud menyakitimu, aku harap kau bisa melupakan apa yang terjadi antara kita," ucapnya sambil mengusap punggung Tari.


"Tapi bagaimana Rom, Bagaimana agar aku bisa melupakanya?" tanyanya dalam dekapan Romeo.


Romeo tergaman mendengar pertanyaan tersebut keluar dari bibir Tari.


Romeo merangkul tubuh wanita yang memeluknya kini.


"Katakan Rom, bagaimana caranya agar aku bisa melupakan perasaan ku terhadap mu."


"Aku sudah mencobanya, sudah mencoba melupakan perasaan ini terhadapmu, tapi tetap saja, aku tak bisa lupa." ungkapnya dengan suara lirih.


Suara Tari masih terbata-bata dalam isak tangis nya.


Romeo diam, tanganya masih mengusap lembut pundak Tari.


"Katakan bagaimana agar aku berhenti mengharapkan cinta mu? sementara aku sendiri tak bisa berhenti mengharapkan mu! bahkan saat pernikahan ku sudah di depan mata, tapi aku masih berharap agar kau datang dan membawa ku lari, hiks.hiks. "


Tubuh Tari terguncang dalam pelukan erat Romeo, Romeo mengedarkan pandanganya mencoba mencari jawanan dari pertanyaan Tari.


Pertanyaan yang sama yang selalu ia coba cari jawabanya, namun tak ia pernah dapat menjawabnya.


Kini seorang wanita menanyakan hal yang sama padanya.


"Romeo memeluk Tari semakin erat, "Jawabanya ada pada diri mu Tar, sebesar apa pun cinta yang kau punya, nyatanya tak bisa mengubah takdir , jadi cobalah untuk menerima semuanya ini dan berdamailah dengan takdir, sebesar apa pun kau berusaha, kau tak kan mampu melawan kuasanya,.mungkin kita memang tak berjodoh ." papar Romeo.


"Apa Rom? loh bilang takdir, jodoh." Tari melepaskan pelukanya pada Romeo.


Tari mendorong keras tubuh Romeo, hingga Romeo tersandar pada dinding. "Semua itu salah Rom! lo saja yang tak punya keberanian untuk menolaknya! padahal sebenarnya loh mampu untuk melakukanya!"


"Lo bilang kan loh cinta sama Aira? tapi kenapa loh biarkan Aira sampai menikah dengan Aldi! loh memang pengecut Rom! dan kenapa juga gue berharap loh bisa memperjuangkan gue! sedangkan loh sendiri adalah orang yang gagal dalam memperjuangkan cinta loh sendiri!" cecar Tari.


Romeo terperangah menatap Tari yang terlihat Emosi.


Tari meraih tas slind bagnya dan berlari sambil menangis menjauhi Romeo, sementara Romeo hanya tergaman melihat kepergian Tari.


Romeo bangkit dan berdiri, matanyanya masih menatap kearah Tari yang masuk kedalam mobil.


Setelah mengebaskan pakainya yang kotor karna menyentuh lantai akibat di dorong dengan keras oleh Tari, ia pun duduk kembali di kursi tersebut.


Romeo kembali melihat keaarah di mana bayangan Tari yang menghilang beberapa saat yang lalu.


Apa benar yang dikatakan oleh Tari, jika dirinya hanya seorang yang pengecut.


Romeo menatap kearah depan dengan lurus, tatapanya kosong karna pikiranya jauh berkelana.


Aku pikir cinta ku pada Aira, sama seperti cinta ku yang wanita yang lain, yang akan menghilang seiring berjalanya waktu.


Aku pikir aku akan baik-baik saja tanpanya, tapi ternyata tidak! bahkan hati ku telah ku biarkan kosong dan aku sendiri tak bisa kembali mengisinya dengan sebuah cinta untuk hati yang lain.

__ADS_1


Romeo mengusap wajahnya dengan kasar, pandangan matanya kembali mengedar kesekelilingnya, ia kembali mempertanyakan 'apa yang sedang terjadi padanya saat ini,' tepukan seseorang pada bahunya berhasil membuyarkan lamunannya.


Bersambung ya guys, ehm sedih ya jadi Tari,ada yang pernah mengalami patah hati seperti Tari atau Romeo, bagi dong kisah kalian di kolom komentar ya, tetapndukung author ya, like, komen, vote atau hadianya. terima kasih ya.


__ADS_2