Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kembali Ke Kamar itu lagi


__ADS_3

Setelah resepsi Heru selesai, Aldi membawa keluarga kecilnya untuk pulang kerumah mereka.


Rasa bahagia masih  terpancar di wajah mereka.


Kini mereka benar-benar kembali bersama hidup dalam satu atap sebagai keluarga.


Di dalam mobil Aira memangku putri kecil mereka yang sedang terlelap.


"Yah, Bunda penasaran apa kamar kita masih yang dulu?"tanya Aira seraya melirik mesra kearah Aldi.


" Lihat saja sendiri nanti ya Bun," ucap Aldi seraya merangkul pundak sang istri.


Aira kembali lagi bersandar pada bahu sang suami.


Mobil mereka melaju membelah jalan raya, yang lumayan padat, rasa lelah menghinggapi tubuh mereka karna dua hari ini mereka terus berada di gedung untuk menghadiri pesta pernikahan, apa lagi kemaren adalah malam pertama mereka.


Setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai jua di rumah mewah itu


Setelah memarkirkan mobilnya, Aldi membuka pintu mobil untuk Aira kemudian ia menggendong Alia agar Aira bisa keluar.


Aldi memang terlalu menyayangi Alia, meski Alia sudah besar,namun Alia jarang sekali lepas dari pelukannya, kemana saja Alia selalu di gendong, maklum saja baru kali ini mereka bertemu, apalagi sifat Aldi yang penyayang hingga membuatnya menjadi protective terhadap putri semata wayangnya.


Melihat kedatangan tuan dan Nyonya mereka tiba.


Penghuni rumah tersebut langsung menyambut pengantin baru dengan taburan bunga di depan pintu.


"Selamat datang kembali lagi di rumah ini Nyonya," ucap para asisten rumah tangga.


"Terima kasih," ucap Aira bahagia.


Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut.


Tak ada yang berubah sedikit pun dari rumah yang enam tahun yang lalu ia tinggalkan tersebut.


Semua tak berubah di mata Aira, bahkan asisten rumah tangga mereka juga tak berubah.


"Ayo Nyonya silahkan masuk," ucap Mbok Yun, mbok Yun sendiri adalah adik Mbok Jum, Aira pernah di tinggal di rumah Mbok Yun oleh Aldi  ketika Aldi berkencan dengan Tari.


"Iya mbok terima kasih."Aira.


"Ada yang bisa di bantu Nyonya?"tanya mbok Yun.


"Ngak ada mbok, sekarang kami mau istirahat saja," ujar Aira.


Mereka langsung naik ke lantai atas kamarnya.


Aira berkeliling liling melihat rumah tersebut dan ternyata tak ada satu pun yang berubah.


Sementara Aldi masuk ke kamar yang dulu Aira tempati sebelum mereka menikah, kamar tersebut di sulap menjadi seperti yang Alia inginkan semua dekorasi dan furniture menggunakan karakter kartun frozen.

__ADS_1


Aldi meletakan sang putri yang terlelap tersebut di atas ranjangnya, kemudian menarik selimut menutupi tubuh Alia hingga sebatas leher.


Aira masuk kedalam kamar Alia dan memperhatikan sekeliling, kamar yang bernuansa biru tersebut begitu indah, dan serasi karna setiap furniturenya bergambar karater Frozen.


Melihat putrinya terlelap, Aira menghampiri dan menciumnya.


"Impian kamu sudah terwujud sayang, sekarang ayah dan bunda sudah tinggal bersama," ucapnya seraya mengecup pipi sang putri.


Alia tidur dengan damai dan tengang mimpinya untuk memiliki keluarga yang utuh sudah terwujud.


Di sudut Dinding Aldi memajang foto kebersamaan mereka saat di fotobox bersebelahan dengan lukisan yang di hadiahkan oleh Aira kepadanya.


Sebuah lukisan keluarga bahagia.


Air mata Aira menetes ketika mengusap lukisan tersebut.


Ia bahagia sekaligus haru karna telah mewujudkan cita-cita Alia.


"Sayang!"seru Aldi pelan.


Seketika membuyarkan lamunan Aira.


Aldi menghampiri Aira kemudian merangkulnya.


"Ayo biarkan putri kita beristirahat, kita juga harus beristirahat, karna esok hari kita akan mulai kembali membangun mahligai rumah tangga kita di rumah ini",ucap Aldi seraya menarik pelan tangan Aira.


Mereka berdua pun menuju kamar mereka.


Aldi membuka pintu bagi sang istri, seketika Aira tersenyum melihat kamar yang masih terlihat sama sejak ia tinggalkan beberapa tahun yang lalu.


Tak ada satu pun yang berubah, hanya berganti gorden dan sprei.


"Mas kamar ini ngak berubah," ucap Aira lirih.


"Iya sayang, mas sengaja tak merubah apa pun yang ada di kamar ini, agar suatu saat kamu kembali ke kamar ini, kita bisa mengenang masa-masa indah kita yang dulu," papar Aldi.


Aira kembali terharu, sesuatu yang menarik hatinya berada di atas tempat tidur.


Aira berjalan pelan menuju tempat tidur dan meraih Teddy.


Ia pun memeluknya," Teddy akhirnya kita bertemu lagi, sudah dua kali aku meninggalkan mu, tapi selalu saja di pertemukan lagi," ucap Aira haru.


"Selama ini cuma Teddy yang menemani mas Aldi melewati malam-malam sunyi sayang, hanya Teddy dan segala yang ada di kamar ini yang menjadi saksi bagaimana keadaan mas Aldi setelah kau tinggal pergi," ucap Aldi seraya memeluk Aira dari belakang.


"Ku mohon sayang, jangan pernah pergi lagi, jangan pernah meninggalkan kamar ini, biar saja kita lalui usia kita hingga kita menua dan mati bersama di tempat ini," bisik Aldi.


Aira tersenyum seraya menitikan air matanya.


"Aira ngak akan pergi kecuali mas Aldi sendiri yang meminta Aira untuk pergi,"papar Aira.

__ADS_1


"Ngak akan sayang," ucap Aldi seraya memeluk istrinya semakin erat.


Beberapa saat lamanya mereka larut dalam haru.


Aldi mengurai pelukannya, "Mari sayang kita kenang saat-saat kita yang dulu, ketika kita berada di kamar ini," ucap Aldi.


"Hm hm dasar modus," ucap Aira seraya mencubit perut Aldi.


Aldi merebahkan tubuh sang istri di atas ranjang, kemudian melepas semua penutup tubuh sang istri, pertarungan pun kembali di mulai, dan kamar tersebut kembali menjadi saksi pergulatan sengit mereka.


Aldi merebahkan tubuhnya di samping Aira,setelah pertempuran sengit mereka, ia mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Setelah nafasnya teratur ia kembali memeluk Aira.


"Mulai sekarang kamu ngak akan selamat lagi sayang, mas Aldi akan balaskan dendam mas Aldi selama ini," bisiknya seraya kembali naik di atas tubuh Aira.


Aira hanya bisa pasrah, ia juga sudah tahu bahwa hal tersebut pasti terjadi.


Malam pun semakin sunyi tak ada suara apapun hanya terdengar suara lengkuhan dan des*ahan lirih di balik kamar pengantin baru.


***


Sebulan telah berlalu.


Aira terbangun dari tidurnya dan melirik petujuk waktu yang ada di dinding.


Saat itu waktu menunjukan tepat pukul empat pagi, Tangannya melepas tangan Aldi yang memeluknya dengan erat, kemudian ia langsung terjun dari ranjang karna merasa hendak muntah.


Sesampainya di sana Aira memuntahkan semua isi perutnya.


Uek, uek, uek,


Aldi menerjab-nerjabkan matanya, mencari keberadaan sang istri.


Mendengar suara tersebut datang dari arah kamar mandi, ia pun buru-buru menghampiri Aira.


Uek, Uek, Aira kembali muntah seketika tubuhnya menjadi lemas.


"Bunda ?! Bunda kenapa?!tanya Aldi ketika ia menghampiri Aira.


"Ngak tahu mas Aira tiba-tiba muntah-muntah, rasanya mual," jelasnya.


Aldi tersenyum mendengar penuturan Aira.


"Jangan-jangan kamu hamil?"tanya Aldi.


"Hamil?" kalimat Aira menggantung.


Bersambung, kepulau rote naik odong-odong bagi votenya dong.

__ADS_1


__ADS_2