Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Episode sedih


__ADS_3

Aira di bawa masuk kedalam mobil polisi dan di kawal dengan beberapa mobil petugas.


Aira adalah saksi kunci dalam kasus besar yang melibat mafia internasional, selain itu ia juga masih berstatus tersangka, meski bukti-bukti yang telah di kumpulkan meringangankan tuntutanya, namun karna berkas perkara nya telah di limpahkan ke pengadilan, maka harus menunggu keputusan hakim dalam persidangan untuk merubah status Aira atau membebaskanya.


Mobil tersebut langsung membawa Aira menuju rumah sakit bhayangkara, untuk melakukan visum.


Mobil Aldi mengikuti kemana mobil tersebut membawa Aira.


Sesampainya di rumah sakit, Aira turun dengan pengawalan ketat, beberapa orang polisi mengelilinginya dengan pasukan khusus. Aldi sendiri merasa ngeri melihat istrinya di perlakukan bak mafia besar.


Tanpa takut sedikit pun Aldi berusaha menembus blokade para petugas yang mengawal Aira, tapi lagi-lagi ia mendapat penolakan.


Seorang petugas memberi penjelasan kepada Aldi, jika apa yang mereka lakukan adalah bentuk perlindungan mereka terhadap Aira, sebagai saksi kunci.


Aldi tak mengira jika kasus istri nya malah malah menyeret Aira kedalam kasus sebesar ini.


Aldi mengukiti kemana orang tersebut membawa Aira.


Aira masuk kedalam sebuah ruangan, para petugas tetap berjaga di depan ruangan tersebut.


Sejak istrinya di bawa dengan mobil petugas, Aldi tak pernah melihat batang hidung sang istri secara langsung, karna tertutupi blokade petugas.


Tak hanya di dalam ruangan, bahkan di seluruh sudut rumah sakit, pasukan berseragam dan bersenjata khusus serta Brimob dengan mobil mobil kendaraan khusus mereka ikut berjaga di rumah sakit.


Aldi menelan salivanya, ia bergedik ngeri melihat pemandangan tersebut, namun lagi-lagi ia mengkhawatirkan kondisi sang istri mengingat begitu banyak petugas menjaganya.


Aira akan di aman kan sampai petugas selesai melakukan penyidikan terhadapnya.


Aldi dan Hilman menunggu di sudut ruangan, mereka tak sedikit pun di ijinkan untuk mendekat, apa lagi sampai menyentuh Aira.


Aldi menunggu dengan gelisah, ia tak tahu apa yang di lakukan oleh orang-orang tersebut terhadap istrinya.


Hampir sejam berlalu Aira kembali di bawa dan di kawal, dari arah depan dan dari arah belakangnya, hingga Aldi kesulitan untuk menemui sang istri.


Mereka kembali membawa Aira menuju mobil, masih dengan pengawalan ketat.


Aldi tetap setia membuntuti kemana saja, orang-orang tersebut membawa istrinya.


"Gila, bahkan aku saja suaminya tak di perkenankan untuk menemui istri ku sendiri," guman Aldi sambil memukul stir mobilnya.


Aldi tetap mengikuti iring-iringan mobil yang membawa Aira.


"Gila.... gila..., mereka pikir istri ku penjahat apa!! hingga harus di kawal sedemikian."dengus Aldi, ia memukul benda apa saja yang ada di hadapanya, karna merasa kesal.


Meski menolak, Aldi harus tetap mengikuti peraturan yang berlaku, tak hanya menghawatirkaan keadaan Aira, ia juga memikir kan beban mental sang istri saat menghadapi pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkan pihak penyidik terhadapnya, apalagi peristiwa tersebut adalah masa lalu yang membuat Aira trauma.


Mobil sampai di lapas, seluruh personil di dalam mobil ikut turun dan kembali memblokade jalan Aldi.

__ADS_1


Mereka sampai di LPAS, di sini Aira di sediakan kamar khusus yang terpisah dari penghuni lapas yang lainya..


Dengan perasaan yang bercampur baur Aira masuk kedalam ruangan yang mirip sel tahanan tersebut atau memang sel tahanan dengan nama yang berbeda.


Setelah memastikan keamanan Aira, dua orang polisi wanita dan seorang pisikolog pendamping ikut masuk kedalam ruangan tersebut.


Seorang polwan mendekati dan berbicara langsung pada Aira.


"Ananda Aira, hari ini sudah cukup pemeriksaan untuk kamu, sekarang kamu bisa beristirahat, jika kamu butuh sesuatu, kamu bisa katakan pada kami sekarang, atau butuh konsultasi, kamu bisa bicara pada bu Lina seorang pisikolog yang akan bertugas mendampingi kamu," ucap seorang wanita berpangkat Akp tersebut.


"Saya ngak butuh sesuatu, saya hanya ingin menemui suami saya, "sahut Aira datar tanpa menatap wanita tersebut.


"Suami?.kamu sudah menikah? tanya wanita tersebut kepada Aira.


Aira menggangguk sedih.


Polwan tersebut berlutut untuk mensejajarkan wajahnya pada Aira.


"Kamu kenapa terlihat sedih? kamu takut ya?"tanya polwan tersebut pada Aira.


Aira mengganguk dengan tatapan mata kosong, tanganya masih gemetar saat polwan tersebut menyentuh telapak tanganya.


"Kamu jangan takut ya, meski kita wanita kita juga harus punya keberanian untuk menggungkap kasus ini, maaf membuat kamu tidak nyaman atas situasi ini, tapi inilah cara kami, untuk melindungi kamu," papar wanita tersebut dengan kharismatiknya.


Aira masih diam, tatapanya tetap kosong dengan wajah datarnya.


"Awalnya hanya sebuah cita-cita untuk masuk menjadi anggota pada jajaran kepolisian, tapi setelah berkecimpung di dunia hukum, saya merasa kehadiran saya tak hanya bermaamfaat bagi diri dan keluarga saya, tapi juga bisa menjadi contoh, jika kita wanita juga bisa mensetara kan kedudukan kita dengan kaum pria, dan saya yakin kamu punya pontensi Nak, karna mendengar cerita dan kesaksian kamu, saya yakin kamu adalah gadis yang kuat," ucanya lagi.


Aira menatap wanita tersebut dengan lekat.


"Kami menjanjikan bea siswa masuk akademi polisi tanpa tes masuk untuk kamu Aira, sebagai penganugrahan atas keberanian kamu dalam mengungkap kasus ini, karna hanya kamu yang mau membuka suara dalam kasus ini,"paparnya kembali.


"Kami meminta banyak saksi dari wanita-wanita yang menjadi korban dalam kasus ini, tapi pengakuan mereka berbelit-belik sehingga keterangan mereka tidak failed, dan tidak bisa di jadikan saksi dalam kasus ini, saya mengerti, mungkin mereka mendapatkan ancaman dan tekanan dari orang yang tak menginginkan kasus ini terungkap, selain kamu, ada seorang wanita lagi yang mau menjadi saksi dalam kasus ini, tapi sebelum kami meminta keterangan darinya, wanita tersebut di temukan meninggal, maka dari itu kami melakukan pengawalan ketat terhadap kamu," papar polwan itu kembali.


Aira memicingkan matanya," Siapa dia?"tanya Aira.


"Dia bernama Desi alias Anita, dia yang secara terang-terangan memberikan penjelasan dan keterangan saat petugas mengebrek tempat itu."


"Anita? bukan kah dia yang membantuku untuk lari saat aku berada di tempat itu," Aira bermonolog.


Bulir bening perlahan metes kembali di pipinya," Maaf mbak Anita, Aira belum sempat berterima kasih, Aira belum sempat membalas kebaikan mbak Anita, tapi mbak Anita telah tiada," ucapnya dengan penuh penyesalan.


Polisi tersebut mengusap punggung Aira yang tertunduk menangis.


Setelah beberapa lama meluapkan kesedihanya, Aira kembali bangkit dengan wajah yang tegar.


"Benarkah? saya bisa masuk akademi kepolisian? tanya Aira untuk memastikanya kembali.

__ADS_1


"Iya, kamu juga mendapat bea siswa fakultas hukum sebelumnya, setelah beberapa smester kemudian,kamu bisa menjalani pendidikan pada akademi kepolisian, dan setelah lulus kamu bisa langsung dapat pangkat setara atau lebih dari saya," ucap wanita tersebut kepada Aira.


"Saya bisa jadi seperti anda?" tanya Aira dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tentu Nak, kamu berpontensi, kata-kata lamu lugas, dan berani, kamu seperti singa betina yang tak takut apa pun, kamu berani menyuarakan aspirasi kamu meski saya lihat kamu terlihat gemetar," ucap polwan dengan maksud memotivasi Aira.


Aira kembali haru, ia pun memeluk polwan tersebut.


Sungguh ia pernah punya cita-cita menjadi seorang penegak hukum, dan kini semua ada di depan matanya.


Setelah berbicara dengan Aira, ketiga wanita tersebut keluar dari ruangan Aira dan meninggalkan Aira yang tengah duduk bersandar pada jeruji besi.


Selang beberapa saat setelah para wanita tersebut pergi, Aldi datang menemui Aira, tentu setelah pengecekan dan pemeriksaan yang ketat, bahkan untuk seorang Aldi, ia tak di perkenankan membawa apapun saat menemui istrinya sendiri.


Aira bangkit dan menghambur memeluk Aldi saat Aldi masuk kedalam ruangan tersebut.


"Mas Aldi, " ucap Aira dalam pelukanya.


"Sayang, mas Aldi khawatir sekali sama kamu, "ucap Aldi.


Aira tertawa kecil, "Aira ngak apa-apa Mas."


"Tapi sayang, kenapa kamu di kawal seperti tersangka besar seperti ini?"tanya Aldi binggung sekaligus khawatir.


"Hm bukannya malah bagus Mas, Aira akan aman di sini, Mas ngak usah khawatir, " ucap Aira menenangkan Aldi.


Mereka berbincang-bincang saling menggungkapkan perasaan mereka saat itu.


Aldi hanya boleh menemui Aira beberapa saat saja, setelah itu petugas meminta Aldi untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Mas pulanglah Aira akan baik-baik saja," ucap Aira,


" Jika besok pemeriksaan terhadap Aira selesai, Aira bisa pulang," imbuhnya.


"Iya tapi kamu harus mengabari Mas ya Aira, jangan jauh-jauh dari handphone kamu, " ucap Aldi sambil memberi kecupan pada seluruh wajah Aira.


Aira tersenyum sambil meraih tangan Aldi dan mencium punggung tanganya, "Mas, Aira ngak apa-apa, Mas Aldi istirahat ya, Aira tahu, mas Aldi pasti capek baget," ucap Aira sambil menatap wajah Aldi yang tampak sayu tersebut.


"Ngak usah mengkhawatirkan Mas, Mas tetap ngak bisa tenang, selama kamu jauh dari Mas, jika bisa menggantikan tempat kamu, biarlah mas Aldi yang menanggung semuanya dan mengantikan kamu di sini," ucapnya sambil menakup telapak tangan pada wajah istrinya.


"Terima kasih Mas, dukungan Mas Aldi sudah cukup membantu dan menguatkan Aira, Mas harus kuat, agar Aira juga kuat, saat ini cuma mas Aldi tempat Aira bersandar, tutur Aira dengan mata yang berkaca-kaca.


Aldi kembali tak kuasa membendung air matanya yang kembali tumpah saat harus meninggalkan istrinya.


"Aku cinta sama kamu Aira, mas Sayang se sayang -sayangnya sama kamu, tapi mas Aldi tak bisa berbuat apa-apa, mas harap kamu selalu dalam lindungan Tuhan yang maha kuasa, hanya dialah yang bisa melindungi kamu, saat kamu tak berada di dekat Mas, dan mas percaya dia akan selalu melindungi kamu, " ucap Aldi sambil mencium lekat kedua punggung telapak tangan istrinya selama beberapa ssat.


Aldi harus undur diri, meski sangat berat baginya meninggalkan Aira di sini sendiri, senyum manis dari Aira mengiringi langkah Aldi keluar dari tempat tersebut.

__ADS_1


Bersambung dulu ya guys, maaf ya kalau part yang ini masih sedih, jangan lupa dukung author ya sampai tamat , lope u All.


__ADS_2