
"Bunga dari siapa Nih?"tanya Aldi.
"Hah, ngak tahu Mas, Aira pikir itu dari Mas Aldi," sahut Aira.
"Kamu beneran ngak tahu?"tanya Aldi menatap Aira curiga.
"Beneran ngak tau, Mas?" ujar Aira.
Aldi meletakan bunga tersebut kembali keatas meja dengan wajah cemberut.
Namun Aira kembali meraihnya dan membaca kartu ucapan yang ada di buket tersebut.
"Dari siapa Ya?"tanya dengan berguman.
Sementara Aldi terus menatap curiga kearahnya, membuat Aira tak enak hati.
Aira masuk kedalam kamar dan meletakan bunga tersebut ke dalam vas bunga yang ada di dalam kamarnya, membuat Aldi semakin cemburu.
"Mas kita makan malam di mana?"tanya Aira.
Namun Aldi hanya menatap dengan sinis, Tak ingin terjadi kesalah pahaman, Aira mendekati Aldi kemudian duduk di sampingnya.
"Beneran Mas, Aira ngak tahu bunga itu siapa, apa mas Aldi masih ragu dan ngak percaya sedikit pun pada Aira?" tanyanya sambil meletakan telapak tangannya di atas tangan Aldi, kemudian ia menggenggam tangannya.
Aldi tersenyum kearah Aira, ia memang tak ingin membuang-buang waktu dengan marah-marah.
"Iya Sayang," ucap Aldi seraya mengacak rambut Aira.
"Kalau begitu Aira bersiap dulu Mas."
Aira masuk kedalam kamar bersamaan dengan keluarnya Alia.
"Ayah! lihat koleksi Barbie Alia,"ucapnya seraya menunjukan beberapa boneka yang masih terbungkus rapi dalam kotak terbuat dari mika.
"Mana coba Ayah lihat."Aldi mengamati boneka-boneka milik putrinya.
"Bagus sayang bonekanya, di jaga dan di rawat yang baik ya, nanti Ayah bikin rak khusus untuk koleksi boneka kamu," ucap Aldi seraya mengusap rambut panjang putrinya.
" Asik! tapi Ayah kapan Alia bisa sekolah lagi ? Alia bosan di rumah terus."keluhnya seraya duduk di pangkuan Aldi.
"Alia sekolahnya di rumah saja ya, ikut homeschooling, "usul Aldi.
"Homeschooling itu apa Yah?" tanya Alia.
"Metode belajar di rumah sayang, jadi Ayah ngak perlu khawatir tentang kamu, karna kamu akan selalu di awasi di rumah, Ayah sayang sekali sama kamu Nak, jadi Ayah ngak ingin terjadi sesuatu dengan kamu, saat kamu berada di luar sana," ujar Aldi seraya mencium pipi putrinya, tanganya mengusap lembut rambut sang putri.
"Tapi Yah, Alia jadi ngak punya teman dong kalau sekolah di rumah" protes Alia.
Aira keluar dari kamar karna mendengar obrolan keduanya,"Iya Mas Alia juga butuh bersosialisasi dengan lingkungan dan teman teman sebayanya juga, kalau homeschooling Alia ngak bisa berinteraksi langsung dengan lingkunganya Mas, ngak punya temen juga," Papar Aira yang langsung mendaratkan bokong di samping Aldi.
"Tapi sayang, Alia ini putriku satu-satunya, aku ngak mau terjadi sesuatu kepadanya, jika ia bersekolah di rumah, Alia akan selalu di awasi sedangkan jika bersekolah di luar siapa yang mengawasi," papar Aldi memberi alasan.
"Mas, kalau semua orang tua seperti kamu, generasi kita bisa bermental tempe, masa anak ngak boleh sekolah di luar, cukup Aira yang mas Aldi penjara di rumah," dengus Aira seraya menyilang kedua lenganya di dada.
" Wajar lah mas Aldi penjarain kamu, Habisnya kamu sendiri sudah mempenjarakan hati mas Aldi sih,"selorohnya.
"Ea ea ea," Aldi menaik turunkan sebelah alisnya.
__ADS_1
Aira tersenyum seraya mencubit hidung mancung dari pria tampan yang ada di sebelahnya.
"Bisa saja." Aira.
"Ngak besok Aira mau daftar di sekolah kita dulu Mas, Yayasan Tunas Harapan." ucap Aira seraya tersenyum.
"Ehm, emang kita dulu satu sekolah sayang?"tanya Aldi karna selama ini Aira tak pernah cerita jika ia sebelumnya sudah menyukai Aldi sejak masih SMP.
"Mas ingat siswi SMP yang sering di bully, di ejek miskin, trus sering di kunci di toilet pria?"tanya Aira.
Aldi mengangkat Alisnya mengingat peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu.
"Ehm... iya kenapa?" tanya Aldi seraya menyeritkan dahinya.
"Itu Aira Mas, yang sering di bully tapi slalu kamu bela, yang menangis histeris saat di kunci di toilet sekolah dan hanya mas Aldi yang mau menolong Aira saat itu" papar Aira.
Aldi terperanjat kaget, "Hah, itu kamu sayang?"tanya Aldi dengan mata melotot.
"Cewek jelek, kurus dan dekil itu?!" tanya Aldi mempertegas.
Ha ha ha
"Iya lah, emang kenapa?" sahut Aira tertawa.
"Serius sayang itu kamu?"tanya Aldi lagi.
"Iya mas cewek jelek, kurus,dan dekil itu Aira, wanita yang sudah memberi kamu anak Mas," sahut Aira dengan penekanan di akhir kalimat, ia pun tertawa.
"Waktu itu kan Aira masih dua belas tahun, masih belum bisa ngurus diri, Mas, ya wajar lah jelek, kurus, dekil lagi." Aira
"Tapi meski di bully, saat itu Aira seneng banget,karna selalu di tolong sama cowok paling ganteng dan paling keren di sekolah, siapa sih yang tak kenal Reynaldi," ucap Aira dengan senyum bangganya.
"Hm, saat itu ngak pernah terlintas dalam benak Aira bakalan punya pacar, apalagi sampai menikah sama mas Aldi," ucap Aira dengan mata yang menerawang.
"Saat itu kita seperti bumi dan langit yang terbentang jarak yang begitu jauh atau seperti matahari dan bulan yang tak akan mungkin berjalan beriringan , Aira hanya bisa mengagumi tanpa berharap bisa di cintai, "ucap Aira seraya mengenang sesuatu tak mungkin ia gapai sebelumnya, justru kini berada dekat dengannya.
Aldi tersenyum dan bergerak semakin mendekati Aira," Ternyata kalau udah jodoh ngak kemana Ya," ucapnya seraya mencium pipi Aira.
'Iya Mas, padahal dulu bisa melihat Mas Aldi dari jauh saja sudah seneng banget apalagi sampai memilikinya, rasanya seperti mimpi yang sempurna." Aira
Aldi tersenyum seraya mengelus pipi Aira, ia pun meraih tangan Aira seraya menciumnya.
Aira kembali melirik ke arah Aldi."Ngak jadi ngambek lagi kan?"
"Ngak jadi," sahut Aldi.
" Gitu dong," Aira.
Sementara Alia hanya mendengar pembicaraan keduanya, seraya tertunduk malu melihat keduanya bermesraan.
"Yuk kita pergi, "ajak Aldi.
"Ayuk!!!" teriak Alia penuh semangat.
"Mas kita makan malamnya di mana?"tanya Aira.
"Terserah kamu maunya di mana?"jawab Aldi seraya membuka pintu mobil untuk keduanya.
__ADS_1
"Pokoknya Alia ngak mau makan, kalau ngak ada ayam gorengnya," dengusnya.
"Ia sayang, anak Ayah kan jagonya ayam," cetus Aldi.
"Iya Nih Alia kok setiap hari makannya ayam goreng, ngak bosan apa? kamu ngidamnya apaan si Bun?"tanya Aldi seraya melirik kearah Aira.
"Hm mungkin karna waktu hamilnya setiap hari ngemil kripik usus ayam, jadi Alia doyannya makan ayam," terang Aira.
"Pantesan saja."
Mobil melaju menuju sebuah restoran bercita rasa Indonesia, Sesampainya di sana mereka pun duduk secara lesehan, dan memesan makan dengan menu serba ayam kegemaran Alia.
Aldi begitu menikmati waktu kebersamaan mereka, apalagi ia dan Aira tak canggung lagi untuk bermesraan, sesekali ia menyuapi makanan ke mulut mantan istri sekaligus calon istrinya tersebut, apalagi melihat kecerian putri mereka, sungguh kebahagian tiada tara bagi Aldi.
Saat tengah menikmati santapanya perhatian Aira beralih pada handphonenya yang bergetar.
Aira membersihkan tangannya kemudian meraih handphone, sebuah nomor tak di kenal tertera di layar handphonenya sedang melakukan panggil.
Aira menekan tombol hijau saat itu juga, menerima panggilan telpon tersebut, sementara Aldi menatap sinis,karna merasa terganggu.
"Hallo, siapa ini?"sapa Aira.
"Hallo, Aiptu Ryanti, saya Letnan Airlangga."
"Oh, Letnan, maaf saya tak mengenali nomor anda," ucap Aira sungkan.
Aldi yang sedang menyantap makanannya mengalihkan pandanganya kearah Aira.
"Tidak apa, sudah terima karangan bunganya?"tanya Letnan Airlangga.
"Oh, jadi kiriman bunga tersebut dari Letnan?"tanya Aira seraya melirik ke arah Aldi yang wajahnya memerah, Aira pun semakin sungkan.
Aira sedikit menjauh dan membelakangi Aldi.
"Iya, itu dari saya, kamu suka?"tanya Letnan.
"Hm suka Letnan," jawab Aira dengan terpaksa, ia semakin tak enak dengan Aldi.
"Kalau begitu bagaimana kalau saya jemput sekarang untuk makan malam?"tanya Letnan Airlangga dengan penuh keyakinan.
Ehm... Aira semakin serba salah, karna tatapan Aldi semakin tajam kearahnya.
"Maaf Letnan, saat ini saya sedang makan malam dengan seseorang," jawab Aira.
"Oh, kalau begitu lain kali saja," Letnan Airlangga.
"Iya lain kali saja, maaf ya," ucap Aira sungkan.
"Ngak apa, saya yang harusnya minta maaf karna sudah mengganggu acaranya, kalau begitu silahkan di lanjutkan,"ucap Letnan Airlangga.
"Iya, Letnan tak apa, "keduanya pun menutup telpon secara bersamaan.
Aldi memicingkan matanya kearah Aira, "Teenyata dari Letnan itu?" dengus Aldi, ia pun kehilangan selera makanya.
Aira hanya diam, memikirkan cara bagaimana menjelaskannya pada Aldi.
Bersambung dulu ya guys, yg belum vote monggo di vote dari pada mubazir 😊.
__ADS_1
Yang kangen sama bang Doni dan bang Romeo, in sya Allah episode selanjutnya mereka bertemu, terima kasih 😊