
Satu persatu keluarga Satria keluar dari mobil, Aira dan Pak Tarman sudah sedia menyambut kehadiran mereka di depan pintu.
Salah satu sosok yang datang dan di rindukan oleh Aira adalah Tari.
Setelah keluar dari mobilnya, Tari melambaikan tanganya kearah Aira.
Seketika air mata haru menetes, betapa rindunya ia untuk berkumpul dengan keluarganya tersebut.
"Aira, "sapa Tari, mereka pun saling memeluk dan mencium.
"Mbak Tari, Aira kangen," ucapnya seraya menangis haru di pelukan Tari.
Begitu pun Tari, ia juga menangis haru memeluk Aira, meski keduanya pernah menjadi rival, namun rasa persaudaraan mereka melunturkan semua dendam dan sakit hati yang pernah mengisi hati keduanya.
Setelah puas bercengrama, Aira merasakan perut Tari yang sedikit membesar dan mengeras.
"Alhamdullilah mbak Tari hamil lagi?"tanya Aira.
"Iya begitulah Aira kalau punya gawang ngak di gunci, suka di bobol maling," selorohnya.
Mereka pun tertawa bersama, meski enam tahun tak bertemu, namun Tari tetap tak berubah tetap saja bar-bar.
"Bukan maling, teriak malingkan mbak?" canda Aira.
"Bukan Aira, gawang sengaja di buka biar maling, keluar masuk setiap hari, he he he," kelakar Tari membuat keduanya tertawa.
Sementara Romeo merasa jengah mendengar penuturan Tari yang bar-bar.
Setelah berpelukan dengan Tari, kini giliran Aira bersalaman dengan Romeo.
"Abang, apa kabar Bang?"tanya Aira seraya menjabat tangan Romeo.
"Baik Aira," sahut Romeo singkat, ia memang tak berani macam-macam di hadapan Tari.
Setelah itu Aira langsung menghabur memeluk Maya dan Satria secara bergantian, Aira mata haru seketika tumpah di antara mereka.
"Aira! akhirnya kita berjodoh lagi Nak, " ucap Maya seraya memeluk dan mencium Aira.
"Iya Bunda, puji syukur kepada Tuhan yang masih memberi umur untuk kita bertemu lagi," papar Aira seraya menyapu air matanya.
Aira kemudian mencium punggung tangan Satria kemudian memeluknya.
"Apa kabar Pa?"ucap Aira dalam pelukan Satria.
"Baik Nak, Alhamdulilah kami kembali di pertemukan dengan kamu Nak, " ucap Satria seraya mengurai pelukan mereka.
"Iya Pa, tapi papa masih sudikan?" menerima Aira sebagai menantu?"tanyanya seraya tersenyum
Hm, Satria tersenyum," Bagi kami orang tua ,kebahagiaan kalian adalah nomor satu," ucap Satria.
"Syukur lah."Aira.
Setelah melepaskan pelukanya, Aira langsung mempersilah kan mereka masuk.
Aldi terbengong, karna semua yang hadir di sambut bahkan di peluk oleh Aira, sementara dirinya yang ingin melamar, malah di acukan.
__ADS_1
"Hey..sayang mas Aldi ngak di peluk?"tanya Aldi dengan muka pura-pura begonya.
"Hm ntar aja ya Mas, bukan mahram, sih " cetus Aira bercanda.
Satu persatu mereka masuk menuju kedalam rumah Aira.
Tak ada perabotan mahal atau pun kursi empuk yang menghiasi rumah Aira.
Namun yang membuat mereka terperangah adalah foto-foto Aira yang terlihat gagah dengan seragamnya, serta beberapa medali dan piagam penghargaan buah dari prestasinya di bidang militer.
"Hebat kamu Aira, sekarang sudah jadi polwan, dulu aku ingin sekali tuh jadi polwan, makanya sedari kecil aku sudah belajar ilmu bela diri, " ungkap Tari.
"Ya semua pencapaian ada harga yang harus di bayar Mbak, dan semuanya itu ngak mudah."Aira.
"Ayo, Bunda Papa silahkan duduk di rumah Aira yang sederhana ini," ucap Air ia pun menuju dapur.
Tak hanya Aira, Aldi juga ikut membantu Aira menyajikan hidangan berupa cake dan minuman dingin.
Setelah semua tersaji, mereka duduk tenang kembali.
Heru dan Tania pun tiba.
"Assalammualaikum," ucap keduanya serempak.
"Walalaikum sallam," mereka yang ada di dalam menyahut.
"Eh Mas Heru, silahkan masuk," ucap Aira menghampiri keduanya.
Aira menjabat tangan Tania, mereka pun berkenalan.
"Tania," Tania.
Setelah saling menyebut nama, mereka saling melempar senyum.
Oh ini mantan istri Aldi yang bikin dia ngak bisa move on, cantik tapi terlihat sederhana lalu apa istemewanya?.guman Tania.
Setelah berbasa basi, pak Satria pun memulai membuka obrolan, keadaan yang awalnya sedikit berisik karna obrolan masing-masing mereka, kini menjadi tenang.
"Begini Pak, kedatangan saya dan keluarga ingin melamar Aira sebagai menantu dan calon istri dari putra bungsu saya bernama Aldi."Satria.
Pak Tarman mengganguk pelan, menyimak apa yang akan di sampaikan oleh Satria.
"Maka dari itu sudikah Bapak menerima pinangan keluarga kami kepada putri bapak?" Satria.
"Berhubung keduanya sudah sepakat untuk kembali membangun rumah tangga mereka kembali dengan cara yang makruf, saya selaku orang tua dengan lapang dada dan iklas menerima pinangan Bapak," sahut pak Tarman.
Mereka pun tersenyum, Aldi yang duduk di samping Aira menyiku lengan Aira seraya terenyum melirik ke arahnya.
Aira membalas senyuman tersebut dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat Aldi semakin gemes.
Keduanya pun saling melempar senyum dan saling mecolet mesra.
"Jika seperti itu, kami berterima kasih yang sebesar-besarnya karna keluarga Bapak menerima kedatangan kami dengan baik." Satria.
"Karna kedua belah keluarga sudah menyetujui niat baik putra-putri kita, bagaimana jika kita langsung saja mengikat mereka, dengan sebuah cincin, sebagai pertanda ikatan mereka sebelum keduanya resmi menjadi suami istri" papar Satria.
__ADS_1
"Silahkan pak,"ucap Pak Tarman.
"Aldi ,Aira!" Panggil Satria.
"Kalian berdua siap mengikat satu sama lain, sebelum menuju ijab qabul?"tanya Satria kepada keduanya.
"Siap Pa, se siap-siapnya, "ucap Aldi, ia pun mengeluarkan kotak cincin dari saku baju koko yang ia kenakan.
Aldi menghadapkan tubuhnya tepat di depan Aira, sebelum menyematkan cincin di jari manis Aira, Aldi mengeser cincin yang terakhir ia sematkan ketika melamar Aira secara pribadi.
Saat itu Aldi binggung melihat Aira yang memakai semua cincin-cincin yang pernah ia sematkan, sudah ada empat cicin pemberiannya, dari tunangannya yang dulu, cincin pernikahan mereka yang pertama, serta cincin lamaran pribadinya.
"Ayo mau letak dimana lagi Di?"tanya Maya dengan maksud bercanda.
Aldi menarik sebuah cincin yang ada di jari manis Aira dan memindahkan nya pada sisi yang lain, kemudian ia menyematkan kembali cincin yang ada di dalam kotak.
"Alhamdulilah, "ucap syukur mereka setelah Aldi selesai menyematkan cincinnya.
Tanpa aba-aba Aldi langsung nyosor mencium pipi kening dan bibir Aira satu persatu, cup cup cup, sontak mereka yang melihat langsung melabrak Aldi.
"Aldi! main nyosor saja, belum halal tau!" sergah Satria.
"Maaf khilaf Pa,nyicip dikit masih sama seperti yang dulu ngak rasanya," sahut Aldi jengah.
"Iya nih ngak tahu malu banget mana ada anak-anak", dengus Tari.
"Sorry, abis udah ngak sabar sih," selorohnya kemudian nyengir.
Sementara Aira tersenyum tersipu melihat tinggkah Aldi yang seperti tak sabaran.
"Ijin dulu Di, sama bapaknya, " sahut Satria kembali menggoda Aldi.
Aldi jengah, "Maaf ya Pak, lupa permisi," ucap Aldi.
Pak Tarman tersenyum simpul melihat kenekatan Aldi.
"Sabar kenapa Di, ngak lama lagi kok, bulan depan udah resmi, silahkan kamu sosor sepuasnya," timpal Heru.
Ha ha mereka pun mentertawakan Aldi.
"Ya sudah Aira, kalau sekali lagi Aldi berlaku tidak sopan, kamu undur saja pernikahan kalian sampai tahun depan," sahut Maya.
"Jangan!" sahut Aldi.
"Yang ada Aldi malah nekad Pa," sahut Romeo.
"Tau aja loh Rom," dengusnya.
Setelah puas menggoda Aldi, mereka pun mengakhiri pertemuan dengan makan malam bersama, meski hanya makan sederhana dan duduk secara lesehan, tapi tak sedikit pun mengurangi kebahagian mereka semua.
Canda dan tawa mengiringi sepeanjang pertemuan keluarga tersebut, selain acara lamaran, Aira dan Aldi merasa seperti reuni kembali, mereka bahagia mengingat saat-saat indah yang mereka lewati bersama keluarga mereka yang hangat.
Bersambung, guys jangan lupa setelah baca dukung author ya, terima kasih.
Baik
__ADS_1