
Di sebuah ruang introgasi kepolisian, pak Tarman duduk dengan tangan yang terikat borgol.
Sebuah alat perekam sedang memutar setiap pertanyaan dan introgasi dari seorang pria berjaket hitam.
"Apa benar anda yang telah melakukan penusukan atas nama almarhum Retno Hariadi? Tanya petugas dari kepolisian tersebut kepada pak Tarman.
"Iya Pak," jawab pak Tarman singkat, dengan wajah yang tertunduk.
"Atas motif apa?" polisi
"Hutang pihutang pak." Pak Tarman
"Kapan anda melakukan eksekusi tersebut?"
Pak Tarman diam sejenak, ia binggung harus menjawab apa, ia tak tahu kapan Retno datang ke rumahnya.
"Pukul sebelas malam Pak," jawabnya sedikit gugup.
Polisi sudah mencurigai pak Tarman.
"Lalu kenapa darahnya sudah mulai mengering dan anda melapor pada dini hari pukul dua pagi, kemana anda setelah itu?"
Pak Tarman semakin gelagapan, ia sendiri binggung tak pernah terpikir olehnya, akan mendapat pertanyaan yang sulit seperti ini.
"Saya, saya, saya menelpon ambulan pada pukul 12 malam dan ikut dalam ambulan tersebut," jawabnya dengan sedikit gemetar.
Polisi memperhatikan tindak tanduk pak Tarman yang terlihat gelisah tersebut.
__ADS_1
"Jika kejadian di lakukan pada pukul sebelas malam dan anda langsung membawa korban setelah itu, kemungkinan korban tak akan kehilangan banyak darah dan tak kan terjadi infeksi pada luka korban." polisi.
Pak Tarman gelagapan, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, pikiranya kacau, ia tak ingin polisi tahu kejadian yang sebenarnya.
"Dan saat penyelidikan, di tubuh korban kami menemukan terdapat DNA yang hampir sama dengan DNA anda, tapi bukan DNA anda." ucap Polisi dengan menatap wajah pak Tarman.
Pak Tarman semakin gelisah, keringat terus mengucur di wajahnya yang pucat.
"Begitu pun pada pisau yang di gunakan untuk menusuk korban, ada sidik jari lain selain sidik jari anda dan sidik jari itu sangat jelas karna di pertegas dengan noda darah."
"Selain itu, kami sudah meminta keterangan dari rekan-rekan anda, jika anda pulang dari tempat anda dan rekan anda berkumpul pada malam itu pada pukul sebelas malam, dan lebih menyesatkan lagi, korban berada di atas ranjang dalam keadaan yang hampir bugil dengan tubuh yang terngkurap."
Pak Tarman tak bisa mengelak lagi, ia tak tahu bagaimana cara mematahkan bukti dan keterangan dari pihak kepolisian.
"Kami yakin ada kasus baru di balik kasus penusuk kan tersebut, jadi kami minta anda untuk jujur sejujurnya demi mengungkap kasus ini," ucap polisi tersebut dengan tegas.
"Mereka melarikan diri keluar kota dan tim kami kini sedang berupaya mengejar mereka," tamnah polisi tersebut.
Pak Tarman sudah tak bisa mengelak, seluruh bukti memang tak mengarah kepadanya.
"Bagaimana menurut anda pak, anda masih mau mengakui jika yang yang melakukannya, atau anda akan membantu kami mengungkapnya, mungkin kami akan mempertibangkan hukuman yang lebih ringan untuk anda dan putri anda," ucap petugas tersebut dengan penekanan di akhir kalimat.
Pak Tarman diam, tubuhnya semakin gemetaran, ia berusaha untuk tenang tapi malah ia semakin gelisah.
Tatapan polisi masih saja tajam kearah pak Tarman.
"Kami sudah membuat selebaran untuk memburu putri, anda jika dalam waktu tiga hari kami tak menemukan jejaknya, hukumannya akan semakin berat jika terus berupaya kabur, dan baru saja kami mendapat kabar, identitas dari pria yang membawa lari anak anda, dia adalah Romeo vernando statusnya mahasiswa di universitas terkemuka di kota ini," papar petugas tersebut.
__ADS_1
"Tinggal mencari informasi tentang putri anda, dan saya harap anda bisa memberi keterangan kepada kami di mana keberadaan putri anda sekarang."
"Atau kami akan menambah hukuman yang lebih berat kepada putri anda, dengan kasus yang lebih berat yaitu pembunuhan berencana, dan hukumanya paling lama dua puluh tahun atau di penjara seumur hidup," gertak polisi tersebut.
Pak Tarman gelagapan seketika itu ia menangis dan menggakuinya.
"Jangan pak, putri saya jangan di hukum, karna dia masih di bawah umur, "ucapnya dengan bibir gemetar, pak Tarman pun menangis.
Polisi masih merekam penuturan pak Tarman.
Pak Tarman menangis sejadi-jadi, ia merasa sangat bersalah, setelah mengatur nafas dan menenangkan dirinya Pak Tarman melanjut kan kata-katanya.
"Hukum saja saya Pak, karna sayalah ini semua terjadi, ini semua kesalahan saya, saya tidak bisa menjaga anak saya, terlebih saya hampir saja menjualnya dengan lelaki bejat yang bernama Retno, Retno memang menyukai anak-anak di bawah, dan sudah beberapa anak gadis yang menjadi korman pencabulan Retno pak."
Pak Tarman menjeda kata-katanya ia menarik nafasnya, air matanya terus saja mengalir membasahi pipi dan hidungnya.
"Saya yakin Retno pasti ingin melecehkan putri saya pak, karna saya menemukan baju anak saya yang sobek di bawah ranjang, dia pasti ingin memaksakan kehendaknya kepada putri saya pak, saya yakin putri saya hanya ingin membela diri Pak, dia tak bermaksud untuk membunuh Retno," papar Pak Tarman
dengan tangis yang terisak.
Petugas tersebut mendengar dengan seksama penuturan pak Tarman.
"Ehm, baiklah penyelidikan akan tetap di lanjutkan, sampil menunggu saksi dan tersangka."
"Baik, untuk sementara keterangan anda cukup sampai disini, sekarang kami akan membuat surat penangkapan untuk saudari Rinaty Alfaira alias Aira, " ucap polisi tersebut, sambil memaut jari jarinya dengan menggenggam tanganya.
...Pak Tarman kembali menangis, ia semakin tersiksa membayangkan bagaimana nasib Aira jika di penjara....
__ADS_1
Nah semakin serukan reader, berikan like komen dan vote anda untuk karya receh author ini, dukungan anda saat bearti untuk author.