
Setelah makan malam bersama, Alia, Alita dan Ghael kembali ngobrol santai di balkon rumah.
Ketiganya duduk saling berhadapan.
"Bang, Abang kapan pulangnya dari liverpool?" Tanya Alia.
"Minggu kemaren," Ghael.
"Ngak ada bawa oleh-oleh untuk Alia dan Alita" Alia.
"Ehm ada, di rumah Oma, besok Abang ambil," jawab Ghael.
Alita hanya menyimak obrolan mereka, karna ia sendiri tak tahu harus bicara apa, sementara Ghael sepertinya juga tak berminat untuk mengajaknya bicara.
Ghael memang type cowok yang dingin dan bicara se-adanya sangat berbeda dengan dirinya yang dulu ketika masih kecil yang genit dan suka merayu wanita.
" Kamu sudah punya pacar Alia?" Tanya Ghael seraya melirik ke arah Alia.
"Ehm, belum Bang, tapi Alia ada suka sama seseorang," ucapnya malu-malu.
Ghael tersenyum kecut.
"Oh Ya, apa dia teman se profesi kamu?"tanya Ghael lagi.
"Bukan Bang, aku juga ngak tahu dia kerja apa,"jawab Alia santai.
"Hati-hati Alia, sekarang banyak banget cowok brengsek yang pura-pura baik demi mendapatkan wanita incarannya, apalagi kamu cantik dan punya segalanya, cowok mana sih yang ngak mau dekat-dekat dengan kamu," nasehat Ghael.
"Sebaiknya kamu cari tahu asal-usulnya dulu, siapa namanya, apa pekerjaannya, dimana tempat tinggal dan tempat bekerjanya, dan siapa orang tuanya." Ghael.
"Hm, Benar Alia, kamu masih polos,kamu juga kenalan di jalan dengannya, sebaiknya kamu hati-hati Alia," imbuh Alita.
Ghael terkejut mendengar pemaparan Alita.
"Apa kamu kenal di jalan Alia?" dengus Ghael.
"Alia, Ayah dan ibumu orang terhormat, jika dia memang dia serius dengan kamu, dia pasti akan langsung bicara pada orang tua mu, ingat Alia wanita terhormat tak menjalin kasih secara sembunyi-sembunyi." Ghael.
Alia tergaman di hatinya mengakui kesalahannya itu.
"Iya Bang," jawab Alia.
Sesaat mereka pun terdiam.
***
Geng motor Bagas sudah bersiap di markas, mereka menunggu kedatangan Bagas untuk lomba balab liar di jalan raya, maklum saja malam minggu seperti ini memang sudah menjadi jadwal mingguan mereka.
"Si Bagas kemana sih?" Dengus Ponco seraya celingak celinguk melihat kearah jalan raya.
"Woi Ponco, si Bagas mana?!" Tanya Windy dari kejauhan.
"Ini gue lagi nungguin dia," ucap Ponco seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Ponco merogoh saku celana gombarangnya mencari hand phonenya.
Ia kembali menelpon Bagas namun panggilan Bagas selalu di alihkan.
__ADS_1
"Sudahlah ngak usah di tunggu Bagasnya. Akhir-akhir ini kan Bagas memang aneh,"dengus Windy.
"Yok Bro! Kita tancep gas sudah pukul setengah sembilan Nih, jalanan lagi rame-ramenya nih," Windy.
"'Yah Gas, kenapa sih loh, susah banget menghubungi loh,"dengus Ponco ia pun beranjak dan naik ke atas motornya.
"Jadi gimana masih nungguin Bagas?"tanya Yudi.
" Ya sudalah Man, Bos kita ngak hadir, ngapelin ceweknya kali maklum kate si Ponco dia lagi kasmaran." Windy.
"He he kesambet kali tuh orang katanya ngak nafsu sama cewek! Punya cewek bikin ribet, tapi sekarang malah dia ngak nonggol, atau jangan-jangan dia lagi jagain lilin kali ya," canda Yudi.
"Dah Yok cabut, siapa yang menang bebas beli bahan selama sebulan!" Teriak Windy
karna suara motor mereka nyaring.
Sepuluh orang bergerak menuju garis finis.
Misi mereka adalah mencari siapa yang bisa melaju paling cepat untuk sampai ke alun-alun kota yang berjarak sekitar 15 kilo meter, namun harus melalui jalanan padat yang merayap.
Kelakuan mereka begitu meresehkan hingga banyak warga yang melapor karna merasah resah.
Kesepuh pemotor sudah siap di garis start yang mereka tentukan, Auman motor dan asap knalpot yang menggumpal memenuhi sekitar mereka.
Seorang wanita berdiri di depan garis start untuk mengangkat bendera ketika perlombaan akan di mulai.
"Tiga dua satu! Cewek seksi tersebut memberi aba-aba, ia pun mengangkat bendera.
Brum brum para raider tersebut melesat dengan cepat namun formasiĀ mereka berantakan saat sebuah mobil patroli dan beberapa motor polisi mengepung mereka.
Akhirnya sepuluh remaja tersebut di gelandang ke kantor polisi.
Mereka di intrograsi dan di periksa karna dari mulut mereka tercium bau minuman alkohol, tes urine pun di lakukan untuk mengetahui apakah mereka juga mengkomsumsi narkoba.
***
Ketika asik ngobrol bersama Ghael dan Alita, Alia mendapat telpon dari Bagas.
"Ehm, permisi Bang," Alia menjauh dan menggangkat telpon dari Bagas.
"Hallo," sapa Bagas gugup.
"Hallo Gas," balas Alia, keduanya pun mengukir senyum di tempat yang berbeda.
Sejenak hening.
"Alia kamu lagi di mana?"tanya Bagas memecah sepi.
"Lagi di rumah saja."
" Ngak malam mingguan?"tanya Bagas yang tersipu-sipu sendiri menertawakan dirinya yang grogi.
" Ngak, aku lagi kumpul keluarga," jawab Alia yang juga grogi.
"Alia kamu sudah punya pacar?" Akhirnya kata tersebut tercetus juga di bibirnya.
"Eh memangnya kenapa kamu tanya seperti itu?" Masih malu-malu.
__ADS_1
" Kalau kamu belum belum punya pacarkan bearti aku punya kesempatan untuk dekatin kamu," ucap Bagas seraya menahan nafasnya agar jantungnya tak berhenti mendadak.
Alia tertawa kecil, ia juga tak bisa menjawab saat itu meski hatinya menjawab ia, namun bibirnya masih menahan.
"Kenapa tertawa?"tanya Bagas ia pun tertawa kecil.
Meski tak berhadapan secara langsung tetap saja ada rasa grogi di antara keduanya.
"Ngak apa-apa, Apa itu artinya kamu nembak aku?"tanya Alia masih dengan malu-malu.
"Iya kali Ya, kenapa kurang romantis ya? He he maklum grogi"
Alia tersenyum senyum, Ghael yang berbincang dengan Alita sesekali melirik ke arah Alia yang sedang ngobrol dengan seseorang.
Sepertinya Ghael tidak suka melihat Alia saat itu.
Alita memperhatikan raut wajah Ghael yang berubah ketika melihat senyum Alia saat bicara pada seseorang di telpon.
***
"Alia aku punya lagu untuk kamu, kamu dengarin ya," Bagas.
"Ehm, iya,"Alia
"Kita video call ya," pinta Bagas.
Alia mengalih kan mode panggilannya ke video call.
Bagas pun sama, ia meletakan Hand phonenya ke meja atas meja kecil yang ada di kamarnya.
Wajah cantik Alia pun terlihat pada layar hand phonenya, membuatnya semakin semangat.
Bagas bermain gitarnya intro demi intro sementara Alia selalu tersenyum melihat Bagas yang sedang menyanyikan lagunya.
" Terima lah lagu ini dari orang biasa tapi cinta ku pada mu luar biasa,aku tak punya bunga, aku tak punya harta yang ku punya hanyalah hati yang setia tulus pada mu,"
Bagas pun selesai menyanyikan lagu tersebut.
Alia tersenyum," Bagas suara kamu bagus sekali," ucap Alia.
"Masa' sih?"tanya Bagas.
"Iya, kamu cocok banget jadi vokalis" sanjung Alia.
" Tapi lagu itu aku nyanyiin spesial untuk kamu Alia,"ucap Bagas seraya menatap Alia.
Alia semakin tersanjung, senyum tak lepas dari wajah cantiknya.
Begitu bagas, dalam hatinya ia begitu mengagumi
Wajah cantik yang ada di layar hand phonenya.
Mereka pun ngobrol panjang lebar, karna sebelumnya mereka tak pernah ngobrol lama.
Alia meninggalkan Ghael dan Alita agar mereka leluasa ngobrol, Meski begitu keduanya masih sama-sama sungkan.
Bersambung
__ADS_1