Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Sungkeman


__ADS_3

"Sah!" para saksi menjawab di barengingi dengan ucapan syukur dari Ghael dan keluarga.


Aldi memeluk keponakan yang kini resmi menjadi menantunya tersebut.


"Selamat Bang, Ayah titip Alia pada mu," ucap Aldi terharu, Alia adalah kesayangannya dan hanya orang-orang pilihan saja yang bisa ia amanahkan untuk menjaga putrinya tersebut.


"Iya Yah, in shaa Allah, Abang akan jaga Alia dengan baik," ucapnya dengan bulir bening yang menetes di pipi.


Setelah memeluk ayah mertuanya ia pun memeluk kedua orang tuanya, secara bergantian, Ghael menangis haru dalam pelukan sang ibunda dan ayah andanya, setelah kedua orang tuanya ia memeluk kedua oma dan opanya seraya memohon doa agar rumah tangganya jadi rumah tangga yang sakina.


Kemudian ia menghampiri Heru memeluknya,"Selamat Bang!papa yakin abang adalah imam yang baik untuk Kakak," ucap Heru seraya mencium pipi Ghael yang basah oleh air mata tersebut.


Karna ia memang menyayangi dua keponakannya tersebut Alia dan juga ghael.


Setelah ucapan selamat, acara di lanjutkan dengan menyemat cincin.


Ghael di minta untuk segera menjemput sang istri.


Di tuntun oleh Tari , Ghael melangkah mantap menjemput Alia di kamarnya, yang kini sudah resmi menjadi istrinya tersebut.


***


Sah! suara tersebut terdengar hingga ke kamar Alia.


Tik, bulir bening menetes di pipinya, kini resmi sudah ia menjadi istri Ghael.


Alia membiarkan bulir bening tersebut menetes hingga menggantung ragu pada dagunya.


Untuk beberapa saat ia terdiam.


Sah!


Mendengar ijab qabul yang sukses, Aira pun buru-buru menghampiri Alia dan memeluknya begitupun Alita.


"Sayang selamat ya, sekarang kamu sudah resmi menjadi seorang istri," ucap Alia.


Deg,


Alia tersenyum simpul, entah ia harus bahagia atau sedih.


Tapi melihat sang Bunda yang terlihat bahagia, ia pun mencoba untuk bahagia.


Setelah beberapa saat, mereka pun mengurai pelukannya.


Aira sampai meneteskan air mata harunya.


Kini giliran Alita yang memberi selamat, "Selamat ya Nyonya Ghazanfar,"ucap Alita.

__ADS_1


"Terima kasih Lit," Alia menutup kelopak matanya beberapa detik untuk mengalirirkan bulir bening yang tak tertampung lagi.


MUA, kembali menepuk spon pada wajah Alia untuk merapikan make-upnya.


"Jangan nangis lagi ya say,ntar make-upnya luntur, " canda tukang rias tersebut kepada Alia.


"Iya sayang, senyum dong," pinta Aira.


Alia mencoba untuk tersenyum dengan hati yang berat.


***


Ghael melangkah dengan jantung yang berdetak kencang, seketika ia menjadi nervous karna kini status mereka sudah resmi menjadi suami istri.


Selain itu ia sudah tak lagi kuat menahan rindu karna hampir dua minggu ia dan Alia tak bertemu.


Ghael pun tiba di depan kamar Alia, sebelum masuk kedalam kamar ia mengucapkan salam.


"Assalammualaikum, "ucap Ghael dan Tari.


"Waalaikum salam,"jawab mereka semua serempak.


Semua yang ada di dalam kamar pun menoleh kearah Ghael.


Senyum yang begitu manis tersungging di wajah tampan Ghael, dengan tatapan berbinarnya ia menatap sang istri yang terlihat begitu cantik bak bidadari kayangan.


Jantung Alia berdetak kencang ketika melihat Ghael yang menghampirinya dengan perlahan.


Alita dan Aira tak menarik senyum mereka, netra mereka mengekori kearah Ghael dengan perlahan mendekat ke Alia, keduanya pun ikut bahagia.


Ghael menyodorkan tangannya kearah Alia ketika mereka sedang berhadapan.


Ayo istri ku, kita turun ke bawah untuk melanjutkan ritual pernikahan kita," ucap Ghael.


Alia hanya menggangguk dan tersenyum, ketika meraih tangan Ghael yang terasa dingin.


Ghael menarik tangan Alia dan mengecupnya sesaat, kemudian tersenyum.


Sebenarnya Ghael adalah sosok romantis di balik sikafnya yang terlihat dingin tersebut, hanya saja, Alia tak pernah memberi kesempatan baginya untuk menunjukan sisi romantisnya.


Alia hanya tersenyum simpul, semua sikaf romantis tersebut terasa hambar baginya.


Keduanya pun berjalan beriringan, dengan Alia yang menggandeng mesra tangan Ghael.


Keduanya berjalan sambil sesekali saling melempar senyum.


***

__ADS_1


Tari dan Aira pun berpelukan. "Akhirnya kita jadi juga berbesan Alia,"ucap Tari bahagia ia pun menitikan air mata harunya


"Iya mbak, aku yakin Ghael bisa menjadi imam yang baik untuk putri ku," ucap Alia yang tak kalah haru.


Alita pun tak kalah haru, melihat Alia yang menikah, rasanya ia pun ingin segera menikah,


Rasanya aku juga ingin segera menyusul Alia untuk segera menikah, tapi jangankan calon suami, pacar saja aku belum punya.


Ketiganya pun menyusul Alia dan Ghael yang menuruni anak tangga.


Sesampainya di lantai bawah mereka di tuntun untuk duduk berdampingan di depan sebuah meja kecil, di sana sudah ada dua buah buku nikah dan kotak cincin.


Penghulu pun menyodorkan buku nikah untuk di tanda tangani keduanya secara bergiliran.


"Silahkan tanda tangani," ucap penghulu tersebut kepada keduanya.


Ghael dan Alia menandatangani buku yang berbeda kemudian saling bertukar kembali, setelah menandatangai buku nikah, keduanya pun memamerkan buku nikah tersebut ke kamera yang tengah menyorot mereka.


Setelah itu, kedua pengantin bertukar cincin yang kemudian di lanjutkan dengan acara sungkeman.


Aldi, Romeo ,Aira dan Tari, kini mereka berada di satu pelaminan dengan pasangan mereka masing-masing.


Alia dan Ghael pun menghampiri kedua orang tuanya masing-masing untuk sungkeman.


Alia duduk bersimpuh seraya mencium punggung tangan Aldi.


Ayah, hari ini putri ayah yang tercinta ini akan membuka lembaran hidup baru, Alia minta keridhoan Ayah untuk melepas Alia Yah, semoga pernikahan Alia langgeng hingga mau yang memisahkan, hiks hiks hiks, maafkan Alia Yah, Alia belum bisa membalas kebaikan Ayah dan Bunda, Alia belum bisa jadi anak yang berbakti,hiks hiks, jadi Alia minta semoga Ayah bisa merelakan Alia untuk ikut bersama suami Alia kemana pun ia pergi hiks hiks," ucap Alia dengan air mata yang berderai, ia pun bersimpuh mencium dan memeluk lutut ayahandanya.


Mereka pun larut dalam haru, Aldi memeluk dan mencium Alia beberapa kali, seraya menangis haru.


"Iya Nak Ayah ridho dan iklas," ucap Aldi yang sedang memeluk putrinya tersebut.


Setelah beberapa saat mereka pun merenggangkan pelukannya.


Setelah sungkeman dengan Ayahandanya, Alia pun berjalan dengan lututnya menghampiri sang ibunda dan kata-kata yang sama pun ia ucapkan seperti yang di ucapakannya pada Aldi.


Lain halnya dengan Alia, lain pula dengan Ghael.


Ghael bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya, memohon ridho dan kerelaan kedua orang tuanya.


Kini Ghael berada tepat di hadapan Tari, ia pun duduk bersimpuh mencium lutut sang ibunda.


"Ma, Abang mohon restu dan ridho dari Mama dan Papa, juga mohon bimbingan agar Abang bisa jadi kepala keluarga yang baik yang dapat membahagiakan, melindungi dan mendidik istri Abang dengan baik, hingga menuju keluarga yang sakina mawadha warohma,"ucap Ghael seraya menitikan air mata harunya.


His hiks, Tari lebih haru, di angkatnya tubuh putranya tersebut kemudian ia peluk.


"Tentu sayang segala doa yang terbaik selalu untuk kamu, semoga kamu jadi imam yang baik untuk istri dan anak-anak kamu hiks hiks, "ucap Tari dengan haru, keduanya pun menangis dengan saling memeluk selama beberapa saat.

__ADS_1


Bersambung guys, mau tahu dong gimana kalau Bagas, Alita, Ghael dan Alia bertemu di satu pelaminan episode selanjutnya ya!!


__ADS_2