
Malam harinya mereka akan mengadakan makam malam bersama, Maya dan Satria juga hadir di sana.
Mereka menghampar tikar, acara makan malam kali ini akan di gelar secara lesehan.
Di rumah mewah tersebut sudah terjadi acara masak memasak sejak sore hari, seperti mengadakan pesta kecil, mbok Jum seolah bernostalgia ketika berada di rumah itu, ia pun masuk kedalam kamarnya yang dulu pernah ia tinggali.
Semua tak berubah, keadaan masih tetap sama persis ketika ia meninggalkan tempat tersebut.
Karna acara tersebut diadakan secara mendadak, Aldi meminta mang Ujang berbelanja untuk kebutuhan acara mereka.
Mang ujang pun meminta pak Adi untuk membantunya berbelanja.
Sementara para istri dan asisten rumah tangga mereka turut membantu menyiapkan bumbu, ada pula yang mengaron nasi dalam kuali yang besar.
"Aduh senangnya, belum aqiqahannya sudah rame ya mbok?" tanya Maya pada mbok Jum ketika melihat kesibukan yang ada di dapur.
"Iya Nya, simbok senang sekali apa lagi kalau anak si mbok ada di sini," ucap Simbok.
"Heru maksudnya?"tanya Maya sambil tersenyum.
"Siapa lagi anak simbok, kalau bukan mas Aldi dan mas Heru, " sahut Mbok Jum.
"Iya nanti saya telpon si Heru, kebetulan Heru masih ada di sini Mbok, istrinya juga baru selesai empat puluh hari pasca melahirkan," ucap Maya.
"Oh Alah, sudah punya anak kok ngak bilang-bilang,"dengus si mbok.
"Lupa kali Mbok, maklum Heru akhir-akhir ini sibuk banget karna harus bolak-balik, dari rumah mereka ke pabriknya.
"Ya sudah Nya, telpon mas Heru sekarang, bilangin si mbok ada di sini, jangan ngak dateng ntar si mbok ngambek loh,"ucap mbok Jum sambil mengkerucutkan bibirnya.
"Iya," Maya pun meraih hand phonenya dan menelpon Heru.
***
Lain kesibukan di dapur, lain pula kesibukan di dalam kamar, di mana Aldi sibuk mengurusi anak dan istrinya
Karna hari sudah sore Aldi berniat memandikan putranya.
Ia pun membawa tempat mandi bayi yang terbuat dari stainless steel, kemudian mencampur air hangat kedalam bak mandi tersebut.
Sementara Aira berbaring seraya memperhatikan kesibukan ayah muda tersebut.
Aira tersenyum melihat Aldi yang begitu sabar dan telaten mengurus ia dan bayinya.
"Bun, air hangatnya sudah siap!" ucap Aldi.
"Iya Yah! "Aira pun membuka pakaian bayinya satu persatu, dengan hati-hati, karna tali pusar sang bayi masih menempel.
Bayi tersebut menangis ketika sang ibunda membuka pakaianya.
Aira langsung menutupnya dengan handuk bayi lembut.
Dengan hati-hati Aira berjalan menuju bak mandi.
Aldi sudah menunggu di samping bak mandi tersebut, untuk menyambut bayinya.
__ADS_1
Dengan hati-hati mereka melepas handuk yang menutupi sang bayi.
Baby boy menangis ketika tubuhnya menyentuh air, Dedek mandi dulu, " ucap Aldi seraya menuang sedikit sabun cair pada telapak tangannya.
"Pakai sabun dulu ya sayang, " ucap Aldi seraya mengusap sabun ke seluruh tubuh bayinya.
Baby boy pun menangis," Cup-cup jangan nangis dong Dek," ucap Aldi.
Aira hanya tersenyum melihat Aldi yang memandikan bayi mereka, "Ayah pinter banget mandiin bayinya, jadi makin sayang," ucap Aira sambil pencium pipi Aldi.
"Harus dong Bun, kalau Bunda kerja nanti, Ayah harus bisa mengurus dedek Bun, kalau ngak sekarang membiasakan diri kapan lagi,"papar Aldi.
"Emang Ayah yakin Yah, ngak mau nyewa jasa babysitter? ngurus bayi itu ngak gampang loh Yah, Ayah kan harus bekerja juga."Aira.
"Gampang Bun, Bunda dinas paginya kan Tiga hari dalam seminggu, dan selama itu Ayah bekerja dari rumah, nah kalau Bunda dinasnya siang, sebelum Bunda berangkat, Ayah harus sudah pulang, biar kita gantian menjaga baby boy," papar Aldi.
"Yah, semoga saja deh kita bisa melalui masa-masa ini Yah,"ucap Aira.
"Kita pasti bisa Bun, asalkan kita sama-sama saling mengerti dan sabar, semuanya akan berlalu kok, Ayah ngak mau percayakan putra Ayah di asuh sama orang yang tak di kenal," ucap Aldi.
"Hm, Ayah memang the best Yah, sosok Ayah dan sosok suami yang begitu menyayangi keluarga nya, Bunda beruntung sekali dapat suami seperti Ayah," ucap Aira sambil memeluk pinggang Aldi yang sedang membalut tubuh baby boy dengan handuk.
"Bisa saja Bun, kalian itu harta Ayah paling berharga Bun, kalau uang dan perusahaan bisa Ayah percaya kan pada orang lain, tapi jika keluarga Ayah, Ayah ngak akan percaya pada siapa pun," ucap Aldi.
"Hm so sweatnya sini Bunda tium lagi," ucap Aira sambil mencium pipi Aldi.
"Jangan tium-tium terus Bun, nanti Ayah khilaf bisa robek lagi tuh jahitannya," seloroh Aldi.
"Ehm katanya sayang keluarga, baru gitu aja udah khilaf," sungut Aira
Ketika itu Maya mengetuk pintu dan masuk dalam kamar mereka di susul dengan Satria.
"Eh cucu Oma sudah mandi?"tanya Maya sambil menghampiri keduanya.
"Sudah dong Oma, Ayah yang mandiin,"sahut Aira.
"Hah, kamu bisa ngurus bayi Di?"tanya Satria.
"Bikinnya aja bisa Pa, masa ngurusnya ngak bisa, " celetuk Aldi.
"Kamu ini paling bisa, kalau soal yang begituan," dengus Satria.
"Bisa dong Pa, kan anak Papa," sahut Aldi lagi.
"Tapi Papa bikinnya bisa Di, ngurusnya yang ngak bisa," sahut Satria.
"Ya begini deh Pa, kalau punya istri yang juga bekerja, jadi harus serba bisa deh," sahut Aldi.
Aldi menuang minyak telon pada bagian perut dan ubun-ubun anaknya,tak lupa bagian punggung dan kaki juga.
Satria tersenyum, karna tak menyangka putra bungsunya yang manja tersebut bisa mengurus bayi mereka sendiri.
Setelah menabur bedak Aldi pun secara telaten memakaikan popok dan gurita bayi, kemudian di bedongnya.
"Sudah siap, Ayo siapa yang mau gendong baby boy?"tanya Aldi.
__ADS_1
Maya meraih bayi tersebut dari gendongan Aldi.
"Duh cayang, sudah wangi cucu Oma," ucap Maya menimang bayi mereka.
"Nah, sekarang giliran Bunda yang mandi Bunda," titah Aldi.
"Hah, Ibunya juga kamu yang mandiin Di?"tanya Satria.
"Ngak dong Pa, bisa-bisa jebol lagi yang sudah di barau sama bidan," sahut Aldi dengan nada bercanda.
"Emang kolam Di di barau," sahut Satria tertawa.
***
Malam harinya, mereka semua berkumpul untuk makan malam.
Hidangan di bagi beberapa porsi namun tetap mereka dalam lingkaran yang besar.
Para asisten menyajikan makanan, sementara anggota keluarga berkumpul-kumpul untuk sekedar ngobrol sambil menunggu anggota keluarga yang lain.
"Assalammualaikum," tiba-tiba terdengar suara yang tak asing di telinga, dan mbok Jum yang mendengar suara tersebut langsung berdiri.
"Waalaikum sallam,"ucap Simbok seraya berjalan menghampiri arah datangnya suara.
"Mbok!" ucap Heru, ketika melihat wanita tua datang menghampirinya.
"Den Heru," ucap Mbok Jum, yang melangkahkan kakinya mendekati Heru dengan air mata yang perlahan menetes.
"Mbok,"ucap Heru.
"Heru kangen sama Mbok," ucap Heru yang langsung memeluk Mbok Jum.
Hiks hijs hiks, Mbok Jum menangis di pelukan Heru, wanita tua tersebut memang begitu menyayangi Heru, begitu pun Heru yang lebih manja ke mbok Jum di banding dengan Maya.
Heru pun ikut menangis haru, mengasuh Heru sejak ia lahir membuat keduanya punya ikatan batin seperti ibu dan anak.
Apalagi Mbok Jum yang tak memiliki anak kandung.
Setelah beberapa saat mereka mengurai pelukannya.
Mbok Jum pun terlihat lebih tenang.
Heru menghampiri Tania yang sedang menggendong bayi mereka.
"Mbok, ini istri Heru, dan ini putra kami," ucap Heru memperkenalkan Tania.
"Ya Allah, Alhamdullilah sekali, Mbok diberi kesempatan dan di panjangkan umurnya karna melihat anak mas Heru," ucap Mbok Jum haru, ia pun kembali mencium Heru dengan haru.
Tania juga terharu melihat Heru yang kembali bertemu dengan ibu asuhnya, Akhirnya ia bisa juga bertemu dengan ibu asuh yang biasa di ceritakan Heru kepadanya.
Setelah pertemuan haru tersebut, mereka pun memulai mukbang bersama-sama.
Lagi-lagi keluarga tersebut di limpahkan kebahagian dan keceriaan.
Bersambung guys,
__ADS_1