
Desiran angin sepoi sepoi masuk ke kamar dengan jendela yang tak terkunci.
Sinar sang ratu malam perlahan meredup berganti dengan kilatan cahaya di langit.
"Sepertinya akan hujan,"guman Tari sambil menutup tirai jendelanya.
Romeo masih berada di kamar mandi sedangkan Tari sudah siap diĀ depan meja rias untuk menggunakan make-up tipisnya.
Gemuruh jantungnya berdetak kencang seperti gemuruh petir yang memecah keheningan malam.
Dengan menggunakan lingerie hitam berbahan sutra, ia menatap dirinya di depan cermin.
"Duh gue jadi gugup," gumannya.
Sementara suara kran air masih terdengar di kamar mandi.
Tari mengatur nafasnya menahan debaran jantung yang terus menekan aliran darahnya, ketika terdengar kran air berhenti tak beberapa lama kemudian Romeo kembali dengan hanya menggunakan handuk.
Aroma shampo dan sabun yang semakin membuat Tari mabuk kepayang.
Romeo duduk di tepi tempat tidur, ia sendiri binggung harus memulainya dari mana.
Suasana hening sejenak, melihat kebisuan dan keheninggan yang terjadi antara mereka, Tari mulai membuka suaranya.
"Rom loh udah makan malam?"tanya Tari gugup.
Ehm, Romeo menyeritkan dahinya.
"Bukan nya kita tadi makan malam sama-sama," sahut Romeo.
Tari tersipu malu," Oh iya ya abisnya gue gugup," ucap nya sambil tersipu malu.
Romeo masih menggunakan handuknya, sementara Tari ia masih duduk di kursi meja riasnya.
Meski ia mencintai Romeo, tapi ia merasa sungkan untuk memintanya terlebih dahulu.
Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Tari mencoba mencari kesibukan.
Ia membuka lemari pakaian dan memberi dua potong pakaian kepada Romeo.
"Ini Rom, pakaian loh udah gue siapin," ucap Tari dengan gugup.
Romeo pun menyambut dua potong pakaian tersebut dan meletakanya di atas tempat tidur tanpa berniat memakainya.
"Kenapa Rom?kamu ngak suka ya pakaian itu?"tanya Tari yang semakin merasa salah tingkah saat Romeo menatapnya sambil tersenyum penuh misteri.
"Sini," Romeo menarik lembut tangan Tari dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya.
Tari duduk dengan sedikit gemetar.
"Kayak nya gue ngak butuh pakaian itu malam ini," bisik Romeo lembut ketelinga Tari.
Tari pun tersenyum sembari menahan detak jantungnya agar tak meledak saat itu juga.
Nafas Romeo tercium segar di indra penciumanya' karna wajah mereka berdua berada sangat dekat.
Dada Tari bergemuruh saat telapak tangan Romeo menyentuh pahanya sebentara bibir mereka beradu dengan lembut.
Tari terpaku, tak kala Romeo memulai gerakan lembut di bibirnya.
Tari menutup matanya merasaka gairah yang kini mulai bergelora, mereka pun saling bertaut menyesap dengan lembut.
Untuk beberapa lama pergulatan bibir itu terjadi dan cukup untuk untuk membuat hasrat keduanya memuncak.
Romeo melepaskan pangutanya seraya melihat wajah Tari yang memerah.
"Tar," Romeo berhenti seraya menatap wajah istrinya.
"Hm, kenapa Rom?"tanya Tari yang menatap Romeo penuh damba.
Mereka masih mengatur nafasnya.
"Gue, masih perjaka loh," ucap Romeo dengan senyum dikulum.
"Hm, gue juga masih perawan Rom, ucap Tari jengah, dengan muka yang merona.
__ADS_1
"Masa'?"pancing Romeo.
"Ih ngak percaya, cobain aja sendiri," sahutnya keceplosan.
Tari langsung menutup mulutnya saat menyadari dirinya keceplosan.
Sementara Romeo tersenyum, seperti mengejek Tari.
"Ah loh Rom, suka banget bikin gue keceplosan," ucapnya sambil memukul pelan dada Romeo.
Kemudian suasana kembali hening namun keduanya masih tersenyum malu-malu.
Untuk beberapa saat mereka terdiam.
Suasana kembali hening yang terdengar hanya suara detak jantung Tari yang memompa semakin cepat saat Romeo menyibak rambutnya dan mendaratkan ciuman pada lehernya.
Tari merasakan hangat nya hembusan nafas Romeo saat Romeo merebah kan tubunya dengan perlahan diatas tempat tidur.
Tangan Romeo mulai menyapu pelan bagian punggung Tari untuk melepas tali lingerie.
Sementara bibirnya terus menyesap lembut bibir Tari.
Satu persatu tali yang yang mengait di lingerie tersebut terlepas, dengan perlahan Romeo melorotkan kain sutra berwarna hitam tersebut, hingga terlepas pada tubuh Tari.
Kini dua bukit kembar yang kenyal dan menggunggah selera berdiri tegang yang seolah memaksa Romeo untuk mencicipinya.
Wajah Romeo perlahan turun dan mengecup lembut setiap jengkal bagian tubuh Tari, hingga wajahnya berada di dua antara bukit kembar yang masih suci tersebut.
Gemuruh jantung Tari terdegar hingga ke indra pendengaran Romeo, Tari mengatur nafas nya perlahan, ketika merasakan hasrat yang semakin bergelora.
Dengal lembut Romeo mengulum salah datu puncak bukit tersebut sementara tangannya meremas lembut bagi yang lainnya.
Tari menggigit pelan bibirnya tubuhnya sedikit terguncanh akibat desiran aneh yang merayap cepat keseluruh tubuhnya.
Akh, tanpa sadar gumanan tersebut lolos begitu saja dari mulutnya, sementara matanya merem melek menikmati sensai panas dingin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tubuh Tari mengelinjang saat Romeo menyesap pelan puncak bukitnya sementara tanggan Romeo menari lebut mengusap permukaan kulit pada bagian tubuhnya.
Tari terus mengelinjang saat jemari Romeo berusaha melepas segitiga pengamanya.
Romeo menarik wajahnya ia sendiri ingin melihat secara langsung di mana letak lembah kenikmatan yang menjadi primadona pria dari segala jaman dan usia.
Romeo mengangkat bahu sembari tersenyum kearah segitiga pengamanya dan itu yang membuat Tari merasa tak pede.
"Kenapa Rom?"ulangnya karna penasaran.
Tari bangkit dan duduk tepat di hadapan Romeo.
"Kalau loh ngak mau melakukannya, ngak apa kok Rom," ucapnya lirih, Tari kembali meraih linggerinya.
Romeo menahan tanggan Tari sembari kembali merebahkan kembali tubuhnya.
"Gue, hanya gugup Tar," ucap Romeo sambil melihat nerta Tari.
" Tapi gue istri loh Rom, kalau loh belum siap, gue akan tunggu loh sampai loh siap," ucap Tari sambil meraba wajah Romeo lembut.
Romeo meraih jemari Tari drngan lembut dan menciumnya.
Kemudian ia kembali mendaratkan kecupan pada bibir Tari.
Tanganya merayap langsung menuju segitiga pengaman tersebut, dengan lembut ia menarik kain berbahan katun tersebut hingga terlepas dari tubuh Tari.
Tubuh Tari benar-benar bugil tanpa sehelai benang pun.
Dengan pelan Romeo membuka lebar pangkal paha Tari, agar ia mudah untimuk melakukan pertempuran pertama mereka.
Tari menggingit lembut bibirnya, karna merasakan sesuatu yang menegang dan membesar di dalam handuk yang membungkus tubuh bagian bawah suaminya.
Bibir mereka pun kembali beradu dengan irama yang semakin cepat, keduanya saling maut dan menyesap, hingga menimbulkan suara decapan.
Tanggan Romeo menari menyapu lembut kulit tubuh Tari, hingga tibalah jemari lentik Romeo memainkan biji kacang yang berada di atas goa sempit miliknya.
Tubuh Tari menggelepar menahan hasrat yang sudah tak tertahan kan.
Tari menggigit pelan bibir Romeo, menuntutnya agar segera melakukan penyerangan.
__ADS_1
tangan Tari menyelusup di bawah handuk, ia mengukur dengan jarinya seberapa besae dan panjang meriam yang akan masuk kedalam goa sempit yang belum terjamah sama sekali itu.
Akh, suara lengkuhan keduanya, saat Tari mengusap lembut meriam tersebut, sementara Romeo terus bergerilia mengguncang biji kacang Tari hingga Tari berkali-kali melengkuh meregang menahan nikmat.
Dengan segera Tari menarik handuk yang menutupi tubuh sang suami, hingga senjata yang menegang tersebut menjatuh kan diri tepat di atas gou keramat miliknya.
Romeo menatap mata sendu Tari yang begitu mendambanya, dengan perlahan ia pun memasukan meriam miliknya.
Akh, Tari memekik perlahan, saat meriam tersebut seperti membelah tubuh bagian bawahnya, sementara Romeo menikmati cengraman hangat yang berdenyut-denyut, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tari semakin memperlebar jalan bagi Romeo agar senjata tersebut bisa masuk ke palung yang terdalam miliknya.
Namun saat gerakkan Romeo mulai menghentak untuk menerobos gawangnya, Tari merasakan sakit tak tertahankan, tapi ia menahan rasa pedih tersebut dengan mencengram kuat tubuh Romeo sembari menggigit bibirnya.
Ia sendiri tahu apa konsenkuensi seorang wanita yang melepas kegadisannya, tapi rasa sakit ini tentu saja membuatnya bahagia, sesuatu yang ia jaga dan pertahan kan hanya untuk seseorang yang telah mengikrarkan janji suci denganya dalam sebuah mahligai pernikahan.
Gerakan Romeo pelan namun hentakanya terasa seperti tikaman sebilah benda tumpul, Romeo sengaja menghentak sekuat mungkin agar Tari tak terlalu lama merasakan sakit akibat selaput darahnya di terobos dengan senjata tumpul miliknya.
Akh, Tari mengerang beberapa kali saat Romeo berusaha membobol gawang tersebut, gerakan Romeo semakin kuat hingga tubuh Tari berguncang dengan hebat.
Akh, Akh, Akh!! Tari terpekik tertahan saat rudal tersebut berhasil menerobos dunding suci millikbya.
Romeo memejamkan matanya menikmati sensasi larva merah yang membasahi meriam tempurnya.
Ia pun mencabut senjatanya agar larva tersebut langsung meleleh keluar dari tempatnya.
Romeo meraih tissu untuk membersihkan larva merah tersebut, setelah bersih, ia kembali memulai seranganya.
Tari menangis terisak antara haru dan bahagia, sebagai ungkapan penghargaan untuk Tari, Romeo mengusap peluh yang menempel di kening istrinya, "Terima kasih ya Tar,karna telah menjaganya untukku, ucap Romeo yang kemudian mengecup kening Tari.
Tubuh Tari berguncang ia menangis bahagia, ia pun memeluk seraya menyapu keringat yang membasahi tubuh suaminya.
Romeo kembali memasukan senjatanya dengan pelan," Akh, " suara lengkuhan keduanya saling sahut menyahut, seiring irama gerakan Romeo yang berayun perlahan di atas tubuhnya.
Akh, akh, Hm, keduanya menikmati gerakan dan gesekan dari penyatuan mereka yang pertama.
Romeo sengaja mengayun gerakanya dengan pelan dan lambat.
Tubuh mereka bertindih dengan gerakan yang menggesekan kulit keduanya, suara lengkuhan dan erangan terdengar lirih di kamar tersebut.
Setengah jam memacu kudanya di landasan pacu yang mulai menggenang tersebut, akhirnya dengan gerakan sedikit cepat dengan nafas yang memburu keduanya bergeleria memburu puncak kli*maks untuk pertama kalinya, peluh sudah berguguran membasahi tubuh kedua, semakin cepat gerakanya semakin nikmat yang mereka rasakan.
Satu hentakan terakhir Romeo membuat tubuh Tari berguncang dengan teriakan tertahan merasakan kenikmatan yang tiada taranya, saat mereka mencapai puncak kli*maksnya.
Meriam Romeo menumpahkan habis peluru basahnya tepat dalam rahim istrinya, ia tetap mengguncangkan benda tersebut karna masih menikmati sensasi denyutan yang mencengram senjatanya.
Akh,Tubuh Romeo roboh di atas tubuh polos Tari, dengan perasaan bahagia dan harunya, Tari menyambutnya dengan pelukan.
Nafas mereka masih memburu, dengan lembut Tari menyapu kerinhmgat yang telah membasahi tubuh sang suami.
Romeo menarik senjatanya seraya kemudian roboh di samping tubuh Tari.
Romeo mengatur nafasnya, suhu tubuh terasa panas dengan keringat yang semakin mengucur deras.
Tari tersenyum tersipu saat membalikkan tubuhnya menghadap Romeo.
Keduanya pun saling melempar senyum kepuasan.
Tari merentangkan tangannya, menyentuh wajah Romeo dengan lembut ia menyapu keringat yang membasahi tubuh.
"Aku sayang sama kamu Rom," ucap Tari sambil menarik tangan Romeo dan mencium punggung tangannya.
"Aku juga sayang sama kamu Tar?"balas Romeo sambil membelai rambut Tari.
"Aku cinta kamu Rom, "ucap Tari lagi.
"Aku juga_" kata-katanya terjeda karna sepertinya ia tak bisa membohongi hatinya.
Tari tersenyum simpul, "Tak apa Rom, cinta tak bisa di paksakan, karna cinta akan tumbuh di saat yang tepat, dan aku yakin suatu saat kau akan mencintai ku sama seperti aku mencintai mu," ucapnya.
Romeo membalas senyumanya.
"Terima kasih atas pengertiannya Tar," ucap Romeo sambil mengecup bibir Tari.
Tari pun menyambar kecupan tersebut dan membalasnya dengan lebih ganas, ketika hasrat kembali muncul pada keduanya, Tari kembali menarik tubuh Romeo untuk kembali berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
Dan pertempuran sesi dua pun terjadi.
Hah bersambung, dukung author ya guys, like, saran dan kritiknya, hadiah dan votenya juga ya, maklum author masih receh.