
Pagi hari ini Aira sudah sibuk di dapur, karna hari ini adalah hari libur ia berencana memasak makan siang untuk keluarganya.
"Mau masak apa Nya?" Tanya mbok Yun yang melihat Aira sedang memotong-motong sayuran.
"Masak sop Ayam mbok, sama goreng ayam, Alia ngak bisa makan kalau ngak ada ayamnya," ucap Aira sambil menoleh ke arah mbok Jum.
"Kalau begitu, biar saya bantu ya Nyonya?" Mbok Yun.
Ia pun mengambil pisau dapur untuk membantu Aira.
Saat sedang asik memasak, tiba-tiba saja Aira merasakan sakit pada bagian bawah perutnya, ia pun menyentuh bagian perutnya.
"Kenapa Nya?"tanya mbok Jum yang menyadari hal tersebut.
" Aduh Mbok, mbok lanjutin potong sayurannya, perut saya mulas,"ucap Aira.
Ia pun berjalan cepat menuju kamarnya.
Aldi yang baru saja tiba melihat Aira yang menaiki anak tangga dengan.sedikit membungkuk langsung menyapanya.
"Bunda? Bunda kenapa? Tanya Aldi dari arah belakang Aira, ia pun menoleh.
" Yah peruh bunda sakit Yah, sepertinya mau melahirikan Yah," ucap Aira seraya meringis.
" Melahirkan? Ayo kita kerumah sakit Bunda," ajak Aldi.
"Siapin dulu pakaian Bunda,Yah."
"I-iya iya sini dulu, duduk," ucap Aldi seraya menuntun Aira untuk duduk di atas sofa.
Aira berselonjor dan bersandar pada sofa seraya mengatur nafasnya sementara Aldi memijit pelan pada betis dan telapak kaki Aira, untuk melancarkan peredaran darahnya.
"Mbok! Mbok! Teriak Aldi.
"Ada apa Den?"tanya si Mbok yang terburu-buru menghampirinya.
"Mbok tolong siapkan pakaian Nyonya!" titah Aldi.
"Baik Tuan," ucap mbok Yum, ia pun menuju kamar Aira.
"Ayo Bunda kita langsung kerumah sakit," ajak Aldi sambil mengangkat tubuh sang istri dengan menarik pelan tangan Aira.
Alia turun dari kamarnya, karna
mendengar keributan kecil"Ayah! Mau bawa Bunda ke mana?"tanyanya seraya turun dari lantai atas.
"Kerumah sakit sayang, Alia tunggu di rumah saja, sebentar lagi Oma dan Opa datang, perginya sama Oma dan Opa saja," bujuk Aldi.
"Iya deh," ucap Alia patuh.
Aldi kebali menuntun Aira menuju mobil.
" Aduh Yah sakitnya datang lagi, ucap Aira seraya meringis.
Aldi menjadi sedikit panik, namun berusaha untuk tetap tenang.
"Pak Slamet siapkan mobil!" Titah Aldi.
"Baik Tuan!" Pak Slamet pun masuk kedalam mobil.
Aldi menuntun Aira untuk masuk ke dalam mobil.
Jantung Aldi berdetak tak karuan karna inilah pengalaman pertamanya mendampingi istrinya dalam persalinan.
Aira bersandar pada tubuh Aldi seraya mengatur nafasnya.
Tangganya menggenggam erat jemari Aldi.
"Akh, sakit Yah, "ucap Aira seraya menggingit bibir bagian bawahnya, sakitnya baru datang sekali-sekali.
"Tahan ya Bun, sekarang kita menuju rumah sakit, kamu harus kuat," ucap Aldi seraya mengecup pipi istrinya.
Aldi berusaha untuk tenang meski jantungnya berdetak tak karuan.
__ADS_1
Aldi mengusap wajah Aira yang mulai di penuhi keringat.
"Bunda yang kuat Yang kuat Yah, Ayah selalu berdoa untuk Bunda," ucapnya lagi seraya mencium punggung tangan Sang istri untuk menyemangati Aira.
Di dalam hatinya Aldi tak henti-hentinya berdoa agar sang istri di permudah kan.
Setelah menempuh perjalan selama lebih kurang setengah jam, kini mobil perlahan masuk ke dalam halaman rumah sakit.
Seorang petugas medis sudah bersiap dengan brankar di depan pintu UGD.
Aira langsung di bawa di ruang persalinan dengan mendorong tempat tidur rumah sakit menuju ruang perawatan.
" Akh!" Aira meringis kembali perutnya terasa semakin sakit, sakitnya datang berulang-ulang semakin lama semakin saring.
"Akh " keluh Aira menggenggam tangan Aldi.
Aldi menitikan air matanya melihat Aira yang merasakan sakit, Aira menggigit bagian bawah bibirnya hingga mengeluarkan darah.
" Bunda, jangan di gigit, bibir Bunda berdarah," ucap Aldi denhan mata yang berembun.
"Sakit banget Yah, Akh!".
Aldi merasa panik melihat wajah Aira yang memerah.
"Bunda jika sakitnya bisa di bagi, biar saja Ayah yang menanggung rasa sakitnya, Ayah ngak tahan melihat Bunda menderita," ucap Aldi dengan air matanya perlahan menetes.
Ia tak mampu lagi menahan perasaanya, di ciumnya kening Aira dengan lekat, kemudian kedua telapak tangannya menggengam erat telapak tangan Aira.
Meski istrinya kesakitan tapi para suster yang ada diruangan tersebut tak melakukan apa-apa, melihat semua itu Aldi merasa geram.
"Suster istri saya merasakan sakit apa tidak bisa di beri obat untuk penahan sakitnya?!"tanya Aldi emosi, ia tak mengetahui apa-apa.
"Tidak bisa pak, rasa sakit sebelum melahirkan itu hal yang alamiah, jika air ketubannya sudah pecah rasa sakitnya akan berkurang,"papar suster.
"Sampai berapa lama lagi suster, sudah satu jam istri saya menahan rasa sakit?"tanya Aldi.
Suster tersebut tersenyum, "Ngak bisa di tentuin pak, bersabarlah memang seperti itu proses melahirkan secara normal," papar Suster yang lebih senior.
Aldi merasa ngeri saat bidan tersebut memasuk kan jari tanganya kedalam bagian intim istrinya,ia pun membuang wajahnya.
"Ok Bu pembukaan sudah lengkap sebentar lagi akan memasuki proses melahirkan.
Aira mengelinjang tiba-tiba perutnya merasa semakit sakit, "Akh ! " teriak nya tertahan.
Ia pun menghembus-hembuskan nafas pendeknya.
Aldi menggenggam erat tangannya, dengan bola mata yang memerah.
Di kecupnya kening sang istri yang sedang menahan rasa sakit tersebut.
Aira tak kuat lagi menahan seraya ada yang ingin keluar dari jalan lahirnya.
"Sabar ya Bu jangan di ngejan dulu, sebelum ketubanya pecah." Bidan.
"Akh!" keluah Aira berulang-ulang tubuhnya sampai terangkat.
"Sayang tahan ya sayang, " ucap Aldi seraya menyapu keringat yang menempel di keningnya.
Aira kembali mengatur napas, para bidan dan suster tersebut bersiap, mereka semua mengenakan sarung tangan dan masker.
"Akh hu hu hu!" Aira mengatur napas pendeknya seraya berteriak tertahan,tanganya semakin kuat menggenggam Aldi.
"Akh! sakit Yah," ucapnya dengan suara yang lirih.
"Iya sayang, Ayah tahu," ucap Aldi seraya menghapus titik air matanya.
Aldi menangis melihat penderitaan sang istri ketika melahirkan anak ke dua mereka tak terbayang bagaimana Aira melahirkan Alia seorang diri.
Aldi sudah tak mampu menahan tangis nya rasa bersalah kembali menghampirinya ketika itu, ia pun mencium punggung tangan Aira dan menggenggam lebih erat.
"Akh!" satu teriakan tertahan Aira ketika ketuban tersebut pecah, para medis pun bersiap karna proses melahirkan akan terjadi beberapa saat lagi.
Aldi benar-benar ketakutan wajahnya memucat dengan tubuh yang terasa dingin.
__ADS_1
Seorang suster menyadari hal itu.
"Pak, jika bapak tak kuat melihat istri bapak melahirkan sebaiknya tunggu di luar," saran Suster tersebut.
"Tidak Sus, saya yakin kuat," ucapnya seraya menghapus titik air matanya.
Mereka pun bersiap menyambut kelahiran sang bayi, proses yang meneganggkan dan menyakitkan di lalui Aira hingga tibahlah saatnya untuk mengejan.
Sementara Aldi terus menyemangatinya, menggenggam erat tanganya serta menyapu keringat sang istri.
Setelah menggejan beberapa kali, Akhirnya suara tangisan bayi pun terdengar nyaring.
Oek oek oek,
Bukan main leganya kedua orang tua tersebut.
Bayi tersebut masih menangis, sementara Aira ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, setelah lelah berjuang dalam proses melahirkan.
"Terima kasih Bunda, "ucap Aldi berbisik seraya mencium kening Aira.
Keduanya menatap haru dengan mata yang berembun.
Suster melanjutkan proses pembersihan dan pemotongan tali pusar.
Sementara yang lain membersihkan bayi munggil tersebut.
"Selamat untuk bapak dan ibu, anaknya laki-laki dengan berat badan 3300 gram." ucap seorang suster seraya menyerahkan bayi yang sudah di bedong.
Aldi menyambutnya dengan bahagia.
Ia pun menciumnya berkali-kali, titik air mata kembali menetes di pipi Aldi, ketika untuk pertama kalinya hidungnya menyentuh kulit bayi yang lembut tersebut.
"Alhamdulliah, segala puji bagi Allah, yang telah menitipkan kepada kami seorang putra, " ucap Aldi.
Aldi menghadap ke arah kiblat kemudian meng-azankan bayi tersebut, bayi yang awalnya menangis tersebut tiba-tiba menjadi tenang dan tertidur.
Setelah selesai meng-azankan bayinya Aldi mendekat ke arah Aira yang telah selesai di bersihkan.
"Bun, lihatlah putra kita," ucap Aldi.
Aira menyambut bayi tersebut, dengan bahagia.
"Oh sayang," ucap Aira menyambutnya dan langsung mencium pipi buah hatinya.
Aldi memeluk Aira dari belakang, seraya berbisik.
" Terima kasih yah Bunda, karna telah berjuang melahirkan putra kita," ucapnya seraya mencium pipi Aira lekat.
Aira menoleh ke arah Aldi, " Terima kasih juga Yah, karna bersedia menemani Bunda, meski Bunda tahu Ayah sebenarnya ngak tega melihat Bunda yang kesakitan," papar Aira.
"Tapi Ayah lebih ngak tega meninggalkan Bunda sendiri,"ucap Aldi seraya mengait rambut Aira yang terjutai di pipinya.
Aira tersenyum.
"Bikinnya berdua, nikmatnya juga berdua, masa' iya sakit nya Bunda tanggung sendiri sih,"ucap Aldi.
"Iya si buyung juga harus di hukum, harus puasa selama empat puluh hari, iya kan Yah?" Aira.
"Iya ngak Ya, kalau ngak tahan gimana?" Aldi.
"Kalau ngak tahan jepit kan saja ke pintu Yah," ucap Aira sambil mengulum senyumnya menahan tawa.
" Jahat banget Bun, nanti kualat sama suami loh," sahut Aldi.
"Bencanda Yah," ucap Aira seraya mencium pipi suaminya.
Petugas medis tersenyum melihat kemestraan sepasang suami itu, mereka pun turut bahagia melihat kebahagian mereka.
Bahkan Aira sudah bisa tertawa, setelah melahirkan, sungguh kebahagian yang tak dapat di lukiskan dengan kata-kata.
Rasa syukur tak henti-hentinya di ucapkan Aldi baik secara lisan maupun di dalam hati, kebahagiaan mereka serasa semakin lengkap sudah.
bersambung guys, semoga tetap semangat
__ADS_1