Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mendadak


__ADS_3

Untuk merayakan kebersamaan mereka kembali, Maya sengaja memasak makan malam untuk keluarganya, di bantu oleh Aira dan Tari.


"Tari kamu bisa masak?" tanya Maya pada Tari yang sedang memotong sayuran.


"Ngak bisa Ma, Tari ngak pernah masak," sahut Tari.


"Aduh sayang, setiap wanita itu harus pandai memasak, nanti jika kamu sudah menikah, kamu ngak akan canggung di hadapan mertua kamu," papar Maya sambil tetap memotong sayuran.


"Emang harus ya Ma, Tari ingin jadi wanita karir saja, urusan dapur biar saja pembantu yang akan mengerjakan," sahut Tari dengan enteng.


"Waduh nih anak, ngak bisa gitu Tari, meski kamu jadi wanita karir kamu juga harus belajar memasak untuk menyenangkan suami kamu nantinya." Maya


"Mulai sekarang kamu harus belajar memasak, karna kalau sudah jadi seorang istri kamu harus terampil di dapur dan di atas kasur, iya kan Aira?" tanya Maya yang meminta belaan terhadap ucapanya.


Aira tersenyum," Ngak tahu ya Bunda, mas Aldi ngak pernah minta Aira masak, malahan dia ngak suka kalau Aira berkutat di dapur, kalau mas Aldi sih yang penting Aira selalu siap melayaninya kapan pun dan di manapun, hehe," sahut Aira secara blak-blakan.


Aira pun tertawa terkekeh.


"Itu dasar Aldinya saja, ngak semua pria seperti itu, seperti papa kamu yang senang dengan masakan Mama, karna sudah terbiasa makan masakan istri, papa kamu jadi ngak betah lama-lama jauh dari mama, katanya ngak ada yang lebih enak selain masakan mama." umbar Maya


"Denger tuh mbak Tari, belajar masak dulu, siapa tahu nih dengan masakan mbak Tari bisa bikin bang Romeo bisa jatuh cinta, benar ngak Bunda?" tukas Aira, ia pun tertawa terkekeh.


Sementara Tari wajahnya sedikit cemberut saat Aira menyebut nama Romeo.


"Siapa Romeo, Aira? pacar mbak mu?" tanya Maya dengan serius.


Tari menempelkan jari telunjuk di bibirnya, agar Aira tak membeberkan hubungannya dengan Romeo sebelum ini.


Mendengar tak ada jawaban dari Aira, Maya beralih melihat wajah Tari.


"Kamu punya pacar Tari?" tanya Maya.


Tari hanya menggelekan kepalanya dengan lemah.


Maya tersenyum," Syukurlah karna mama berencana akan menjodohkan kamu dengan putra sahabat mama yang ada di Malaysia."


Tari kaget mendengar penuturan Maya.


"Ngak mau Ma, Tari ngak mau di jodohin lagi, Tari mau pilih sendiri jodoh Tari," tolak Tari secara halus.


"Iya sayang, mama cuma mau kenalin kamu sama Arif saja, jika kalian sama-sama suka, kenapa tidak, kalau ngak, ya kamu pilih sendiri jodoh kamu," sahut Maya lagi.


"Lagi pula mama masih belum mau melepas kamu menikah, mama mau menghabiskan waktu bersama kamu lagi." imbuhnya kembali.


"Terima kasih Ma," ucap Tari tersenyum.


"Oh ya Ma, kok kita masak banyak baget?" tanya Aira yang baru menyadari jika potongan sayurnya tak seperti biasa banyaknya.


"Hari ini papa mau ngajak temanya makan malam,maklum Papa kan jarang ada di sini," sahut Maya sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


Mereka bertiga memotong sayuran sedangkan asisten rumah tangga yang lain mencuci bahan-bahan yang bersifat protein.


Saat tengah asik berkutat membantu Maya, tiba-tiba terdengar suara Aldi yang memanggilnya.

__ADS_1


"Aira...Aira!" seru Aldi suaranya menggema memenuhi seisi rumah.


"Mas Aldi sudah pulang Bunda, Aira samperin dulu ya."


"Iya sana cepat samperin suami kamu sebelum dia ngambek! " sahut Maya.


"Dah mbak Tari, Aira mau samperin my honey sweaty " ucap Aira sambil melambaikan tanganya dengan maksud pamer kemesraan dengan Tari.


"Huh, Sebelum jadi honey sweaty loh, udah jadi Honey sweaty gue, makan tuh ampas dari gue," sahutnya membalas ejekan Aira.


"Oya... lihat aja kalau mbak Tari jadian sama bang Romeo lagi ya, rasain tuh bang Romeo udah jadi ampas Aira," hehe tawanya terkekeh sambil berlari menemui Aldi.


Maya tak mengerti apa yang dibicarakan keduamya, ia hanya menggelengkan kepalanya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, makan malam pun sudah siap tersedia di atas meja makan.


Karna hari ini mereka akan kedatangan tamu, jadi makan malam kali ini keluarga Satria sedikit berbeda, dengan busana yang sopan mereka pun memenuhi ruang keluarga sebelum menuju meja makan, mereka berkumpul menunggu kedatangan tamu.


Aira dan Aldi turun dari lantai atas, begitu pun dengan Heru, Tari menundukan pandanganya ketika melihat Heru, ia masih merasa canggung terhadap Heru, peristiwa malam itu tentu saja tak bisa ia lupakan dan membuat hubungan mereka menjadi kaku.


"Siapa sih Pa yang akan hadir malam ini?" tanya Aldi sembari mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ada di ruang keluarga.


Aira duduk di samping Tari, keduanya terlihat akrab ngobrol.


"Mbak kok pakai-pakaian seperti ini? mau pergi ya?"tanya Aira, ia heran dengan penampilan orang-orang yang ada di sekelilingnya, sementara ia sendiri masih menggunakan piyama tidurnya.


"Papa akan kedatangan tamu, jadi menyuruh kita untuk berpakaian seperti ini," mencubit drees magenta selututnya.


Ting tong, bel rumah berbunyi.


Satria segera berdiri dan berjalan menghampiri pintu, tak lama setelah itu terdengar suara sedikit berisik, Maya pun menghampiri Satria ia juga bermaksud menyambut tamu yang di undang oleh suaminya tersebut.


"Mari masuk, kita langsung menuju meja makan saja," ujar Satria menuntun tamunya.


"Aduh jadi ngak enak Sat, baru datang kok langsung di suguhi makan sih? ngak ngobrol dulu?"


"Akh ngobrolnya nanti saja, setelah makan biar kita santai,"sanggah Satria.


Suara desas desus wanita juga terdengar di sela pembicaraan kedua pria dewasa tersebut, dan ketika mereka sampai di ruang tengah mereka di kagetkan dengan kehadiran seseorang yang langsung duduk di ruang tengah.


"Bang Romeo," sapa Aira senang.


"Hai Aira, "Romeo melambaikan tangannya kearah Aira tanpa sungkan, Aira pun membalas dengan melambaikan tangan.


Wajah Tari sedikit cemberut, begitu pun Aldi, bibirnya langsung mengkerucut.


"Hai Tar," sapa Romeo kepada Tari.


Tari tersenyum simpul membalas sapaan Romeo.


"Ah ternyata loh," dengus Aldi, ia pun membuang wajahnya.

__ADS_1


"Bang Romeo ternyata yang datang, kok ngak bilang Aira sih? biar Aira bikin upacara penyambutanya, " ucap Aira dengan kelakarnya.


"Abang juga ngak tahu kalau di bawa kesini, kalau abang tahu pasti udah telpon Aira duluan, untuk menyiapkan penyambut kedatangan abang, " cetus Romeo dengan santai, mereka mengobrol dengan santai, tanpa melihat kedua orang yang cemburu mendengar obrolan mereka.


Setelah beberapa saat, mereka semua sudah duduk di meja makan dan tengah menikmati santapan mereka.


Suasana terasa tenang yang terdengar hanya suara garpu dan sendok yang saling bersahut-sahutan.


"Enak sekali masakanya? bu Maya siapa yang masak?" tanya Suci kepada Maya.


"Oh, karna hari ini spesial, saya meminta Tari dan Aira untuk masak, semua masakan ini."


"Ehm mereka pinter masak juga ya, rasanya enak kok pas sekali di lidah saya," ujar Suci kembali.


Tari tersenyum mendengar sanjungan dari Suci.


Tak berapa lama kemudian mereka pun menyudahi acara makan malam mereka, namun tetap berbincang ringan di meja makan.


"Terima kasih loh bu Maya atas sajiannya, hidanganya lezat sekali, iya kan Pa?" tanya Suci kepada Hadi.


"Tentu saya yang memasak kan calon mantu, " cetus Hadi.


Romeo yang tengah meneguk minumanya tersedak.


Uhuk..uhuk.


Calon mantu, guman Romeo.


Sementara Tari meski merasa kaget, namun ia merasa sangat senang mendengar ucapan dari Hadi.


Calon mantu?.OMG benarkah? gue ngak salah dengar?*Tari


Tari mengulum senyumnya, tak hanya dirinya, tetapi Aira juga merasa senang ia pun melirik dan mencolet Tari sambil menaik turunkan alisnya.


Romeo masih tergaman dengan penuturan papanya.


"Bagaimana Sat? dengan perjodohan putra-putri kita?" tanya Hadi.


"Satria tertawa renyah," Tergantung mereka saja aku ngak mau memaksa," sahut Satria.


Romeo terus memandangi wajah papanya, ia merasa begitu kesal, ternyata kedatangan mereka kerumah ini untuk membicarakan perjodohan dirinya dan Tari.


"Jadi bagaimana Tari? kamu mau kan Om jodohkan dengan Romeo?"tanya Hadi, mata Romeo membelalak dengan bulat sempurna.


Keadaan menjadi tegang sejenak, Aldi dan Heru sebenarnya tak menyetujui rencana perjodohan tersebut.


Tari menyunggingkan senyum tipis, wajahnya tertunduk malu, Tari tak bisa menjawab pertanyaan tersebut, karna ia sendiri tahu jika Romeo tak punya perasan apapun terhadapnya, wajah yang tersenyum pada awalnya tersebut mendadak menjadi muram.


"Satria mengambil alih pembicaraan, Begini saja, kami akan berunding terlebih dahulu dengan saudara-saudara Tari," sela Satria.


Akhirnya kata-kata Satria mampu mengurai keteganggan antara mereka.


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih masih setia sampai dengan episode, mohon dukungan untuk karya receh ini dengan like, komen, vote atau hadiahnya.


__ADS_2