Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Romansa Heru dan Clarisa


__ADS_3

Heru menanti kehadiran seseorang dengan gelisah, matanya menatap layar handphone yang sedang melakukan panggilan.


Sesekali ia menyerup es jeruknya, semabari melihat pintu masuk cafe tersebut.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita berperut buncit menggunakan kacamata dan masker.


Wanita tersebut menghampiri Heru.


Heru melirik jam tanganya, melihat petunjuk waktu.


"Kau terlambat satu jam," ucap Heru.


"Maaf,"sahutnya singkat dengan suara parau seperti habis menangis.


Heru menatap wanita yang terus saja tertunduk dengan kaca mata hitamnya.


"Apa boleh ku tahu alasan dari keterlambatan mu?" tanya Heru seraya menatap lekat wanita tersebut.


Miranda terus saja tertunduk, namun bulir bening terlihat menetes di pipinya.


Heru menangkap sesuatu yang janggal, ia pun melepaskan kaca mata Miranda.


Mata wanita tersebut terlihat sembab, Heru kembali menarik masker yang di gunakan Miranda.


Heru syok karna melihat luka memar pada wajah Miranda.


Heru mendengus, ia pun mengepal tangganya.


Seketika matanya memerah melihat Miranda yang kembali menangis.


"Apa ini perbuatan suami mu?"tanya Heru dengan geram.


Miranda mengganguk, seraya memgelap caira yang meleleh dari hidungnya.


"Dia mengira kita berselingkuh, hingga dia memukul ku, " papar Miranda seraya. menghapus titik air matanya.kembali.


Miranda menarik napasnya dan menghempaskanya perlahan.


"Apa dia selalu begini terhadap mu? tapi aku melihat di rumah sakit kau mesra bersamanya?" tanya Heru bertubi-tubi.


"Dia memang seperti itu, di depan umum kami harus terlihat mesra, jika tidak , maka pulang kerumah aku akan menjadi sasaran empuknya lagi," ucap Miranda seraya menangis.

__ADS_1


Heru menatap iba miranda yang sedang menangis, ingin sekali ia menghajar pria yang telah memyakiti mantan pacarnya tersebut.


Hiks..hiks..Miranda kembali terisak mengenang kejadian pahit yang baru saja ia alami.


"Baiklah apa kau sudah siapkan berkasnya, hari ini juga aku antar kau ke pengadilan agama, setelah itu, kau bisa bersembunyi di apaterment ku." Heru.


"Tinggal di apartment mu? tapi_" Miranda.


"Sudalah akan kusuruh beberapa orang untuk menjagamu, kau harus sembunyi sampai sidang putusan pengadilan." Heru.


"Apa kau yakin akan membantu ku? kau bisa terkena masalah jika Ghani tahu kau menyembunyikan aku, " papar Miranda.


"Aku bisa jaga diriku Clarisa, yang penting bagaimana agar kau bisa terlepas darinya," ucap Heru.


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Heru seraya berdiri.


Mereka pun meninggalkan cafe tersebut menuju pengadilan.


Di dalam mobil.


Heru melirik kearah Miranda yang sedang menatap hampa.


"Jangan Her, aku takut ia akan menyakiti keluarga ku," balas Miranda.


"Aku sudah punya uangnya, setelah sidang perdana kau bisa membayar hutang orang tuamu pada suami mu itu, tapi kusaran kan agar kau menuntut ke semua tindakan kekerasan yang di lakukannya terhadap mu."


"Aku masih belum berani Her, ini saja aku masih ragu, dia pasti mencariku, aku meminta mu menemuiku hari ini, karna hari ini Ghani sedang berada di luar kota, namun sebelum berangkat ia memaksa ku untuk melayaninya, aku sudah muak terhadapnya hingga aku menolak, karna itu ia memukul ku, dia mengira jika aku punya lelaki simpanan karna menolak melayaninya," Miranda.


"Hiks...hiks.. aku sebenarnya sudah tak tahan, hanya saja ia selalu mengancam, akan menyakiti keluarga ku jika aku lari darinya," imbuhnya kembali.


"Kau tak perlu takut, jika kau lemah maka dia akan semakin memperdaya mu, karna dia tahu kelemahanmu,"nasehat Heru.


"Clarisa jika sekarang, kapan lagi ," ucap Heru meyakinkan Clarisa.


Mobil Heru pun sampai di pengadilan,.mereka langsung menuju tempat pendaftaran gugatan cerai.


***


Setelah mendaftar gugatan cerainya, Heru langsung membawa Clarisa menuju apartment nya.


Mereka pun masuk ke dalam apartment dengan diikuti oleh seseorang.

__ADS_1


Heru membuka pintu apartment dengan menggunakan sebuah kartu.


Pintu tersebut terbuka, dan memperlihatkan isi dalam dari apatement mewah tersebut.


Miranda tersenyum, "Apa Apartment ini milik mu?"tanya Miranda seraya mengedar pandanganya.


"Iya, aku masih mencicilnya, karna ku pikir suatu saat aku harus punya hunian untuk membawa kau tinggal di sini, ternyata memang benar, kau yang akan tinggal di sini, namun bukan sebagai istriku,"ucap Heru dengan nada sedikit kecewa.


"Oh ya, aku harus kembali ke kantor, sebentar lagi, akan ada asisten yang akan membantu mu disini," ucap Heru seraya meranjak.


Miranda menatap kepergian pria tersebut dengan sedih, "Heru!" seolah tak ingin di tinggalkan Heru, tanpa sadar Miranda memanggil namanya hingga membuat Heru menahan langkahnya.


Miranda kembali menitikan air mata, kemudian ia menghampiri Heru dan menghambur memeluknya.


Miranda pun menangis terisak-isak mengenang takdirnya yang malang.


Tangan Heru gemetar menahan perasaannya saat itu, namun perlahan tangan tersebut mulai merangkul memeluk wanita yang menangis tak berdaya di hadapanya, wanita yang pernah ia cintai bertahun-tahun lamanya.


"Terima kasih Heru, kau sudah membantu ku, mungkin aku tak akan pernah bisa membalas perbuatan baik mu," ucap Miranda dalam pelukan lelaki yang ia cintai tersebut.


Heru menahan sesak di dadanya, Rasa itu entah kenapa tak lagi sama, apa mungkin karna Miranda yang telah berbeda, namun rasa sayang dan iba masih membekas di hatinya.


Heru melepaskan pelukannya, :Sudalah Clara, jangan di pikirkan, yang terpenting kau selamat dari perlakuan buruk suamimu, aku juga punya adik perempuan yang sedang menggandung, dan aku pun tak akan terima jika ada yang menyakitinya, " papar Heru.


Miranda terpaku beberapa saat mendengar ucapan Heru.


Jadi kau hanya kasihan pada ku Heru, apakah tak ada cinta yang tersisa untuk ku. Miranda mengganguk, ia pun membiarkan Heru pergi darinya.


Setelah kepergian Heru, Miranda kembali menutup pintunya.


"Kau benar Heru, aku tak pantas mendapatkan cinta mu, karna aku bukan Miranda yang dulu," gumannya seraya kembali menangis.


Miranda kembali masuk keruangan apartment, baru beberapa langkah, ia sudah mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Miranda kembali membuka pintu, karna mengira Heru kembali lagi.


"Hah,"mata Miranda membelalak membuk


lat secara sempurna, ia ingin menjerit namun mulutnya langsung di bekap oleh seseorang.


Bersambung,.like saran komentar bote dan hadiahnya ya

__ADS_1


__ADS_2