Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Tujuh Bulan


__ADS_3

Pagi yang cerah,


Seperti biasanya, pagi pagi sekali Alita akan menyiapkan kebutuhan untuk dirinya dan juga untuk suaminya pergi kekantor.


"Sayang kamu masih mau ikut aku kerja? " tanya Bagas


.


"Iya Mas. Kenapa? " tanya Alita.


"Ehm, aku kasihan saja lihat kamu, perut kamu makin besar saja. " Bagas.


"Tentu saja makin besar, di pompa terus setiap malam, "sahut Alita sambil menyunggingkan senyum.


Bagas langsung menyambar bibir Alita. "Ketagihan tahu," cetus Bagas sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Ehm. Aliata tersenyum lagi.


" Semoga saja nanti setelah aku melahirkan Mas bisa tahan ya. Harus kuat puasa selama empat puluh hari. " Alita.


"Ehm, ada ngak obat paten yang bisa bikin kamu sembuh total dalam tiga hari. Jadi tiga hari sudah bisa langsung pakai. he he " Bagas.


"Ih mana ada mas! Awas saja nanti aku ngak bisa melayani mas cari yang lain ya. "ancam Alita.


"'Ngak lah, aku sabar menunggu kok, "ucap Bagas kemudian mencium keningnya Alita.


"Mas nanti sore kita periksa kandungan ku ya. " Alita.


"Ehn bukannya dari kemaren aku yang menyuruh mu memeriksa kandunganmu.Kamu nya yang selalu menunda-nunda."


"Iya kemaren aku lagi ngak mood aja, mungkin lagi capek.Sekarang justru aku penasaran dengan jenis kelamin anak kita. " Alita


"Sayang sebenarnya kandungan kamu berapa bulan sih. Kok sepertinya cepat sekali besarnya? " tanya Bagas sambil memakai kemejanya.


Alita menghampiri Bagas untuk mengenakan kancing kemeja suaminya.


"Tujuh bulan Mas. Ngak lihat apa Mama dan Papa sedang sibuk menyiapkan acara selamatan tujuh bulanan." Alita


"Kita yang punya anak mereka yang sibuk ya? Ayah dan ibu ku juga ngak mau kalah. Mereka juga mau ngadain acara selamatan tujuh bulanan di rumah mereka juga. " Bagas.


"Biarin lah Mas, tandanya mereka begitu bahagia menyambut kelahiran cucunya. "


"Ehm, Mas. Bagaimana jika setelah kita periksa kehamilan. Pulangnya kita langsung berbelanja untuk kebutuhan bayi kita."


"Hah! Apa ngak nunggu selesai selamatan dulu. Nanti kita bisa di semprot sama mama kamu kalau ngak ikutin tradisi mereka. "


"Diam-diam saja Mas. Setelah belanja kita simpan di rumah orang tua kamu. Aku sudah ngak sabar Kira-kira calon bayi kita laki-laki atau perempuan ya, "ucap Alita sambil membantu Bagas memakai jasnya.


"Sama saja lah. Aku terima saja, laki-laki atau pun perempuan yang penting sehat dan selamat."


"Iya Mas aku juga gitu. "


"Sudah selesai Mas," ucap Alita


"Terima kasih sayang, Ya sudah kita sarapan yuk," ucap Bagas kemudian mencium kening istrinya.

__ADS_1


Mereka keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk sarapan.


"Lita, kamu mau kemana? tanya Dasti ketuka melihat Alita berpakaian rapi.


"Mau ke kantor Ma." Alita.


"Hah ke kantor? Ya ampun perut sudah sebesar itu masih mau kerja? ingat suami kamu itu CEO! Kamu ngak kerja juga duitnya sudah banyak! " omel Dasti.


""Iya Ma. habisnya bosan di rumah terus. " Alita.


"Perut kamu sudah semakin besar saja lita, kenapa kamu ngak periksa kehamilan kamu saja. " omel Dasti lagi.


"Bagas hanya tersenyum simpul mendengar ibu mertuanya yang memang hobi ngomel."


"Iya Ma. rencananya hari ini pulabg dari kantor."Alita.


"Terserahlah, anak-anak sekarang memang susah di beri tahu. " dengus Dasti.


Keduanya hanya saling memandang dan melempar senyum.


Setelah selesai sarapan, mereka langsung menuju kantor.


Sesampainya di kantor Alita berjalan sambil menggandeng Bagas menuju ruang kerja Bagas.


Alita sudah merasa berat dengan perutnya. Karna perutnya yang semakin besar.


"Aduh Mas, perutku sakit nih. jika harus jalan melewati koridor lagi," keluh Alita. ia pun berhenti di salah satu koridor yang ada di lantai pertama. Mereka pun duduk di sebuah kursi tunggu.


"Kamu sih bandel banget. Di suruh istirahat di rumah tapi ngak mau. Kalau gini kan aku jadi binggung. Mau di gendong, sudah berat banget. " dengus Bagas.


Alita bersandar pada pundak Bagas, sambil mengatur napasnya. tiba-tiba ia merasakan sakit.


"Aduh Mas. Kenapa perutku tiba -tiba sakit Mas. Aw! " seru Alita sambil meringis.


Yang benar sayang? kamu ngak lagi becanda kan ? tanya Bagas panik.


"Aduh Mas. ngapain aku becanda, di situasi seperti ini sih? " dengus Alita.


"Ya sudah sayang. Ayo kita kerumah sakit. Kamu bisa jalan ngak? Karna ngak mungkin juga aku minta tolong sama pegawai bantu ngangkat tubuh kamu. "


Ayo kita jalan saja. Aku minta pak Yanto siapkan mobil di lobby.


"Iya Mas, Akh. kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali!" ringis Alita.


Alita pun segera di larikan kerumah sakit.


Sementara di rumah Doni. Doni dan Dasti sudah bersiap untuk acara tujuh bulanan cucu mereka.


Mereka sibuk masak- masak dan memasang tenda.


Hal yang sama terjadi di rumah Nina. Rencananya setelah selesai acara tujuh bulan di rumah besan mereka. Keesokan harinya akan di langsungkan di rumah mereka


***


Alita dan Bagas kini berada di ruang praktek dokter kandungan.

__ADS_1


Ketika berada di ruang tunggu dokter,tiba-tiba Alita merasakan ada yang mengalir dari jalan lahirnya.


Aduh Mas, sepertinya aku sudah kontraksi nih! ringis Alita.


"Sabar Sayang, dokteenya belum selesai."


"Aduh! Kamu gimana sih Mas? aku udah setengah mati menahan rasa sakit. Kamu suruh sabar terus. Aku sudah mau melahirkan ini. " Ringis Alita karna menahan rasa sakit hingga mengeluarkan keringat dingin.


"Ayo Kalau gitu. kita masuk saja keruang dokter tersebut." Bagas.


Bagas menuntun Alita menuju ruang dokter. Untung saja, pasien sudah selesai di periksa saat itu.


Melihat wajah Alita yang terlihat pucat dan lemas, Dokter langsung mempersila kan. Alita.


"Silahkan berbaring Bu. " ucap dokter tersebut pada Alita.


Dokter pun mulai memeriksa kandungan Alita dengan menggunakan Tranducer.


" Wah ini pemeriksaan pertama ya Bu? " tanya dokter.


"Iya dok," Alita


"Sepertinya anda harus melakukan operasi cesar Bu. Bayi anda kembar. leher rahim anda sudah membesar,ini ketubannya juga pecah."


"Hah ! keduanya pun Kaget."


"Iya Pak! istri anda harus segera di operasi, silahkan tanda tanggani surat persetujuan operasinya terlebih dahulu. " Dokter.


"Tapi Dok, istri saya baru mengandung tujuh bulan.Apa bayinya aman? "


"Untuk sementara, kita ambil tindakan untuk keselamatan istri dan anak anda. Insya Allah Aman. " Dokter.


Bagas terdiam beberapa saat. ia tak pernah mengalami situasi darurat seperti ini.


"Ini silahkan di isi. Istri anda perle penanganan secepatnya."


Bagas merasa iba melihat Alita yang terus meringis menahan sakit.


Sedangkan ia harus ambil tindakan secepatnya.


"Iya Dokter. Biar saya tanda tanggani." Bagas.


Bagas pun menandatangani surat persetujuan tersebut.


Setelah itu ia menghapiri Alita.


"Sayang aku terpaksa menandatangani Surat persetujuan operasi.Kamu ngak apa-apa kan? " tanya Bagas sambil mengusap kepala Alita kemudian mencium keningnya.


"Iya Mas," ucap Alita tersenyum.


Tak berapa lama Alita pun di periksa sebelum di lakukan tindakan operasi.


Bagas yang gelisah menanti dengan resah di depan pintu ruang operasi.


Kira-kira anak Bagas kembar laki-laki atau perempuan ya. atau dapat kembar sepasang kayak authornya he he. curhat nih ye 😀

__ADS_1


__ADS_2