
Alia berencana menemui Bagas di halaman depan kantornya.
Karna hari ini kebetulan sang ibunda mendapat jadwal dinas pagi, sementara Ayahnya sedang berada si luar kota mengurusi pabriknya yang lain.
Saat ini lah kesempatan baginya untuk keluar bebas dari pengawasan orang tuanya.
Alia mendekat ke arah pak Adi yang sedang memanasi mesin mobil, karna biasanya pada hari minggu pak Adi akan pulang menemui anak dan istrinya.
"Kek Alia mau ke kantor karna ada kerja lembur pagi ini," ucap Alia.
Deg
Jantungnya berdetak kencang karna untuk pertama kalinya ia berbohong saat itu.
"Oh iya Neng, pulang jam berapa?" tanya pak Adi.
" Ah ngak apa Kek. Kalau Kakek mau pulang, nanti Alia minta jemput sama abang saja Kek," Alia memberi alasan.
Karna Alia tak pernah berbohong, pak Adi ia pun percaya kepadanya.
" Oh iya, Ayo Neng," ajak pak Adi ia pun membuka pintu mobil untuk Alia.
Alia masuk seraya mengirim pesan kepada Bagas.
***
Sementara itu sudah dari subuh, Bagas bersiap untuk pergi, dirinya begitu bersemangat menunggu hari ini, sampai-sampai ia beberapa kali bangun saat malam hari karna gelisah menanti datangnya pagi.
Cinta memang membawa perubahan yang banyak pada diri Bagas.
Azan subuh berkumandang, mata Bagas tak mau terpejam lagi.
Setelah menunaikan dua rakaat wajibnya, Bagas keluar dari kamarnya untuk menghirup udara segar, sejak terlepas dari barang haram tersebut, kini ia sudah bisa bangun pagi.
Ibunya selalu menasehatinya untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba.
Bagas keluar dari kamarnya membuka pintu, untuk keluar rumah sambil bersiul.
Siulan merdu bagas mengalahkan suara siulan perkutut mas Bejo yang menjadi tetangganya.
Nina tersenyum-senyum sendiri melihat keceriaan putranya pagi itu.
Hidupnya yang terasa suram, kini kembali ceria, sudah seminggu ia tak pernah lagi menangis karna melihat perangai Bagas.
***
Sinar sang Bagaskara perlahan terbit menyinari dunia, membuat kecerian bagi seluruh alam setelah gelapnya.
Bagaskara adalah cahaya hidup bagi Nina, putra sulung yang begitu ia cintai.
Masih membekas di ingatan Nina, betapa sulitnya membesarkan bagas dalam kemiskinan dan cemoohan.
Bagas sering kali menangis karna kehabisaan susu atau pun makanan, ia sering tidur dalam keadaan lapar, karna itulah, Nina begitu mencintai dan menyayangi putra sulungnya tersebut. beruntung Edo mau bertanggung jawab pada dirinya dan Bagas hingga mereka terlepas dari jerat kemiskinan.
Kini melihat Bagas yang kembali ceria, Nina semakin bergairah dalam menjalani hidupnya, semangatnya seolah kembali ketika Bagas kembali ke jalan yang benar.
***
Pukul setengah tujuh Bagas sudah keluar dari rumanya dan menuju rumah dinas Edo.
Karna ayahnya merupakan salah satu orang penting dan orang nomer satu di daerahnya, untuk bertemu sang Ayah butuh waktu lama, karna harus melewati serangkaian pemeriksaan.
Belum lagi ibu tiri yang memiliki mata tajam seperti mata elang yang selalu merapat pada Ayahnya ketika Bagas datang menemui Edo.
Bagas membawa motornya menuju rumah dinas tersebut
Sesampainya di sana ia masih harus melewati pemeriksaan dua polisi pamong praja.
__ADS_1
"Suruh masuk saja, dia putraku," titah Edo ketika salah satu polisi tersebut memeriksa Bagas dengan detektor metal.
Atas perintah atasannya Bagas di persilahkan masuk menemui kepala pemerintahan daerah tersebut.
Laura duduk di samping Edo dengan tatapan sinisnya, tapi Bagas sudah terbiasa, karna sedari kecil sikap ibu tirinya tersebut memang seperti itu.
Bagas duduk di depan keduanya.
"Nih Gas, Ayah sudah siap kan ini untuk keperluan kamu sebulan, Ayah harap kamu bisa mengatur dengan baik keuangan kamu, kali ini Ayah percaya dengan penuh kepada kamu dan jangan sampai kali ini kamu mengecewakaan Ayah."
Edo menyodorkan amplok tersebut kepada Bagas.
"Iya Yah kali ini Aku ngak akan mengecewakaan Ayah,"ucap Bagas.
"Kalau begitu aku pamit Yah."
"Iya Gas, jatah bulanan ibumu sudah Ayah transper, sebagai putra sulung ayah titip ibu dan adik-adik mu," ucap Edo sambil menepuk pundak Bagas.
"Iya Yah."
Laura menatap sinis ke arah Bagas ketika ia meraih amplok dari ayahnya.
"Cuih, bisanya cuma minta duit," guman Aura.
Bagas menatap perempuan tersebut dengan sinis.
Lihat saja akan ku buat Ayah ku tahu siapa dirimu.
Bagas pun segera pergi dari rumah itu untuk bertemu Alia.
***
Mobil yang di kendarai Pak Adi perlahan masuk ke halaman ruko yang di jadikan kantor tersebut.
"Kek Alia turun dulu, Kakek langsung pulang ya, nanti Alia pulang minta di jenput abang saja,"ucap Alia seraya membuka pintu mobilnya ketika mobil tersebut telah berhenti.
"Iya Neng, Kakek pamit pulang Ya." pak Adi.
"In Sya Allah Neng."
Alia turun dan menunggu Bagas di depan kantornya, kebetulan kantor tersebut ada yang menjaga, jadi meski pun hari libur kantor akan tetap buka.
Pak Adi memutar mobil dan langsung menuju rumahnya yang berjarak sekitar dua jam perjalanan.
Baru beberapa saat menunggu, motor Bagas sudah memasuki halaman kantornya.
Alia tersenyum ketika melihat Bagas yang baru saja tiba.
Bagas membuka helmnya dan tampaklah wajah tampan yang sedang tersenyum ke arahnya, senyuman yang membuat gadis itu terpesona untuk pertama kalinya pada seorang pria.
Bagas turun dan menstandar motornya menghampiri Alia yang duduk di kursi depan yang ada di kantornya.
"Selamat pagi cantik," ucap Bagas seraya menyunggingkan senyumnya kembali mebuat Alia semakin jatuh hati.
"Pagi juga,"jawab Alia dengan malu-malu seketika wajahnya merona seperti di poles blush on.
"Kamu sudah lama nunggu?"Bagas semakin grogi karna ia tak tahu apa yang harus ia tanyakan padanya.
Lagi-lagi Bagas mengumbar senyumnya yang membuat Alia semakin merona hingga tak mampu menjawab pertanyaan Bagas.
"Kamu kalau malu gitu makin cantik," sanjung Bagas.
"Hm Bagas! kamu puji aku seperti itu aku kan jadi malu," Seru Alia, ia pun memekul lengan Bagas.
namun Bagas menarik telapak tangan Alia dan menggenggamnya.
Alia kembali menundukan wajahnya menyembunyikan senyumnya, apalagi saat Bagas menggenggam erat tanganya.
__ADS_1
Aliran darahnya seakan mengalir dengan cepat, apalagi saat itu Bagas terus menatapnya lekat.
Alia bahkan tak mampu menatap netra teduh dengan iris coklat milik Bagas.
Semakin di lihat Bagas semakin mempesona.
"Hm Bagas katanya kamu mau bawa aku jalan-jalan pakai motor."
Alia memulai pembicaraan karna ia sudah tak sanggup di tatap oleh Bagas.
"Iya aku mau ajak kamu ke pantai, kamu mau?"
"Kepantai? Tapi itu jauhkan?"
Alia takut tapi pingun ikut.
"Ngak jauh kok, hanya satu jam."
Hm Alia meragu, jujur ia saat itu teringat nasehat Ghael untuk tak pergi dengan orang yang tak dikenal.
Bagas menatap ada keraguan pada Alia.
"Kamu ngak percaya sama aku Alia?"tanya Bagas.
Alia tertunduk.
Bagas menarik tangan Alia dan meletakan di dadanya.
"Kalau saja aku bisa belah dada ku, maka akan ku belah saat ini juga, agar kau bisa melihat ketulusan ku Alia."
"Kau tatap saja mata ku, lihat ke dalam hatimu, tak terbesit sedikit pun niat ku untuk menyakitimu," ucap Bagas bersungguh-sungguh.
Alia menarik tangannya dan menggangguk.
"Iya Gas aku percaya samu kamu," ucap Alia sambil menatap mata Bagas.
Keduanya hening sesaat kemudian.saling melempar senyum.
"Kalau gitu nih helm kamu."
Bagas menyodorkan helm tersebut kepada Alia kemudian mengenakannya pada Alia.
"Terima kasih," ucap Alia.
"Ayo Alia."
Kemudian Bagas menarik pelan tangan Alia menuju motor.
Bagas naik ke atas motor kemudian di ikuti oleh Alia.
"Pegang yang kuat ya," ucap Bagas.
Alia merasa malu, karna ini lah pertama kalinya ia berjalan dengan seorang pria selain Ghael.
Alia meletakan tangannya ke pangkuannya,namum di tarik oleh Bagas hingga melingkar ke perutnya.
"Pegang yang erat" ucap Bagas.
Alia tersenyum di balik wajahnya yang tertutup helm, ada rasa malu untuk memeluk Bagas.
Akhirnya setelah memikirkannya beberapa detik, tangannya pun melingkar secara sempurna di pinggang Bagas.
Brum, Bagas tancap gas meninggalkan tempat tersebut.
Bersambung.
Author ada rekomendasi novel keren nih silahkan mampir ya judulnya: jangan salahkan takdir
__ADS_1