
"Ada hubungan apa sih kamu sama Letnan itu?" dengus Aldi seraya melirik sinis kearah Aira.
"Ngak ada apa-apa Mas, dia itu atasan ku, jadi wajar jika aku menaruh hormat padanya,"papar Aira menjelaskan.
"Apa karna itu? kamu mengulur waktu pernikahan kita?" tanyanya dengan curiga.
Aira menoleh kearah Aldi.
"Mas, kamu pikir mudah menata hati yang sudah kamu hancurkan berkeping-keping, jujur saja mas sebenarnya aku masih ragu, aku masih butuh waktu, dan karna aku ingin pernikahan ini, penikahan yang terakhir dalam hidup ku, sebuah rumah tangga tidak cukup di bangun hanya berdasarkan cinta, tapi juga kepercayaan."Aira
"Kamu tahu sendiri pekerjaan aku seperti apa Mas, aku bukan Aira yang dulu, yang bisa ngikutin kemana saja kamu pergi, sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, karna menjadi seorang polisi itu bukan hanya sebuah matapencarian tapi juga pengabdian berdasarkan sumpah yang aku ucap sebelum resmi mengenakan pakaian seragam itu."Aira.
"Mungkin aku ngak akan punya banyak waktu untuk kamu, aku juga sering berbaur dengan anggota lainya yang mayoritas mereka itu pria, kalau kamu ngak bisa ngerti, percuma saja kita membina rumah tangga, jika tak ada kepercayaan di antara kita, bisa-bisa rumah tangga kita hanya bertahan dalam hitungan bulan seperti yang dulu Mas."
"Aku ngak mau menikah hanya di atas kertas, aku mau pernikahan ini di hadiri oleh kedua orang tua ku, aku anak mereka satu-satunya, dan aku ngak akan bisa benar-benar merasa bahagia sebelum aku bertemu dengan ibu ku," papar Aira.
Mendengar pemaparan Aira, Aldi semakin terbuka pikirannya, ia pun merangkul Aira seraya mencium keningnya, "Maaf ya sayang jika aku terlalu protect sama kalian, aku benar-benar takut kehilangan kamu lagi." Aldi.
"Iya Mas, kita sekarang sama-sama dewasa, harusnya kita bisa belajar dari kesalahan kita yang dulu, ngak mengambil keputusan berdasarkan emosi," imbuh Aira.
Aldi kembali menarik Aira dalam peluknya, sementara Alia tertidur dalam dekapan Aira.
"Iya sayang, ingatkan mas Aldi, kalau mas Aldi salah, mas Aldi juga sedang berusaha menemukan ibu kamu, dengan demikian kebahagiaan kita jadi sempurna, "ujarnya lagi.
"Terima kasih ya mas," ucap Aira seraya mencium pipi Aldi.
Keduanya pun saling melempar senyum bahagia.
***
Aira mendaftar sekolah untuk Alia di tempat ia dan Aldi bersekolah dulu, ketika memasuki pintu gerbang sekolah, ia melihat Romeo dan Doni sedang mengobrol mungkin mereka mengantar anak mereka ke sekolah.
Aira mendekati keduanya yang tengah Asik ngobrol berdiri pada sebuah pilar.
Rasa rindu kepada keduanya membuat Aira bergegas menghampiri keduanya.
Namun seperti biasanya tentu saja Aira masih dengan kejahilannya.
Kebetulan saat itu ia tengah memakai seragamnya.
Aira berjalan sedikit mengendap.
"Ehm... permisi bapak-bapak, ruang kepala sekolah di mana ya?" Tanyanya dengan suara baritonnya.
Keduanya menoleh ,dan kaget ketika melihat Aira tersenyum di hadapan mereka.
"Aira!" Mereka serempak.
Keduanya melihat Aira dengan tatapan mata yang berembun.
"Abang apa kabar?"tanya Aira seraya menyalami ke Romeo dan Doni.
"Baik Aira," jawab Keduanya.
"Ya ampun, abang ngak nyangka kamu bisa jadi polisi," ucap Doni sambil berdecak kagum.
"Ehm, kamu makin cantik saja Aira, bikin gemes saja," ucap Romeo serata mencubit pipi Aira.
"Ihs, Abang Aira bukan gadis belasan tahun lagi Bang," ujarnya seraya menepis tangan Romeo yang mencubit pelan pipinya.
"Kamu ngapain ada di sini?"tanya Doni.
"Harusnya Aira yang tanya, ngapain bapak-bapak ada disini, pakai ngerumpi lagi, bini-bininya pada kemana nih?"cerocos Aira.
__ADS_1
"Ada kok, kita kan suami-suami sayang istri, bener ngak Rom?" menaik turunkan Alisanya ke Romeo.
"Alah bilang saja suami-suami takut istri, iya kan?" Aira.
"Doni aja tuh takut sama bininya, abang mah ngak," sangkal Romeo.
"Sama aja loh, kalau sama Tari seperti kerbau di cucuk hidungnya," sahut Doni.
Aira hanya tersenyum melihat keduanya, enam tahun tak bertemu, tapi mereka ngak berubah sedikit pun.
"Eh Bang, mumpung kita baru bertemu, kita ngobrol aja yuk di cafe sebrang, sekalian cerita-cerita," Ajak Aira.
"Oke, kalau gitu Aira yang traktir ya, jadi pingin ngerasain hasil keringat Aira," ujar Doni.
"Yeelah loh Don, kalau mau ngerasain keringat Aira, loh angkat aja keteknya trus loh cium, rasain tuh hasil keringatnya," seloroh Romeo.
"Anjrit bukan itu maksud gue blo'on, makin tua bukan makin dewasa, makin begok aja loh," dengus Doni.
Mereka pun duduk bertiga di sebuah cafe. Setelah memesan minuman, mereka kembali mengobrol.
"Lihat Rom, adek kita yang dulu yang manja,yang hanya bisa menangis mengadu sama kita, sekarang dia malah lebih sukses dari pada kita," ujar Doni seraya menepuk pundak Aira.
"Ih abang biasa saja," ucap Aira jengah.
"Eh iya nih Aira, Abang ngak nyangka jika kamu jadi polisi seperti ini, sebentar ya abang punya pantun buat kamu nih."
" Beli peniti di pasar malam, penitinya ku taruh di atas meja, mimpi apa gue semalam, ketemu mantan, sekarang udah janda pula." ucap Romeo berpantun.
Ha ha ha, mereka pun tertawa.
"Bisa aja Rom godain Aira, , giliran sama bini loh mati kutu," sahut Doni,
abang juga ada nih pantun buat kamu Aira".Doni.
" Pergi ke kerawang naik sepeda ( cakep) Dulu perawan eh sekarang udah janda," Doni.
Mereka pun tertawa lagi sementara Aira mengkerucutkan bibirnya
"Ih kenapa sih, status Aira diledekin, sebel," bibirnya mengkerucut.
"Ada lagi nih Aira, "ucap Romeo
"Di kebun Damar mencari manggis, manggis ku cari, dapatnya mangga( cakep)
Niat hati melamar saat gadis, gadis ngak dapat, jandanya juga alhamdullilah." Romeo
"Asek," Doni.
Ha ha ha,.mereka semakin jadi menggoda Aira.
Aira hanya bisa pasrah di goda eks playboy tersebut.
"Eh bang, Aira juga punya pantun nih, Aira balas ya,"Aira.
"Buah kesemek di belah tiga, taruhnya di atas meja, Si abang anaknya sudah tiga, masih aja merayau janda,"balas Aira ke romeo.
Haha haha, Doni tertawa, sementara Romeo hanya tersenyum.
"Nah balas dong Rom," sahut Doni.
"Ehm, Pergi kepasar membeli koran, kalau ngak dapetin kamu, abang bisa mati penasaran."Romeo.
Ea ea ea.
__ADS_1
Tawa keduanya riuh di cafe tersebut.
"Eh Rom, loh ngak takut di banting Tari, gara-gara godain janda saudaranya." Doni.
"Ngak lah, asal ngak ketahuan, "cetus Romeo.
"Iya gue juga sama, asal ngak ketahuan," selorohnya mereka pun tertawa.
"Ah sudah lah bercandanya baru betemu juga."Aira.
"Tapi ngomong-ngomong kamu tugas di mana Aira?"Doni.
"Aira bertugas di pos dekat sini,"jawabnya.
"Wah hebat kamu Aira, abang jadi makin bangga sama kamu, kamu ngak mudah menyerah, karna abang sendiri tahu, pasti apa yang kamu lalui bukan sesuatu yang mudah," Papar Doni.
"Ehm aku juga bangga punya mantan pacar kayak dia," ucap Romeo seraya mencolet dagu Aira.
"Ih emang kita pernah pacaran Bang?"tanya Aira seraya tersenyum kearah Romeo.
"Yah pakai ngak ngaku lagi," dengus Romeo.
Ketika tengah asik mengobrol, Doni mendapat panggilan telpon.
Ia menatap layar handphonenya.
"Shutt , loh diam-diam ya, gue bini gue nelpon," ucap Doni sedikit menjauh.
"Hallo Ma," sapa Doni.
"Pa, lagi di mana sih, kok lama banget, cuma ngantar Aleta doang," sungut Dasti di seberang telpon.
Mendengar suara Dasti di seberang telpon, Romeo menyahut'
"Tenang saja Das, laki loh sama gue! kita berdua lagi godain janda!" teriak Romeo, hingga terdengar Dasti.
"Apa? godain janda?! pulang sekarang ya Pa!"teriak Dasti di sambungan telponnya.
"Loh resek banget sih Rom,"sungut Doni menutup telponya, ia pun duduk dan menyerup habis minumannya, kemudian bangkit lagi.
"Buru-buru banget Don." Romeo.
Ehm iya nih, "Buah mengkudu dari semarang, gue kudu pulang sekarang,"Doni.
"Kenapa Don?"tanya Romeo pura-pura tak tahu.
"Bini gue lagi ngasah parang, telat dikit gue pulang, nyawa bisa melayang, " serolohnya.
"Sadis banget bininya Bang?" tanya Aira dengan mengulum senyumnya.
"Iya, Aira si Doni, udah beberapa kali hampir mati koyol karna istrinya."Romeo.
"Hah, segitunya?"tanya Aira seraya tertawa kecil.
"Ih ngak percaya, "sambar Romeo.
"Abang pulang dulu Aira, kapan-kapan kita ketemu lagi, minta saja nomor abang sama Romeo, " ucap Doni seraya menepuk pundak Aira
"Iya Bang hati-hati."Aira.
Aira melirik kearah Romeo, "Yuk bang kita juga pulang, ngak enak tinggal berdua, ntar yang ketiganya setan,"ucap Aira seraya beranjak.
"Ngak lah kan setannya udah pulang duluan, tuh si Doni " Canda Romeo, keduanya pun segera meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Bersambung.