
Aira terus saja menitikan air matanya saat di rias, membuat penatarias harus beberapa kali merapikan make upnya.
Meski kesal dengan Aira, tapi bu Dina yang merias Aira, mengerti jika anak seusianya memang labil.
Mbok Jum selalu setia mendampinginya, saat Aira bersedih atas pernikahanya, Mbok Jum terus saja memberi nasehat ke pada Aira.
"Non, jangan sedih lagi, ini hari pernikahan non Aira, harusnya non bahagia," ucap si mbok sambil memeluk Aira.
"Aira belum siap untuk nikah Mbok, Aira masih ingin sekolah," tuturnya dengan terbata-bata.
"Tapi non semua tak mungkin di batalkan lagi, sabar saja ya," ucap mbok.
"Dek kalau ngak mau nikah, kenapa ngak dari kemaren saja membatalkan nya," ucap bu Dina yang ikut haru mendengar penuturan Aira.
Mbok Jum pun berhasil membujuk Aira, mbok Jum mengurut dadanya.
"Kasihan non Aira, dari dulu hingga sekarang, apa yang di lakukannya semua serba terpaksa," ucap si mbok pada bu Dina pelan saat rambut Aira di sanggul.
"Kenapa dia ngak mau mbok? calon suaminya itu kan muda, ganteng, kaya lagi, mbok, apa kurangnya gitu?" tanya bu Dina.
"Ngak tahu lah masing-masing kita kan beda pemikiran, apalagi Non Aira itu masih di bawah umur, ngak ada yang mendidiknya, dia juga kehilangan masa remaja karna harus terus-terus bekerja membantu orang tua nya." papar si mbok.
Setelah berbincang-bincang, mereka pun mendengar ijab qabul yang di ucapkan Aldi dengan menggunakan mic hingga terdengar di segala penjuru.
"Sah, " terdengar kata tersebut di telinga Aira dan mbok Jum.
"Allhamdulilah Non, kini non Aira sudah resmi menjadi istri Mas Aldi," ucap mbok haru sambil memeluk Aira.
Aira masih menitikan air mata nya, entah apa yang di rasakanya saat itu.
"Ayo Non sekarang kita keluar," ajak si mbok.
Aira pun bangkit dari kursi meja riasnya.
Mbok Jum merapikan pakai Aira agar Aira tampil sempurna pertama kalinya di hadapan suaminya.
"Duh, Non Aira cantik banget, pasti Mas Aldi makin sayang," ucap simbok.
Aira tampil anggun dengan kebaya modern yang berwarna putih berbahan brokat mewah, Kebaya yang terbuka lebar dari dada hingga bahu dengan aksen yang sederhana, namun terlihat elegan, di tambah dengan sanggul moderen yang membentuk seperti rumah siput dengan hiasan bunga melati asli.
__ADS_1
Bunda Maya, langsung menghampiri Aira ketika Aira hendak menuruni tangga, kebanyakan mereka berdecak kagum melihat penampilan Aira malam itu, meski Aira berasal dari keluarga sederhana, namun penampilanya malam itu tak kalah cantik dengan Artis papan atas negri ini, bahkan terlihat lebih cantik, karna sehari-harinya Aira tak pernah menggunakan make up.
Aura kecantikanya nya begitu terpancar, hingga langkah kaki yang menuruni anak tangga satu per satu itu pun mampu mengalih kan ratusan pasang mata yang kini tertuju pada nya, termasuk sang suami, Aldi.
Aldi menyambut Aira di ujung anak tangga dengan wajah yang berbinar, dan senyum yang merekah dengan sempurna.
Aira kini bersanding dengan Aldi menuju meja kecil tempat Aldi dan penghulu melakukan prosesi ijab qabul.
Aira pun mendekat dengan menggandeng tanggan Aldi, saat itu ia tak menyadari jika Romeo juga hadir di sana.
Tatapan mata Romeo tak beranjak dari tempatnya, ia terus saja memperhatikan sang pujaan hati yang kini resmi menjadi istri dari sahabatnya sendiri.
Sesak langsung terasa di dadanya, apalagi ia melihat Aira yang begitu anggun dan cantik, berjalan beriringan dengan pria tampan yang kini adalah suaminya.
Titik air mata meluncur perlahan di netra Romeo yang mulai memerah, ibarat kata, maksud hati ingin memeluk gunung, tapi apalah daya tangan tak sampai.
Romeo dan Aldi mereka memang sering bertahuhan dalam segala hal, dan Romeo memang selalu kalah, tapi kali ini, Romeo merasa ini adalah kekalahan yang memilukan dan yang membuat hatinya begitu pedih.
Romeo menutup matanya, berharap ini hanya mimpi, namun seketika lamunan nya terhenti, ketika Tari menggenggam erat tanganya.
Romeo juga melihat Tari yang juga menetes kan air matanya.
"Iklasin saja Rom," ucapnya dengan berat sambil menepuk pundak Romeo.
Romeo yang melihat Tari yang juga berduka, ia pun merangkulnya, mereka kini merasakan perasaan yang sama, dan alakah baiknya jika mereka saling menguatkan, saling mendukung.
Doni yang berada di samping Romeo pun memeluk sahabatnya itu.
"Kalau kalian berdua ngak kuat melihatnya, kalian pergi saja dari sini, ini kunci mobil." Doni menunjukan kunci mobil.
Romeo meraih kunci itu dari tangan Doni.
"Bawa Tari dari sini Rom, kasihan dia, gue takut terjadi sesuatu pada nya," kata Doni.
Tari menyandarkan kepalanya di bahu Romeo tubuhnya seperti melayang ke udara, meski bibir nya berkata iklas, tapi hatinya tak sanggup menerima.
Tari sudah terlanjur cinta pada Aldi, dan lebih pedihnya, Aldi selama ini membohonginya, sampai saat ini, ia tak pernah mendengar penjelasan atau pun permintaan maaf dari Aldi, Aldi pergi begitu saja menikahi cewek lain dan menggantung cintanya.
Romeo masih merangkul Tari, " Ayo Tar hapus air mata kamu, tunjukan sama Aldi kalau kamu bisa bahagia tanpanya, karna lelaki sepertinya tak pantas untuk di tangisi," ucap Romeo sambil menghapis air mata Tari.
__ADS_1
"Gue ngak kuat Rom, gue pingin nangis pengin teriak aja, bawa gue pergi dari sini Rom," ucap Tari terbata-bata.
Sebagian pasang mata tertuju pada dua orang yang berpakaian serba hitam tersebut, begitu pun Aldi dan Aira, mereka melihat sendiri, bagaimana Tari menyandarkan kepalanya di lengan Romeo, Tari pun menggandeng tangan Romeo, karna sudah merasa gemetar.
Karna takut terjadi sesuatu yang tak di ingin kan, Romeo pun membawa Tari keluar dari ruangan tersebut.
Tatapan mata Aira tertuju pada sosok dua orang yang berbaju hitam.
Hati Aira juga menangis, melihat Romeo yang membawa Tari pergi, "Seharusnya Aira yang di bawa pergi dari sini, bukan mbak Tari," sesal Aira dalam hati.
Romeo merangkul Tari dan membawanya keluar dari tempat tersebut.
Baru beberapa saat melangkah dari teras rumah Aldi, seketika tubuh Tari tumbang.
"Ya pingsan lagi, ucap Romeo.
Ia pun membopong tubuh Tari dan membawanya ketempat yang aman.
"Tar..Tar, aduh pingsan lagi, gimana cara membuatnya sadar ya?"
Romeo menepuk pipi Tari pelan beberapa kali, tapi ia belum sadar juga.
"Aduh mesti gimana nih, biar Tari sadar, mau menggankat tubuhnya berat lagi, kebanyakan dosa kali, nyusahin aja nih anak."Romeo menggerutu.
Setelah berpikir sejenak, ia pun mendapat ide.
"Ah seperti di film-film aja, kalau orang pingsan, biasanya di kasih nafas buatan,"
Romeo pun menarik panjang nafasnya dan membuka mulut Tari dan menghembuskan nya ke dalam mulut Tari, Tari pun membuka mata dan melihat Romeo yang seperti menciumnya.
"Lo, ngapain Rom, mau ambil kesempatan ya? Mentang-mentang gue lagi ngak sadar," gerutunya.
"Kalau mau cium gue ya nunggu gue sadar dong, biar gue bisa nikmatinnya juga," tambahnya bercanda.
"Siapa yang mau cium elo sih, gue cuma mau membuat lo sadar dari pingsan, kasi nafas buatan gitu, untung seminggu ini gue ngak makan jengkol sama petai, kalau ngak, bukan nya sadar, tapi malah gue buat koma karna cium bau nafas gue," sahutnya. Romeo.
"Ia Rom gue sedih banget, gue ngak kuat jika berada di sana lama-lama," ucapnya sedih.
"Udalah gue antar lo pulang, setelah itu gue jemput Doni, ayo," ajak Romeo yang menarik tangan Tari.
__ADS_1
Bersambung dulu ya ges, insya Allah hari ini author up dua kali, terus dukung author ya, sambil nunggu author up mampir di novel author yang lainya yang lebih sery.