
Aldi turun dari kamarnya dengan wajah yang murung, kemudian ia menuju meja makan untuk sarapan.
Disana sudah Satria dan keluarga yang lain menunggu Aldi.
"Aldi kamu baik-baik saja Nak?"tanya Satria khawatir ketika melihat wajah putranya yang murung.
"Iya Pa, "sahut Aldi datar.
"Aldi, papa tahu kamu khawatir terhadap mama kamu, tapi kamu ngak perlu berlebihan seperti itu Nak, Papa juga mengkhawatirkan mu," ucap Satria.
"Papa harus ikut Aldi hari ini Pa, papa harus lihat keadaan mama, "Aldi.
Satria meneguk minumannya, kemudian meletakan gelas tersebut diatas meja.
"Papa sudah tahu Aldi, Papa sudah melihat keadaan mama kamu,"ucap Satria lirih.
"Apa Pa?"Aldi langsung menatap tajam kearah Satria.
"Trus Papa diam saja?!" tanya Aldi sedikit emosi, matanya pun sedikit memerah.
Keaadaan yang awalnya tenang mendadak tegang, perhatian mereka tertuju pada Aldi.
"Aldi bukannya papa membiarkan mama kamu, tapi papa bisa apa Nak? mama kamu bersikap agresif sekali, jangankan Papa, petugas saja kewalahan menanganinya," jelas Satria.
"Tapi Pa, mama seperti itu karna mama terlalu mencintai papa, setiap saat ia menantikan kehadiran papa di sana, bahkan Mama tak mengenali Aldi, ia hanya ingat jika Aldi ini masih bayi dan mama pun mengira jika Aldi adalah Papa," papar Aldi dengan air mata yang mengalir.
"Papa harus tanggung jawab Pa, ini semua karna Papa tak pernah bersikap adil terhadap mama, "ucap Aldi sambil menangis terisak.
Semua mata menandang ke arah Aldi.
"Aldi, kamu tahu apa tentang keadilan? kamu ngak bisa menyalah kan satu pihak, saja hanya karna kamu mendengar ocehan mama kamu!" Satria.
Aldi kembali menangis, ia masih merasa bersedih.
"Sudah Aldi habisi saja sarapan kamu, setelah itu kita pergi menemui mama kamu, "ucap Satria.
"Aldi ngak selera Pa," menepak meja, "Aldi tunggu Papa di mobil," ucap Aldi sambil berlalu.
Aira terbungkam melihat Aldi yang berubah, bahkan suami tersebut tak pamit padanya dan langsung menuju mobil.
Satria menyerup habis minumannya, kemudian ia berdiri dan mendekati Maya.
"Ma, Papa pergi dulu ya,"ucap Satria sambil mengecup kening Maya.
"Iya Pa, Pa jangan terlalu keras sama Aldi, dia pasti sedih saat mengetahui keadaan mamanya," ucap Maya sambil mencium pungung tangan Satria.
"Iya Ma." Satria pun berlalu.
Satria menghampiri Aldi yang sudah menunggu di mobil, setelah ayahnya masuk kedalam mobil, Aldi langsung bergerak menuju rumah sakit.
Sementara mereka di rumah kembali ke aktivitas masing-masing.
Aira langsung menuju ke kamarnya, ia begitu sedih melihat perubahan sikap Aldi, namun Aira mencoba untuk mengerti.
Begitu pun Tari, setelah mengantar suaminya di muka pintu, Tari kembali kekamarnya.
Sesampai nya di kamar, Tari merasa ada yang terasa berbeda di perutnya, tiba-tiba saja ia merasa mual.
Tari berlari kekamar mandinya dan segera memuntahkan seluruh isi perutnya, seketika tubuhnya terasa lemas.
"Aduh, gue kenapa lagi nih, padahal sebelum sarapan ngak kenapa-kenapa." Tari bermonolog, ia pun kembali berbaring di atas tempat tidur.
Aira berada sendiri di kamar, ia merasa kesepian, karna biasanya ia selalu menenani Aldi, kemana pun suaminya tersebut pergi.
"Hm, ngak ada mas Aldi sepi banget, baru beberapa menit mas Aldi pergi udah kangen aja," gunmman Aira sambil membuka lebar tirai kamarnya.
"Kekamar mbak Tari saja lah, gangguin mbak Tari," ucap Aira, ia pun langsung menuju kamar Tari.
Aira mengetuk pintu kamar Tari, Tari yang baru saja merebahkan tubuhnya tersebut segera bangkit dan membuka pintu untuk Aira.
__ADS_1
"Mbak, kok wajah mbak pucat gitu? sakit ya?" tanya Aira, ketika melihat wajah Tari yang pucat.
"Ah Enggak kok Aira, gue merasa lemas saja, ngak tahu kenapa, masih pagi pinginnya muntah saja," papar Tari sambol kembali ke atas tempat tidurnya.
"Hhm jangan-jangan mbak hamil,"cetus Aira.
"Ih Tapi gue juga baru seminggu menikah masak sih udah hamil saja,"kilah Tari.
"Eh,.mana tahu mbak, siapa tahu mbak Tari dan bang Romeo sama-sama subur jadi, sekali saja bercocok tanamnya langsung tumbuh tuh benih, apalagi bercocok tanamnya sering banget sampai tiga kali sehari, kayak dosis obat aja," seloroh Aira.
"Hah yang benar Aira?"tanya Tari antusias.
"Gimana caranya kita bisa tahu, jika kita sedang hamil?"tanya Tari.
"Ehm, kita ke bidan saja mbak," cetus Aira.
"Ehm, bidan, nyokap gue kan bidan, oh ya temani mbak yuk Aira, kita ke rumah mama Nova, mbak periksa sama dia saja," ucap Tari bahagia.
"Ayok mbak Aira juga bosan di rumah," ucap Aira.
Mereka pun bersiap untuk pergi, dengan meminta mang ujang untuk mengantar.
"Tari kamu mau kemana Nak?"tanya Maya karna melihat Aira dan Tari berpakaian rapi.
"Hus Aira jangan beritahu mama dulu ya, aku mau memberi tahu kabar bahagia ini kepada suami ku untuk pertama kalinya," bisik Tari.
Beres mbak, sahut Aira sambil mengacungkan jempolnya.
"Kamu mau kemana Tari?" Maya mengulangi pertanyaannya.
"Ehm, Tari mau menemui mama Nova ma, kangen," ucap Tari.
"Oh, iya sayang hati-hati ya, sampaikan salam mama untuk mama Nova ya,"ucap Maya.
Pasti Ma, ujarnya seraya mencium punggung tangan Maya.
Mereka pun pamit.
Aldi dan Satria sudah sampai di ruang perawatan Rita, Saat itu Rita sudah rapi dan bersih.
Aldi sedikit senang karna melihat keadaan mamanya yang lebih baik dari hari kemaren.
Dari kejauhan Aldi melihat seorang perawat tengah menyisir dan merapikan rambut Rita, "Kamu lihat, wajah kamu jadi cantik jika kamu bersikap baik, sehingga kami bisa merawat kamu, menyisir rambut kamu, memakaikan kamu bedak," ucap petugas wanita tersebut sambil menyisir rambut Rita.
"Hem, aku memang cantik, bahkan banyak sekali lelaki yang ingin menikahi ku, tapi entah kenapa aku hanya mencintai Satria," ucap Rita pada perawat tersebut dengan bibir mengkerucut.
Setelah di beri obat penenang, biasanya sikap Rita akan sedikit tenang dan mudah untuk di ajak bicara.
Melihat keadaan Rita yang sedikit tenang, Aldi tanpa ragu membawa papanya masuk keruangan Rita.
Rita tanpa sengaja melihat kedatangan Aldi dan Satria, ia langsung berdiri dan berlari menghambur memeluk Aldi.
"Mas Satria, akhirnya kau datang juga," ucap Maya sambil mememuk Aldi.
Aldi melirik kearah ayahnya.
"Ma, Mama, ini Aldi Ma, Aldi bawa papa ma" ucap Aldi sambil melepaskan pelukan Rita.
Rita melihat kearah Satria, matanya sedikit memicing berusaha mengenali pria tersebut.
"Rita apa kau mengenaliku ?"tanya Satria dengan tenang.
Rita menggelengkan kepalanya, kemudian ia tertawa, "Oh iya, bapak mertua,"ucap Rita sambil bertepuk tangan seperti anak balita yang di beri main.
"Bapak mertua, apa kabar," ucapnya seraya menarik tangan Satria kemudian memcium punggung tanganya.
Satria tergaman melihat Rita yang tak mengenalinya, malah menyangka jika dirinya adalah mertuanya.
"Ma, ini Papa ma, lihatlah baik-baik," ucap Aldi kepada Rita.
__ADS_1
"He he he, kau bilang pria jelek dan tua ini adalah Satria? ha ha ha.
"Tidak, mas Satria ku tampan, kau adalah mas Satria ku," ucap Rita sambil memeluk Aldi.
"Hm Mas Satria jangan pergi lagi, tinggal saja di sini bersama ku," pinta Rita dengan manja.
Aldi kembali terlihat sedih, mata beningnya terlihat mulai memerah.
Rita menggandeng Aldi seraya menuntunnya ke suatu tempat.
Satria melihat sebuah cermin ia pun mengambil cermin tersebut kemudian menghampirinya.
"Rita, sini aku jelaskan pada mu," ucap Satria dengan tenang, ia menuntun Rita pada sebuah bangku.
Rita duduk di antara Satria dan Aldi.
"Rita, kau lihat cermin ini, " ucap Satria sambil menyodorkan sebuah cermin.
"Rita banyak waktu yang telah kita lewati meski tak bersama, saat ini kau dan aku sedang berada di usia senja, dan putra kita yang bernama Aldi, di sudah dewasa saat ini, dan di sampingmu itu adalah Aldi," ucap Satria sambil menunjuk Aldi.
"Aldi? "Rita mengalihkan pandanganya kearah Aldi.
"Aldi, Aldi putra ku, "ucapnya lirih.
"Iya Rita, dia Aldi putra kita, sekarang dia sudah dewasa Rita, sadarlah Rita, " ucap Satria.
Sementara Aldi menggangguk membenarkan ucapan Satria.
"Aldi, kau Aldi?" Rita meraba wajah Aldi dengan lembut.
"Iya Ma, ini Aldi, putra Mama," ucap Aldi setengah menangis.
Rita memeluk Aldi, "Aldi, Aldi" ucapnya lirih.
"Iya Ma, ini Aldi," ujarnya lagi sambil memeluk Rita.
"Tidak! kau bukan Aldi, kau satria!"
"Hm Mas Satria, kau sengaja kan membohongiku, kau ingin pergi dengan wanita breng*sek itu kan," hiks hiks
Melihat Rita seperti itu Satria mengambil inisiatif kembali.
"Rita lihatlah Rita, lihat wajah kita di cermin, kita sudah tua Rita," ucap Satria sambil menunjukan cermin tersebut kepada Rita.
Rita melihat wajahnya di cermin, "Akh! siapa nenek sihir itu?"tanya Rita ketakutan saat melihat wajahnya di cermin.
"Rita ini wajah mu, kau tidak jelek Rita, semua mahluk pasti akan mengalami masa menua, dan saat ini kita berada di masa itu," ucap Satria berusaha menenangkan Rita.
Tidak! Aku tidak tua, kau yang tua! jelek ! dan keriput!, teriak Rita, ia pun mengambil kaca tersebut kemudian memecahkannya.
Prank...kaca pecah, dan mengenai tangan Rita, tangannya berdarah, seketika Rita berteriak, ia kembali membuat kekacauan.
Akh! Akh tidak! aku tidak tua!, teriak Rita, melihat Rita yang mulai emosi, petugas langsung memborgolnya seraya kembali memasung Rita.
Rita kembali mengamuk, ia berteriak, dan berusaha menyerang petugas yang berada di dekatnya.
"Akh, lepas kan ! mas Satria, mas Satria jangan tinggalkan aku mas!" teriak Rita.
"Mama!." Aldi kembali menangis melihat Rita di ikat dan di pasung seperti binatang.
"Sudah Aldi, kita pulang, besok kita ke mari lagi Nak," ucap Satria.
"Kalian keluar, ruangan ini harus di kunci kembali," ucap petugas tersebut menyuruh mereka keluar.
Dengan berat hati Aldi kembali harus meninggalkan Rita dengan keadaan yang menyedihkan.
"Mama!"tangis Aldi lirih, melihat putranya bersedih, Satria pun merangkul Aldi dan membawanya keluar dari tempat tersebut.
Bersambung, semoga suka, di tunggu like komen,votenya ya.
__ADS_1
perawat tersebut bermaksud untuk