
Suara azan subuh menggema memenuhi seisi jagat raya, Tari menerjabkan-nerjabkan matanya sembari mengumpulkan nyawanya karna tercecer di alam mimpi, setelah itu bersiap untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba Tuhan.
Setelah menunaikan kewajibanya ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya, tak seperti biasanya subuh kali ini ia harus sudah bersiap, karna tepat pada pukul delapan pagi, ikrar suci akan berlangsung, sebagai permulaan dalam membuka lembaran baru di hidupnya.
Tok...tok...tok..," Tari !"suara ketukan pintu dari luar, Tari yang menggunakan kimono berbahan handuk tersebut segera menuju pintu keluar dan membuka pintu kamarnya.
Krek... pintu di buka dan ada dua orang wanita paruh baya yang membawa box make up berserta koper kecil yang entah apa isinya.
"Tari,sebelum berdandan ala pengantin, kamu harus menjalan ritual mandi kembang tujuh rupa, serta sungkeman dulu, agar semua prosesi pernikahan kamu berjalan lancar." ucap salah seorang dari kedua wanita tersebut.
Tari pun membuka lebar pintu kamarnya, dan membiarkan kedua orang wanita tersebut masuk kedalam kamarnya.
Salah seorang dari mereka langsung menuju kamar mandi dan mempersiapkan air dalam ember dan menabur rupa-rupa kembang, tentu setelah di bacakan doa-doa.
"Ayo pakai kembanya kita mulai mandi kembangnya," ujar wanita yang menggunakan kebaya tradisional tersebut.
Tari mengikuti apa yang di anjurkan padanya, ia pun mengganti kimono dengan kain batik yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Tari duduk bersimpuh, sedangkan wanita klasik tersebut terus menyiramkan air kembang ke tubuhnya.
Dengan mulut yang komat-kamit wanita tersebut mengguyurkan air kembang dari kepala sampai keseluruh tubuhnya, setelah beberapa kali penyiraman, ritual tersebut pun selesai.
Tari melepas kain batiknya dan kembali menggunakan kain batik yang lainya untuk menutupi tubuhnya.
Wanita lainya memoleskan bedak tabur keseluruh tubuhnya sambil berkomat kamit kembali, setelah selesai, salah seorang dari mereka memanggil Nova untuk prosesi sungkeman.
Nova duduk di atas kursi, sedang kan Tari berlutut di hadapanya.
Belum sepatah kata keluar dari mulutnya, air mata Tari sudah menetes perlahan melihat ibu yang dengan tulus merawatnya tersebut.
Tari merasa sedih karna setelah menikah ia tak kan tinggal bersama ibunya.
Lamunan Tari buyar saat suara seseorang memecah keheningan diantara mereka, keduanya saling menatap haru dengan netra yang berembun.
"Ayo Tari ucapkan terima kasih pada orang tua yang telah membesarkan mu selama ini, setelah itu kamu minta maaf dan sungkeman padanya, kemudian kamu minta agar dia merelakan mu untuk ikut suami mu, karna setelah ini tanggung jawabnya sebagai orang tua telah selesai, dia akan menyerahkan kamu kepada suami mu," ucap wanita tersebut kepada Tari.
Tari mendengar seksama penuturan wanita itu ia pun langsung mengikuti arahanya.
Tari melangkah dengan lututnya, perlahan ia mendekati wanita yang telah mengasuhnya sedari bayi, wanita yang mencurahkan kasih sayang yang tulus meski ia sendiri tahu bahwa Tari bukanlah anak kandungnya.
Kini Tari berada tepat di hadapan ibunya, wanita itu meraba lembut wajah Tari, bulir bening pun perlahan menetes di netra teduhnya.
Tari mengatur nafasnya dan menelan salivanya untuk mengatur emosi nya yang sedang bergejolak, antara sedih dan bahagianya kemudian ia memulai prosesi sungkemanya.
"Ma, terima kasih karna telah merawat Tari dari bayi hingga Tari seperti ini, sungguh Tari tak kan mampu membalas kebaikan dan kasih sayang yang mama berikan,"tuturnya berurai air mata.
Begitu pun Nova, ia merasa haru dan bahagia untuk melepas anak yang di rawat dan di besarkan dengan penuh kasih sayang, air mata pun mengalir dengan deras membasahi pipi Nova.
"Terima kasih ya Ma, maaf selama ini Tari selalu merepotkan Mama dan Tari belum bisa membahagiakan Mama, " ucap Tari haru di selingi isak tangis pada setiap kata-katanya.
Tari berlutut dan mencium lutut ibundanya ia pun menangis haru dalam pangkuan bundanya.
Tubuh Nova bergetar, perasaan sedih yang tiba-tiba muncul karna sebentar lagi Tari akan tinggal bersama suaminya.
__ADS_1
Nova menggangkat tubuh Tari agar tegak kembali," Iya sayang, Mama iklas karna telah merawat kamu, bagi Mama kamu tetaplah putri Mama yang paling mama sayang, sampai kapan pun."
"Mama juga minta maaf karna selama ini Mama tak punya waktu banyak untuk bersama kamu, Mama terlalu sibuk hingga jarang nemperhatikan kalian, baru saja rasanya kamu Mama gendong di pelukan Mama eh sekarang malah sudah mau menikah,"tutur Nova haru sambil membelai rambut panjang sang putri.
"Iya Ma Tari sangat mengerti, Mama selalu berjuanga untuk menafkahi kami, mama terus bekerja banting tulang demi Tari dan adik, mama adalah pahlawan bagi Tari Ma," ucapnya dengan haru sambil merangkul tubuh Nova.
"Iya sayang, Mama iklas sudah menjadi kewajiban mama untuk memenuhi kebutuhan kamu dan adik kamu, maaf kan Mama jika mama belum bisa jadi ibu yang baik," tutur Nova dengan Haru.
"Ngak Ma, mama adalah ibu yang terbaik bagi Tari dan adik Ma," sahut Tari kembali.
Sejenak mereka larut dalam haru, Tari pun terisak menangis dalam dekapan hangat seorang ibu.
Setelah perasaan mereka membaik, Tari melanjutkan sungkemanya.
"Ma, Tari harap mama merelakan Tari, karna setelah pengucapan ijab qabul, Tari akan ikut kemana pun suami Tari pergi," ucapnya sambil menyapu air mata Nova.
"Tentu sayang, semoga kamu hidup bahagia bersama suami kamu, jadilah istri yang baik untuk suami kamu ya," ucap Nova kembali.
Tari tersenyum dan menggangguk mendengar ucapa ibunya, ia pun kembali mencium lutut ibunya dan kembali memeluknya dengan dengan erat sejenak, melarutkan rasa bahagia dan harunya menjadi satu dalam dekapan hangat ibu dan anak.
Setelah sungkeman Tari pun di rias dengan make-up khusus.
***
Di rumah kediaman keluarga Heru.
Setiap penghuni kamar di rumah tersebut sudah bersiap dengan aktifitas mandi pagi mereka, karna mereka sebentar lagi akan mengantarkan Heru menuju rumah calon mempelai wanita, di mana akan berlangsungnya prosesi akad nikah, sebagai mempelai pria.
Aira dan Aldi sudah siap dengan kebaya dan batik berwarna senadanya, seperti biasanya dengan di sanggul seadanya saja Aira sudah terlihat cantik.
Aldi juga tidak tahu sejak kapan istrinya tersebut mahir dalam menggunakan peralatan make upnya.
"Sudah selesai Mas," ucap Aira sambil berjalan menghampiri Aldi di muka pinty.
Mereka berdua keluar dari kamar dan mengunci rapat pintunya kemudian bergabung dengan anggota keluarga yang lainya.
Heru terlihat tampan menggunakan stelan jas putih, wajahnya begitu berseri.
Tak hanya keluarga inti, Rita dan Laura pun hadir di rumah itu, mereka berdua berbincang dengan Satria dan Maya.
Rita melirik sinis ketika Aira dan Aldi yang berjalan mendekati mereka.
"Oh ya Mas Satria, perkenalkan ini calon menantu kita juga," ucap Rita memperkenalkan Laura.
Satria mrngerutkan kening, binggung mendengar ucapan Rita, "Menantu untuk siapa?" tanya Satria spontan.
"Ya untuk Aldi siapa lagi?," sahutnya dengan ketus.
Laura mengulurkan tanganya untuk menjabat tangan Satria, mereka pun berjabat tangan.
"Tapi Aldi kan sudah menikah?" tanya Satria kembali.
"Emangnya kenapa kalau Aldi memiliki dua istri?" tanyanya sinis.
__ADS_1
Aira menundukan wajahnya, suasana yang awalnya suka.cita kini, menjadi duka, Aira tak pernah tahu alasan kenapa Rita tak menyukainya.
Sementara Satria dan Maya geleng-geleng kepala, tapi mereka tak sedikit pun menggubris ucapan Rita.
Meliha semua keluarga sudah berkumpul, Rita mengajak semuanya untuk segera berangkat.
"Ayo Heru kita berangkat sekarang nanti kita terlambat," ujarnya yang kemudian berdiri dan menggandeng tangan Heru.
Mereka pun berjalan beriringan.
"Bagaimana perasaan kamu Heru? sebentar lagi kamu akan punya istri, dan bunda sangat yakin sekali, jika Tari bisa membuat kamu bahagia," ujarnya sambil berjalan menggandeng Heru.
"Semoga saja Bunda, ini pernikahan Heru untuk yang pertama dan terakhir kalinya, semoga Heru dan Tari bisa membangun keluarga yang sakinah mawarda dan warohma," sahut Heru.
"Tentu dong Heru, Eh Bunda mau kamu jangan menunda untuk punya momongan, Bunda sudah ngak sabar menimang cucuk," imbuhnya.
Heru hanya tersenyum simpul.
"Heru, malam ini kan malam pengantin kamu, Bunda punya sesuatu untuk kamu," ucap Rita sambil merogoh tas tanganya, kemudian menyelitkan di saku jas Heru.
"Apaan nih Bunda?" tanya Heru ketika merasa Rita memasukan sesuatu di saku jasnya.
Rita mendekati telinga Heru seraya berbisik.
"Ini yang akan membuat rasa kepercayaan diri kamu meningkat Heru, kamu akan semakin perkasa saat malam pertama kamu nantinya, jangan sampai ngak di minum ya," ancam Rita di telinga Heru.
Sejurus kemudian Rita tersenyum menyeringai.
"Ah ngak perlu lah Bunda, tanpa obat Heru bisa kok melakukannya," ucap Heru dengan jengah.
"Ia bunda tahu, tapi kan ini pertama kalinya buat kamu, kamu pasti nervous kan?"
Kini mereka saling berhadapan, Rita merapikan jas Heru sebelum Heru masuk dalam mobil.
"Bisa aja Bunda," guman Heru dengan senyum simpulnya.
"Sudah sekarang kamu sudah siap untuk menjadi calon mempelai Pria, ayo masuk mobil, kamu pasti sudah di tunggu oleh calon mempelai wanita dan keluarganya," ucap Rita yang di buat setulus mungkin.
"Terima kasih Bunda, Heru berangkat dulu ya, doa kan semua berjalan lancar ya Bunda, Heru mohon doa restunya," ucap Heru sambil mencium punggung tangan Rita.
"Tentu dong, semoga kamu lancar dalam mengucap ijab qabulnya," ucap Rita dengan senyum misteriusnya.
Heru masuk kedalam mobil bersama anggota keluarganya.
Setelah mobil tersebut bergerak lambat, Rita pun melambaikan tanganya kearah mobil.
Senyum menyeringai di bibir seksi miliknya.
*Aku sudah tak sabar melihat kehancuran Maya, saat kau tahu jika Tari dan Heru itu bersaudara.
Rita kembali tersenyum puas,
*Sabar Rita, tak perlu tergesa-gesa, biarkan saja sampai Tari hamil, setelah itu kau ungkap fakta sebenarnya, buat saja semua senatural mungkin, seolah tanpa sengaja.
__ADS_1
*Hua..hua..., sudah ku bilangkan Maya, karna kau merampas kebahagiaan ku, akan ku buat kau dan keturunan mu itu menderita, huh*.batin Rita.