Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Sulit


__ADS_3

Nina tersenyum bangga ketika menyimpul dasi untuk Bagas.


"Ehm Ibu kenapa ibu tersenyum seperti itu?"tanya Bagas.


Titik air mata menetes di pipi Nina, " Ibu bangga sayang melihat kamu seperti ini, kamu tahu ngak kenapa Ibu memberi kamu nama Mahardika Bagaskara?"Nina


"Kenapa Bu?" Bagas


"Karna arti kata dari Mahardika itu sendiri adalah cerdas dan berilmu, ibu ingin kamu jadi orang yang cerdas yang bisa membanggakan ibu suatu hari nanti, sedangkan Bagaskara yang bearti matahari, ada suatu energi terpenting di dunia ini, seperti itulah kamu Nak, kamu adalah bagian terpenting dalam hidup ibu, kamulah matahari ibu, sumber kekuatan yang ibu miliki, jika kamu lemah maka ibu pun akan lemah, tapi jika kamu kuat, maka ibu akan merasa lebih kuat,"papar Nina dengan tatapan berembun pada Bagas.


Hati Bagas terenyuh mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Nina tersebut, selama ini hanya ibunya saja yang selalu berada bersamanya dalam suka dan duka, dalam terik dan hujan, kasih sayangnya tak pernah luntur tergerus oleh waktu, dan hanya ibunya, yang bisa sabar dan iklas menerimanya dengan tulus.


Bagas memeluk Nina, sebenarnya mereka terlihat seperti kakak adik dari pada ibu dan anak, karna saat melahirkan Bagas usia Nina saat baru memasuki usia enam belas tahun.


"Iya Bu, Bagas akan tetap jadi anak yang membanggakan ibu, Bagas ngak peduli lagi tentang pandangan orang-orang terhadap Bagas Bu," ucap Bagas sambil tersenyum.


Bagas tak pernah tersenyum sekali pun dihadapan wanita, terkecuali ibunya dan Alia yang mampu mencairkan bongkahan es seperti bagas.


Sedari dulu ia memang menghindari, manatap wanita menyentuhnya atau apalagi sampai menjalin hubungan, hingga ia disangka tak normal oleh teman-temannya, mereka mengganggap Bagas tak punya hasrat terhadap lawan jenisnya, padahal sudah sedari dari dulu ia menghindar berhubungan dengan wanita, karna ia sendiri takut jika asal usulnya kelak di pertanyakan oleh pasangannya.


Namun ternyata apa yang ia takuti justru terjadi, ketika ia mulai membuka hati, Bagas harus menelan pil pahit karna patah hati di saat cintanya tumbuh dan bersemi dengan indahnya.


Sunguh sangat ironi, namun apa daya jika takdir sudah menggariskan untuknya jalan seperti itu.


Bagas harus bersikap baik-baik saja di hadapan sang bunda, meski saat itu ia begitu menderita karna pata hati dan lebih menyakitkan adalah ia harus menanggung karma dari perbuatan ayah biologisnya.


Nah gitu baru anak Ibu, " ucap Nina seraya memasangkan Bagas jasnya.


"Ayo sarapan," ajak Nina.


Bagas keluar, di sana sudah ada Edo dan adik-adik perempuannya.


Sudah seminggu Edo berada di lingkungan keluarganya, rumah Nina dan Dewi bersebelahan, terkadang setiap sore ia berkumpul dengan anak-anak dari kedua istrinya.


Meski bermadu, tapi Nina dan dewi selalu harmonis, mereka saling menjaga, begitupun anak-anak mereka, yang tetap saling mencintai dan menyayagi satu sama lain meski mereka berbeda ibu.


Hal itulah yang membuat Edo semakin betah tinggal bersama kedua istri sirihnya.


Sejak perusahaan dialihkan pada Bagas, Edo jadi punya banyak waktu luang menghabiskan waktu bersama kedua istri sirih dan anak-anaknya.


Anak Nina yang nomor dua dan tiga perempuan, yang kedua berumur 22 tahun bernama Rinda sementara yang lainya berumur 20 tahun bernama Tiara.


Mereka semua sudah dewasa dan memiliki pacar, dengan kehadiran Edo di rumah itu kesempatan bagi mereka untuk sharing.


Sangat jarang sekali mereka menghabiskan waktu bersama.


Apalagi dengan kehadira putri mereka Rinda yang hanya akan pulang saat liburan semester.


Mereka sedang menikmati sarapan, kebetulan saat itu Rinda baru pulang dari Yogjakarta, ia kulih di jurusan kedokteran pada salah satu unversitas terkemuka di kota tersebut.


Begitupun dengan Tiara

__ADS_1


"Yah pacar ku rencananya selesai pendidikan profesi aku dan pacar ku memutuskan untuk menikah, bagaima menutut Ayah?"tanya Rinda.


"Ehm, bawa dulu dong pacar kamu ke hadapan Ayah, tapi sebaiknya tunggu mas Bagas menikah dulu," cetus Edo sambil melirik ke arah Edo.


"Ngak usah mulai lagi Yah,"sahut Bagas ketus.


Meski mengetahui jika Edo adalah saudara sedarahnya, tapi Bagas tetap memanggil Edo dengan panggilan Ayah.


Karna memang demikian, menurut hukum anak yang tak bernasap, ia akan mengikuti ibunya, ia hanya punya saudara dari pihak ibu termasuk juga dengan adik-adiknya akan tetap memanggil Bagas dengan panggilan Mas.


"Gas, Bagaimana jika kamu Ayah jodoh_." Edo.


"Ngak Yah,"sambar Bagas dengan ketus.


"Ih Nih anak belum selesai bicara sudah mengintrupsi saja," dengus Edo.


Rinda menatap iba kearah Bagas, ia tahu betul jika kakaknya tersebut tengah mengalami patah hati.


"Gas, sebentar lagi umur kamu sudah memasuki dua puluh lima tahun, dan merut Ayah usia seperti itu sudah waktunya untuk berumah tangga, apalagi kamu sudah punya penghasilan yang lumayan besar."


"Biar saja Yah, ngak ada yang mau kok dengan aku."Bagas.


Ehm, ngak usah gitu Gas,"Edo.


"Sama Thalita saja ya?"Edo coba untuk menawar.


Bagas langsung melirik kearah Edi.


"He he, karna Ayah suka saja dengan gadis seperti dia, cantik, smart, energik, ehm apalagi ya?"Edo berpikir sejenak untuk melanjutkan kata-katanya.


"Kenapa ngak Ayah saja yang nikahin dia?"tanya Bagas ketus.


"Ha ha ha, justru dia ngak mau sama Ayah, makanya sama kamu saja,"papar Edo jujur.


"Bu, ternyata Ayah itu di kantor genit Bu! dia suka godain sekertaris aku!"dengus Bagas.


"Yey, cie-cie, ada yang jealos nih,"cetus Edo seraya tersenyum kearah Bagas.


"Emang genit Kok, kemaren Ayah kepergok godain Juleha sama Maryam kan?"tanya Bagas dengan mendelik ke arah Edo.


"He he, itu bukan genit Gas, tapi ramah," sahut Edo berkilah.


Nina terlihat senang mendengar keduanya berdebat, tak sedikit pun ia baperan dengan suaminya yang menggoda wanita lain, biasanya Edo dan Bagas jarang sekali akur, karna sifat dingin Bagas yang menyangka jika Edo hanya seorang ayah sambung baginya.


***


Di lain tempat


Aura duduk menghabiskan sarapannya sendiri di rumah dinasnya dengan di kelilingi beberapa assisten rumah tanga yang melayaninya bak ratu.


"Huh, sudah seminggu mas Edo tak pernah pulang, tak bisa di biarkan jika begini terus," dengus Aura sambil menyobek rotinya dengan kesal.

__ADS_1


"Apa mas Edo sudah bosan pada ku? karna aku tak bisa memberinya anak, sialan!ini semua karna racun itu, aku harus keguguran dan merelakan rahimku untuk di angkat." dengus Aura sambil menepak meja.


"Bagaimana pun aku tak mau kehilangan Mas Edo, akan ku pikirkan cara bagaimana agar dia tak terlalu sering menginap di rumah kedua istrinya itu!"dengus Aura.


***


Sudah beberapa hari ini Ghael dan Alia menjalani hubungan mereka sebagai tunangan, namun tak ada yang berubah dari hubungan tersebut bahkan lebih dingin dari sebelumnya.


Alia sulit sekali menerima Ghael sebagai calon suaminya, karna selama ini ia mengganggap Ghael seperti saudaranya, seperi ia dan Arsyad.


Berbeda dengan Ghael yang sudah merasakan jatuh cinta pada Alia sejak mereka memasuki usia remaja, itulah mengapa Alia tak pernah tertarik pada Ghael meski pun sosok Ghael mendekati sempurna, bahkan lebih tampan dari Bagas sekali pun.


Bahkan Alia merasa sulit meski hanya membayangkan dirinya dan Ghael menikah, hidup bersama, tinggal dalam suatu kamar dan harus melakukan hubungan suami istri ketika mereka menikah nanti.


Namun apa daya, ia tak memiliki kekuatan untuk menentang kehendak orang tuanya.


Jika saja di suruh memilih orang lain, Alia pasti lebih memilih menikahi orang lain dari pada seorang pria yang selama hidupnya sudah ia anggap sebagai saudara.


Ghael coba mengerti keadaan Alia, ia berusaha melakukan beberapa hal romantis terhadap Alia demi menumbuhkan cinta di antara mereka, seperti makan malam romanti, pergi kencan dan sebagainya, tapi Alia tak pernah mau pergi berdua dengannya.


Alia keluar dari kantornya dan langsung menuju mobil Ghael yang sudah menunggunya.


Tak jauh dari tempat Ghael memarkirkan mobilnya, Bagas juga selalu menanti Alia keluar dari kantornya setiap hari, ia hanya bisa menatap Alia dari kejauhan di dalam mobil, meski hanya sekejap melihat Alia, sudah cukup untuk mengobati rasa rindu di hatinya.


Setelah pertemuan terakhirnya, Alia sudah memblok nomor Bagas, hingga mereka tak pernah komunikasi lagi.


Bagas pulang, dengan hati kecewa kembali.


Di dalam mobil keadaan selalu lenggang, tak ada perkacapan yang terjadi antara keduanya.


Ghael melirik ke arah Alia yang menatap luar jendela mobil.


"Sayang, aku punya dua tiket nonton film nih, malam ini kita nonton yuk!"ajak Ghael.


"Aku capek Bang, lain kali saja," sahut Alia.


Ghael terdiam, ini sudah ke sekian kalinya Alia menolak ajakan Ghael.


Suasana kembali hening sepanjang perjalanan.


setelah mengantar Alia, Ghael langsung pulang tanpa bicara sedikit pun pada Alia, ia semakin kecewa dengan sikaf Alia, tapi mau apalagi, ia harus menerima sikaf Alia terhadapnya, karna mereka juga tak mungkin membatalkan pernikahan ini.


Bersambung guys, oh ya Guys sekedar info bagi kamu yang belum mengerti tentang hubungan Ghael dan Alia mungkin ada bab yang terlewati Autor rangkum lagi ya biar ngak gagal faham.


Pertanyaanya bolehkah Alia menikah dengan Ghael padahal mereka sepupu, jaeabannya boleh, karna mereka memiliki nasab yang berbeda.


Alia binti Aldi bin Satria, sementara


Ghael bin Romeo bin Hadi, nah ngak sama kan nasabnya.


Sekian yah terima kasih banyak, saksikan terus kelanjutan dari kisah ini ya, semoga dari kisah-kisah tersebut bisa kita ambil pelajaran Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2