
Mentari bersinar cerah sinarnya perlahan masuk melalui celah jendela.
Kedua insan tersebut masih tertidur pulas dengan keadaan saling memeluk.
Aldi perlahan sadar dan membuka matanya, dan sesuatu yang pertama kali di lihat olehnya adalah wajah Aira.
Bibirnya tersenyum merekah, keadaan kini sama seperti enam tahun yang lalu, saat mereka menjalani rumah tangga mereka.
Banyak sekali perubahan yang terjadi se iring pergantian waktu, Aira saat ini bukan lagi Aira yang dulu, yang selalu mengelayut manja kepadanya.
Mungkin karna enam tahun berpisah jadi sedikit merubah sikaf mereka, tapi semua bukan masalah, tetap saja cintanya pada sang istri tetap sama, meski dengan perlakuan sedikit berbeda.
Aldi pencium kening sang istri, seketika itu Aira tersadar.
"Bagun istri ku, lakukan lah tugasmu sebagai istri karna aku sudah lapar," ucap Aldi.
Aira tersenyum seraya menatap wajah sang suami, Akhirnya setiap aku membuka mata, wajah tampan itu lagi yang ku pandang, dan setiap harinya aku akan memandangnya ketika membuka mata.
Aira tersenyum dan bangkit, kemudian menata rambutnya ala kadarnya.
"Kamu mau aku masak apa Mas?"tanya Aira seraya bangkit menuju kamar mandi.
"Terserah sayang, setelah sarapan kita pulang, karna nanti siang harus menghadiri resepsi mas Heru."
Setelah membersihkan wajahnya, Aira kembali menghampiri Aldi.
"Kalau gitu ayo mas kita ke dapur,"ajak Aira.
"Ayo sayang." ucap Aldi seraya bangkit.
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan.
Sesampainya di dapur Aira menemukan tepung dan susu segar, ia pun berinisiatif membuat pancake untuk sarapan mereka.
Karna tak ada kerjaan, Aldi turut membantu sang istri.
Aira begitu serius sementara Aldi melihat tepung mulai timbul ide jahilnya.
Ia pun mencolet tepung ke wajah Aira.
"Ish, Mas jangan ganggu kenapa sih?" ucap Aira sambil menepis tangan Aldi.
Aira masih mengaduk campuran bahan untuk membuat pancake namun Aldi kembali mencoletkan tepung ke pipi Aira.
Is, Aira menepis namun ia biarkan saja, akhirnya adonan tersebut pun jadi.
Sebelum memanggang di atas kompor Aira memoles margarine di atas Teflon, namun lagi-lagi Aldi kebali mencoletkan tepung ke pipi Aira.
Karna merasa kesal di jahili, Aira menyendok margarine ke kepalan tangannya, menunggu Aldi lengah, benar saja Aldi kembali menjahilinya dengan mencolek tepung kembali ke pipinya.
Tak mau kalah Aira menarik tangan Aldi agar ia tak lari, kemudian mengoleskan margarine keseluruh permukaan wajahnya, tak sampai di situ Aira kembali menabur tepung pada permukaan wajah Aldi yang sudah penuh dengan margarine.
" jangan sayang! itu mentega, jangan !"teriak Aldi mencoba menepis tangan Aira.
Genggaman tangan Aira begitu kokoh, latihan fisik selama empat tahun membuat daya cengramnya setara dengan seorang pria.
"Rasain ya Mas, sudah di bilang jangan ganggu Aira masih ngak dengar," omel Aira seraya meratakan margarin seperti ia memoles margarin pada Roti.
"Ampun sayang, nanti wajah mas Aldi ngak tampan lagi dong, "mohon Aldi.
"Biarin, ini baru wajah mas Aldi, nanti Aira oles mentega dan tepung pada si buyung lalu Aira goreng, biar jadi pisang pasir untuk sarapan Aira, Mau?"
"Jangan Yang, main goreng-goreng aja, ntar nyesel loh kan si buyung ngak bisa tumbuh lagi," celetuk Aldi.
Tapi Aira tak peduli, tangannya terus saja memoles mentega, tak sampai di situ Aira juga menepuk-nepuk pipi Aldi dengan tepung agar rata.
__ADS_1
Alhasil wajah Aldi di penuhi mentega yang tertutup tepung.
Melihat suaminya yang seperti Alien Aira tertawa terbahak-bahak.
"Ha ha ha Mas, syukurin deh." Aira.
"Sayang tega sekali sih, baru sehari jadi suami udah di zalimi aja, "dengus Aldi sambil menepuk-nepuk pipinya.
"Hm, Aira gitu loh."Aira memalingkan wajahny sementara Aldi berlari menuju kamar mandi.
Aldi berlari ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya sementara Aira menyelesaikan tugasnya membuat pancake.
"Is, kasihan juga ya Mas Aldi, tapi ngak apa-apa deh, biar tau rasa dia.
Karna wajahnya di penuhi mentega Aldi langsung mandi, butuh waktu yang lumayan lama untuk mebersihkan wajahnya.
"Nasib-nasib niat hati ingin nengerjai, eh malah di kerjai,"dengus Aldi seraya membersihkan wajajnya.
Setelah menyelesaikan mandi paginya, Aldi kembali menemui Aira.
Mereka pun sarapan bersama, Aldi memotong pancake kemudian menyuapi istrinya begitupun Aira.
"Ni sayang," ucap Aldi yang kemudian menyuapi istrinya.
Aira tersenyum ia pun memotong pancake jadi dua dan di suapkannya kemulut Aldi.
Keduanya saling suap menyuap hingga pancake tersebut habis.
Selesai makan Aldi mendapat telpon dari Tari.
Melihat nomor Tari ia langsung mengangkat telpon tersebut.
"Hallo Tar?"sapa Aldi
"Ayah kenapa ayah dan bunda lama sekali perginya, Alia sudah bosan menunggu," cerocos Alia.
"Ok, jangan lama-lama ya Yah," sahut Alia kembali.
"Iya sayang ku, Ayah pasti menjemput kamu, kita akan pulang kerumah dan Alia akan tidur di kamar Alia yang bernuansa frozen." Aldi.
"Hore iya Yah, Alia tunggu, " ucapnya. kemudian panggilan di akhiri.
"Dari Alia yah?"tanya Aira.
"Iya sayang setelah ini kita langsung pulang saja, sudah di tungguin oleh Alia."
Setelah sarapan mereka langsung menuju rumah Tari.
Rona bahagia terpancar dari kedua pengantin baru tersebut.
Sepanjang jalan mereka nikmati waktu bersama, Aira menyandarkan kepala pada pundak Aldi dengan senyum yang selalu terulas di bibirnya.
Alia yang sedang main bersama kedua saudara sepupunya, ketika melihat kedatangan mobil Aldi ia pun berlari kecil menuju pagar rumah.
"Ayah ,Bunda!" seru Alia.
Setelah memakirkan mobilnya, mereka pun keluar dari mobilnya.
"Ayah, Alia langsung menghambur memeluk Aldi, Anak Ayah sayang," ucap Aldi seraya mengangkat tubuh Alia.
Ketiganya pun masuk ke dalam rumah.
"Assalammualaikum, "ucap Aldi dan Aira.
"Waalaikumsallam," sahut Romeo dan Tari mereka sedang ngobrol di ruang tamu.
__ADS_1
"Masuk Aja Di ,Aira," sahut Tari.
Mereka pun duduk bersebelahan.
"Jadi bagaimana, jam berapa kita akan ke pestanya?" tanya Aldi.
"Lepas Ashar aja deh, acaranya juga jam empat, kalian sudah pada makan belum?"
Tanya Tari.
"Belum mbak, Aira jadi pingin makan masakan mbak Tari," sahutnya.
"Enak saja loh, ayo bantuin gue masak," cetus Tari yang menghampiri Aira kemudian menarik tangannya menuju dapur.
"Ya ampun, tamu di suruh masak," dengus Aira.
Sementara Romeo dan Aldi ngobrol sambil menunggu para istri mereka masak.
Sekitar satu jam mereka di dapur mereka selesai memasak.
Tari dan Aira menyajikan makanan di atas lantai, karna mereka akan duduk secara lesehan.
Keluarga Aldi dan keluarga Romeo mereka bersama-sama menikmati makan siang.
"Rom, kalau ingat gini jadi ingat si Doni ya, " ujar Aldi.
Belum sempat Romeo menyahut sudah terdengar suara Doni.
"Assalammualaikum," ucap Doni.
"Waalaikum sallam, " jawab mereka semua serempak.
"Masuk Don! Dasti! " seru Tari.
Mereka pun masuk, kedalam.
"Wah kalau sudah rejeki ngak kemana ya, baru saja nyampae udah di suguhin makan siang aja," cetus Doni.
"Dah banyak bacot loh. duduk saja makan," sahut Tari.
Mereka mengelilingi hidangan tersebut membentuk sebuah lingkaran.
Ketiga sahabat tersebut duduk bersebelahan saling bersebelahan
Begitu dengan para istri mereka.
"Duh kalau ngumpul seperti ini jadi ingat waktu kuliah ya?"cetus Doni.
" Kalau dulu kita bertiga aja makan di kantin, udah bikin heboh satu kantin, apa lagi kalau bawa bini dan anak kita, bisa rubuh kantinnya," cetus Doni.
"Iya apalagi dua anak gue, Si Ghael kan bandel banget, hobinya berantem mulu, capek gue di panggil terus sama kepala sekolahnya," dengus Romeo.
"Jangan salahin anaknya, loh bedua yang salah, mungkin waktu membuatnya lupa baca bismillah kali, main tancep aja," seloroh Doni.
"Tau aja loh Don," sahut Tari.
"Cenayang ya loh, lagian mana sempat kepikiran yang begituan," imbuhnya lagi.
"Ya gue tahulah, gue juga gitu, malam pertama mah lupa, jangankan baca doa, baca bismillah juga enggak, "sahut Doni.
"He he, gue juga lupa, habis keburu nafsu sih, "sahut Aldi.
"Ya ampun kok ngomongin begituan depan anak-anak sih, lagi makan juga," dengus Aira, seraya menggelengkan kepalanya.
Mereka pun menikmati santapan makan siang tersebut, dengan ngobrol dan bercanda bersama, mengenang kisah-kisah yang dulu mereka lewati saat remaja.
__ADS_1
Bersambung.
Ke pulau rote naik odong-odong, bagi votenya dong, he he mumpung hari senin