
"Aldi!"teriakan Tari yang menghampiri Aira dan Aldi.
Aira menangis terisak sambil memanggil dan mengguncang tubuh Aldi.
"Aira, Aldi kenapa Aira?"tanya Tari yang terlihat panik sekaligus khawatir.
"hiks, mas Aldi sepertinya di racun mbak," ucap Aira dengan terisak.
Aira kembali membuka mulut Aldi, kali ini ia menghisap udara yang ada di rongga mulut Aldi, sebisa mungkin agar racun tersebut keluar dari lambungnya.
Melihat keadaan Aldi, Romeo menjadi teringat jika di mobilnya ada susu kaleng, sepengetahuanya susu tersebut bisa menetralisir racun.
Romeo pun segera berlari menuju mobil, untuk mengambil barang yang ia maksudkan.
Aira kembali menghisap udara didalam mulut Aldi, sementara Tari memangku kepalanya agar Aldi tak tersedak saat racun tersebut keluar dari mulutnya.
Mereka berupaya melakukan pertolongan pertama dan hanya beberapa menit, Romeo kembali dengan membawa dua kaleng susu bermerk beruang.
"Ini Aira, susu ini dapat menetralisir racun," ucap Romeo sambil menyodorkan kaleng susu yang sudah di buka penutupnya.
Aira langsung meraih kaleng tersebut dan meminumkannya pada Aldi.
"Ayo kita langsung bawa kerumah sakit," ucap Romeo.
"Tapi bagaimana dengan perempuan sialan ini? apa kita tinggalkan saja di sini, pasti dia yang membuat adik ku seperti ini?" dengus Tari dengan mata yang memerah karna kesal dan marah.
Romeo mendekati Laura, ia pun membuka mulut Laura untuk memasukan susu tersebut kedalam mulut gadis itu.
"Kita bawa keduanya, ingat nyawa seseorang itu lebih berharga dari apa pun, sudalah kalian berdua bopong tubuh gadis ini, biar gue yang membopong tubuh Aldi."
Meski merasa sakit hati, keduanya pun mengangkat tubuh Aura, sementara Romeo membopong tubuh Aldi.
Mereka membawa keluar kedua korban tersebut, dan dari kejauhan Hendro melihat keduanya di bawa masuk kedalam mobil.
"Sial, kenapa Laura juga ikut pingsang, pasti dia juga ikut meminum minuman Aldi," guman nya sambil membanting stir, Hendro baru kembali, karna ingin melihat kematian Aldi, ia lah yang menambahkan racun pada minuman Aldi agar bisa membunuhnya, sehingga Rita tak punya pewaris lagi selain dirinya.
"Letakan Aura di kursi bagian depan saja, pasangkan sealtbelt kepadanya, "perintah Romeo.
__ADS_1
Mereka pun menuruti saran dari Romeo, setelah memasukan tubuh Aldi kedalam mobil, Aira dan Tari duduk di kursi belakang.
"Mas Aldi sadar , Mas,"ucap Aira sambil membelai rambut Aldi dengan lembut.
Air mata Aira terus membasahi pipinya, melihat wajah pangerannya yang biasa terlihat tampan, kini menjadi pucat dengan bibir sedikit membiru.
Aira memeluk Aldi, berkali-kali ia menciumi pipi mulus suaminya seraya memanggil-manggil namanya dengan lirih.
"Mas Aldi, Aira ada disini, jangan tinggalkan Aira," ucapnya dengan deraian Air mata yang terus membanjiri pipi Aldi.
Aira tak bisa diam, ia terus melakukan segala cara agar Aldi tersadar, Aira mencium bibir Aldi dan menyesapnya seperti merela sedang bercinta, namun tak ada reaksi apa pun, Aira tetap mengulanginya, meski bibir Aldi terasa pahit karna sisa racun yang masih menempel.
"Mas bangun, "rintihan Aira menyayat hati, kesedihanya membuat orang di sekelilingnya juga ikut menitikan air mata.
Tari segegukan, ia juga begitu mengkhawatirkan adiknya.
"Di bangun Di, "ucap Tari dengan terisak, ia merasa begitu sedih melihat Aldi yang biasanya jahil dan ceria kini seolah tak berdaya dengan wajah yang memucat.
"Aku harus telpon mas Heru dan papa," ucap Tari sambil merogoh tasnya.
Sementara Aira, ia terus menciumi Aldi, dari kedua pipi, kening hingga bibir Aldi, dengan segenap perasaanya, ia pun memeluk suaminya erat, seolah takut kehilangan Aldi.
Romeo tetap fokus pada mobil yang di kendarainya, meski sesekali ia melirik ke belakang melalui kaca mobil yang berada di atasnya.
Aira terlihat begitu sedih, dengan lembut ia mengusap kepala Aldi seraya terus menghujaninya ciuman dan kecupan, berharap Aldi akan membalasnya.
"Di depan ada klinik, apa kita bawa ke sana saja?"tanya Romeo ketika melihat rambu yang menunjukan adanya rumah sakit.
"Kita kesana saja Rom, setidaknya Aldi mendapatkan pertolongan pertama," sahut Tari.
Romeo pun menambah kecepatan mobilnya hingga beberapa menit saja, mereka sudah tiba di depan pintu klinik.
Dengan cepat petugas klinik membawa bangkar mendekati mobil Romeo, mereka pun meletakan tubuh Aldi keatas bangkar kemudian membawanya menuju ruang UGD, begitupun Tari.
Para medis segera memberi pertolongan pertama, setelah menanyakan konsi terakhir pasien, dan memang benar keduanya di curigai telah menegak racun yang bisa membekukan darah dan menghentikan detak jantung secara perlahan.
Ketiganya menunggu dengan cemas, sementara handphone Tari terus berdering karna mendapat panggilan dari Heru.
__ADS_1
Heru berada di luar kota dan butuh waktu dua jam perjalanan untuk sampai di lokasi mereka, Heru begitu mengkhawatirkan Aldi sehingga ia terpaksa kembali lagi dan membatalkan semua meetingnya pada esok hari.
Sementara Tari tak berani menelpon Satria, karna Satria punya riwayat penyakit jantung, ia takut jika ayahnya akan terkena serangan jantung mendadak mendengar kabar jika putra bungsunya dalam keadaan kritis.
Aira tak henti-hentinya menangis, tubuhnya terguncang karna menahan isak tangisnya, ingin rasanya ia menjerit untuk meluapkan rasa sedihnya.
Tari mendekati Aira dan mengusap punggungnya," Sabar saja Aira. mbak yakin Aldi pasti selamat," tuturnya sambil meyapu lembut punggung Aira.
Aira seolah tak berdaya, tubuhnya melemah, ia pun menyandarkan kepalanya di pundak Tari, tatapan matanya kosong dengan air mata yang tak pernah kering membasahi pipi.
Setengah jam berlalu, para medis berhasil mengeluarkan racun yang masuk kedalam lambung Aldi.
Seorang perawat memanggil mereka, "Keluarga Reynaldi!"seru perawat tersebut memanggil.
Aira dan Tari segera bangkit dan mendekati petugas medis.
"Bagaimana keadaan adik saya?"tanya Tari sambil menyeka air matanya.
"Kami sudah mengeluarkan racun dengan menguras lambungnya, tapi pasien harus di tangani secara intensif dan klinik di sini tak memiliki ruang perawatan intensif, kami akan memberi surat rujukan supaya pasien langsung di tangani sesuai prosedur," ujar perawat tersebut.
"Iya suster, lakukan apa saja yang penting adik saya bisa selamat," ucap Tari.
"Iya, baikalah silahkan pilih rumah sakit mana yang ada inginkan, nanti kami akan mengantar pasien dengan mobil ambulan lengkap dengan pengawasan dari petugas medis, " paparnya.
Romeo mendekati perawat tersebut, ia penasaran apa yang terjadi dengan gadis yang di temukan bersama Aldi.
"Ehm Suster, bagaimana kondisi gadis yang kami bawa?"tanya Romeo.
Tari melirik ke arah Romeo, ia begitu kesal kenapa Romeo masih perhatian kepada gadis yang membuat Aldi celaka.
"Gadis tersebut, sudah melewati masa kritisnya, namun ia harus kehilangan janinnya, karna raccun tersebut sangat berbahaya, beruntung kalian cepat membawa korban, kalau tidak mungkin korban tak akan selamat," ucap Perawat tersebut kemudian berlalu.
Bagai tersambar petir Aira mendengar penjelasan petugas medis tersebut, seketika tubuhnya ambruk jatuh ke lantai.
"Aira,!"seru Tari dan Romeo.
Romeo menggangkat tubuh Aira yang terkulai karna tak sadarkan diri dan mengevakuasinya ke kursi tunggu.
__ADS_1
"Aira, sadar Aira," ucap Romeo menepuk pipi Aira.
Bersambung guys, tinggalkan jejak dukunganya untuk karya remahan author ini