
Di sebuah villa di pinggir kota, seorang wanita parohbaya yang masih terlihat cantik merenung di balik tirai jendela.
Pemandangan indah di sekitarnya tak mampu membuatnya mensyukuri apa yang telah di anugrahkan oleh yang kuasa terhadapnya, kini ia seolah kehilangan segalanya, bahkan ia merasa putra kandungnya akan membencinya setelah tahu semua perbuatan bejat yang ia lakukan selama ini.
Rita memicingkan matanya menatap tajam kearah hamparan alam yang maha sempurna.
Hati wanita itu sepertinya telah membatu, hingga tak ada penyesalan sedikit pun terhadap apa yang telah ia lakukan.
Sebelum kembali ke Malaysia, Satria memang telah melaporkan segala perbuatan Rita kepada pihak berwajib dan saat ini ia sedang menjadi seorang pelarian.
Rita sengaja bersembunyi di villa pribadi miliknya, tak ada seorang pun yang tahu tentang kepemilikan Rita terhadap villa tersebut, bahkan putranya sendiri tak mengetahuinya.
Rita mengambil sebuah alat hisap barang haram di dalam lemarinya, rasa putus asa dan kecewa terhadap Satria membuat Rita melarikan diri dengan cara mengkonsumsi obat-obat terlarang, bahkan sejak berpisah dengan Satria, dirinya menjari akrab dengan minuman keras beralkohol, namun semua tak pernah di tunjukanya pada Aldi.
Tok tok.... terdengar suara ketukan pintu yang menggagetkanya, ia pun menyembunyikan alat hisap tersebut, sebelum membuka pintu kamarnya.
Senyum Rita menyeringai ketika melihat kedatangan suaminya.
"Di sini rupanya kau,." ucap Hendro yang langsung masuk dan duduk di atas tempat tidur bergaya klasik tersebut.
"Kenapa?.apa aku tak boleh meminta mu menemani ku?"tanya Rita ketus,.ia kembali mengeluarkan barang haram tersebut.
"Sampai kapan kau akan lari, kenapa kau tak pulang ke Singapura saja?" tanya Hendro sambil menyulut api pada cerutunya.
"Aku tak bisa kemana-mana, apalagi ke bandara, satu-satu nya cara, bawa helikopter kita kemari,.aku ingin ke Amerika menenangan diriku,."ucap Rita sambil menyulut api ke Rokoknya.
"Apa putra mu tahu,.kau di sini?" Tanya Hendro.
"Tidak"
"Villa ini atas namaku, tapi ini satu-satunya aset yang kumiliki tanpa sepengetahuan Aldi, karna aku tahu jika suatu saat semua ini pasti terbongkar,.sayangnya aku melakukan kesalahan, aku terlalu senang hingga mabuk dan mengucapka kata-kata pengakuan ku sendiri di hadapan Aldi, harusnya aku bisa menahanya hingga aku bisa melihat kehancuran Maya," dengusnya sambil menyesap asap Rokok kemudian menghembuskanya.
"Mana bagian ku?"tanya Rita menadahkan tangan.
Hendro hanya bisa mengkerutkan keningnya.
"Bagian apa?"tanya Hendro sambil tertawa kecil.
"Kau masih bertanya, bukanya sebagian saham tambang minyak itu milik ku!," teriak Rita.
"Oh yang itu," ucap Hendro,.sebentar akan ku transper, ucapnya sambil beranjak.
"Kamu mau kemana Hendro?"tanya Rita pada suaminya.
"Mengambil handphone ku yang tertinggal di mobil, " ucapnya sambil berlalu dari Rita.
Rita melihat kearah Hendro dengan curiga,
Rita menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan ritual menghisapnya.
Rita mengeluarkan alat hisap dan membakar benda jahanam yang berbentuk serbuk tersebut.
Setelah benda tersebut mengeluarkan asap, ia pun menghisapnya dari pipa yang tersambung pada penutup botol tersebut.
Baru beberapa hisapan raganya kembali segar dan matanya kembali membelalak dengan semangat yang penuh.
Rita kembali menghisap asap yang memabukan tersebut seraya menikmati sensasinya.
Bruk...tiba-tiba ia di kagetkan oleh pintu kamar yang di dobrak oleh sekumpulan petugas yang berseragam, "Jangan bergerak,.anda sudah kami kepung!," ucap salah satu petugas yang mengacungkan senjata api ke hadapan nya..
__ADS_1
Rita panik, matanya membelalak dengan sempurna.
Alat hisap tersebut terlepas dari genggamanya, seketika wajahnya memucat dengan kekhawatriran menatap orang-orang yang ada di hadapanya.
"Dari mana polisi tahu keberadaan ku?" Rita bermonolag.
Seorang polisi mendekatinya dengan hati-hati ,setelah itu petugas tersebut memasang borgol pada kedua lengan bawah Rita.
"Siall!!!", dengusnya.
Rita di ciduk dan di giring ke markas polisi, iya terancam pasal berlapis selain kejahatanya yang menukar bayi Satria dan Maya, ia juga di laporkan oleh suaminya sendiri sebagai pengedar, padahal Rita bukan pengedar ia hanya pemakai.
"Kumpulkan barang bukti dan geledah tempat ini," ucap komandan polisi tersebut, kemudian mereka menggeledah dan menemukai barang haram dalam jumlah yang banyak, mereka mengamankan narang tersebut sebagai bukti untuk menjeratnya.
Rita keluar dari kamarnya dengan borgol dan pengawalan yang ketat, matanya tajam melihat ke arah Hendro yang tersenyum menyeringai.
"Akhirnya kau masuk dalam perangkap ku, sayang," ucap Hendro dengan senyum menyeringai menatap kepergian Rita.
Setelah mendapatkan bukti-bukti pihak berwajib mensterilkan tempat tersebut sebagai TKP dengan memasang garis polisi.
Mereka pun mengumpulkan barang bukti yang ada di sekitar TKP
Rita hanya bisa pasrah saat dirinya di ringkus oleh pihak berwajib.
Tatapan tajam membunuh tersorot dari netra Rita terhadap Hendro.
"Pengkhianat!" kecam Rita sambil meludah kearah Hendro.
Hendro tersenyum menyeringai melihat Rita yang langsung di giring ke mobil polisi.
Haha haha. Gelak Hendro, dirinya merasa senang karna bisa menjebak Rita.
Selain merasa sakit karna tanganya di borgol, ia juga merasa risih karna berada di antara petugas-petugas yang terlihat sangar.
Sesampainya di kantor polisi, Rita di amankan di dalam sel tahanan, borgol yang mengikat lengannya tersebut pun di lepas, petugas langsung meninggalkanya sesaat setelah mengunci pintu yang terbuat dari tralis besi, perasanya semakin sakit saat melihat Hendro yang berjalan berlenggang mendekat ke arahnya.
Hendro menjenguk Rita di tahanan, dengan gaya selow nya ia menghampiri Rita yang menatapnya penuh kebencian.
"Hai sayang , bagaimana keadaan mu, aku begitu mengkhawatir kan keadaan mu " ucap Hendro dengan nada mengejek, kemudian tertawa terbahak.
"Dasar pengkhianat kau!!,.aku percaya sama kamu, tapi kamu tega-teganya kau menghianati aku Hendro!" cecar Rita ke arah Hendro.
"Aku ini istri kamu Hendro, tanpa aku, bisnis kamu sudah lama gulung tikar! "
"Santai sayang, bukan aku ingin mengkhianati kamu, tapi aku tak punya cara lain, aku hanya ingin membuat kamu tersingkir dari hidup ku sayang, karna sebentar lagi aku akan menikahi wanita muda yang jauh lebih cantik dan seksi dari pada kamu," sahut Hendro,
Rita semakin mempertajam tatapanya kearah Hendro.
"Cup...cup..., jangan menatap ku seperti itu sayang, aku juga tahu jika kau masih mencintai mantan suami mu itu kan?" ejek Hendro lagi.
Rita semakin emosi, diagframanya naik turun dengan nafas yang menderu memburu.
"Dasar penghianat! kamu akan terima balasan dari ku nanti Hendro!! Akan ku hancur kan kamu se hancur hancurnya!!!."
"Ops, masa' sih ?, tapi sekarang kamu tak punya apa-apa lagi Rita sayang, kamu kehilangan harta kamu karna semua saham pertambangan itu sudah berganti nama menjadi namaku, dan kau! Kau bisa apa? Bahkan kau tak punya seorang keluarga pun untuk membelamu! "
Ha hah ha ha.
"Licik!!!, bangsat!!!.Bedebah kau Hendro, lihat saja, jika aku keluar dari sini aku hancurkan kau !" Teriak Rita.
__ADS_1
Mendengar ceceran dari Rita, Hendro semakin tertawa.
"Oh sayang, jika kau keluar dari sini mungkin kau sudah jadi nenek-nenek yang tak berguna, karna aku sudah menfitnah mu dengan tuduhan kau sebagai pengedar dan bandar obat-obat terlarang, dan sepertinya kau akan di penjara hingga belasan tahun lamanya ha ha hah, aku rasa kau tak kan tahan jika harus menderita selama itu, aku yakin tak lama lagi kau akan bunuh diri, "ucap Hendro.
Haha haha, Hendro menggelak.
Rita menarik nafas panjang sambil menatap musuh dalam selimutnya itu.
"Ha ha ha Jangan salah kan aku ya sayang, bukan kah kau yang mengajari aku tentang khianat? Kau juga yang telah mengajari aku bagaimana caranya agar tujuan kita bisa tercapai, tak peduli meski harus menyakiti keluarga, atau orang-orang yang menyayangi kita," papar Hendro.
Mendengar ucapan Hendro, Rita yang berhati batu tiba-tiba menitikan air mata pilunya, hatinya pedih di khianati oleh orang yang masih berstatus suaminya, titik demi titik air mata menetes di pipinya, luka dan lara kini menyelimuti hati baja tersebut.
Rita menatap Hendro dengan tatapan tajam, tanganya gemetar ingin mencekik leher Hendro.
Sementara Hendro masih tertawa terbahak-bahak, "Oh ya sayang satu lagi sebuah rahasia yang belum ku ungkap pada mu, aku lah dalang yang membuat kebocoran limbah pabrik mu dan aku juga akan memprofokasi orang-orang sekitar tempat itu, untuk menuntut kompensasi yang tinggi, " ha ha ha, gelak Hendro.
Rita mendengus mendengar pengakuan Hendro.
"Kau boleh menyakiti ku Hendro, tapi jika kau menyakiti putra ku, sampai mati pun arwahku akan mengejar mu sampai ke neraka!!" teriak Rita.
Ha ha ha
"Oh terima kasih sayang, tapi aku tak kan menyakiti putra mu asalkan kau menyerahkan semua aset yang kau miliki atau minimal setenganya, dari villa, apartment, supermarket dan lain-lainya di atas namakan atas nama ku," ucap Hendro.
"Cuih jangan mimpi, kau pikir aku bodoh! Semua sudah ku alihkan atas nama putra ku, kau hanya bisa gigit jari Hendro, lihat saja putra ku yang akan menghancurkan mu!!"
"Cuih dasar wanita licik!, akan ku biarkan kau membusuk di penjara!!! Hendro berlalu meninggalkan Rita.
Rita menjatuh kan tubuhnya hingga berlutut sambil memegang salah satu jeruji, tubuhnya kini terasa lemah, hatinya begitu terluka dan kecewa, dan yang lebih penting tak ada seorang pun yang ada di sisinya, ia sendiri dan enggan bicara pada Aldi, karna mengira Aldi akan membencinya.
Rita meringkuk sendiri di sel tahanan wanita, wajah cantiknya yang biasa tertutup make up tebal kini mulai memperlihatkan guratan kesedihan dan penderitaan.
Tubuh nya meringkuk kedinginan bersandar pada dinding besi dengan lantai ubin dingin tanpa alas.
Tak ada saudara atau keluarga yang akan menjengguknya, karna kini ia merasa tak punya siapa siapa lagi di dunia ini.
Netra indah dan tajam, yang biasa nya selalu menggambarkan kebencian dan dendam kini menjadi sayu dan lesu, Rita tak henti-hentinya menangis menahan sakit dari goresan luka di hatinya buah dari perbuatanya sendiri.
***
Aldi berada di kamarnya saat ini, setelah menyelesaikan pertempuran satu ronde yang panas, ia menuju balkon kamarnya untuk mendinginkan suhu tubuhnya.
Meski merasa senang karna masalah hukum Aira telah selesai, ada satu masalah lagi yang masih mengganjal di hatinya, selama ini ia sudah menyuruh orang orang untuk mencari keberadaan ibunya, namun belum juga membuahkan hasil, Aldi meresahkan keberadaan Rita, meski pun ia sendiri tahu jika ibunya terbiasa mengembara sendiri pergi keluar negri, namun kali ini ia begitu khawatir.
Aira yang baru keluar dari kamar mandi, melihat kegusaran suaminya, ia sendiri belum tahu pasti apa sesungguhnya yang mengganggu pikiran Aldi.
Aira mendekati Aldi dan memeluknya dari belakang,
"Mas kenapa sih? kayaknya mas Aldi punya masalah? kenapa tak cerita sama Aira?" ucap Aira.
Aldi memggenggam tangan istrinya yang memeluknya," Ngak kok sayang, yuk kita lanjutin pertempuran Ronde duanya," ucap Aldi yang mengelak, sambil membalikan tubuhnya menghadap Aira.
Aira menatap mata Aldi, ia melihat sesuatu yang di sembunyikan oleh sang suami,namun Aira tak mau memaksa Aldi untuk bercerita.
"Ayok kita lanjutkan pertempuranya, tapi sebelum itu gendong Aira ala bridal style ya, "pinta Aira dengan nada manja.
"Ok," sahut Aldi sambil menggendong sang istri ala bridal style menuju ranjang .
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa, like nya teman teman, komentarnya juga yg membangun agar author bisa memperbaiki kesalahan atau pun kekurangan author, salam sayang selalu 😘