Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pengorban dan rasa sakit


__ADS_3

Bagas dan Alia tiba di klinik, setelah mengantri mereka pun masuk ke sebuah ruangan.


Setelah memeriksa petugas menyuruh Bagas untuk berbaring.


"Sayang, kalau kamu ngak kuat melihatnya, kamu tunggu saja di luar,"ucap Bagas kepada Alia.


"Ngak aku mau tetap di samping kamu, Gas,"ucap Alia seraya menggenggam tangan Bagas.


"Kalau melihat wajah cantik kamu, pasti ngak akan terasa sakit," ucap Bagas seraya menggenggam erat tangan Alia, ia pun melempar senyum termanisnya hingga membuat hati Alia berbunga-bunga.


"Kita mulai ya," ucap petugas tersebut kemudian menyuntikan obat yang membuat lengan Bagas mati rasa.


Alia mengusap kening hingga ke ubun-ubun Bagas dengan lembut, keduanya pun saling menatap.


Sementara sang petugas menyinari laser pada permukaan kulit yang bergambar tatto untuk memecah warna.


Meski di beri obat agar lengannya mati rasa, namun tetap saja Bagas merasakan ngilu.


Alia melihat sendiri bagaimana alat tersebut bekerja, sinar tersebut menembus permukaan kulit Bagas untuk mengurai warnanya.


Bagas menahan sakit dengan mengerang tertahan, wajahnya pun di penuhi keringat dingin.


Akh! jerit Bagas sambil menggigit bibir bagian bawah, tubuhnya menggelepar karna merasakan seperti ada yang membakar kulitnya.


"Akh!" Bagas menggelepar, menangis, dan merintih tertahan ketika benda tersebut seperti menyengatnya dengan tegangan tinggi.


"Sayang!" ucap Alia lirih, ia begitu kasihan melihat Bagas.


Bagas terus menggelepar menahan sensasi panas dan menyegat yang terasa menyiksanya.


Tubuhnya kadang mengaku ingin berontak tapi lagi-lagi ia ingat jika semua itu ia lakukan demi cintanya pada Alia.


Tik tik, bulir bening menetes di pipi Alia melihat Bagas yang merasakan sakit luar biasa, Sayang maaf karna aku kau harus menderita seperti ini, " ucap Alia sambil menangis tergugu dan menggenggam erat jemari Bagas.


Getaran-getaran rasa sakit tersebut seolah menjalar ke tubuh Alia yang mengenggam erat tangan Bagas, tubuhnya juga ikut terguncang ketika tubuh Bagas terguncang menahan sakit di iringi rintihan-rintihan Bagas yang merasakan sakit, hingga membuat Alia juga ikut tersiksa.


"Sayang!" ucap Alia lirih ia tak tega melihat Bagas yang tersiksa, Air mata tak henti-nentinya mengalir hingga membasahi pipi mulusnya, tak kuat menahan perasaannya, Alia pun merasa lemas dan ambruk seketika.


Alia pingsan tepat di saat terapi laser Baga selesai di lakukan.


Tubuh Alia terkulai, dan langsung di sambar oleh Bagas.


"Sayang!" ucap Bagas panik melihat Alia yang tak sadarkan diri.


Bagas bangkit untuk menopang tubuh Alia agar tak jatuh lansung ke lantai.


Perugas pun syok, mereka pun membaringkan Alia di samping Bagas yang sedang dalam observasi.


"Sayang, aku sudah bilang kamu ngak usah ikut hiks hiks," Bagas menangis selain merasakan sakit luar biasa, ia pun panik melihat Alia yang pingsan.


"Jangan bergerak dulu Bang, biar istri anda saya yang membantu untuk sadar," ucap petugas tersebut karna me gira, Alia adalah istri dari Bagas.


Alia terbaring lemah di samping Bagas.


"Sayang, sayang! ayo bangun, aku tidak apa-apa sayang!," panggil Bagas agar Alia tersadar, ia pun memeluk Alia dan mencium kening Alia yang terlihat pucat.

__ADS_1


Petugas tersebut menciumkan sesuatu ke hidung Alia agar membuatnya tersadar, sementara Bagas terus menatap wajah Alia dengan raut yang sedih, bahkan ia lebih mengkhawatirkan Alia dari pada merasakan sakit pada lenganya.


Beberapa saat kemudian Alia terlihat menerjab-nerjabkan matanya, pandangan nya pun mengedar melihat kearah ke sekeliling.


"Sayang, kau sudah sadar?"tanya Bagas senang.


"Sayang aku, aku kenapa?"tanya Alia seperti lingung.


"Kau pingsang sayang," jawab Bagas.


Alia pun langsung bangkit sembari mengingat kejadian sebelumnya," Iya aku tadi tak tahan melihat kau begitu kesakitan sayang, kau tak apa?"tanya Alia yang kembali panik.


Iya kembali syok melihat lengan Bagas yang memerah dan bengkak, Alia menutup mulutnya yang tanpa sadar menganga.


"Sayang, pasti itu sakit sekali," ucap Alia lirih air mata pun mengalir menetes di pipinya.


"Ngak kok sayang, ngak sakit lagi,"ujar Bagas berbohong agar Alia tak mengkhawatirkannya.


"Tidak mungkin, itu pasti sakit sekali," ucap Alia.


Bagas diam, Alia bukan lah gadis bodoh yang bisa di bohongkan.


Petugas klinik pun memoles salab dan memberi obat anti infeksi kepada Bagas.


"Ini salebnya dan ini obat anti infeksi, karna setelah dua bulan anda bisa kembali kemari lagi untuk mengulangi terapi lasernya, karna tak semua warna bisa hilang dengan sekali pelaseran." papar petugas tersebut.


"Apa? jadi ini semua belum selesai?"tanya Alia syok.


"Iya sekitar 2-3 kali lagi baru bekas tatto tersebut benar-benar hilang." petugas.


Alia hampir menangis mendengar apa yang di ucapakan petugas tersebut.


Alita menatap iba kearah Bagas, bulir bening pun kembali metes di pipinya saat itu.


Setelah keadaan Bagas cukup membaik keduanya memutuskan untuk pulang.


Setelah memesan taksi, tak beberapa lama taksi datang menjemput keduanya.


Di dalam mobil Alia menyandarkan kepalanya pada bahu Bagas.


"Sayang, sudah cukup sekali ini saja kau merasa tersiksa seperti ini, aku ngak mau lagi melihat kau menderita seperti ini," ucap Alia sembari menggenggam erat tangan Bagas.


"Sayang, aku tak mengapa, Bukannya cinta itu butuh pengorbanan, aku tak punya harta atau apapun yang dapat aku berikan pada mu, hanya inilah cara ku untuk membuktikan cinta ku pada mu," ucap Bagas seraya mencium lekat pucuk kepala Alia.


"Iya sayang, semoga saja orang tua ku bisa menerima kamu," ucap Alia.


Keduanya pun saling merangkul mesra.


Bagas langsung mengantar Alia pulang sampai di depan rumahnya.


***


Aldi dan Aira berada di ruang tengah sedang melihat hasil dokumentasi acara semalam.


"Nih Bunda, pengusaha yang Ayah ceritakan kemaren itu, namanya Raka," ucap Aldi seraya menunjukan foto Raka.

__ADS_1


"Sebenarnya banyak yang ingin berkelan dengan Kakak Bunda, tapi ayah lebih suka sama Raka." Aldi.


"Terserah Kakak dong Yah, mau pilih yang mana, yang menikahkan Kakak bukan Ayah?"Aira.


"Assalammualaikum,"tiba-tiba terdengar suara orang yang memberi salam.


"Waalaikum salam," ucap keduanya seraya serempak, tak berapa lama seseorang pun masuk menghampiri pasutri tersebut.


"Abang, dari mana?"tanya Alia ketika Ghael menghampiri mereka.


"Dari rumah Aunty," jawab Ghael seraya mendaratkan bokongnya.


"Ah kebetulan Bang, nih lihat calon untuk Alia, gimana menurut kamu?"tanya Aldi menyodorkan foto Raka.


Ghael tertunduk lesu, melihat Ghael seperti itu Aira buka suara.


"Bang kenapa ada masalah?"tanya Aira seraya menatap Ghael.


Ghael membalas tatapan mata Aira sejenak, kemudian ia berdri dan berlutut di hadapan Alia dan Aldi.


"A...bang kenapa seperti itu?"tanya Aira kaget begitupun Aldi.


"Uncle, Aunty sudikah kiranya menerima saya sebagai calon menantu untuk mendampingi Alia," ucap Ghael sambil memohon.


Aira dan Aldi kaget mereka pun saling memandang.


"Saya janji akan menjaga Alia dengan baik, menyayanginya dan menjadi suami yang baik, "ucap Ghael kembali dengan wajah yang tertunduk.


Aldi dan Alia saling memandang kembali.


Aldi menegakkan tubuhnya.


"Apa Abang serius Bang?"tanya Aldi.


"Sangat serius Uncle, sebenarnya sudah lama saya menyukai Alia," ucapnya seraya menatap Aldi lekat.


Ghael dan Aldi sama-sama menelan ludahnya, keadaan hening sejenak.


"Kenapa tak bicara dari dulu Bang, jadi Uncle tak perlu jauh-jauh cari jodoh untuk Alia,"ucap Aldi bahagia.


Ghael pun sumringah, "Jadi uncle setuju jika saya melamar Alia?"tanya Ghael gugup.


Aldi dan Aira tersenyum, mereka pun berdiri sembari menarik tubuh Ghael agar ikut berdiri.


"Memangnya ada calon yang lebih baik dari Abang," ucap Aldi sambil menepuk bahu Ghael.


Ghael tersenyum bahagia, "Terima kasih Uncle, Aunty ,"ucap Ghael seraya memeluk keduanya.


Alia pulang, setelah memberi salam ia pun masuk dan melihat kedua orang tuanya sedang memeluk Ghael.


"Wah ada apa nih, sepertinya bahagia sekali?" tanya Alia sembari mendekat kearah ketiganya dengan tersenyum.


"Tentu saja bahagia, karna Ayah sudah menemukan calon suami terbaik untuk kamu," sahut Aldi.


Seketika Alia menarik senyumnya, "Siapa?"tanya Alia.

__ADS_1


Bersambung.


Bag


__ADS_2