
Aira masih tak sadarkan diri setelah melahirkan putra ketiganya.
Saat ini Aldi berada di sisi istrinya menatap Aira dengan sedih.
"Bunda, bangun Bunda! Ayah tahu Bunda orang yang kuat, sadarlah bunda, anak kita sedang menunggu bunda saat ini,"ucap Aldi dengan mata yang memerah menahan air matanya.
Ia tahu jika Aira seperti ini, pasti ia sedang menghkawatirkan putri mereka.
Aldi mengusap kepala Aira." Bunda ayah telpon Abang ya? jika keadaan Alia baik-baik saja. Bunda harus janji, bunda akan sadar secepatnya. Kasihan putra bungsu kita Bunda hiks hiks hiks, "bisik Aldi kembali.
Begitu banyak beban yang ia pikirkan saat ini. Selain mengkhawatirkan istrinya ,Aldi juga menghawatir dua anaknya sekaligus.
Seharian ini saja ia belum bertemu dengan putra bungsunya.
Aldi menarik laci di atas nakas, kemudian meraih handphonenya bermaksud menelpon Ghael untuk menanyakan kabar Alia.
Beberapa saat kemudian sambungan telpon tersambung.
.
"Hallo Assalamualikum Bang, " ucap Aldi di sambungan telponnya.
"Waalaikumsalam Yah. " Ghael.
"Bang Alia sudah selesai operasi? " tanya Aldi.
"Sudah Yah, Alhamdulilah Alia dan putra kami sehat dan selamat," ucap Ghael dengan begitu bahagia.
"Alhamdulilah syukurlah Bang. "
"Alhamdulilah Yah, tapi kenapa Ayah terlihat begitu sedih? " tanya Ghael curiga.
"Hiks, Bunda koma setelah melahirkan Bang, ia mengalami pendarahan karna tekanan darah tinggi, hiks hiks." Aldi tak mampu menyembunyikan kesedihannya.Ia pun menangis karna khawatir, perasaan takut kehilangan sang istri mulai menghampirinya saat itu.
"Innalilahiwainnalilahi rajiun. Yang sabar ya Yah, semoga Bunda dan Ayah bisa melewati semua ini,"
"Iya Bang, hiks hiks." Aldi.
"Ayah sudah telpon Arsyad?" Ghael.
"Belum, biar saja dia masih di luar kota, nanti setelah selesai pertandingan baru Ayah kasi kabar.Semoga bunda cepat siuman Bang. Ayah juga khawatir sama adik kalian yang kecil. " Aldi.
"Iya Yah, semoga saja.Nanti setelah Alia sadar biar abang yang urus adik Yah, biar sama-sama di rawat di sini," Ghael.
"Iya Bang.Terima kasih, Ayah sudah tak tahu harus bagaimana lagi. Saudara semuanya jauh, Hiks hiks hiks, "tutur Aldi sedih.
"Abang sudah telpon mama dan papa Yah. Papa Heru juga sedang dalam perjalanan menuju kemari."Ghael
"Yang penting sekarang Ayah juga harus jaga kesehatan Ayah. Agar Bunda lebih semangat lagi untuk sembuh. " Ghael.
"Iya Bang.Tapi jangan beri tahu Alia jika keadaan bundanya seperti itu ya Bang." Aldi.
"Ehm iya Yah. Abang juga tak ingin Alia khawatir.
***
Setelah melewati masa observasi pasca melahirkan.Alia di bawa ke ruang perawatan begitu pun putra mereka yang sudah bisa di bawa keruangan bersama ibunya.
Setelah beberapa jam pasca operasi Alia pun sadar.
Matanya menerjab-nerjabkan melihat ke arah sekeliling.
Alia tersenyum ke arah Ghael yang sedang menggendong putra mereka.
Melihat Alia tersadar Ghael pun tersenyum."Assalammuamu alaikum Bunda, " ucap Ghael sambil meletakan putranya di samping Alia.
"Waalaikumsalam," ucap Alia lirih seraya menyambut bayi tersebut dengan air mata bahagia.
"Bang anak kita laki-laki atau perempuan? " tanya Alia yang menangis haru melihat malaikat kecilnya tersebut tidur terlelap di sampingnya.
Ia pun mencium pipi bayi munggilnya.
"Sayang Bunda," ucap Alia kemudian mencium bayi tersebut.
Ghael duduk di samping Alia.
"Laki-laki Sayang, Alhamdulilah kamu dan anak kita selamat.Berat lahir bayi kita mencapai 3,6kilo gram. dengan panjang 4,9cm. " Ghael.
"Pantesan saja ia terlihat ganteng seperti Ayahnya, "ucap Alia sambil menimang putranya.
Cup, satu kecupan mendarat di pipi Alia. "Terima kasih ya Sayang, kamu sudah memberi seorang bayi laki-laki yang tampan untuk ku, " ucap Ghael sambil berbaring memeluknya istrinya.
"Hm, iya Yah.Kalau sudah melihat malaikat kecil kita seperti ini, rasanya rasa sakit saat melahirkan tak sebanding dengan bahagianya melihat putra kita tercinta," ucap Alia sambil mengelus pipi bayinya.
Alia teringat akan ibundanya.
"Bang,bagaimana keadaan Bunda dan adik ku saat ini. Apa bunda sudah melahirkan? "
"Sudah sayang. Adik kamu juga laki-laki. " Ghael.
"Alhamdulilah. Aku ingin melihat adik ku. Kenapa Bunda ngak di rawat di kamar ini saja Bang. "
"Iya Nanti Abang bawa adik kamu kemari. " Ghael.
***
Setelah anak mereka tidur dengan tenang, Ghael meminta ijin pada suster untuk membawa adik iparnya untuk di rawat bersama dengan putra mereka di kamar.
Aldi akan merasa tenang jika putranya di jaga sendiri oleh pihak keluarga.
***
__ADS_1
Keluarga Ghael sudah tiba di bandara dan langsung menuju rumah sakit.
Tari dan Romeo begitu tak sabar melihat cucu mereka.
"Rom, kira-kira cucu kita kita beri nama apa ya Rom? " tanya Tari begitu senangnya.
Pokoknya harus ada nama aku.
"Ehm bagaimana kalau namanya Romedi, singkatan dari Romeo dan Aldi. "
Romeo tersenyum." Ngak ada yang lebih norak Tar? " tanya Romeo.
"Iya juga ya. Emaknya cakep bapaknya cakep, kakek neneknya juga cakep-cakep. eh namanya pula yang ngak cakep he he. Masa iya Romedi."
"Kalau .."kata-kata Tari terputus.
"Sudahlah Tar. Kita ngak usah terlalu senang. Ingat saat ini Aira sedang kritis. Kasihan Aldi. "
"Iya juga sih. Kenapa setiap ada berita Suka selalu dapat berita duka. Semoga saja Aira segera sadar. "Tari.
mereka pun sampai di ruang perawatan Alia.
"Assalammualaikum, "sapa mereka sebelum masuk kedalam kamar Alia.
Alia senang dengan kehadiran kedua mertua dan adik-adik.
"Mama-Papa. Kapan sampainya? " tanya Alia.
"Baru saja Kak. Ini mama bawa perlengkapan bayi yang mama beli di Malaysia."
"Wah terima kasih Oma," ucap Alia.
"Mana cucu Oma?" tanya Tari yang langsung menggendong cucu mereka.
"Pa. Lihatlah cucu mu Opa! wajahnya mirip abang ya? waktu lahir" Tari.
Ehm,
Tari mencium dan menggendong cucunya tersebut. Begitu pun Romeo yang merasa bahagia atas kelahiran cucu mereka.
Namun sayang kebahagian mereka seakan tertahan karna kondisi Aira yang kritis.
Ghael datang membawa seorang bayi laki-laki lagi.
"Assalammualaikum Oma, "ucap Ghael.
"Waalaikum sallam, Bang."
"Itu anaknya Aldi? " tanya Tari.
"Iya. Oma. " Ghael.
"Ehm kalau anak Aldi jangan panggil Oma, panggil mama saja. " protes Tari.
"Ihs biar Oma-oma tetap cantik ya. hm," ucapnya mengibas rambut lurusnya.
Ghael tersenyum melirik ke arah Romeo.
"Pedenya ngak pudar Bang. meski rambut udah ada yang beruban, "sindir Romeo.
"Sini Bang. Aku mau lihat adikku." Alia.
Ghael menghampiri Alia dan menyerahkan bayi lelaki tersebut pada istrinya.
Alia menyambut bahagia kelahiran adik lelakinya.
Ia pun mencium-cium pipi adiknya.
"Ehm, wajahnya seperti Arsyad ya Bang. "
"Hooh. "
Alia menimang sebentar adiknya ,kemudian ia melihat seorang suster datang membawa box bayi.
"Ehm itu box bayi untuk siapa suster? " tanya Alia pada suster.
"Ini untuk bayi nyonya Aira dan pak Aldi. Pak Aldi meminta agar putranya di titipan di ruanga ini. " Suster.
"Ehm, Lalu bunda dan ayah kemana? apa juga akan di rawat di ruangan ini? " yanua Alia.
"Tidak Bu. Nyonya Aira dalam keadaan kritis pasca melahirkan. "
"Saat ini ia berada di ruangan ICU. " suster.
Kreak
Bagai tersambar petir Alia saat itu, seketika ia pun mena gis.
"Bunda hiks hiks hiks. "Tangisnya.
Suasana yang tadinya penuh suka cita mendadak suram.
Suster telah berlalu meninggalkan box bayi tersebut.
Ghael menghampiri Alia. "Kamu tenang ya Sayang. Abang yakin Bunda tak apa-apa," ucap Ghael sambil mengusap punggung Alia.
"Ngak mau Bang!Aku mau ketemu Bunda hiks hiks hiks, aku tahu Bunda pasti stress karna menghawatir kan aku. hiks hiks hiks."
"Aku ngak mau! aku mau bertemu Bunda sekarang! hiks hiks hiks. " Alia terus menangis. Ia begitu takut kehilangan sang Bunda.
Karma merasa kasihan dan tak ingin Alia terus larut dalam kesedihannya.
__ADS_1
Ghael pun mengijinkan istrinya untuk menemui sang ibunda.
Setelah ijin dan meminjam kursi roda pada petugas. Ghael membawa Alia menemui Aira.
"Alia, orang yang habis melahirkan ngak boleh nangis Nak", bujuk Tari sambil memeluknya.
"Alia khawatir Ma dengan keadaan Bunda, hiks hiks hiks."
"Iya sekarang kamu hapus air mata kamu dan berhentilah menangiska. Kita semua akan berdoa untuk Bunda kamu ya, "ucap Tari sambil mengusap kepala Alia.
"Iya Ma. Semoga Bunda segera sadar dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga kita lagi. " Tari.
Ghael tiba membawa kursi roda untuk istrinya.
Romeo membantu Ghael untuk mengangkat tubuh Alia dan meletakannya di atas kursi roda.
Setelah itu Alia di dorong menuju kamar ICU.
Alia masih menangis saat itu.
"Sayang. Ngak usah sedih lagi. Nanti bunda juga ikut sedih kalau kamu bersedih. " nasehat Ghael sambil mendorong kursi rodanya.
Alia menghapus air matanya.
"Iya Bang, "ucapnya lirih.
Mereka pun sampai di ruang ICU. Setelah mengkomfirmasi petugas, mereka pun di ijinkan masuk ke ruangan tersebut dengan syarat tak berisik.
Alia kini berada di ruangan ICU.
Aldi terlihat sedih kala itu, melihat istrinya yang masih rapat menutup matanya.
Berkali-kali ia menghapus air matanya dan membisikan kepada Aira menyuruhnya untuk bangun.
Melihat putrinya yang terlihat baik-baik saja, ia pun tersenyum menghampiri nya dan memeluknya.
"Kak! Kakak baik-baik saja kan? Ayah khawatir sekali, "tutur Aldi setengah menangis memeluk Alia.
"Iya Yah. Hiks hiks hiks, Alia khawatir dengan keadaan Bunda Yah. Hiks hiks hiks." Alia tak mampu menahan kesedihannya.
Aldi mengurai pelukannya.
"Iya Nak. Coba kamu bangunkan bunda. Ayah yakin saat ini ia tengah mengkhawatirkan kamu. "Aldi.
"Hiks hiks, iya Yah. "
Ghael pun mendorong Alia mendekat kearah Aira yang tengah berbaring.
Alia menarik tangan Alia sambil mencium telapak tangan Aira.
"Bunda. ini Alia Bun, Hiks hiks hiks.Bunda bangun Bun hiks hik.Bunda ngak peru mikirin Alia lagi Bun. Alia di sini. Alia baik-baik saja Bun. hiks hiks." Air mata Alia semakin deras mengalir.
Alia menatap sedih ke arah Aira. ia pun menciumnya pipi sang ibunda dengan lekat.
Alia teringat dengan lagu yang selalu di nyanyikan oleh Aira kepadanya. Ia pun menyanyikan lagu tersebut untuk sang ibunda. Sebuah lagu dari Melli goeslaw.
Bunda
*Kubuka Album biru. penuh debu nan usang. Ku pandangi semua gambar diri kecil bersih belum ternoda hijs hiks,
*Pikir ku pun melayang. Dahulu penuh kasih. Teringat semua cerita orang tentang riwayat ku hiks hiks hiks.
*Kata mereka diriku selalu di manja."
Air mata Alia semakin deras mengalir.Gharl dan Aldi juga ikut menangis mereka pun ikut bernyanyi untuk Aira. Kedua pria tersebut sudah melihat sendiri perjuangan seorang ibu dalam melahirkan buah hati mereka.
Ketiganya pun ikut bernyanyi lirih di samping Alia.
* Kata mereka diri ku slalu di sayang..kata mereka diriku ku slalu di manja...
*Nada-nada yang indah,Selalu terurai darinya.Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya.Hiks hiks hiks.
*Tangan halus dan suci,Telah mengangkat tubuh ini.Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan.
*Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
*Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu ada di dalam hati ku, hiks hiks hiks.
*lirik lagu.
Ketiganya bernyanyi dengan penuh penghayatan. Betapa besar kasih sayang seorang ibu.Tak ada satu anak di dunia ini terlarih tanpa melalui rahim sang ibu.
Hiks hiks hiks
Bunda! seru ketiganya menangis dan memeluk Aira.
"Bunda sadar Bunda, kami semua menunggu mu disini. hiks hiks." ucap mereka secara serempak. ketiganya pun menangis haru.
"Bunda. Ada ayah disini Bunda. Sadarlah Bunda, Buka mata Bunda, kebahagian dan sudah menunggu kita di depan mata Aldi. "
"Bunda sadar Bunda Hiks. Terima kasih kepada Bunda. Karna atas jada b UK nda yang tak pernah mampu untuk aku bayar. Karna bundalah aku bisa menikah dan memiliki anak dari wanita yang ku cintai. sadar Bunda. Kita akan bersama lagi setelah ini. "Ghael
hiks hiks hiks. Mereka semakin haru ketika melihat Aira mulai menggerak-gerakan tangannya.
__ADS_1
"Bunda! Alhamdulilah Bunda sadar!" seru mereka bahagia.
Bersambung. hiks hiks.perasaan ku saja atau aku merasa sedih ya part ini.