Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Ada apa dengan cinta


__ADS_3

Di rumah mewah dan besar itu, kini berlalu lalang orang-orang untuk menyiapkan tenda, malam ini akan di langsungkan akad nikah di rumah itu.


Sedari pagi Aira dan Aldi sudah melakukan ritual pra nikah di kamar mereka masing-masing, sampai akad nikah berlangsung, mereka tidak boleh keluar dari kamar tersebut.


Aira sedang melakukan spa rempah-rempah dengan tujuan memperlancarkan peredaran darah dan menghilangkan aroma tak sedap di tubuh.


Aira sudah bermandi keringat, sekujur tubuh nya pun telah basah.


Aira keluar dari bilik terapi yang sudah lama di persiapkan khusus untuknya sejak ia tinggal di rumah itu.


Dengan hanya menggunakan handuk, ia pun duduk di meja Riasnya.


Simbok datang membawa makan siang untuk nya.


"Non, makan dulu," ujar simbok sambil merapikan tempat tidur Aira, si mbok mengganti spraynya dan melipat beberapa pakaian Aira.


"Mbok, kenapa baju Aira di keluarkan dari lemari?" tanya Aira heran.


"Loh, bukannya nanti malam non Aira tidur di kamar mas Aldi, jadi baju non Aira harus di pindahkan juga," jawab simbok enteng.


Aira yang sedang menyuap nasi ke mulutnya menjadi tak berselera.


"Non, setelah makan siang Non, istirahat dan tidur lah sebentar, karna nanti sore, akan ada dukun manten yang datang kemari," ujar si mbok.


"Hah, dukun untuk apa dukun mbok?" tanya Aira kaget.


"Hm, dukun manten itu, tukang rias penganten non, nanti dia ada ritual khusus, biar aura non keluar, saat di rias, dan setelah menikah, non Aira akan jadi semakin cantik dan Ayu," papar simbok.


"Tapikan ini cuma akad nikah mbok, kenapa di bikin ribet sih," gerutunya.


"Eh, sebagian besar adat kita non, mengganggap pernikahan itu sakral, jangan di anggap sepele non," jawab simbok.


Meski ngak mengerti apa yang di maksud dengan si mbok, Aira diam saja, ia pun kembali menikmati santapan makan siangnya.


Bunda Maya masuk kekamar Aira, ia memang bertugas mengawasi seluruh prosesi pra nikah Aira, sedangkan bunda Rita berada di kamar Aldi, kedua wanita itu memang perang dingin sudah sejak lama, jadi mereka selalu menghindari pertemuan, meski pun berada dalam satu rumah.


"Aira," sapa bunda Maya ramah.


"Aira hantara untuk kamu sudah siap, sejak pagi bunda dan Papa Satria belanja untuk keperluan hantaran untuk kamu," ucap Maya sambil mendekati Aira.


Maya melihat nafsu makan Aira yang tak bermasalah sedikit pun, bunda Maya merasa heran.


"Aira, kamu ngak pernah merasa ngidam gitu?" tanya bunda Maya heran.


"Ngidam, Ngidam itu apa Bunda?" Tanya Aira heran, ia memang pernah mendengar kata ngidam, tapi ia sendiri tak tahu artinya.


"Ngidam itu biasanya terjadi pada ibu hamil, misalnya ingin makan atau ingin sesuatu secara berlebihan, ngidam juga diartikan sebagian orang muntah-muntah dan membenci sesuatu yang sebelum nya tak pernah terjadi," papar bunda Maya.


"Oh, begitu," sahut Aira singkat.


"Aira kamu sudah berapa bulan ?" tanda bunda Maya.


"Belum tiga bulan bunda," jawab Aira asal, Aira mengira jika bunda Maya menanyakan seberapa lama ia tinggal di sini.


"Tapi perut kamu kok kecil sekali Aira, nanti kamu periksa kehamilan kamu sama bunda ya."


Aira kaget dengan tawaran bunda Maya, "Aduh kalau di periksa akan ketahuan jika aku ngak hamil, nanti mas Aldi marah lagi," batin Aira.


Sementara di kamar Aldi, Seseorang sedang mendekorasi kamar Aldi untuk di jadikan kamar pengantin.


"Di, setelah menikah nanti, mama mau ajak kamu ke jalan-jalan keliling eropa Di, untuk belanja kebutuhan butik mama yang baru, di sana sekalian mama mau ajak Aura Di, jadi kamu ngak usah bawa Aira, kita ke kota mode Paris, calon istri kamu kan model Di, jadi mama bisa tanya-tanya tentang fashion terkini pada Aura ," ucap Rita sambil mengkutak katik handphonenya.


"Mama ini bagaimana sih, masak yang di ajak Aura sih bukan Aira?" Aldi sedikit dongkol.


"Di, Sampai kapan pun mama ngak akan sudi menerima Aira jadi menantu, karna dia hamil saja makanya Mama perbolehkan kamu untuk menikahi dia, kalau ngak, ih amit-amit, punya mantu dari keluarga ngak jelas."


"Lagi pula kamu tuh mau-maunya aja sama gadis seperti dia, padahal masih banyak gadis yang berkelas, " ucapnya sambil mencibir.


"Mama gimana sih, Aira itu pilihan Aldi, kalau mama menghina dia terus, sama saja mama menghina selera Aldi," sahut Aldi tak kalah ketus.


"Alah, kamu tuh sama saja sama Papa kamu, sukanya dengan gadis biasa yang sederhana seperti si Maya itu," cibirnya.


"Oh jadi karna papa lebih memilih bunda Maya dari pada Mama, Mama jadi dendam kesumat, trus apa hubungannya sama Aira Ma?"


"Sudalah Di, setelah akad nikah kamu harus pisah kamar sama dia, dan secepatnya kamu harus menceraikan Aira, dan biarkan ia tinggal di rumah bersama orang tuanya, kalau perlu kamu beli rumah baru untuk mereka,masalah anak kamu, setelah lahir kamu boleh ambil anak kamu dari Aira, atau kamu biarkan Aira mengasuhnya, jadi kamu tinggal memberi nafkah untuk Aira dan Anak kamu saja," ucapnya dengan Angkuh.


Aduh gimana caranya memberi pengertian sama mama, bahwa *gue ngak bisa mengembalikan Aira ke bapaknya, kalau mama sampai curiga jika Aira tidak hamil, ia pasti akan memaksa ku untuk memulangkan Aira ke orang tuanya,


Atau gue hamilin aja Aira beneran, meski gue ngak cinta sama dia, tapi gue sayang sama Aira, dan ngak mau Aira di nikahkan dengan lelaki yang tak bertanggung jawab, batin Aldi*.

__ADS_1


Rita melihat Aldi yang termenung, ia pun menepuk pundak Aldi.


"Di, kamu kenapa, kok bengong kayak gitu sih?" Tanya Rita yang melihat gelagat aneh dari Aldi.


"Ngak kok Ma, Aldi nervous aja, nanti malam kan Aldi menikah, Aldi jadi gugup nanti malam kan malam pertama," ucap Aldi sambil menarik turun kan Alisnya.


"Malam pertama apanya, itu namanya malam kesekian, pakai sok nervous, kayak pertama kali aja," ucap Rita dengan ketus.


Aldi hanya nyengir kuda, ia keceplosan sendiri, untung saja Rita tak terlalu menanggapi omongan nya.


Romeo berada di bengkel bersama Tari, beberapa hari ini, Tari memang selalu menemani Romeo.


Mereka berdua punya persamaan nasib, yaitu sama sama patah hati.


"Rom, entar malam loh pergi nikahannya Aldi?" Tanya Tari sambil menyodorkan tank ke Romeo.


"Kalau bukan Aira yang minta ke gue untuk datang, gue ngak mau datang," cetus Romeo.


"Sebenarnya gue merasa sedih di perlakukan seperti ini sama Aldi Rom, tapi gue mau tunjukan ke Aldi, bahwa tanpa dia gue juga bisa bahagia, gue mau tunjukan jika pernikahanya, ngak berpengaruh sedikit pun ke gue , meski sebenarnya hati gue sakit banget Rom," ujarnya sambil meneteskan air mata.


Romeo melihat Tari sekilas, kemudian kembali mengerjakan pekerjaanya.


"Lo sendiri Rom, untuk apa lo lakuin semua ini, kerja keras seperti ini toh nyatanya lo juga ngak bisa menikah sama Aira kan?" tanya Tari sambil terisak.


"Karna gue mempunyai keyakinan segala sesuatu yang di perjuangkan pasti akan menemui hasilnya, tak perduli seperti apa pun nantinya, yang terpenting gue sudah usaha dan mencoba," ucap Romeo lirih.


Terlihat sekali perubahan pada sikaf Romeo, Romeo yang biasanya menggelepar seperti cacing kena abu, kini jadi sosok yang pendiam.


"Ya udah Romeo, gue pulang dari pada gue nangis di sini, hanya di cuekin sama lo, mending gue nangis sendiri dirumah,"ucap Tari, tapi ia enggan beranjak dari sana, Tari merasa betah menemani Romeo meski ia sering di cueki.


"Trus lo mau gue gimana? bujuk lo ? hapus air mata lo, sini gue hapus."


Romeo mengarah kan tanggan nya ke pipi Tari, untuk menghapus air mata Tari, tapi di tepis oleh Tari.


"Ihs tangan loh kan kotor Rom,"


"Makanya gue bisa apa?" lo mau cerita-cerita aja Tar, gue denger kok, gue juga lagi sedih."


"Sini Rom gue mau bersandar di pundak lo," Tari merebahkan kepala nya di bahu Romeo.


Romeo hanya diam, ia juga sedang bersandar di ban mobil truk yang sedang di perbaiki oleh nya.


"Rom, loh kok diam aja sih biasanya cowok kalau di senderin sama cewek rambut nya di belai-bekai Rom, kok loh ngak sih," ucap Tari protes karna Romeo diam saja.


"Iya sih Rom, tapi gue merasa nyaman aja sama lo," ucap Tari yang kini bersandar di dada Romeo.


"Mungkin kita mempunyai persamaan nasib kali Rom," tambah Tari.


Melihat Romeo yang tak bereaksi, Tari pun menarik dirinya dan mengalihkan pandangannya pada Romeo.


"Kayaknya lo lebih sedih dari gue Rom," ucapnya sambil menatap mata Romeo.


Romeo menggelengkan kepalanya, Tari pun menyadar kan kepalanya di bahu Romeo.


"Rom, kalau lo sedih, lo cerita sama gue Rom, ngak apa juga kalau lo nangis Rom, menangis bukan karna lo lemah, tapi lo menangis karna lo mencoba untuk menjadi kuat, untuk menerima semua kenyataan ini, dan menangis itu bukan hanya milik wanita saja, setiap orang yang merasa kehilangan sesuatu yang di cintainya pasti akan menangis Rom, setangguh apa pun manusia itu," ucap Tari sambil menatap wajah Romeo.


Ada bulir bening yang perlahan menetes di sudut netranya, Tari pun menghapus air mata Romeo.


"Ayo Rom, tumpahkan saja kesedihan lo, karna hanya air mata yang bisa menghapus luka," ucap Tari sambil merangkul dan memeluk Romeo.


Seketika Romeo menangis, di pelukan Tari, Tari yang terharu pun ikut meleleh kan air matanya.


Iya juga tak menyangka kini ia dan Romeo bisa bersahabat, padahal dulunya mereka musuh berbubuyutan.


Doni membawa tiga mangkok mie instan ke bengkel yang sudah di persiapkanya untuk makan mereka bertiga, karna ketiganya lagi bokek, terpaksa siang ini mereka makan mie instan.


Doni kaget melihat Romeo dan Tari akur, apalagi sampai berpelukan.


"Wah Tom and jerry lagi syuting drama korea nih, gimana ya nunggu mereka selesai syuting, keburu kembang nih mie, mau ganggu, jarang banget lihat Tari sama Romeo akur,"ucapnya sambil berdecik


Tak lama kemudian Mereka melepaskan pelukkanya, dan Romeo pun menghapus air matanya.


Tari memang benar, perasaan kini mulai membaik.


Doni datang menghampiri mereka dengan membawa tiga mangkok mie instan


"Kita makan dulu yuk," ucap Doni sambil menyodor kan mie instan ke ketiganya, Tari kembali duduk di posisinya semula.


Mereka pun menyantap mie instan tersebut dengan lahap, cuma Romeo yang terlihat tak berselera.

__ADS_1


"Nanti malam lo bedua ikut gue ngak ke nikahan Aldi?" tanya Doni.


Mereka berdua cuma menggangguk.


"Ya sudah nanti malam, setelah jemput Romeo, gue jemput lo Tar, acaranya jam delapan malam, jangan sampai terlambat ya, terlambat gue tinggalin."


Malam harinya.


Romeo sudah siap dengan kemeja hitam, celana hitam, dan blazer hitam, ia menunggu Doni di ruang tamu.


"Rom kamu mau melayat? siapa yang meninggal?" tanya Nadira yang kebetulan lewat di ruang tamu.


Romeo hanya diam sambil membuang muka, pertanda ia tak mau di ganggu.


"Siapa yang meninggal sih Rom, kok kayaknya kamu sedih banget?" tanya Nadira lagi.


"Mau pergi kawinan," sahut Romeo ketus.


"Hah mau pergi kawinan, pakaian lo kayak mau ngelayat, ngak tersinggung tuh pengantinnya?" tanya Nadira sambil tertawa kecil.


"Bodoh amat," sahutnya dengan ketus kembali.


Suara klakson pun terdengar di luar rumah.


"Dah Kak, gue pergi dulu."


Romeo mengahampiri Doni dan masuk ke dalam mobilnya.


"Rom, lo ngak salah costum?" tanya Doni melihat Romeo yang berpakaian serba hitam.


"Ngak kok, gue sadar sesadar-sadarnya," ucapnya serius.


Doni hanya menggelengkan kepala, ia tahu jika Romeo sedang berduka.


Sesampai di rumah Tari, ternyata Tari menggunakan Dress serba hitam, dengan dandanan yang terkesan natural.


"Lo berdua kompak banget, serba hitam, udah janjian ya?" tanya Doni heran.


"Ngak kok," sahut mereka serempak.


Sesampainya di rumah Aldi, dada Romeo bergemuruh, ada rasa sesak di hati karna harus melihat sendiri prosesi akad nikah Aldi dan Aira, begitu pun Tari, Tari berusaha menahan tangis nya.


Tari mendekat ke Romeo dan berbisik di telinga nya.


"Harus nya gue yang ada di sana Rom, bukan Aira," sesalnya.


Romeo hanya diam, ia tak menjawab ucapan Tari.


Mereka pun duduk, Aldi melihat kehadiran Romeo dan Tari, ia tak menyangka mereka berdua akan datang.


Akad nikah akan segera di laksanakan, Penghulu, para saksi dan wali pun sudah siap di tempat masing-masing.


Aldi benar-benar merasa gugup, ia pun mencoba menghapal kata-kata yang akan di ucapkanya pada saat akad nikah nanti.


Setelah bebepa kali mengulang hapalanya, ia pun merasa yakin.


Jantung Aldi semakin berdetak kencang saat penghulu menanyakan ke siapanya.


"Saudara Aldi anda sudah siap ?" Tanya penghulu ke pada Aldi.


Meski merasa gugup, tapi ia coba untuk tersenyum.


Aldi mengatur nafas nya.


Penghulu menjabat tangan Aldi.


"Saudara Reynaldy Alfian , saya nikahkan kamu dengan seorang wanita bernama Rianti Alfaira binti Tarman, dengan mas kawin, sebentuk cincin di bayar tunai."


Aldi menarik nafas panjang.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rianti Alfaira binti Tarman dengan mas kawin tersebut tunai."


"Sah"sahut para saksi.


Mendengar dan menyaksikan semua itu, tanpa sadar air mata Romeo menetes meluncur begitu saja.


Doni hanya bisa menepuk pundak sahabatnya tersebut.


Dan bersambung dulu ya.

__ADS_1


Di tunggu like dan komen nya, biar author semangat up lagi.


ucapan terima kasih untuk sahabat autor, yang telah membuat cover baru untuk novel ini, terima kasih kepada Titik pujiningdyah author Menuju puncak cinta.


__ADS_2