Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bikin ulah


__ADS_3

Cahaya matahari masuk melalui jendela yang tertutup rapat tersebut, sinarnya menyilaukan mata kedua insan yang sedang memeluk dalam tidur lelap mereka.


Aira membuka matanya, melirik kearah jam dinding, dengan segera ia bangkit melepaskan rangkulan tangan Aldi yang memeluk tubuhnya erat.


Aldi kembali menarik tubuh Aira agar kembali jatuh di pelukannya.


"Mau kemana sih sayang, masih pagi juga," ucap Aldi dengan mata yang masih terpejam.


"Pagi apanya Mas, ini tuh sudah pukul setengah delapan, "dengus Aira seraya bangkit dari tempat tidur.


"Setengah delapan?."Aldi membuka matanya dengan sempurna.


Aira memungut lingerie nya yang tergeletak di lantai semalaman, kemudian mengenakanya, ia melempar segitiga pengaman Aldi keatas tempat tidur, agar Aldi pergi ke kamar mandi tidak dalam keadaan bugil, karna itu bisa membuatnya kembali khilaf dan mengulangi pertempuran yang terjadi hingga menjelang waktu subuh tersebut.


Aldi bangun kemudian melakukan gerakan kecil untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa lemas dan kaku, tubuhnya terasa segar setelah melakukan pelepasan dua ronde semalam.


Aira langsung menuju kamar mandi, dan melakukan rutinitas paginya, begitu pun Aldi, ia segera menuju kamar mandi dan bergegas karna ia sudah sangat terlambat, untung saja ia adalah president direktur sekaligus pemilik saham terbesar di perusahaanya.


Jadi tak masalah jika ia datang tak tepat waktu, hanya saja akhir-akhir ini pekerjaannya lebih berat karna tak ada lagi Heru yang biasa ia andalkan.


Keluar dari kamar mandi Aira mesih mengenakan bathrobes nya.


Ia pun menuju walk in closed untuk menyiapkan pakaian yang akan Aldi gunakan untuk bekerja.


Aldi keluar dengan menggunakan handuk sepinggang dengan tubuh yang mulai mengering.


"Sayang, pakaian mas Aldi sudah siap?" Tanya nya seraya mengenakan pakaian dalam.


"Sudah Mas," sahut Aira yang meletakan pakaian suaminya di atas tempat tidur.


"Aldi! Aldi! Aku ngak mau sama kamu, aku mau anak ku!" Terdengar suara keributan di telinga mereka.


"Mas sepertinya itu suara Mama, guman."


Aira memasang kuping untuk mendengar lebih jelas.


"Aldi! Aku cuma mau sama Aldi!"suara tersebut sayup-sayup terdengar.


"Iya sayang itu suara Mama,"ucap Aldi, ia pun langsung mengenakan celana kainya dan kaos singlet tanpa memakai kemejanya.


Dengan terburu-buru Aldi keluar dari kamarnya dan menghampiri suara keributan yang terjadi di kamar Rita.

__ADS_1


Aldi kaget karna Rita sedang melakukan penyerangan terhadap Meli, gadis itu meringkuk menahan agar Rita tak mencakar-cakar wajahnya.


"Hik hiks huks, ampun nyonya saja hanya menjalankan tugas,"ucap Meli sambil menangis karna Rita menarik-narik rambutnya.


"Aku sudah bilang padamu jika aku hanya mau putraku saja yang mengurusku," dengus Rita menggeram.


Rita menarik rambut Meli, Tak hanya itu ia pun mencakar tangan gadis itu.


"Akh, ampun Nyonya saya hanya menjalan kan tugas dari pak Aldi, hiks hiks " ucapnya sambil menangis.


Aldi tiba dan menyaksikan langsung kebuasan ibunya.


"Mama! Lepaskan Meli Ma!" seru Aldi.


Aldi berusaha melepaskan Meli dari cengraman Rita hingga terlepas.


Ia menarik tubuh Meli agar bangkit dan menjauh dari Rita, karna syok dan ketakutan tanpa sadar Meli memeluk Aldi dari belakang.


Rita semakin berang ketika melihat Meli memeluk putranya.


"Menjauh dari Aldi!, dia hanya milikku karna dia putra ku!" dengus Rita seraya mencoba menyerang Meli kembali.


"Ma, sudah Ma." Aldi membentengi Rita dari serangan Mamanya, sementara Meli ketakutan berlindung di balik tubuh Aldi.


"Sayang! bawa Meli jauh dari sini, mas Aldi menahan Mama! Teriak Aldi ketika Aira mendekatinya.


"Iya Mas!" ucap Aira sembari menarik Meli dari pelukan Aldi.


Aira dan Meli menjauh, saat itu Meli terlihat syok dan ketakutan.


"Saya takut Bu, saya ngak sanggup mengurus nyonya Rita," ucapnya dengan bibir yang gemetar kepada Aira.


"Iya, kamu tenang ya,"ucap Aira seraya


Membawa Meli ke kamarnya untuk mendapatkan pertolongan pertama.


Aldi menghalau pergerakan Rita dengan mengunci pintu kamarnya


"Mama!" Kenapa mama seperti ini sih? Jika  mama terus bertindak seperti ini, Aldi tak akan segan untuk membawa mama ke rumah sakit jiwa, jika seperti ini, Mama bisa mencelakai semua orang yang ada di rumah ini!", ancam Aldi.


Rita menghentikan gerakannya untuk membuka pintu, ia pun berbalik menatap kearah Aldi.

__ADS_1


Rita berlutut dan mencium lutut Aldi.


"Tidak Aldi! Jangan kirim mama kerumah sakit jiwa itu lagi, mama bisa mati," tuturnya seraya bersujud di hadapan Aldi.


"Hiks hiks hiks, kamu bunuh saja Mama Aldi dari pada Mama harus hidup sendiri di rumah sakit, hiks hiks hiks," tuturnya dengan menangis.


Aldi merasa prihatin, melihat ibunya yang berlutut, ia pun ikut berlutut.


Aldi menangis memeluk Rita,"Ma, Aldi sayang sama Mama, Aldi tak bermaksud membuang mama kerumah sakit jiwa, tapi jika seperti ini Mama bisa menyakiti keluarga Aldi Ma," ucap Aldi seraya memeluk Rita dan menangis.


"Hiks hiks hiks, Mama hanya ingin bersama kamu Aldi, Mama tak mau di rawat oleh siapa pun, mama hanya ingin dirawat dan di perhatikan oleh kamu Aldi."Rita.


Rita memeluk Aldi serta mengelayut manja, seperti anak kecil yang mencari perhatian.


"Iya Ma, tapi Aldi ngak bisa setiap saat bersama Mama, Aldi harus kerja, Aldi  sudah punya istri yang juga harus Aldi perhatikan , Aldi punya tanggung jawab Ma, dan ngak bisa menemani mama sepanjang hari" tutur Aldi seraya menghapus air matanya.


"Mama ngak mau di tinggal sendiri Aldi, hiks hiks, "ujarnya seraya menangis terisak.


"Ma,Aldi ngak akan meninggalkan mama sendiri,tapi Aldi juga punya urusan, setelah pulang bekerja, Aldi janji akan menemani mama," bujuknya seraya melepaskan peluknya.


Rita mengganguk dan menurut, untuk membuatnya tenang Aldi memberinya obat yang sudah di resepkan dokter untuknya.


Tak beberapa kemudian ia tertidur, barulah Aldi bisa keluar dari kamar tersebut dengan tenang.


Aldi menghampiri Aira dan Meli yang sedang berbincang saat itu, koper Meli sudah siap di ruang tengah, ia sudah bisa menduga apa yang akan terjadi.


Benar saja Meli menghampiri Aldi dengan maksud berpamitan padanya.


"Maaf Pak, saya tak bisa lagi bekerja di sini saya takut,"ujar Meli dengan wajah tertunduk.


"Iya saya mengerti," ucap Aldi.


"Saya akan bayar gaji kamu secara penuh, juga konpensasi atas luka-luka kamu." imbuhnya.


"Ternyata Mama memang belum bisa di rawat di rumah ini,.tapi aku juga tak tega mengembalikannya kerumah sakit lagi," gumannya.


"Teriama kasih Pak,.kalau begitu saya permisi, " ucap nya seraya memarik kopernya menuju pintu keluar.


Aldi menatap kepergian meli, ia binggung karna tak mungkin ia bekerja meninggalkan istri dan orang tuanya saat seperti ini.


Aldi menghempaskan bokongnya kesofa, berkali kali ia menghempas napas beratnya, "Keadaan semakin rumit saja," gumannya seraya memijit pelan pelipisnya.

__ADS_1


Di tunggu dukungannya ya reader,


__ADS_2