Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kepergian Aira


__ADS_3

Romeo turun dari lantai atas menuju meja makan, di sana sudah ada mama dan papanya yang menyambutnya dengan senyuman.


"Ada apa nih?" tanya Romeo sambil menarik kursinya.


"Rom, mama sama papa sudah mengembalikan jatah bulanan kamu, dan sudah masuk ke rekening pribadi kamu."


Romeo melihat kedua orang tuanya secara bergantian.


"Trus gue harus bilang WOW," cetus nya sambil memolesi roti dengan selai kacang.


"Bilang terima kasih dong Rom, masak bilang wow, ngak ada etikanya sama sekali kamu Rom," ucap Suci dengan kesal.


"Terima kasih Ma, Terima kasih Pa," ucapnya datar, ia pun melanjutkan sarapanya.


"Rom kamu ngak nanyak kenapa kami lakukan itu?"


"Engak nanya juga pasti mama akan cerita kan?" sahutnya santai.


Suci memperhatikan suaminya, yang tanpa ekspresi.


"Rom, mama punya kabar baik untuk kamu," ucap Suci sambil tersenyum.


"Anaknya ustadz Ramly bersedia menerima kamu jadi calon suaminya," ucap Susi dengan senang.


Romeo melirik kearah mamanya dengan tatapan datar, sejenak kemudian kembali melanjutkan sarapanya.


Melihat ucapanya tak sesuai ekspektasi, Suci pun merasa kesal.


"Kok kayaknya kamu biasa saja Rom?"


"Ya biasa dong ma, Romeo juga sudah mengira pasti gadis itu mau menerima Romeo, gadis mana sih yang bisa menolak pesona Romeo," ucapnya pede, sambil menegguk minumanya.


"Salah besar kamu Rom, dia mau menerima lamaran kamu, hanya jika kamu mau belajar di pesantren milik abahmya minimal enam bulan," sahut Suci.


"Kali ini izin kan Romeo bilang WOW ma," sahutnya sambil tertawa kecil.


"Kok kamu tertawa sih Rom? emang ada yang lucu?" tanya Suci heran.


"Ngak ada ma, Romeo cuma mentertawakan diri sendiri," ucapnya sambil beranjak.


"Romeo pergi dulu ma, dan satu lagi ma, Romeo ngak butuh cinta yang bersyarat, silahkan mama tarik kembali uang yang sudah mama transfer," ucapnya dingin.


"Romeo kamu apa-apaan sih?" Suci mengejar Romeo yang keburu lari menuju garasi.


"Dasar anak ngak tahu di untung," gerutu suci.


"Lihat tuh anak mu pa, bisa-bisa dia bicara seperti itu sama mama,tapi papa cuma diam saja, ngak respek banget sih."


"Romeo itu ngak bisa di paksa, makin di keras, dia makin susah di atur, mending di kasi pengarahan dulu, mama kan pisikiater, masa ngak tahu sih?"


"Mama pisikiater bukan phosikolog papa."


***


Romeo tiba di kampusnya, dan mencari keberadaan Doni, ternyata Doni sudah berada di kantin bersama Tari.


Romeo pun menghampiri mereka berdua.


"Hai Tar, sudah sembuh?" tanya Romeo sambil menarik kursi untuk duduk diantara Doni dan Tari.


"Gue belum sembuh, tapi gue mumet di rumah, mending gue di kampus, paling ngak gue bisa curhat sama Doni,"ucap Tari dengan vibra sedih.


"Oh," ucapnya sambil menarik sebatang rokok dan menyulutkannya dengan maches.


"Katanya lo udah berhenti merokok Rom?" tanya Doni.


"Itu dulu, sekarang gue lagi pingin menenangkan pikiran, dan ngak tahu lagi harus bagaimana," sahut Romeo sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Emang kenapa?" tanya Doni.


"Gue di suruh nyantri selama enam bulan di pesantrennya pak Ramly, sebagai syarat di terimanya lamaran gue." tukasnya.


"Bahkan nyokap gue sampai bujuk gue dengan mengembalikan uang bulanan gue Don," ujarnya sambil menghembuskan asap rokoknya kembali.


"Trus lo mau?" tanya Doni.


"Ya ngak mau lah, belum jadi istri aja udah ngatur-ngatur gue."


Tari mendengar pernyataan dari Romeo, seketika wajahnya pun menjadi lebih ceria.


"Bearti gue masih ada harapan dong Rom?"


"Gue juga mau di jodohkan sama Heru, tapi gue ngak mau," ucap Tari lirih.


"Heru?" tanya Doni dan Romeo dengan kaget.


"Heru abangnya Aldi maksud lo?" tanya Doni.


Tari menggangguk pelan.


"Kok bisa?" Romeo.

__ADS_1


"Tante Rita yang punya rencana membuat perjodohan itu, gue hanya bisa pasrah, demi membayar hutang budi nyokap gue ke tante Rita."


"Tapi kenapa lo ngak mau Tar? Heru itu pria yang baik, pekerja keras dan orangnya ngak suka neko-neko," Doni.


"Tapi kan gue ngak cinta sama Heru, gue cintanya sama Romeo," ucap Tari sambil melirik Romeo.


Tapi yang di lirik muka biasa aja, datar seperti jalan raya bebas hambatan.


"Gue ngak sebanding sama Heru Tar, gue takut aja ngak bisa bahagiain loh," ucap Romeo lirih, ia pun menundukan kepalanya.


"Ngak apa kok Rom, gue bisa terima loh apa adanya, gue ngak punya syarat apa pun untuk menerima loh," ucap Tari sungguh-sungguh.


Pandangan Romeo kini tertuju pada Tari, ia melihat ketulusan di mata Tari.


"Ya udah, kalau gitu, nanti malam gue jemput lo untuk menemui orang tua gue, gue akan perkenalkan loh sebagai pacar gue," ucap Romeo.


Mendengar ucapan Romeo Tari begitu senang.


"Serius kamu Rom?" Tari.


"Serius lah," sahut Romeo.


"Alhamdullilah, sekarang gue cabut dulu deh ngak mau gangguin teman yang baru gajian," ucap Doni pergi meninggalkan mereka.


Romeo dan Tari jadi grogi, mereka hanya bisa saling melempar senyum.


***


Setelah tidur siang dengan cukup, Aira merasa tubuhnya kembali fit, ia langsung mempersiap kan dirinya menyambut kedatangan suaminya, apalagi Aldi telah berjanji untuk membawa nya jalan-jalan ke mall.


Sudah lama ia tak pernah menghirup udara segar di luar, meski semua sudah tersedia di rumah mewah itu, nyatanya Aira merasa hidupnya seperti burung dalam sangkar.


Terdengar bell berbunyi dari arah luar, Aira yang kebetulan berada di ruang tamu, langsung menuju pintu dan membukaan pintu, karna ini sudah waktunya Aldi pulang, Aira mengira jika yang datang adalah Aldi.


"Mas Heru, mas Aldi mana?" tanya Aira di depan pintu.


"Mas Aldi, sebentar lagi pulang, tadi di kantor bunda Rita meminta Aldi menemaninya, untuk membeli barang-barang seserahan."


" Barang-barang seserahan? siapa yang mau menikah?" tanya Aira lirih, ia mengira jika Rita akan menikah kan Aldi kembali.


"Tenang saja, bukan buat Aldi kok, tapi untuk mas Heru, Bunda Rita berencana melamar Tari untuk mas Heru," papar Heru yang mengambil posisi duduk di samping Aira.


Aira terlihat lega sekaligus heran,


"Mbak Tari? kok bisa?" Aira.


"Entahlah, padahal mas Heru baru bilang akan memikirkannya terlebih dahulu, tapi ia sudah mempersiapkan segalanya, ya mas Heru jadi ngak bisa nolak."


"Eh Aira mas punya sesuatu untuk Aira, ayo kita ke meja makan," ucap Heru sambil menarik tangan Aira lembut.


"Apaan mas?" tanya Aira penasaran.


Ayo ikut mas kemeja makan, ajak Heru sambil merangkul Aira menuju meja makan.


Heru membuka plastik bening yang ditentengnya, setelah di meja makan, ia pun membuka bungkusan plastik yang berisi rujak buah dengan bumbu kacang.


Aira menelan salivanya ketika melihat apa yang ada di meja makan, buah-buahan tersebut membuatnya menelan salivanya.


"Wah rujak, mas tahu saja, Aira pingin makan rujak, " ucapnya senang.


Aira langsung duduk di meja makan.


"Tentu saja, wanita yang sedang hamil pasti suka dengan rujak seperti ini," papar Heru sambil mengusap rambut Aira.


Tanpa basa-basi Aira langsung mencicipinya.


"Mas, sebenar nya Aira ngak hamil, ucap Aira sambil menyuap sepotong apel."


Ngak hamil? lalu kenapa Aira berbohong, membohongi mas Heru, papa dan mama?" tanya Heru dengan nada sedikit tinggi.


"Maaf mas, Aira terpaksa karna...," Aira menelan salivanya.


"Apa jadi kamu ngak hamil!" teriak Rita yang mendengar percakapan Aira dan Heru.


Entah sejak kapan Rita ada di sana.


Ia pun menghampiri Aira dan menarik rambutnya hingga kepala Aira harus mengikuti tarikan Rita.


"Ampun Ma," ucap Air sambil terisak.


"Bunda, sudah Bunda, kasihan Aira Bunda," mohon Heru.


"Kau berani berbohong demi mendapatkan putra ku?" tanya Rita dengan mata yang melotot hampir keluar, ia masih tak melepaskan cengraman nya dari Aira.


hik hiks ha, Aira menahan sakit.


Mendengar suara mamanya Aldi yang berada di garasi pun buru-buru menghampirinya.


Melihat Aira yang di cengram oleh sang mama, Aldi pun menepis tangan mamanya.


"Ada apa ini Ma?" tanya Aldi emosi.

__ADS_1


Sementara Aira menangis dan memeluk Mbok Jum yang baru tiba.


"Aldi, istri kamu ini berani berbohong, ia mengakui dirinya hamil, ternyata dia tak hamil, dasar pendusta," suara Rita menggema kemana-mana.


"Tidak ma, bukan Aira yang berbohong tapi Aldi, ini semua demi mendapat restu mama," papar Aldi.


Mata Rita semakin melotot mendengar ucapan Aldi tersebut,tiba-tiba ia merasa dadanya terasa sakit.


Rita memegang dadanya, dan seketika tumbang, untung ada Heru yang langsung menyambar tubuhnya.


Semua orang terlihat panik, apalagi Aldi.


"Ma, mama kenapa?" tanya Aldi yang terlihat panik, ia pun mendekat mencoba menyentuh tubuh Rita, tapi tangannya di tepis oleh Rita.


"Ja ja jangan sentuh mama Aldi, sebelum kau menceraikan istri mu itu, mama ngak akan menggapmu sebagai anak," ucapnya terbata-bata, Rita semakin kuat memegang dadanya, wajahnya pun memucat.


"Tapi ma, apa salah Aira?" tanya Aldi sambil menangis.


"Sampai mama mati pun, kamu ngak boleh kekuburan mama Aldi, sekarang kamu pilih mama atau dia," tunjuk Rita ke Aira dengan tangan genetar, bibir nya pun gemetar.


Mereka semua begitu syok dengan permintaan Rita, sungguh situasi yang sulit bagi Aldi untuk saat itu.


Sementara Aira ia sudah menangis, air mata terus membanjiri pipinya.


"Iya ma, nanti Aldi urus semua nya, tapi kita kerumah sakit dulu ma, Aldi ngak mau terjadi sesuatu pada Mama nantinya," ucapnya sambil menangis terisak.


"Tidak, mama tak kan kemana-mana sebelum kau mengusir perempuan itu dan menceraikanya sekarang juga," ucap Rita dengan bibir yang gemetar, ia pun menatap tajam ke arah Aira.


Semua mata tertuju pada Aira,Aira hanya memaku, Aldi sudah tak ada pilihan ia pun mendekati Aira.


Aira menatap lekat kearah Aldi, setiap langkah kaki Aldi seperti tusukan sembilu yang menacap tepat di jantungnya, seketika ia gemetar.


Semakin dekat dengan Aldi' tubuh Aira semakin beguncang' kini Aldi sudah berada di hadapanya, dan Aira tahu apa yang akan Aldi ucapkan padanya.


Kedua netra yang memerah dan basah oleh airmata tersebut, saling menatap sendu, bibir Aldi pun gemetar seperti bibir Aira yang juga bergetar.


"Maaf kan mas Aldi Aira, mas Aldi terpaksa, " ucapnya gugup.


Aira semakin gemetar, ia seperti kehilangan separuh nafasnya, dadanya terasa sesak.


"Kamu harus pergi dari sini Aira," ucap Aldi datar, ia mengalihkan pandanganya, karna tak sanggup menatap mata Aira.


Air mata membanjiri pipi Aira, meski terasa begitu sakit, ia coba mengumpulkan segenap kekuatanya untuk menerima kenyataan ini.


Setelah mengucapkan hal itu pada Aira, Aldi dan Heru membopong tubuh Rita menuju mobil yang sudah di persiapkan mang ujang.


Aldi berlalu tanpa sepatah kata pun meninggalkan Aira dengan hati yang hancur sehancurnya.


Tubuhnya yang lemah, kini bersandar pada tubuh renta si mbok.


Dengan penuh kasih sayang mbok mengusap punggung Aira sambil menasehatinya untuk tetap tenang dan sabar.


Setelah dirasa dirinya cukup kuat untuk melangkah, Aira pun melepaskan pelukanya terhadap simbok.


Aira melangkah pelan menapaki anak tangga satu persatu, hingga tiba di lantai atas kamarnya.


Masih dengan tubuh yang gemetar, ia pun memasukan beberapa lembar pakaianya kedalam koper.


Hatinya begitu sakit, ia seperti tercampak dari tempat yang tinggi dan hancur berkeping-keping saat menyentuh bumi.


Pakaian Aira sudah siap, ia pun meraih Teddy yang ada di atas tempat tidurnya, dan memeluknya.


"Maaf Teddy, kali ini aku tak bisa membawamu bersama ku, tetaplah kau disini untuk menemani tidur suami ku, karna sejak saat ini, aku tak bisa lagi menemaninya," ucapnya haru, ia pun memeluk Teddy dan menciumnya berkali-kali.


"Kali ini aku harus terbiasa hidup sendiri, tidur sendiri tanpa mu, aku juga harus bisa melindungi diriku sendiri, karna tak ada lagi tempat ku untuk berlindung," ucapnya sambil melepas kan Teddy.


Aira melangkah ke arah keluar , dan di sambut oleh tangisan simbok di depan pintu kamarnya.


"Non, mau kemana Non?" tanya Mbok Jum yang menangis terisyak.


"Aira harus pergi mbok, terima kasih ya mbok karna sudah menyayangi Aira seperti anak sendiri," ucapnya terbata-bata sambil memeluk mbok.


"Jangan pergi Non, mas Aldi terpaksa mengatakanya," bujuk simbok.


"Aira tahu mbok, tapi Aira juga tahu diri, Aira ngak mau terjadi sesuatu pada mama Rita, biar saja Aira yang pergi mbok, Aira sudah dewasa, Aira pasti bisa jaga diri sendiri mbok," ucap Aira sambil melepaskan pelukan mbok Jum.


"Tapi Non."


Aira tetap berlalu, ia sudah bertekat untuk tetap pergi dari rumah itu.


Please like, komen, votenya biar kisahnya makin seru .


🌷🌷🌷Warning🌷🌷🌷


Aha jangan skip info terbaru dari author nih, siapa yang suka, novel misteri dan trailer nih, nyesal kalau ngak mampir di sini nih, novel yg berjudul pulau kematian bisa menjadi referensi yg tepat untuk mu.


jangan ngak mampir ya guys,



__ADS_1


***


__ADS_2