Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Pemilik hati


__ADS_3

Seluruh keluarga Romeo berkumpul saat sarapan, begitupun pengantin baru Nadira dan Igun.


Nadira menarik kursi meja makan untuk suaminya, kemudian ia duduk di samping Igun.


"Ma, Romeo mana?" tanya Nadira.


Suci yang baru mengunyah beberapa potong roti itu pun tersedak.


"Iya ya, biasanya jam segini dia udah turun untuk sarapan," ucap Susi.


"Ya udah deh ma, biar Nadira susul kekamarnya saja."


Nadira pun beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Romeo.


Nadira tiba di depan pintu kamar Romeo.


"Rom, Rom, kamu sudah bangun?" tanya Nadira sambil mengetuk pintu, setelah beberapa kali mengulanginya, dan tak mendapat jawaban, Nadira langsung masuk ke dalam kamar Romeo.


Melihat kamar Romeo yang masih tertata rapi, Nadira yakin jika adik kesayanganya tersebut tak pulang semalam.


"Romeo kemana ya, tumben ngak pulang, biasanya dia ngak pernah mau nginap di rumah temanya," guman Nadira, ia pun keluar dan kembali menemui keluarganya di meja makan.


"Adik kamu sudah bagun kak?" tanya Suci pada Nadira.


"Romeo ngak ada di kamarnya ma," ucap Nadira sambil menarik kursi untuk ia duduki.


"Hah maksud kamu, dia ngak pulang?" tanya Suci syok.


Semua mata tertuju pada Suci saat itu.


"Kemana Romeo? sampai ngak pulang," tanya Suci khawatir.


Susi merogoh tas kerjanya dan mencari handphone, setelah mendapatkan handphone nya, ia pun mencari kontak Romeo dan menekan tombol hijau.


Suci mengulanginya beberapa kali, namun ia gagal menghubungi Romeo.


"Aduh Romeo kemana pak, nomornya ngak bisa di hubungi," ucap Suci dengan panik.


"Romeo kamu bikin mama khawatir saja," keluh Suci lagi


"Coba mama cek, tanya ke Doni siapa tahu dia nginap di rumah Doni," ucap Hadi kepada istrinya.


"Iya deh pah, semoga tak terjadi pada sesuatu apapun pada Romeo Pah."


Doni meraih kunci mobil di atas nakasnya, karna ujian pertengahan semesternya sudah selesai, rencana pagi hari ini, ia akan membantu Aira pindah.


Baru menuju garasi, Doni sudah mendapat panggilan masuk, ia pun merogoh tas pinggangnya, untuk meraih handphonenya dan menatap layar ponselnya


"Nyokapnya Romeo, kenapa nelpon sepagi ini?"


Doni mengangkat telpon tersebut.


"Hallo Assalamualaikum, Ma," sahut Doni.


"Wa'alaikum salam Don, Doni apa Romeo ada bersama kamu?" tanya Suci dengan nada tenang.


"Romeo? ngak ada Ma, memangnya kenapa?" tanya Doni heran.


"Romeo ngak pulang semalaman Don, mama ngak tahu keberadaanya di mana, nomornya ngak bisa di hubungi," terdengar kekhawatiran pada nada bicara Suci.


"Ngak pulang? iya Ma nanti Doni cari informasi tentang Romeo ma, jika Doni sudah mengetahui berita terbaru, Doni akan segera memberitahu mama," ucap Doni menenangkan Suci.


Setelah berbasa basi sedikit, mereka pun memutus sambungan telponya.


"Gue tahu di mana Romeo, pasti dia bersama Aira, benar-benar nekat Romeo," guman Doni, ia pun langsung menuju mobilnya.


***


Doni sudah sampai di depan rumah Aira, ia sendiri heran melihat beberapa orang berada di depan rumah Aira, terlihat ketegangan di wajah mereka.


Doni membuka pintu mobil dan menghampiri sekumpulan orang yang terlihat sedang ngobol.


"Permisi pak? ada apa di sini ya, kok rame?" tanya Doni dengan sopan.


"Kamu siapa?" tanya seorang lelaki kepada Doni.


"Oh, saya temanya Aira, suami Aira meminta saya untuk menjemput Aira," jawab Doni"


"Aira, Aira di sini, bukanya dia sudah menikah dengan pria kaya?" tanya lelaki tersebut pada Doni, mereka bicara berdua sementara ke empat pria lainya hanya menyimak.


"Ia pak, kemarin Aira menginap di Sini dan rencana, saya akan menjemputnya pagi ini," jawab Doni.


Mereka mengkerutkan dahi.


Karna Doni penasaran, ia pun kembali bertanya.

__ADS_1


"Maaf ya pak, ini ada apa ya?" tanya Doni.


"Semalam ada kasus percobaan pembunuhan yang di lakukan oleh tersangka yang bernama Tarman, setelah menelpon ambulan, tersangka pun menyerah kan diri ke kantor polisi, dan di sini saya di tugaskan untuk mensterill kan tempat ini, karna sudah ada penyidik di dalam." Polisi


Doni begitu syok mendengar penuturan pria tersebut yang ternyata adalah petugas polisi.


Lalu di mana Aira.


"Percobaan pembunuhan Pak, siapa pelakunya?" tanya Doni.


"Untuk sementara statusnya masih percobaan pembunuhan, mengingat korbanya saat ini dalam keadaan koma, tersangka sudah diamankan di kantor polisi, sambil menunggu penyelidikan dari bukti dan saksi."


"Jadi maksud bapak, Pak Tarman yang melakukan semua ini? lalu di mana putri pak Tarman yang bernama Aira?" tanya Doni lanjut.


"Kami tak mengetahui keberadaan gadis yang anda sebutkan, oh ya bisa minta ktp dan nomor telpon anda, siapa tahu keterangan anda di butuhkan untuk melengkapi BAP."


Doni menyerahkan KTP nya dan memberi nomornya pada pihak kepolisian.


"Terima kasih atas bantuanya," ucap petugas lainya sambil menyerahkan KTP milik Doni.


"Iya pak, jika ada berita terbaru tentang putri dari tersangka, tolong hubungi saya," ucap Doni.


"Baik pak, jika kami butuh keterangan dari anda, saya harap anda bersedia memberi keterangan untuk proses penyidikan selanjutnya," ucap polisi tersebut.


Doni hanya menggangguk.


Setelah berjabad tangan, Doni pun pergi dari rumah Aira.


Doni berhenti sebentar, sejenak ia tergaman melihat polisi yang hilir mudik di rumah Aira.


Kekhawatiran mulai melanda perasaan Doni, dimana kah Romeo dan Aira, gumanya.


"Apa mereka ada hubungannya dengan semua ini?" tanya Doni sambil menghela nafas panjang.


Doni kembali masuk ke dalam mobilnya, tapi ia tetap tak beranjak dari tempat itu.


"Apa yang harus gue lakukan?"


"Apakah Romeo membawa Aira lari, atau mereka hanya menghabiskan waktu bersama?"


" Dimana gue bisa mencari Aira dan Romeo?"


"Apa yang harus gue katakan pada Aldi dan orang tua Romeo?"


Doni menghempaskan nafas panjang, ia sendiri binggung apa yang harus ia lakukan saat ini.


Doni sekali lagi menatap kearah rumah Aira, lagi-lagi ia merasa khawatir terhadap Aira, pasti Aira ada hubunganya dengan semua ini, gumanya.


Sejenak Doni tak tahu apa yang harus ia lakukan, namun ia teringat dengan Tari.


"Apa mungkin Romeo bersama Tari ya?"


Doni langsung menghubungi Tari.


"Hallo Tar, ada Romeo ngak bersama loh?" tanya Doni.


"Ngak ada Don, kenapa?" tanya Tari.


Doni terdiam sejenak, "Romeo dan Aira menghilang Tar, gue ngak tahu, apa mereka pergi bersama atau hanya kebetulan saja, keduanya pergi di tempat terpisah."


"Apa Don? Romeo dan Aira menghilang? ucapnya lirih, saat itu bulir bening menetes perlahan di sudut netra Tari,


Hari masih terlalu pagi untuk menangis, tapi kenapa hatinya begitu terasa sakit, ia berharap pada seseorang yang akan memberikan cintanya yang tulus, namun wanita yang sama kembali merampas kebahagianya, belum sembuh luka lama, sudah menoreh luka yang baru, dan yang lebih pedih, Romeo lebih memilih membawa Aira lari, dari pada dirinya, hati Tari seketika hancur berkeping-keping.


"Kenapa harus Aira yang merampas kebahagian ku kembali," ucap Tari dengan lirih, ia pun mehempaskan tubuh hingga tengkurap di tempat tidur dan membenamkan wajahnya di bantal, ia berteriak-teriak di dalam bantal meredam suaranya, Tari berusaha meluapkan emosinya yang begitu menyesakan hatinya.


Tubuhnya bergetar, jantung bergemuruh, Tari memukukul bantal tersebut, berteriak sekencang-kencangnya, sehabis-habis suaranya. ia mengamuk sejadi jadinya, menjambak rambut dan mencakar-cakar kedua belah tangganya dengan kukunya sendiri, sambil berteriak sekuat kuatnya kembali, sedih, marah , kecewa dan putus asa, perasaan itu menggumpal menjadi satu dan menekan organ pernafasanya, hingga ia sulit untuk menarik nafasnya.


Setelah Amukan dan luapan emosinya mereda, Tari terpuruk sendiri dalam keadaan yang kacau, ia berada sendiri saat itu, tak ada yang mendengar keluh kesahnya.


Tari duduk meringkuk di atas lantai, lagi-lagi mimpi yang ia gantungkan dengan tinggi, kini harus ia tarik kembali dengan hati yang hancur, dua kali sudah ia merasa kecewa, dan kedua kekasihnya di rebut oleh wanita yang sama, "Apa kurangnya gue di banding Aira, wahai Romeo, Aldi, begitu tega kalian mempermainkan perasaanku, hanya demi seorang Aira," ucapnya prustasi, tak mampu menerima kenyataan, tubuh Tari Ambruk, ia pingsan tanpa ada seorang pun yang menyadari.


Doni semakin galau dan resah, ketika menatap layar handphonenya, sebuah panggilan masuk dari Aldi.


"Aldi? pasti ia menanyakan tentang Aira, gue harus jawab apa?" gumanya, ia ragu untuk menggangkat, karna ia sendiri belum punya jawaban untuk pertanyaan yang akan di tanyakan Aldi padanya.


Akhirnya ia membiarkan panggilan Aldi itu terhenti dengan sendirinya, baru beberapa detik panggilan Aldi menghilang dari layar ponselnya, kini Mama Romeo kembali menghubunginya, dan hal yang sama juga terjadi, ia juga belum punya jawaban untuk pertanyaan yang akan di layangkan kepadanya.


Silih berganti telpon tersebut saling sahut menyahut, Doni seperti terteror, ia bukan nya tak mau menggankatnya dan membuat mereka khawatir, ia tak juga tak mau berspekulasi, sebelum ia sendiri mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.


***


Aira dan Romeo berbelanja pakaian dan makanan untuk mereka berdua, Romeo mendatangi sebuah toko pakaian untuk membeli pakaian mereka berdua.


Melihat seorang pengunjung berwajah tampan, penjaga toko yang terdiri dari wanita itu, rebutan dalam melayani Romeo.

__ADS_1


"Biar aku saja yang melayaninya, aku kan senior, " kata seorang wanita pada kedua temanya.


Ia pun melayani Romeo, dan menanyakan kebutuhanya.


Romeo memilih bebera pakaian untuk ia dan Aira.


Setelah memilih pakaian luar, Romeo berencana membeli pakaian dalam untuk mereka berdua.


"Pakain dalam untuk siapa bang?" tanya penjaga tokoh.


"Untuk saya dan istri saya,"sahut Romeo.


Mereka pun menyodorkan dua jenis pakaian dalam untuk pria dan wanita, Romeo langsung memilih ukuran untuk nya, tapi untuk Aira dia binggung sendiri.


"Yang mana bang?" tanya penjaga toko karna melihat Romeo yang binggung memilih ukuran yang pas dengan Aira.


"Yang mana ya ukuran yang pas?" guman Romeo sambil mengaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Kira-kira aja bang, seperti apa ukuranya, masak punya istri sendiri ngak tahu," goda pelayan tersebut kepada Romeo.


Mereka tertawa terkekeh.


Romeo hanya tersenyum, senyumanya berhasil membuat ketiganya mabuk kepayang, mereka pun semakin jadi menggoda Romeo.


"Kalau ngak tahu, di bayangin aja bang seperti apa bentuk dan ukurannya, " canda mereka lagi, mereka juga gemes melihat wajah Romeo yang ganteng, cool, macho, tapi belanja pakaian dalam wanita.


Romeo mencoba membayangkan ukuran pakaian dalam Aira, sejenak ia mengira-gira, tapi malah otaknya yang berfantasi. tapi buru-buru dialihkannya," Ngak ah dosa," gumanya.


"Udah di bayang kan belum bang?" tanya mereka dengan maksud bercanda.


"Ngak bisa di bayangkan mbak, ntar mesum sendiri," sahut Romeo.


Akhirnya ia memilih segitiga dan bra untuk Aira.


"Aduh semoga saja pas dengan ukuran Aira," gumanya.


"Abisnya gue ngak tahu ukuranya, mau tanya langsung ngak enak, mau bawa Aira ke toko, keadaanya kayak gitu," guman Romeo.


Mereka tersenyum-senyum melihat gelagat lucu Romeo yang kebingunggan.


Setelah membayar belanjaanya, Romeo kembali ke dalam mobil.


Ia melihat Aira yang termenung sambil mengusap perutnya, tatapan matanya kosong, hanya ada bulir bening yang menetes di pipinya.


Romeo masuk kedalam mobilnya dan melaju menuju penginapan mereka, tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka, Sesekali Romeo mengusap lembut rambut Aira dan mencium punggung tangganya.


Setibanya di penginapan, Romeo membawa belanjaan mereka sambil menggandeng tangan Aira menuju kamar.


Aira duduk di atas tempat tidur dari busa, ia terus mengelus perut datarnya.


Setelah membereskan belanjan mereka Romeo menghampiri Aira.


"Kamu kenapa Aira?" tanya nya sambil memeluk Aira dari belakang.


Aira hanya diam, sambil tetap mengelus perutnya.


"Harus nya kamu bahagia sayang, karna sebentar lagi kita akan punya anak," ucap Romeo sambil membelai rambut panjang Aira yang tergerai.


kata-kata Romeo berhasil memancing reaksi Aira.


Aira menatap mata Romeo lekat, "Tapi ini anak mas Aldi bang, jangan beri Aira kebahagiaan yang semu lagi bang."


" Aira sudah tak sanggup untuk berharap, biar saja Aira hidup sendiri, dengan uang yang Aira punya, Aira bisa membesarkan sendiri anak Aira bang," ucapnya lirih air mata terus mengalir membasahi pipinya.


Romeo menghapus air mata tersebut.


"Aira jika Aira tak lagi kuat menjalani semua ini sendiri, biar kita jalani berdua, meski kita belum menikah, abang janji akan bertanggup jawab penuh terhadap kamu dan Anak itu, untuk sementara kita pergi ketempat yang jauh, untuk menenangkan diri, setelah Aira melahirikan' kita akan kembali dan menikah atas restu orang tua Aira."


Aira hanya diam tatapan matanya kosong.


"Aira pada awalnya abang berusaha merelakan pernikahan kamu dan Aldi, karna abang lihat, kamu juga sudah bahagia bersama Aldi, dan sekarang saat melihat kamu menderita, abang tak kan merelakan kamu untuk kembali pada Aldi, percayalah Aira saat kamu sedih' abang juga ikut sedih," ucapnya sambil memeluk Aira kembali.


"Tapi anak ini milik mas Aldi bang, Aira merasa bersalah jika harus menjauhkan anak ini dengan ayahnya," ucap Aira terbata bata dalam rangkulan Romeo.


"Tapi apakah Aldi tetap mau menerima kamu Aira, setelah berhari-hari kita bersama, kalau pun ia mau menerima kamu, abang hanya takut, kamu kembali tersakiti, percaya lah Aira, abang janji ngak akan menuntut apapun selama kita belum menikah, abang akan jaga cinta ini agar tetap suci," ucap Romeo sambil mengusap dan mencium perut Aira.


Aira semakin dilema, ia merasa tak hanya hati, tapi hidupnya juga di permainkan takdir, saat ia mengginginkan hidup bersama Romeo, ia malah harus menikah dengan Aldi, pada saat ia mengginginkan hidup bahagia bersama Aldi, justru Romeo yang datang memberi sandaran pada hatinya yang rapuh, Aira sendiri binggung siapa pemilik hatinya sesungguhnya, Aldi atau Romeo, atau akan datang cinta lain yang akan hadir tanpa terduga.


Bersambung dulu ya, gimana ya jika Aldi tahu, istrinya di bawa lari oleh sahabatnya sendiri, lalu apa yang terjadi pada Retno, dan hukuman apa yang menanti Aira, bagai mana dengan Tari, kalau kalian penasaran kelanjutanya, pastikan dukung Author dengan like, komen vote dan hadiah, dukungan kalian sangat bearti untuk menyemangati Author melanjut kan kisah ini selanjut nya.


Off jangan di skip, karna ada info penting buat mengisi waktu luang reader, nih mesti di masukan rak buku novel yang satu ini ya, pokeke novel yg author rekomen bagus2 semua.



__ADS_1


.


__ADS_2