Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Kamu?


__ADS_3

Alia sampai di rumahnya, ia langsung turun dari mobil Ghael.


Di ruang keluarga, Ayah dan Bundanya sudah menunggu kehadirannya saat itu.


"Alia!" seru Aira.


Namun Alia tak menggubris panggilan tersebut, ia berlari kecil menuju anak tangga masih dengan sisa isak tangisannya.


Aira membiarkan saja Alia berlalu dari nya begitu saja.


Ghael pun masuk kedalam rumah menghampiri kedua orang tua Alia.


"Bang, Alia kenapa?"tanya Aira


"Tadi Alia bertemu Bagas, Bunda," jawab Ghael dengan wajah yang murung.


Aira mendekat kearah Ghael.


"Bang, Abang harus sabar ya dalam menghadapi Alia," ucap Aira sambil menepuk pundak Ghael.


"Iya Bunda." Ghael.


Aira mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sepasang cincin.


"Bang, bagaimana kalau tunangannya pakai cincin ini saja," ucap Aira sambil menyodorkan sepasang cincin yang pernah mereka gunakan untuk bertunangan.


"Ini cincin siapa Bunda?" tanya Ghael seraya meraih cincin tersebut.


"Ini cincin tunangan ayah dan bunda Bang, meski kami terpisah selama beberapa tahun, tapi karna cinta dan kesetian kami berdua, sejauh apa pun terpisah, kami akhirnya tetap bisa bersama." Aira.


"Begitupun yang Bunda pinta sama kamu Bang, jadikan Alia satu-satunya pendamping hidup kamu, karna bunda ngak akan rela melihat putri Bunda menderita."


"Iya Bunda, In Sya Allah saya akan menjaga Alia, apa pun yang terjadi saya tak akan meninggalkannya," ucap Ghael bersungguh-sungguh.


"Iya Bang karna Bunda sendiri merasakan sulitnya mempertahan kan rumah tangga ketika kita menikah di usia muda, berbagai godaan dan cobaan selalu datang menghampiri serta menggoyahkan rumah tangga kita, apalagi Alia belum terbiasa dengan hubungan kalian, Bunda minta pengertian dan kesabaran Abang, Bunda pun pelan-pelan akan menasehati Alia," papar Aira.


Aldi menyimak obrolan keduanya, tanpa banyak komentar, ia pun mengulum senyumnya.


"Jangan seperti Ayah ya Bang, kalau ngambil keputusan suka berdasarkan emosi, dan pada akhirnya selalu menyesal." Aldi.


Ghael mengangguk seraya tersenyum.


***


Sesampainya di kamar, Alia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur ia pun kembali menangis sendiri di ruang sepi kamarnya.


Makan malam di rumah itu terasa sepi, Alia belum juga mau turun dari kamarnya, meski di gedor beberapa kali, ia tetap tak mau membukakan pintu.


Makan malam yang sepi Aldi dan Aira pun tak berselera makan.


"Yah, Bunda kasihan sama Kakak," ucap Aira dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Biarin sajalah Bun, orang yang sedang putus cinta bukannya memang seperti itu, suatu saat dia pasti akan mengerti jika kita melakukan semua ini karna kita menyayanginya," ucap Aldi.


Aira pun menggangguk, memahami maksud suaminya, mereka pun melanjutkan makan malam meski mereka kehilangan selera.


***


Bagas berada di dalam kamarnya sedang termangu sendiri menatap dengan hampa, tatapan matanya kosong karna terasa ada yang hilang pada dirinya saat itu, ia pun tersadar kemudian meraihnya hand phonenya dan mencari kontak Alia.


Aku bisa gila jika tak mendengar suaranya.


Bagas pun menyentuh tombol hijau pada smartphones-nya untuk melakukan panggilan.

__ADS_1


Alia masih berada pada posisi tengkurap di atas tempat tidurnya, matanya terpejam karna lelah menamgis namun pikirannya saat itu tak sedang tak karuan.


Pernah terbesit di pikirannya untuk melarikan diri dan kabur bersama Bagas, namun lagi-lagi ia urungkan.


Alia pun terlentang seraya menatap langit, air mata pilu perlahan kembali menetes di pipinya.


"Hiks hiks hiks, Kenapa aku bisa terpikirkan hal itu," ucap Alia seraya menyapu air matanya.


Alia pun bangikt karna mendengar suara telponnya yang berbunyi.


Dengan malas ia meraih tasnya dan meraih handphone tersebut.


"Bagas," ucapnya lirih, ia pun menghapus air matanya.


"Hallo Gas,"ucap Alia ketika telpon tersambung.


"Hallo Alia."


Sejenak mereka hening, yang terdengar hanya sisa dari isak tangis keduanyanya.


"Alia." Bagas menelan salivanya setelah menyebut nama itu.


"Kenapa Gas?"tanya Alia lirih.


"Aku kangen sama kamu Alia, aku ngak sanggup hidup tanpa kamu," ucap Bagas dengan bibir yang gemetar, ia pun kembali menangis.


Hiks hiks hiks


Tubuh Bagas terguncang, hening beberapa saat begitu pun Alia air mata yang perlahan kering kini menetes kembali.


"Aku mohon jangan katakan itu lagi Gas, aku tak sanggup mendengarnya lagi," Alia.


"Tapi Alia, itu kenyataannya Alia! aku akan tetap berusaha merebut kamu dari Ghael, bagaimana pun caranya," ucap Bagas dengan yakin.


Kini giliran tubuh Alia yang terguncang.


" Kenapa kamu mudah sekali menyerah Alia, ayolah Alia beri aku sedikit waktu, aku ngak akan menyerah begitu saja, lihat saja nanti akan ku buktikan kepada kedua orang tua mu jika aku juga pantas untuk mu!" ucap Bagas.


Alia menarik napas panjang mendengar penuturan Bagas.


"Bagas, Bukan karna harta atau tahta yang membuat orang tuaku tak bisa menerima mu, tapi ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa menjodohkan aku dengan Ghael."


Alia berbohong agar Bagas tak tersinggung, tak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya tentang ayah Bagas yang ia ketahui, tentunya akan berdampak negatif terhadap Bagas.


"Lalu apa Alia?" Bagas.


***


Matahari bersinar cerah pagi ini.


Hari yang bahagia bagi Nina dan keluarga, karna hari seluruh anggota keluarganya lengkap sarapan bersama, termasuk sang suami tercinta yang juga hadir di sana.


Bagas keluar dari kamarnya dengan stelan kemeja, jas dan dasi, yang membuatnya terlihat semakin ganteng.


"Uih, lihat nih CEO baru kita, guanteng banget kamu Gas !" ucap Edo seraya tersenyum ke arah Bagas.


Bagas masih memasang wajah datarnya menarik kursi pada meja makan.


"Kamu ganteng sekali Gas, ibu sampai pangling," ucap Nina seraya menyodorkan susu ke Bagas.


Bagas tersenyum kecut.


"Gitu dong Gas, kalau seperti ini cewek mana yang bisa nolak cinta kamu?" ucap Edo seraya menepuk pundak Bagas.

__ADS_1


"Aku ngak yakin Yah, bisa memimpin perusahaan itu, aku ngak ngerti apa-apa dengan dunia kontraktor seperti itu, apalagi aku cuma lulusan SMA." Bagas tertunduk


"Gas, selama kamu mau belajar dan berusaha, Ayah yakin kamu pasti bisa, kamu akan di bantu oleh asisten ayah yang berpengalaman, dan awal tahun nanti sebuah tender besar menunggu kita, kamu tahu biasanya perusahaan kita bermitra dengan perusahaan ayahnya Alia sebagai penyedia alat dan bahan bangunannya, jadi ini kesempatan buat kamu untuk buktikan kepada mereka jika kamu patut di perhitungkan." Edo.


"Benar Nak, kamu harus semangat mengejar masa depan kamu yang cerah." Nina.


Bagas menunduk sesaat terdiam.


"Ya sudah Gas, habisi sarapan kamu, sebentar lagi kita akan rapat."Edo


Setelah menyelesaikan sarapannya, Keduanya beranjak dan menuju perusahaan mereka.


Bagas dan Edo sampai di kantor perusahaannya, perusahaan tersebut sebernarnya milik mendiang Retno, karna itu Edo menyerahkan seluruh saham dan aset dari perusahaan tersebut kepada Bagas.


Sementara ia juga sudah sibuk dengan karir politiknya.


Keduanya sampai di sebuh bangunan berlantai lima tersebut, perusahaan Edo termasuk perusahaan kontraktor besar, maklum saja jabatannya sebagai orang penting bisa merebut tender dengan mudah, perusahaan tersebut bahkan di percaya membangun infastruktur pemerintah maupun swasta bersekala menengah ke atas.


Edo membawa Bagas ke ruang rapat para staf dan direksi, di sana ia memperkenalkan Bagas sebagai CEO dari perusahahaan Nusantara Kontraktor.


Semua peserta rapat hadir di ruangan tertutup tersebut, setelah memberi kata sambutan Edo pun meperkenakan Bagas sebagai CEO mereka.


" Satu lagi hal yang ingin saya sampai kan kepada Anda,saya menyerahkan kepemimpinan perusahaan ini kepada CEO baru perusahaan ini, saya perkenalkan Mahardika Bagaskara." Edo.


Bagas pun berdiri.


"Saya harap anda bisa bekerja sama dengannya mulai saat ini." Edo.


Mereka pun menggangguk, seraya memberikan tepuk tangan dan ucapan selamat kepada Bagas satu persatu.


Setelah dari ruang rapat, Edo bermaksud menunjukan ruang kerja Bagas di dampingi pak Yanto.


Mereka pun berjalan melewati koridor dengan berbincang.


"Karna kamu masih awam dengan pekerjaan ini, kamu nanti akan di bantu oleh asisten senior Ayah yang terpecaya, yang bernama pak Yanto, dan seorang sekertaris pribadi, kamu bisa tanyakan hal yang tak kamu mengerti dengan pak Yanto, atau jika kamu ragu, kamu bisa konsultasi kan kepada ayah langsung Gas." Edo.


Bagas menyimak secara serius penuturan Edo tersebut.


"Kamu ngertikan Gas?"tanya Edo.


"Ngerti Yah, jawab Bagas.


"Nah kita sudah sampai di ruangan kamu,"


Mereka pun masuk, seorang wanita cantik sedang merapikan dan membersihkan meja yang akan di gunakan oleh CEO baru tersebut sebagai tahtanya.


Bagas membulatkan matanya melihat gadis tersebut, begitu pun sebaliknya gadis itu.


"Nah Gas ini sekertaris kamu, perkenalkan_" Kalimat Edo terputus langsung di sambar Bagas.


"Kamu?" Bagas.


Bersambung ya readee


Aduh siapa ya itu ? ada yang bisa nebak ngak ya, Bagas bertemu siapa he he


Berikan dukungan saran dan komentarnya ya.


Yuk bagi kamu yg suka ngebuci dan di bucini, ngak salah mampir ke salah satu novel adek otor berikut ini



__ADS_1


__ADS_2