Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Memori Indah


__ADS_3

setelah dua bulan, keadaan Rita tetap sama.


Mereka berupaya mencari jalan bagaimana caranya agar Rita bisa sembuh dari gangguan jiwanya.


Keluarga besar Aldi datang untuk mengunjungi Rita, Satria membawa istri, tiga anaknya, dan dua menantunya.


Mereka menunggu dan melihat dari luar tralis besi.


Satria menghampiri Rita yang sedang duduk mengayun bonekanya.


"Aldi bobo, oh Aldi bobo kalau tidak bobo di gigit nyamuk, "Rita bernyanyi seolah sedang menidurkan Aldi.


"Rita," sapa Satria.


Rita menoleh kearah Satria," Eh bapak mertua ! kenapa kau datang kemari! kau yang menyuruh suami ku menikah lagi kan?!" tanya Rita sambil mencekak pinggangnya.


"Rita, dengar dulu, ini aku Satria, " ucap nya seraya menunjukan cincin pernikahan mereka.


Rita tergaman melihat cincin tersebut, ia menilik pada cincin yang terukir inisial dari nama mereka berdua yaitu SR.


"Mas Satria?" ucap Rita lirih,ia pun memandang lekat wajah Satria.


"Iya Rita, ini aku, Satria mu," ucap Satria, ia pun mendudukan Rita di atas bangku.


Rita terus menilik dan mengusap cincin tersebut, matanya pun berembun.


"Mas Satria, kau kah itu?"tanya nya lagi.


"Iya Rita ini aku, kau ingat cincin ini?"tanya Satria.


Rita menggangguk, Satria tersenyum karna sepertinya rencananya berhasil.


"Kau Satria?"tanya Rita ragu.


"Iya Rita, kau tak mengenali ku?"


"Kau ingat,ini ?" tanya Satria menyodorkan gaun pengantin yang ia kenakan hampir 30 tahun yang lalu.


Rita tersenyum sumringah, ia meraba gaun tersebut dengan bulir menetes pada pipinya.


"Kau mau memakainya lagi?"tanya Satria.


"Iya," jawab Rita lirih sambil mengganguk.


Karna tubuh Rita tak berubah, malah semakin kurus gaun itu pun dengan mudah di kenakan Satria padanya.


Satria mengenakan pakaian tersebut langsung ke tubuh Rita, setelah selesai, Rita terlihat bahagia, ia pun memutar-mutar tubuhnya.

__ADS_1


Satria berjongkok menarik jemari keriput Rita.


"Rita mau kah kau menikah dengan ku?" ucap Satria yang kembali mengulang kenangan mereka.


Rita seketika menangis, ia terbawa emosi.


"Iya mas Satria aku mau menikah dengan mu," sahutnya langsung.


Satria berdiri, ia pun memeluk Rita.


"Aku mencintai mu mas Satria," ucap Rita, ia terbawa pada kenangan memory lamanya.


"Aku juga mencintaimu Rita,"ucap Satria dengan bulir bening menetes di pipinya, Satria juga ingat saat-saat itu.


Saat ia menyatakan cintanya pada Rita.


"Mas Satria berjanjilah kau tak akan pernah membagi cinta ku," ucap Rita, yang semakin memeluk erat Satria.


Satria tersedu, ia tergaman tak mampu mengucapkan kata tersebut.


"Berjanjilah mas," ucap Rita kembali.


"Iya aku berjanji Rita," sahut Satria terpaksa.


Rita menyandarkan kepalanya pada dada bidang Satria.


Rita memejamkan matanya menikmati sesuatu yang slalu ia rindukan, belaian hangat dan dekapan mesra dari lelaki yang selalu ada di hatinya.


"Mas Satria, maukan berdansa dengan ku?" tanya Rita lirih dengan mata yang memerah.


"Iya Rita, ayo kita berdansa sama seperti malam pertama pernikahan kita," ucap Satria.


Rita menginjak kedua kaki Satria sementara tanganya memeluk Satria dengan erat, Rita menyandarkan kepalanya seraya menutup matanya, menikmati memory indah yang pernah terjadi di hidupnya.


Cinta memang membuat orang waras menjadi gila, juga bisa mengubah orang gila menjadi waras.


Cinta juga bisa mengubah orang buta bisa melihat, sementara orang yang bisa melihat bisa seperti buta hanya karna cinta.


Satria bergerak layaknya orang yang sedang melakukan dansa, ia sendiri tak tahu bagaimana akhir dari kisah ini.


Satria hanya mengikuti kemana arahnyanya nanti, apa yang dilakukan Satria, semua usul dari Maya, karna Maya merasa jika dirinya turut andil dalam masalah yang menimpa Rita.


Mereka semua terharu melihat kejadian tersebut, dimana Rita yang biasanya bersikaf agresif kini malah bersikaf tenang.


Maya tak mampu membendung perasaannya, perasaan berselimut dengan cemburu mulai menghampirinya.


"Heru kita pulang," ajak Maya kepada Heru.

__ADS_1


Mereka pun pergi dari tempat tersebut.


Sementara juga terharu melihat pemandangan tersebut, Tari menyandarkan kepalanya pada dada Romeo.


"Loh lihatkan Rom, betapa tante Rita mencintai Papa, hingga setiap saat ia selalu memanggil dan menyebut namanya, ujar Tari sambil menghapus titik air mata di pipinya.


"Iya Tar, kadar cinta setiap orang tidak lah sama," sahut Romeo.


"Kamu tahu Rom, aku pasti akan seperti tante Rita yang menjadi gila jika saja aku kehilanggan kamu," ucap Tari lirih, sambil menahan tangis haru nya.


"Ehm Tar, kamu wanita kuat ,jangan seperti itu, "sahut Romeo.


"Iya Rom, wanita kuat juga punya kelemahan, dan kelemahan aku adalah kamu, tapi kau adalah kelemahan sekaligus kekuatan bagi ku," ucap Tari seraya merentangkan lenganya melingkar di perut Romeo.


"Aku ngak berdaya Rom, jika kamu pergi meninggalkan aku," ucap Tari sedih.


Romeo merangkul Tari, "Aku ngak akan pernah meninggalkan kamu Tar, apalagi saat ini, kau sudah mengandung anak ku," sahut Romeo seraya mencium pucuk kepala Tari.


"Kau janji kan Rom?"


"Iya aku janji," ucap Romeo.


Aldi duduk bersimpuh di atas lantai, ia begitu haru menyaksikan kedua orang tuanya bersama, sejak dulu ia memang menginginkan keluarga yang utuh di mana keduanya berada satu atap untuk menaunginya serta memberi cinta dan kasih sayang mereka kepadanya.


Melihat kebahagian orang tuanya, Aldi beranjak hendak mendekati keduanya, tapi di tahan oleh Aira.


"Jangan mas, biarkan saja mama menikmati waktu kebersamaan mereka, " cegah Aira.


Aldi menggangguk, Aira memeluk Aldi dari belakang,"Semoga rumah tangga kita tetap utuh Mas, sampai akhir hayat, " ucap Aira seraya menyandarkan kepalanya pada pundak Aldi.


Aldi menarik tangan Aira, dan melingkarkan pada pinggannya." cukuplah kita belajar dari pengalaman orang tua kita Aira,"


Di sisi yang lainnya, Di dalam mobil.


Maya berkali-kali menghapus titik air matanya, "Ma, mama tidak apa-apa?"tanya Heru yang melirik ke ibundanya.


"Ngak apa-apa Nak, mama hanya merasa bersalah, memisahkan seorang wanita dengan suami yang begitu ia cintai," sahut Maya.


"Ma, ini semua bukan salah Mama, jika saja bunda Rita tidak bertindak berlebihan, pasti papa tak kan menceraikannya."


"Heru bukan orang yang bijak Ma, tapi Heru yakin, setiap orang akan mendapat karma dan balasan dari perbuatanya, baik itu perbuatan baik, maupun perbuatan buruk, kita juga tak bisa menyalahkan Takdir, semua kini tinggal kita yang menyikapinya," ucap Heru.


"Iya sayang, jika saja Rita sembuh, mama rela jika harus berbagi cinta kepadanya, bahkan jika ia meminta mama untuk meninggalkan papa kamu, mama akan lakukan, semua untuk menebus rasa bersalah Mama terhadap mbak Rita." Maya.


"Ma, jika seperti itu sama saja menutupi luka yang satu, dengan menyayat luka yang baru, jalani saja apa yang ada, kita tinggal bersyukur atas apa yang sudah kita usahakan, bukanya kebahagian mama semakin bertambah, punya putra dan putri, punya menantu dan sebentar lagi akan punya cucuk, kita keluarga yang bahagia Ma, jadi jangan rusak semuanya," ucap Heru.


Maya tersenyum, "Kamu memang pintar Heru, mama bangga punya anak seperti kamu, " ucap Maya seraya mencium pucuk kepala Heru.

__ADS_1


Di tunggu like komen dan hadiah votenya juga boleh.


__ADS_2