Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Perjodohan Mendadak


__ADS_3

Ghael membuka pintu kamar mereka.


Ternyata MUA dan penata rambut mereka datang untuk mengrias mereka kembali.


"Gimana Say istirahatnya?"tanya MUA tersebut dengan gaya lemot mereka.


Ghael sebenarnya tak setuju jika istrinya di rias dengan wanita jadi-jadian tersebut,namun karna terlanjur ia hanya bisa pasrah.


"Ayo say, kita mulai saja riasanya, eke sudah ngak sabar merias wajahmu yang cantik putih dan mulus tersebut."


Alia bangkit dari duduknya kemudian menuju meja rias.


Sementara Ghael hanya memperhatikan MUA tersebut menoles wajah istrinya yang membuat Alia semakin cantik.


Rasanya ia semakin tak sabar untuk memiliki Alia sepenuhnya.


***


Alita mengobrak abrik lemari pakaiannya, ia ingin berpenampilan yang terbaik hari ini.


Waktu menunjukan pukul satu dan satu jam lagi dirinya akan di jemput oleh Bagas.


Setelah memilah milih akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada mini dress berwarna biru tua dengan leher rendah paduan dari kain satin dan brokat membuatnya tampak semakin cantik.


Setelah beberapa kali memutar tubuhnya di depan cermin dan merasa sudah yakin penampilannya kini tinggal mencocokannya dengan sepatu.


Alita memilih high heel berwarna hitam dengan heel mencapai sepuluh centi, agar cukup membuatnya lebih tinggi dan lebih serasi ketika jalan bersama Bagas kelak.


Tut..tut..


Terdengar suara klakson mobil, ia pun mengintip dari jendela kamarnya dan melihat mobil Bagas yang terpakir di halaman rumahnya.


Rumah tersebut sepi, hanya ada seorang asisten rumah tangga, maklum saja Doni memang tak setajir dua sahabatnya tersebut.


Penghasilannya hanya dari beberapa cabang bengkel mobilnya.


Alita turun dengan segera, ia pun berlari kecil membuka pintu.


Kreak daun pintu terbuka perlahan.


Keduanya pun saling bertentang mata sejenak mereka sama-sama terpana melihat sosok yang ada di hadapannya.


*Waw Bagas guanteng banget ya hari ini.


Ehm Thalitha beda banget hari ini terlihat lebih cantik dari biasanya*.


Keduanya saling memuji di dalam batin mereka.


Ehm masuk dulu pak, ajak Alita berbasa-basi untuk mencairkan suasana mereka yang terasa kaku.


"Ngak usah kita langsung saja,"ucap Bagas.


Bagas terlihat tampan dengan kemeja biru tua dan blazer hitamnya.


Tanpa di duga pakaian mereka justru terlihat seperti couple dengan dua warna yang hampir sama yakni biru tua dan hitam.


"Ehm ya sudah kalau begitu," ucap Alita seraya masuk kedalam rumahnya untuk beberapa saat, guna memakai sepatu dan mengambil tas kremesnya.


Keduanya pun masuk menuju mobil.


Sepanjang perjalan mereka masih terlihat sungkan tak ada obrolan apa lagi candaan.

__ADS_1


Mereka terlihat seperti orang asing, meski sebenarnya mereka hampir setiap hari bertemu.


Bagas menatap fokus jalan raya yang di lewatinya, jantungnya berdegup kencang ketika semakin mendekati tempat resepsi.


Bagas menoleh kanan kiri untuk menggurangi perasaan nervousnya, saking gugupnya ia sampai tak memperhatikan seseorang yang selalu mencuri pandang kearahnya.


Bagas memang terlihat mempesona meski lelaki tersebut sangat jarang tersenyum, mungkin karna sifat diam dan wajahnya yang cool, lagi pula Bagas bukan type pria genit yang suka cari kesempatan.


Mobil mereka perlahan masuk ke dalam kawasan komplek, dari ujung komplek saja terlihat kendaraan yang hilir mudik terparkir di jalan raya.


Dan beberapa mobil terparkir di bahu jalan, untung saja rumah Aldi tak seberapa jauh dari ujung komplek.


Bagas menepikan mobil mereka di bahu jalan.


"Kita turun di sini saja Lit,"parkiran depan penuh, " ucap Bagas ia pun mematikan dan memarkirkan mobil mereka di bahu jalan.


Alita turun dengan hati-hati karna heel yang ia gunakan.


Setelah keluar dari mobil, Bagas mengunci mobinya secara otomatis.


Alita berjalan menghampiri Bagas dengan hati-hati namun karna permukaan jalan yang tak rata akhirnya ia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.


Untung saja Bagas cepat menyambar tubuhnya dengan melingkarkan tangan pada pinggang Alia, Alia tanpa sengaja memeluk Bagas yang merangkul pinggangnya, seketika kedua netra tersebut beradu untuk beberapa saat , hingga getaran halus terasa menjalar ke sekujur tubuh mereka.


Beberapa detik berlalu setelah keduanya terpaku kemudian tersadar setelah bunyi klakson mobil membuyarkan lamunan mereka.


Tutt..


Keduanya jadi semakin salah tingkah, mereka pun menepi membiarkan mobil lain untuk lewat.


Bagas membenahi blazernya begitu pun Alita yang merapi kan rambutnya yang tergerai indah bergelombang.


Alita heran bagaimana Bagas dan Alia bisa nyambung saat mereka ngobrol, sementara dirinya merasa jika Bagas bukanlah orang romantis seperti yang di ceritakan oleh Alia.


Keduanya berjalan beriringan tapi tak bergandeng tangan.


Bagas masih dengan langkah tegapnya sementara Alia dengan lenggak lenggokannya.


Keduanya sampai di depan gerbang yang terbuat dari ayamanan daun kelapa.


Dekorasi pesta yang sangat mewah dan memanjakan mata, papan ucapan selamat menempuh hidup baru pun berderet memenuhi sepanjang jalan yang mereka lalui.


Yang paling mengejutkan keduanya adalah penyambut tamu undangan tersebut adalah kedua orang tuanya yakni Doni dan Dasti, yakni dari pihak Romeo sementara dari pihak Aldi pak gubernur Edo dengan suka rela menyambut para tamu undangan.


Siapa yang tak bangga bisa berjabatan tangan langsung dengan orang nomor satu yang memimpin propinsi mereka.


"Hah, Mama dan Papa jadi penyambut tamu?"langkah Alita seketika tercekak beberapa langkah sebelum masuk.


Begitupun dengan Bagas yang tak menyangka jika akan bertemu Edo di sini.


"Thalita kamu kenapa?"tanya Bagas yang melihat Alia terdiam beberapa saat.


"Itu pak Mama dan Papa saya jadi penyambut tamu," ucap Alita sambil menunjuk Doni dan Dasti yang tengah sibuk menyalami para tamu.


"Oh itu orang tua kamu, emang kenapa? kamu ngak boleh ya, pergi undangan dengan seoarang pria?"tanya Bagas.


"Ehm, ngak tahu pak, tapi nanti mereka pasti mereka mengintrogasi saya," ucap Alita.


"Ya sudah bilang aku bos kamu, bereskan." Bagas.


"Tuh kamu lihat sebelah kanan," tunjuk Bagas kearah Edo.

__ADS_1


Alita lebih syok, "Apa pak Edo ada di sini?"tanya Alita syok.


"Ehm bukan hanya ayahku tapi pak Yanto juga ada tuh yang lagi ngobrol dengan beliau."


"Aduh sepertinya bakalan jadi gosip murahan di kantor nih," guman Alia.


"Ah sudalah ngak perduli, ayo masuk,"ucap Bagas sambil menyiku lengan dan bahunya agar Alita menggandeng tangannya.


Alita pun secara suka rela menggandeng tangan Bagas kemudian keduanya melangkah menuju pintu masuk.


Dari jarak yang tak begitu jauh Doni dan Dasti tersenyum melihat kedatangan Alita yang menghampiri keduanya.


"Ma lihat tuh, sepertinya Alita bawa pacarnya," bisik Doni pada Dasti.


"Ehm iya Pa, biarin saja bearti Alita sudah move-on lagi pula Mama yakin Alita itu gadis yang baik pasti dia juga pilih pria yang baik untuk jadi pendampingnya," ucap Dasti.


Tibalah Alita dan Bagas mereka pun menghampiri Doni dan Dasti.


"Ma, Pa, mumpung bertemu di sini kenalin ini Pak Bagas seorang CEO di kantor Alita bekerja," ucap Alita.


Bagas pun tersenyum sembari menyorkan tangannya" Saya Bagas Pak, Bu."


"Ehm jadi anda atasan Alita?"tanya Dasti senang.


Bagas tersenyum dan menggangguk.


"Ehm kalau gitu kami berdua masuk dulu Ma-pa,"ucap Alita.


"Iya Nak,"jawab Dasti.


Keduanya pun pergi meninggalkan Doni dan Dasti.


Dasti tersenyum senang matanya mengekori kearah Alita yang berlalu.


"Ehm Pa, sepertinya calon mantu kita seorang CEO, Ehm bangganya punya menantu CEO," guman Dasti kepada Doni.


"Ehm jangan berharap terlalu jauh Ma, takutnya dia hanya mempermaikan putri kita saja," guman Doni.


Edo mendengar ucapan kedua orang tua tersebut, karna saat itu keadaan sedang sepi, musik pengiring pesta pun berhenti sejenak.


"Ia menghampiri Doni dan Dasti, Maaf pak Bu itu putri anda?"tanya Edo.


"Ehm iya pak gubernur, jawab Dasti.


"Oh kalau begitu anda calon besan saya,"ucap Edo dengan percaya diri.


Ha!keduanya melongo mendengar ucapan Edo.


"Maksudnya pak?"tanya Doni.


"Bagas itu putra saya Pak-Bu, dan saya rasa keduanya sudah sama-sama cocok, bagaimana jika lain kali kita bertemu untuk membicangkan hubungan putra putri kita?"tanya Edo.


"Ehm iya Pak Boleh,"sambut Dasti bahagia.


Ehm senangnya hati ku, sudah dapat menantu seorang CEO eh anak gubernur pula, nasib kamu memang beruntung Alita, ngak jadi menikah dengan Ghael pun kamu bisa dapat yang lebih baik.


Bersambung, hai reader kesayangan otor gima kalau Alita dan Bagas kita seret ke penghulu juga setuju ngak nih!!! tapi harus pakai trik khusus jadi jangan di leaf dulu ya


Gimana nanggung gak episode nya ?kalau naggung otor up lagi nih spesial tapi ngak pakai telor he he tampol dulu dong he he seiklasnya saja.


Alita merasa jengah ketika

__ADS_1


__ADS_2