Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Siapa Gadis ini


__ADS_3

Bagas masuk ke dalam ruang kantor Ayahnya, sekarang Edo menjabat sebagai gubernur di sebuah propinsi karir politiknya begitu bagus dan cermerlang, tak heran setelah sepuluh tahun menjabat sebagai bupati, Edo meneruskan ke pemimpinannya dan kembali terpilih.


Tanpa mengucap salam atau pun permisi Bagas langsung menyelonong duduk di kursi singgle tepat di depan meja kerja ayahnya.


Edo menaikan satu alis melihat ke arah Bagas.


"Minta duit Yah," ucap Bagas sambil menadahkan tangan, dengan kaki terangkat dan tumit menyentuh lulut.


"Kamu pikir Ayahmu ini pencetak duit?!" tanya Edo dengan nada datarnya.


Bagas merasa kesal dengan ucapannayahnya tersebut.


Plak! meja ditepak Bagas dengan kencang.


Edo tak kaget, karna ia tahu bagaimana perangai bagas, ia menatap ke arah Bagas.


"Kenapa sih, kalau aku yang minta Ayah selalu banyak cerita, ngak ada duitlah, apalah, apa karna aku bukan anak kandung Ayah?!" tanya Bagas.


"Bagas! kamu sadar, kamu sedang bicara dengan siapa saat ini? apa kamu tak bisa bersikaf sopan sedikit! bentak Edo.


Bagas menyeritkan dahi, menatap tajam ke arah Edo.


"Maaf Pak Gubernur, aku lupa jika kau orang yang terhormat," sahutnya ketus.


Ada rasa iba di hati Edo melihat adik sekaligus anak sambungnya tersebut.


Edo perlahan mencair, " Kamu butuh uang untuk apa? dan berapa nilainya?" tanya Edo dengan nada yang melemah.


"Lima juta Yah, untuk ngumpul sama teman-teman, malam ini kita ada even, aku malu jika tak bawa uang yang banyak," sahut Edo memberi alasan.


Mendengar jawaban yang tak logis, Edo menarik napas panjang kemudian menghempaskannya.


"Bagas, itulah sebabnya Ayah ngak suka memberi kamu uang, kamu suka hura-hura, dengan memberi kamu uang yang banyak dan membebaskan kamu, sama saja Ayah merusak masa depan kamu, jika seperti itu kamu bisa terjebak kenakalan remaja," papar Edo.


" Tapi Yah, sekali ini saja, aku minta duit," bujuknya.


"Pokoknya tidak bisa! Ayah ingin kamu kuliah, tapi kamu ngak mau kuliah! kamu itu punya kesempatan emas Bagas, mumpung Ayah masih menjabat sebagai gubernur, jika kamu punya pendidikan minimal sarjana, kamu bisa mengikuti jejak Ayah," ucap Edo menasehati Bagas.


Bagas menyeritkan darinya, dan mendengus, "Itu cuma alasan Ayah saja kan? sebernanya Ayah tak pernah peduli keadaan aku dan Ibu! Ayah lebih peduli sama perempuan mandul mantan model itu kan?!" teriak Bagas.


"Jaga mulut kamu Bagas! menyayangi tak bearti harus menuruti kemauan kamu!" bentak Edo.


Bagas menatap wajah Edo dengan amarahnya.


"Sudahlah Yah! tanpa Ayah kasi uang pun, aku bisa cari uang sendiri, aku muak dengan tingkah Ayah!" teriak Bagas sambil menepak meja kembali.


Plak, Bagas berjalan cepat dan penuh emosi keluar dari ruangan tersebut.


Edo terdiam sejenak membiarkan Bagas yang berlalu darinya dengan kemarahan, namun ada ketakutan di hatinya jika Bagas berbuat nekad.


"Bagas! tunggu!" Edo berusaha mengejar Bagas, namun Basgas keburu keluar meninggalkan ruangan tersebut,


"Ah, kenapa anak itu semakin hari semakin semakin susah di atur, menyusahkan saja," dengus Edo.


Bagas turun dari gedung perkantoran Ayahnya, kemudian ia menaiki motor Ninjanya, Bagas keluar dari halanan parkir meninggalkan suara auman motor besarnya setelah di jalan raya, ia melesat dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Edo mengintip dari jendela kantornya, ia sangat menghawatirkan keadaan Bagas.


***


Alia dan Aira berada di dalam mobil, dengan pak Adi sebagai sopir.


Mereka bercanda-canda di dalam mobil tersebut sembari curhat.


"Alia kemaren waktu kamu datang ke pesta ulang tahun ku, teman aku banyak loh nanyaain tentang kamu," ucap Alita.


"Nanyain kenapa Alita?"tanya Alia.


"Yah gitu deh, mereka ingin kenal lebih dekat dengan kamu, kamu pilih saja yang mana pria yang paling kamu sukai, nanti biar aku yang comblangin," usul Alita.


"Aku belum minat untuk punya pacar, kalau ada juga mungkin aku suka sama lelaki yang seperti Ayah ku, baik, humoris dan yang terpenting sayang banget dengan keluarganya, Ayah tak pernah memaksa kami untuk jadi seperti keinginannya, semua terserah aku dan Arsyad yang terpenting bukan hal yang terlarang, Ayah ku pasti mendukung," papar Alia.


"Ehm, Ayah kamu memang baik Alia, ganteng lagi, sudah tua saja masih ganteng, gimana waktu dua muda ya?" sahut Alita.


"Hm, kata Bunda, waktu belum nikah Ayah playboy," sahut Alia.


"Ehm, begitu, aku juga suka sama pria humoris, kira-kira calon suami ku humoris seperti papa ku ngak ya?"tanya Alia.


"Siapa Bang Ghael?"sahut Alia.


"Hm, "Alita tersenyum, "Sejak papa dan Om Rom berniat menjodohkan kami, aku ngerasa ngak ada pria yang lebih tampan dari Ghael, sejak kecil aku sudah suka kok sama dia, "ujar Alita.


"Oh Ya ? semoga saja kamu dan abang ku berjodoh dan kita bisa jadi keluarga, "ucap Alia sambil memeluk Alita.


"Ehm, semoga saja Alia," ucap Alita yang membalas pelukan Alia.


Bruk, suara mobil di hantam dari arah belakan.


Bruk, suara yang lebih nyaring terdengar lagi.


Alia dan Alita saling melepas pelukan mereka.


"Ada apa Kek?"tanya Alia pada pak Adi.


"Ini Non, mobil kita di tabrak oleh seseorang dari arah belakang, "ucap Pak Adi sembari melihat spion.


Belum selesai penjelasan Pak Adi, Alia sudah keluar melihatnya.


Alia kaget melihat pengendara motor tersebut tergeletak di aspal.


Ia pun buru-buru menghampirinya.


"Akh!", ucap Bagas, ketika merasakan sakit pada lengannya yang menghantam aspal jalanan, ia pun mencoba bangkit dan duduk.


"Mas, mas tidak apa-apa?"tanya Alia khawatir.


Bagas membuka helm standardnya dan melihat ke arah gadis yang menghampirinya.


Begitupun Alia yang melihat wajah pria yang menabrak mobilnya dari belakang saat melepas helm.


Sesaat kedua netra tersebut terkunci, ketika kedua mata mereka bertentangan, rasa sakit pada bagian tubuhnya seolah teralihkan , ketika tanpa sengaja melihat gadis cantik dan ayu yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Pak Adi keluar dari mobil, begitupun Alita yang juga menghampiri mereka.


Detap langkah kedua orang tersebut membuyarkan lamunan mereka.


"Mas, tidak apa-apa?"tanya Alia yang melihat luka pada lengan Bagas.


Ehm, tidak apa-apa, Bagas menyentuh lenganya.


Pak Adi membantu mengangkat motor besar tersebut kemudian menstandarkannya.


"Maaf, saya tak sengaja menabrak, ucap Bagas.


"Nanti kerugiannya biar saya yang tanggung," ucap Bagas kembali dengan wajah yang tertunduk, ia tak mampu menatap mata teduh itu lagi.


Pesona Alia seolah menyihirnya saat itu.


"Tidak usah di permasalahkan, yang penting anda baik-baik saja," ucap Alia.


"Iya, saya baik-baik saja kok," ucap Bagas, biasanya tak pernah bicara dengan lembut pada siapa pun, tapi sepertinya kali ini tak ada alasan baginya untuk memaki-maki gadis cantik tersebut.


Bagas meraih helmnya kemudian mencoba untuk berdiri.


Meski terasa sakit namun ia paksakan untuk kembali pulang dengan mengendarai motornya tersebut.


"Kalau tidak bisa, jangan di paksakan, biar kami antar saja," usul Alia, ia pun tersenyum.


Bagas kembali terpesona karna melihat gadis cantik bersuara lembut tersebut, jantungnya berdetak kencang, rasanya ia tak ingin pergi dari tempat tersebut.


Siapa gadis ini, aku seperti mengenalnya?wajahnya begitu cantik dengan sorot mata yang teduh, baru kali ini aku merasa begitu gugup saat berhadapan dengan seorang gadis.


"Tak apa, terima kasih, "ucap Bagas sambil naik ke atas motornya kembali.


Alia menggangguk dan tersenyum, ia memperhatikan Bagas yang menghidupkan mesin mobilnya.


Brum, suara mesin motor menyala kembali dengan gumpalan asap yang hampir pekat.


Sebelum pergi dari tempat itu, Bagas kembali melirik wajah cantik yang tersenyum ke arahnya.


Bagas pun tersenyum, entah kenapa dirinya merasa bahagia saat itu.


Brum, suara motor Bagas perlahan meninggalkan tempat tersebut dengan kecepatan minimal.


Pandangan Alia terus mengekori kemana arah motor besar tersubut pergi.


Alia terdiam sejenak.


"Hai melamun saja," Alita menepak pundak Alia.


"Kenapa tuh orang? gitu-gitu amat kamu melihatnya " tanya Alita


"Ngak, "sahut Alia tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Hah, kamu suka ya sama cowok itu?"terka Alita.


Hm, Alia mengangkat dengan mengangkat bahu seolah memberi jawaban yang ambigu.

__ADS_1


Bersabung ya reader,


__ADS_2