
"Kamu mau makan apa sayang?" tanya Aldi ketika mereka melewati lorong-lorong rumah sakit.
"Mie aja Mas, udah lama Aira ngak makan mie,"
"Jangan mie lah sayang, Aira harus makan makanan yang bergizi, biar janin yang ada rahim kamu sehat nantinya." kata Aldi sambil merangkul Aira kembali.
"Ish siapa juga yang lagi hamil," ucap Aira dengan ketus.
"Iya sekarang kan belum, lihat aja sebentar lagi kamu pasti hamil, mas Aldi kan sudah setiap hari tabur benih, masak ngak ada yang tumbuh, rumput saja ngak di tabur benih bisa tumbuh subur," ucap Aldi sambil tertawa terkekeh.
"Sama-in aja anaknya sama rumput mas, Aira belum siap untuk hamil, Aira masih mau sekolah, ingat janji mas Aldi sama Aira, mas Aldi akan mendaftarkan Aira pada tahun ajaran baru Mas," gerutu Aira, wajahnya jadi cemberut.
"Iya tapi sekolah kan ngak mesti belajar di sekolah, sekarang itu di rumah saja udah bisa belajar, dapat sertifikat nya lagi,
Home schooling aja ya sayang," bujuk Aldi.
"Ngak mau Aira tetap mau belajar di sekolah, Aira masih mau menikmati masa-masa sekolah, ngak lama kok mas cuma nunggu satu tahun lagi," ucapnya dengan bibir yang mengkerucut.
Aldi berhenti melangkah dan mengalih kan pandanganya ke Aira.
Aduh si Aira keras kepala juga, kalau sampai mama tahu Aira ngak hamil, bisa-bisa dia maksa gue, menceraikan Aira dan memaksa gue untuk menikahi Aura.
"Aira harus ngerti dong, setiap orang menikah ya pasti pingin punya anak lah, kalau Aira hamil, mas Aldi akan berikan apa saja yang Aira minta,"
"Aira ngak ingin apa-apa lagi, selain ingin mewujudkan cita-cita Aira, Aira ingin buat ibu Aira bangga, jika Aira sukses, Aira ingin jadi pelindung untuk anak-anak dan Perempuan, jadi ngak akan lagi ada manusia yang tertindas karna ketidak berdayaanya mas, Aira mau jadi mentri pemberdayaan perempuan, Aira mau jadi gubernur, jadi walikota, pokoknya seorang pemimpin yang di segani laki-laki," ucap Aira menggebu-gebu.
Aldi terhenyak dengan penuturan Aira, ia tak menyangka jika istrinya punya cita-cita, yang bahkan Aldi sendiri tak pernah terpikir sebelumnya.
Aldi mengusap kepala Aira," Ia sayang, mas Aldi akan bantu kamu mewujudkanya, tapi kamu harus tetap bersandiwara jika kamu hamil, apalagi di depan mama."
"Tapi sampai kapan Aira bersandiwara mas, namanya pura-pura suatu saat pasti juga ketahuan."
"Iya Aira mas Aldi paham, tapi ini semua demi rumah tangga kita Aira."
"Kamu ngak tahu mama itu seperti apa?"
"Mas Aldi nya yang tegas dong, kalau memang mau mempertahan kan rumah tangga kita, kalau mas Aldi sendiri lemah, bagamana kita bisa bertahan, Aira ngak mau bersandiwara lagi, Aira capek di rendah kan sama mama Mas Aldi, kalau Mas ngak bisa meyakin kan mama mas Aldi, mendingan kita pisah dari sekarang saja, toh sekarang mas Aldi sudah dapat apa yang mas Aldi ingin kan."
.
__ADS_1
"Aira juga udah berikan sesuatu yang berharga dari diri Aira mas, anggap saja itu sebagai bayaran dari kehormatan Aira, sekarang kita lunas, ngak perlu lagi ada sandiwara, Aira juga sadar, Aira memang tak pantas jadi istri mas Aldi, dengan begitu mas Aldi bisa menikahi wanita pilihan orang tua mas Aldi, tak perlu menyatiki Aira lebih lama lagi," ucap Aira dengan sedih.
Ia pun melepaskan rangkulan tangan Aldi.
"Kok kamu jadi marah sih Sayang, mas Aldi ngak mau lah pisah sama kamu, makanya mas Aldi pingin kamu hamil, kalau kita punya anak, hubungan kita akan semakin erat, jadi suatu saat kita ada masalah, kita ngak mudah membuat keputusan untuk berpisah, pastinya kita lebih mikirin Anak kita Aira," bujuk Aldi.
"Aira ngak mau Mas, Aira mau sekoah, ngak ada yang bisa menjamin masa depan Aira, kecuali Aira sendiri, Mungkin saat ini Mas Aldi cinta dan sayang sama Aira, tapi ngak tahu seperti apa nantinya kan, apalagi mas Aldi masih muda, kaya, ganteng, pasti banyak wanita yang menginginkan mas Aldi,"
"Bagaimana jika suatu saat nanti mas Aldi bosan sama Aira, dan mas Aldi mencampakan Aira begitu saja, Aira ngak mau, Aira ngak mau bergantung pada siapa pun, Aira akan tetap pada pendirian Aira, kalau mas Aldi ngak suka silahkan cari istri yang lain saja," ancam Aira.
Aldi menelan saliva nya, ia tak menyangka jika Aira punya pendirian seteguh itu.
Aldi melihat wajah Aira yang cemberut, ia kembali mendekatinya dan merangkulnya.
"Iya deh, kalau tuan putri sudah ngomong seperti itu, mas Aldi bisa apa," ucapnya sambil menuntun Aira untuk kembali melangkah.
Wajah Aira masih cemberut, sementara Aldi semakin binggung, bagaimana ia bisa mengambil jalan tengah agar tak mengecewakan Aira dan mamanya.
Aldi dan Aira kini berada di mini market yang ada di seberang rumah sakit.
Aira memborong banyak kue dan minuman untuk mereka.
"Aira kita ini hanya menginap semalam saja, bukan mau piknik," ucap Aldi sambil tersenyum simpul.
"Jadi ngak boleh nih?" tanya Aira dengan lirikan mata tajamnya.
"Boleh, dong sayang,"
Setelah membeli makanan mereka pun kembali ke ruang perawatan Tari.
Aldi dan Aira membawa banyak bungkusan belum lagi boneka Aira yang di antar oleh mang ujang.
Aldi masam-masam sendiri membawa empat bungkusan makanan, sementara Aira hanya menggendong tas ransel dan memeluk boneka beruangnya.
Mereka pun masuk ke ruang perawatan Tari.
"Banyak banget lo belanja Di?" tanya Doni.
"Iya, Aira yang belanja.
__ADS_1
"Kalau gitu kita makan sama-sama yuk, ajak Aldi," sambil membuka bungkusan nasi bungkus nya.
Mereka pun makan bersama.
"Eh kalau makan gini, gue ingat beberapa waktu yang lalu, saat kita bertiga jalan bareng ,kemana-mana bareng, sekarang nih, kita malah sibuk urusan masing-masing." Doni.
"Iya, kapan-kapan kita karoke yuk, tapi nunggu Tari sehat Ya," ajak Aldi.
"Gue juga udah sibuk kerja Don, dan ternyata, semua ngak semudah yang gue bayang kan, gue jadi kasihan sama Heru, selama ini dia ngurusin perusahaan sendiri, sampai harus bolak-balik, sementara gue, senang-senang menikmati hasil kerja keras Heru, gue sekarang sadar, jika Heru sayang sama gue, dan ngak pernah niat untuk merebut perusahaan bokap gue dari gue, ia bahkan merela kan masa remajanya untuk bekerja dan membangun perusahaan bokap gue sampai seperti ini," ucap Aldi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ya sudalah Di, kadang untuk membuat kita sadar, kita perlu terjun langsung ke dunia itu sendiri, setidaknya lo sekarang sadar Di, jika Heru itu saudara lo satu-satu nya."
"Iya, Heru memang saudara gue satu-satunya, dan dia juga jadi orang tua gue, saat ngak ada bokap-nyokap, dialah yang menjaga gue." Aldi
"Tapi gue heran sama Tari, kalau dia anak angkat, lalu siapa orang tuanya?" tanya Doni,
" Jangan-jangan dia punya hubungan darah lagi sama loh Di?" sahut Doni.
"Hubungan darah? anak bapak gue, cuma gue dan Heru, jadi ngak mungkin lah." Aldi.
"Iya juga sih, tapi maaf ya Di? apa bokap lo, ngak punya istri lain, selain nyokap lo sama nyokap nya Heru?" Doni.
Aldi tertegun,
Semua mata kini menatap pada wajah Aldi, berharap dapat jawaban dari Aldi.
Bersambung dulu ya readers
Di tunggu like dan komennya.
Hai guy author punya referensi nih siapa tahu suka, baca dulu ya jangan di skip
Novel berjudul :
Fajira hanindya seorang yatim piatu yang harus berjuang hidup di kota metropolitan. Namun semuanya berubah ketika malam yang menyakitkan baginya terjadi di atas ranjang seorang CEO. Malam panas itu nenghasilkan seorang anak yang sangat genius. Irfan dan Fajri tidak mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya, padahal ayah dan anak itu sedang melakukan kerja sama yang sangat besar.
Namun suatu kesalahan terjadi ketika Fajri mengetahui bagaimana ia ada di dunia ini, membuat pria kecil nan genius itu memilih pergi bersama fajira dan meninggalkan Ayahnya sendiri dan membangun perusahaan yang bisa mengalahkan Perusahaan Ayahnya
__ADS_1
Lansung cus mampir guys ngak nyesel loh