Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Takut Kehilangan


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Suci, Aira kini menunjukan perubahan yang cukup baik, ia bisa menangis dan berteriak, meski setelah selesai terapi Aira akan kembali diam.


Begitu terus, selama tiga hari berturut turut, Suci akan menjejali pertanyaan yang sama, selain di beri obat penenang dengan dosis yang sesuai, Aira juga di beri vitamin untuk menjaga imunitasnya.


Ini hari keempat, Aira menemui Suci.


Tubuh Aira gemetar ketika matanya menangkap sosok Suci di hadapanya, Aira ketakutan ia bergedik merinding.


Suci tersenyum puas, itu berarti sensitivity Aira sudah membaik.


Wajah Aira tertunduk, tangan dan kakinya gemertar saat Suci mendekati nya.


Suci mengusap rambut Aira dengan lembut, "Aira, kamu jangan takut ya, apa yang saya lakukan ini semuanya untuk kebaikan kamu."


Aira segegugan meski tak ada air mata yang membasahi pipinya, tanganya meremas baju yang ia pakai saat itu.


"Aira jangan takut ya, saya adalah dokter di sini dan kamu adalah pasien saya, saya tak akan menyakiti kamu Aira," ucap Suci dengan lembut, ia pun meraih tangan Aira dan menggenggamnya dengan lembut.


Tubuh Aira masih gemetar, untung saja Aira sudah di beri suntikan penenang dosis rendah.


"Ayo Aira kamu tenangkan pikiran kamu, tenangkan jiwa kamu, kamu cukup jawab pertanyaan saya saja, mari kita mulai."


Tangan Aira gemetaran, tapi Suci menggenggam lembut tangan tersebut.


Kali ini hanya ada ia dan Aira saja di dalam ruangan tersebut, sementara Aldi menunggu di luar.


"Aira apa yang membuat kamu seperti ini Nak?" tanya Suci dengan lembut.


Setelah beberapa hari yang lalu Suci bersikaf tegas dan garang, kali ini ia mencoba mendekati Aira dengan cara yang lembut.


Aira menggelengkan kepalanya, tubuhnya begetar.


"Kalau kamu tak bisa menjawab dengan kata-kata kamu, jawab pertanyaan saya dengan menggangguk ya, sayang," ucap Suci kembali dengan mengusap pundak Aira.


"Aira apakah kamu sedih karna kehilangan janin kamu?" tanya Suci yang duduk di belakang Aira, Suci terus mengusap punggung Aira untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Ayo Aira jawab, saya ulangi ya,"


"Apa kamu sedih karna harus kehilangan janin kamu?" tanya Suci lagi masih mengusap punggung Aira.


Selain karna obat penenang yang di berikan Suci, sentuhan lembut Suci di punggung Aira semakin membuatnya tenang.


Meski dengan tubuh yang sedikit gemetar Aira pun mennggangguk, wajah Aira tertunduk, hingga air mata itu jatuh tanpa menyentuh pipi mulusnya.


Suci tersenyum.


"Lalu apa lagi sayang, yang membuat kamu tertekan, Apa masalah hukum yang sedang menjerat kamu?" tanya Suci kembali.


Dan Kali ini Aira mengangguk pelan, Tapi Air matanya semakin deras.


"Aira kamu ngak usah khawatir sayang, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, kamu ngak boleh menghindari kenyataan dengan hidup di bawah kehampaan dan kekosongan pikirankamu, ingat sayang hidup ini real, dan realitas, kalau kamu seperti ini bagaimana bisa kami semua membantu kamu," papar Suci.


Kali ini tanganya menyentuh rambut Aira yang tergerai, Suci mengusap lembut rambut Aira.


Aira masih menunduk, tak ada suara selain suara isakan Aira.


Suci mengambil posisi jongkok untuk bisa berdahapan langsung dengan wajah Aira, ia menggangkat dagu Aira dan melihat air mata yang menggenang.


"Aira apa lagi yang membuat kamu tertekan sayang? Apa kamu takut kehilangan cinta suami kamu Aira?" tanya Suci lirih.


Aira langsung bereaksi, tatapanya langsung mengarah tepat pada manik mata Suci, Aira menangis tubuhnya semakin terguncang, Suci melihat ada ketakutan dan kekekhawatiran pada sorot sendu mata Aira.


"Ayo Aira, kamu jujur sama saya sayang, kita sama-sama wanita, kamu ngak perlu ragu Aira," ucap Suci dengan menatap lekat iris coklat yang ada di hadapanya.


Tubuh Aira terguncamg hebat, ia merasa dadanya terasa sesak, Aira menarik nafas panjang dan menghempaskan nya, berkali-kali ia mengulanginya.


"Ayo katakan saja sayang, kamu bisa percayakan semuanya pada saya," ucap Suci sambil menakup telapak tanganya pada kedua pipi Aira.


Tubuh Aira semakin terguncang, ia seperti hendak mengatakan sesuatu namun lidahnya terasa kelu, dan Suci dapat menangkap isarat dari Aira.


"Ia sayang, kamu pasti takut kehilangan cinta dari suami kamu kan?" tanya nya mempertegas.

__ADS_1


Tubuh Aira semakin terguncang dengan air mata yang semakin deras, Aira tak mampu menjawabnya, ia pun menghampur memeluk Suci.


Dengan sigap Suci menerima pelukan Aira, pelukan dari seorang wanita yang hati nya sedang rapuh, pelukan dari seorang wanita yang takut akan kehilangan cinta dari orang yang paling dia cintai.


"Sabar sayang tenangkan diri mu," ucap Suci terbata-bata, tanganya mengusap pundak Aira yang kini sedang memeluk Aira.


Hati suci ikut luluh, buliran bening terus menetes dan perlahan menggenang di pelupuk matanya, yang akhirnya ikut tumpah saat ia menutup matanya beberapa saat.


"Iya sayang, saya mengerti, sangat berat bagi kamu menghadapi ini semua setelah apa yang menimpa kamu selama ini," tutur Suci dengan terbata-bata.


Suci juga ikut terbawa suasana, meski dokter yang menangani masalah kejiwaan sepertinya sudah terlatih dalam menguasi emosional, tapi sebagai wanita yang pernah di tinggal oleh suami tercinta, hati Suci ikut pedih, ia seperti merasakan sendiri kesedihan Aira yang takut akan di tinggal oleh suaminya sendiri.


Aira menangis haru dalam pelukan Suci, tubuhnya ikut berguncang, Sementara Suci tak melepaskan pelukannya terhadap Aira, dengan lembut Suci mengusap punggung Aira sampai aira menuntaskan air mata kesedihannya dalam rangkulan Suci.


Beberapa menit berlalu Aira masih menangis, tak ada satu kata pun terucap dari bibirnya, Suci menangkap fakta ternyata yang membuat Aira hingga seperti ini, adalah rasa putus asa karna ia takut akan di tinggal Aldi saat ia tak lagi mengandung janinnya.


Aira merasa sedih, kecewa dan menderita saat Aldi mengatakan jika ia menerima Aira hanya karna janin yang ada di rahimnya, setelah janin itu pergi dari nya maka ia terpaksa harus merelakan Aldi, padahal sebenarnya ia sendiri belum siap untuk kehilangan Aldi, Aira belum sanggup untuk jauh dari Aldi dan itu membuatnya tertetakan di samping masalah-masalah yang menimpanya saat ini.


Suci melambaikan tanganya kearah Aldi agar ia masuk kedalam ruangan tersebut, Aldi terharu karna ia mendengar penuturan Aira, Air mata Aldi pun tumpah, kini ia berlutut di hadapan Aira, Suci menggeser posisinya ia pun beranjak meninggalkan Aira dan Aldi.


"Aira, mas Aldi sayang sama kamu, ngak mungkin mas Aldi meninggalkan kamu, maafkan mas Aldi ya Aira, karna telah menyia-nyiakan kamu, sayang," ucapnya sambil mencium lutut Aira berkali kali, ia pun meraih jemari Aira dan menggenggamnya, Aira masih tertunduk dan menangis terisak.


"Aira maaf kan mas Aldi ya sayang, mas Aldi janji akan selalu bersama kamu apapun keadaankamu," Aldi mendongkak dagu Aira, setelah itu ia mencium bibirnya pelan.


"Maafkan mas Aldi Aira," Aldi pun memeluk Aira, dan baru kali ini Aldi merasa Aira membalas pelukanya, Aira menangis terisak di pelukan Aldi, dengan perasaan bahagia Aldi mempererat pelukanya, ciuman pun mendarat di seluh wajah Aira.


"Jangan marah lagi ya sayang," bisik Aldi di telinga Aira.


Mereka pun saling memeluk erat, seolah tak ingin lagi di pisahkan.


Suci, Doni dan Romeo menyaksikan langsung adegan mengharukan tersebut, di luar ruang berdinding kaca tersebut.


"Kamu lihat kan Romeo, gadis itu hanya mencintai suaminya, jadi mama harap kamu jangan mengganggu kehidupan rumah tangga mereka lagi," papar Suci yang langsung berlalu mereka.


Romeo hanya diam, ia pun kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


sekian dulu ya guys, maaf hari ini ngak bisa double up, kerna harus ke kondangan hehehe, tetap dukung Author ya, like komen, hadiah votenya, iloveu All 😚


__ADS_2