Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Dilema lagi


__ADS_3

Langit biru terbentang diangkasa, semilir sang bayu meniup dengan sepoi-sepoi, cukup memberi kesejukan saat mentari tengah terik bersinar, di tengah hari yang terasa menyengat.


Deru mobil mewah membelah jalanan ibu kota yang tengah lenggang tersebut.


Senyum selalu terbit di bibir Aira sambil membuka lembar demi lembar Map yang di ada di tanganya.


Aldi menatap serius jalanan yang mereka lalui, dalam hatinya bergumul satu dilema, yang terasa sulit untuk ia pilih.


Ia sangat menginginkan kehamilan Aira, sementara Aira lebih memilih melanjutkan pendidikan formalnya.


Senyum lebar Aira seketika tertarik dari wajah cantik dan manisnya, ketika melihat sang suami menjadi gelisah.


"Mas ada apa sih?"tanya Aira sambil menutup berkasnya.


Aldi diam sejenak memikirkan  bagaimana caranya menyampaikan kepada Aira agar ia tak marah atau pun tersinggung.


"Sayang,kamu yakin mau mengambil bea siswa itu?"tanya Aldi hati-hati.


Ia pun melirik kearah Aira untuk melihat reaksinya.


"Kenapa Mas? Aira yakin kok ingin melanjutkan sekolah kembali, itu kan memang cita-cita Aira sedari dulu," paparnya.


"Aira ingin kembali kesekolah Mas, bukankah kita pernah sepakat sebelumnya, jika mas Aldi akan mengijinkan Aira bisa tetap sekolah, bahkan sebelum kita menikah, iya kan?"Aira mempertegas ucapannya di akhir kalimatnya.


"Ia sih tapi waktu itu kita perjanjian kita menikah hanya untuk setahun, dan seiring berjalannya waktu kita juga sudah berjanji untuk tetap mempertahan kan keutuhan rumah tangga kita," kilah Aldi lagi.


Aira terdiam tertunduk lesu, sementara Aldi terus melanjutkan argumennya.


"Sayang, mas ngak melarang kamu mengejar cita-cita kamu, tapi kamu pikir kan juga tentang rumah tangga kita, Mas ijinkan kamu untuk sekolah, tapi bukan sekolah formal, kamu bisa tetap sekolah dengan metode homeschooling."


"Tapi Mas, Aira juga ingin menikmati masa remaja Aira , selama hidup Aira, Aira ngak pernah bergaul dengan teman-teman sekolah Aira, masa muda Aira di habiskan untuk bekerja tanpa kenal lelah, sampai Aira tak pernah menikmati waktu untuk bermain di saat masa di mana Aira seharusnya bisa bermain, dengan teman sebaya Aira," ucapnya dengan bibir yang cemberut.


Aldi melirik kembali kearah istrinya itu, sebenarnya ia juga merasa kasihan dengan nasib Aira, tapi ia lebih mengkhawatirkan Aira yang akan keluar rumah setiap hari tanpa pengawasannya.


"Mas masa remaja itu hanya terjadi sekali seumur hidup, dan ini kesempatan bagi Aira untuk menikmatinya, Aira juga tahu jika Aira seorang istri, Aira berjanji akan membagi waktu antara sekolah dan mengurusi rumah tangga kita, Aira janji tak akan mengurangi jatah mas Aldi sedikit pun," ucapnya dengan nada merayu.


Aira pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang suami, Aldi merangkul tubuh mungil istrinya seraya mengecup pucuk kepala sang istri.


"Bukan itu yang mas takut kan sayang, kamu ngak pernah tahu seberapa besarnya rasa sayang mas terhadap kamu, Mas Aldi tak pernah bermaksud untuk mengekang kamu, atau mengurung kamu, semua itu mas Aldi lakukan hanya karna Mas Aldi merasa takut akan kehilangan kamu, Mas takut jika ada orang lain yang menyakiti kamu, sementara Mas Aldi ngak bisa selalu berada di sisi kamu," ucap Aldi lirih, ia kembali mencium pucuk kepala sang istri dengan lekat.


"Iya Mas, tapi Aira janji ngak akan kemana-mana lagi setelah pulang sekolah, lagi pula Aira bisa jaga diri kok," ucap nya menyakinkan Aldi.


Aldi hanya terdiam, untuk saat ini ia belum bisa mengambil keputusan, Aldi masih merasa khawatir akan keselamatan Aira.


Di satu sisi ia ingin membahagiakan istrinya, tapi satu sisi yang lain ia sangat mengkhawatirkan Aira, kasus hukum memang telah selesai dan sebagian besar penjahat sudah tertangkap dan di adilli, Aldi hanya takut ada pihak yang mersa sakit hati hingga merasa dendam terhadap istrinya.


Mereka pun kembali bungkan seraya memikirkan keputusan yang mereka ambil.


**


Sore harinya, Doni mendatangi rumah sakit untuk menjenguk sahabatnya.


Di kamar ia malah melihat Romeo dan Tari yang saling menyuap sepiring nasi yang di pesan Tari di rumah makan padang, sekarang ia sangat tahu bagaimana selera sang calon suami.


"Assalamualaikum ya ahli kubur!


Yang gak jawab Dosa," sapa Doni dengan suara lantang.


"Lo kira kita ini setan apa?"dengus Romeo.


He he he,.Doni terkekeh.


"Gue kira loh udah wafat Rom, miris banget cuma ketimpa tubuh Tari aja tulang loh sampai retak, ntar kalau udah nikah gimana tuh,"


"Hati-hati aja Rom, kalau Tari mintanya di atas, ngak usah mau, ntar tulang lo jadi remuk redam," selorohnya.


Ia pun terkekeh.

__ADS_1


"Gue lagi makan njir! Lo ngomong gitu,"sahut Romeo.


Doni membawa, parsel buah yang di tenteng di tangannya dan meletakanya di atas nakas.


Kemudian ia duduk diatas kursi.


"Don,.makan yuk!"ajak Romeo.


"Makan aja!,"sahut Doni, ia tertawa melihat Romeo yang di suap oleh Tari.


"Ampun deh, kalau lihat yang begini jadi teringat adinda yang jauh di mata dekat di hati," guyon Doni menyindir mereka.


"Iya, kalau ngak di turuti suka ngambek Don, "ujar Romeo sambil melirik kearah Tari.


Bukannya tersinggung Tari malah semakin pede.


"Ah perempuan emang gitu Rom, maunya aja yang di turuti, maunya kita diabaikan," cetus Doni.


"Loh curhat Don?"tanya Romeo


"Ngak gue lagi nyindir Tari,"cetus Doni lagi.


"Eh keadaan loh gimana Rom?"tanya Doni yang melihat pergelangan hingga siku tangan Romeo di perban.


"Ngak apa-apa, paling ngak lama lagi sembuh kok," jawab Romeo sambil bersandar pada dinding.


"Lagian bulldozer loh angkat, Tari itu tubuhnya aja yang kecil, tapi dosanya yang berat"cetus Doni.


Tari melirik kearah Doni, ia turun dari tempat tidur dan menghampiri Doni, "Lo ngomong apa Don?"tanya Tari sambil berkecak pinggang.


"Ngak ngomong apa-apa Tar, sory gue keceplosan.


"Loh berani sama gue? Romeo aja gue timpa, tulangnya sampe retak, lo mau gue bikin tulang loh patah-patah? Trus gue lempar ke anjing jalanan?" tanya Tari sambil mencekak pingganya.


"Mampus loh Don, ratu lebah loh ganggu, di sengat kan loh,"sahut Romeo.


"Iya ngak berani gue, gue tahu loh jago bela diri Tar, bukan gue yang salah tapi lidah gue,"kilahnya.


"Awas saja loh ya, ngatain gue macam-macam, loh ngak tahu ya, juara Kempo se indonesia?"tanya Tari galak.


"Siapa?.loh?" Doni.


"Mana gue tahu, oon,"sahut Tari sambil berlalu dari mereka.


Tari menuju wastafel untuk mencuci piring bekas mereka makan.


Doni melihat punggung Tari yang menjauh.


"Ampun Rom, bini loh galak banget, kagak seram bulu kuduk loh, kalau setiap hari berhadapan dengan dia?" Ck ckck, decak Doni sambil memperhatikan Tari dari kejauhan.


"Mau diapain lagi dah nasib badan Don, dapat yang begituan," bisik Romeo sambil tertawa geli.


"Tapi jangan salah Don, kalau dengan gue keluar feminimnya," imbuhnya lagi.


Setelah mereka ngobrol beberapa saat lamanya, Doni memutuskan untuk pulang.


"Dah, yah gue pamit dulu,"ucap Doni.


"Udah mau pamit saja, cepat banget," sahut Tari.


"Udah malam Tar, nanti besok gue kesini lagi," ucap Doni.


"Besok gue udah boleh pulang Don," sahut Romeo.


"Ya udah besok gue kerumah elo aja, "..Tapi ngomong-ngomong loh berdua aja nih?"tanya Doni.


"Iya, cuma berdua, emang kenapa?" Romeo balik bertanya.

__ADS_1


Ah enggak, setahu gue, kalau laki laki dan perempuan berduaan aja, yang ketiganya setan, "cetus Doni.


"Setan? Ih takut ," ucap Tari sambil memeluk Romeo.


" Ehm modus aja loh Tar,"Doni.


"Dah gue pulang dulu, "ucap Doni sambil berlalu.


" Dah setan," ucap Romeo spontan.


Doni yang tadinya beranjak pergi kembali menoleh kearah Romeo.


"Apa loh bilang Rom? Setan?" tanya Doni.


" Iya gue bilang setan, bukannya loh yang bilang, kalau gue sama Tari berduaan yang ketiganya setan, nah loh orang ketiga diantara kita, bearti kan loh setannya,"sahut Romeo.


"Bukan begitu maksud gue, setan," dengus Doni lagi.


"Loh berdua jangan sampai curi start, itu maksud gue." Doni


"Maksud loh?"tanya Tari.


"Ih si bego, pakek nanya lagi, lo jangan mau diapa-apain Romeo ya," ucap Doni.


"Diapa-apain gimana maksud loh, lo tenang aja,ya gue ngak maulah diapa-apain sebelum sah," sahut Tari nyolot.


"Ngak mau? Ngak mau nolak kan?"Doni.


Tari cuma nyengir.


"Bearti kalau begitu kalian berdua dong setan nya, dah gue cabut,Waalakum salam, " ucap Doni sambil berlalu.


"Dah setan! Hati-hati ya!," Tari.


Doni hanya membalas dengan melambaikan tanganya.


Sepeninggalan Doni keduanya malah hening kembali.


Waktu menunjukan pukul sepuluh malam, Tari merebahkan tubuhnya di samping Romeo.


Sementara Romeo masih asik menonton pertandingan bola lewat handphonenya.


"Selamat malam Rom," ucap Tari yang tersenyum kearah Romeo.


"Selamat malam juga," ucap Romeo, masih konsentrasi menatap layar handphonenya.


"Gue, tidur dulu ya Rom," ucap Tari wajahnya masih menatap wajah Romeo yang serius.


"Tidur saja, loh jangan takut, ngak gue apa-apain kok," sahut Romeo.


Tari tersenyum kembali, ternyata Romeo belum mengerti maksudnya.


"Selamat malam Rom," ulangnya.


Karna risih, Romeo pun melirim ke arah Tari.


"Kenapa sih Tar? mau tidur-tidur saja," ucap Romeo, tapi saat itu ia melihat Tari yang tersenyum nakal kearahnya, Romeo pun mengerti.


Romeo mendekati Tari, dengan perlahan ia mendekatkan bibirnya ke bibir Tari.


Jantung Tari berdetak semakin kencang saat bibir Romeo semakin mendekati bibir.


Mata Tari membelalak kaget karna bibir tersebut tak jadi mendarat di bibirnya tapi mendarat di keningnya, seketika Tari memasang wajah kecutnya.


"Selamat malam Tari," ucap Romeo sambil tersenyum geli ia berhasil mengerjai Tari.


"Selamat malam," ucap Tari jengah sambil menarik selimutnya.

__ADS_1


Romeo menggelengkan kepala sambil merentangkan tangan mengusap rambut Tari.


bersambung, selau like dan komenya


__ADS_2