
Aldi menggendong Alia, menghampiri Aira, kini keduanya berada sangat dekat rasa rindu itu semakin menyeruak, membuat Aldi ingin menghambur memeluknya.
Sementara Aira hanya mematung tertunduk dengan wajah bersimbah air mata.
Bulir nening pun menetes pada kedua pasang netra mereka, ketika rindu mengusik di antara ke duanya.
Aldi mengulur tangannya mencoba mengjangkau jemari Aira.
"Sayang, Mas Aldi_"kata-kata Aldi terhenti, karna Aira langsung menepis tangannya, ia pun berlalu tanpa kata bahkan tak menoleh sedikit pun kearah Aldi.
Aldi coba mengejarnya, namun di tahan oleh Heru.
"Sabar Di, semua itu butuh proses, kamu jaga saja Alia biar mas Heru yang menyusul Aira." Heru.
Aldi pun setuju, meski rindu ia tak mau terlalu memaksa keadaan.
Semua butuh proses, Aldi menyadari sepenuhnya kesalahan yang telah ia buat, apa lagi ini bukan pertama kalinya ia melakukan kesalahan.
Alia mentap kepergian sang bunda dengan sedih.
"Ayah, kenapa Bunda sepertinya kesal sama Ayah?"tanya Alia pada Aldi.
"Iya Sayang, Bunda sedang marah sama Ayah, karna Ayah nakal, tapi kamu harus bantu Ayah untuk membujuk Bunda ya, biar kita bertiga bisa hidup bersama, seperti lukisan kamu itu" Aldi.
cup cup cup,ia mencium putrinya
"Iya Ayah," sahut Alia seraya mempererat lingkaran tangannya ke leher Aldi.
Aldi menatap kepergian Aira, padahal ia sudah begitu rindu, sepertinya ia harus bisa menahan perasaannya dan kembali berjuang dari nol untuk kembali membangun rumah tangganya yang sempat hancur di hantam amukan badai.
Namun perjuangannya kali ini sangat berat, mengingat Aira bukan lagi gadis polos yang biasa di atur, kini ia menjadi wanita yang kuat dan tegar tentu tak akan semudah itu Aira menerimanya kembali.
Tapi tekad Aldi sudah bulat, ia tak ingin mengulangi sejarah rumah tangganya, baginya hanya ada satu wanita yang akan menjadi istrinya, satu untuk selamanya.
Apalagi kini mereka telah memiliki seorang putri, tentu Alia akan membutuhkan kedua kasih sayang orang tuanya.
Aira melangkah menuju pintu lift, wajahnya tertunduk, karna ia tak ingin terlihat menangis.
Melihat Aldi saja ia sudah merasa bahagia meski tak mungkin untuk memilikinya lagi.
Baginya Aldi hanya serpihan kepingan dari masa lalu, dari Aldi ia belajar banyak hak, dari cinta, kasih sayang pengorbanan dan juga rasa sakit yang tak terlupakan.
Seperti Aldi yang tak mungkin ia lupakan, begitu pula rasa sakit yang ia tinggalkan, tak akan bisa ia lupa.
__ADS_1
Semua janji-janji manis yang telah nyata ia ingkari.
Aira menyeka air matanya mencoba berdiri tegar di atas kerapuhan hatinya, jiwanya terguncang ketika melihat Alia yang begitu mengingin kan sosok ayah.
Kini ia pun harus rela berbagi Alia bersama Aldi.
Aira menyeka air matanya mencoba membuang sisa sisa rasa yang terkubur jauh terpendam dalam lubuk hatinya.
Aira berhenti di sudut sebuah ruangan, ia mencoba menenangkan diri dari guncangan emosinya saat itu.
"Aira" Heru menepuk pelan pundak Aira.
Seketika ia menoleh.
Aira kembali menyeka air matanya di hadapan Heru.
"Ayo keruangan mas Heru," ujarnya seraya menarik pelan tangan Aira.
Karna tak merasa ada masalah dengan Heru, ia pun menuruti Heru, karna sampai kapan pun bagi Aira, Heru adalah saudaranya.
Mereka pun masuk ke sebebuah ruangan.
Aira langsung mendaratkan bokongnya di atas sofa empuk.
Beberapa menit mereka habiskan hanya dengan diam, Heru sendiri tak tahu harus mulai dari mana pembicaraan mereka.
Sementara Aira hanya diam.
"Aira, mas Heru dan Aldi sudah mencari kamu selama ini Aira, tapi kenapa kamu lari dan bersembunyi, kamu tahu bagaimana perasaan Aldi ketika mengetahui kamu pergi darinya." ucap Heru seraya menepuk pundak Aira.
Aira masih tertunduk sambil mrnyeka air matanya.
"Sudalah Mas ngak usah di bahas, mungkin jodoh kami hanya sampai disini,"ujarnya tanpa menoleh kearah Heru.
"Maaf Aira, selama ini mas Heru tak mau mencampuri urusan rumah tangga kalian, mas Heru hanya mau menengahi apa yang sebenarnya terjadi pada Aldi beberapa tahin ini."
"Ia mencari kamu kesetiap sudut tempat, segala penjuru, Aldi begitu menyesali kesalahannya Aira, tapi semua kami kembali kan kepada kamu, mas tahu perasaan kamu saat ini, memang tak mudah memperbaiki hubungan yang sudah retak, tapi jika memang kalian sama-sama masih memiliki rasa kenapa tak coba untuk membina hubungan kalian kembali, setidaknya lakukan lah demi Alia."
"Aldi juga sudah menunjukan kesetianannya selama enam tahun menunggu kamu Aira, padahal begitu banyak wanita yang ingin menjadi istrinya, namun Aldi tetap menunggu kamu, mas Heru sendiri menyaksikan betapa ia menyesal, ia tak sengaja mengatakan itu semua, saat itu ia begitu emosi, marah dan tertekan," papar Heru.
Aira menengadah kepalanya menahan air matanya, "Tapi Aira sudah nyaman hidup sendiri mas,"sahutnya
Heru kembali menepuk pundak Aira.
__ADS_1
"Kamu nyindir mas Heru ya? " canda Heru dengan tersenyum kearah Aira.
"Ngak kok, mas Heru saja yang tersinggung," sahut Aira seraya tersenyum.
"Mas Heru beda sama kamu Aira, mas Heru sendiri, karna belum mendapat kan tempat yang nyaman, kamu sudah memiliki tempat tersebut Aira, semoga kamu bisa mempertimbangkan semuanya demi kalian bertiga terutama demi Alia." Heru.
Aira menatap Heru sejenak kemudian berpaling, ia tak ingin Heru memperngaruhi tekadnya yang memilih hidup sendiri.
"Mas Aira pamit, " ucapnya sambil beranjak dari duduknya.
"Iya Aira," sahut Heru.
Setelah keluar dari ruangan Heru, Aira kembali menemui Alia.
Setelah mengetuk pintu ruangan Aldi, ia pun mendekat kearah keduanya, saat itu Alia duduk di pangkuan Aldi, seolah tak bosan, Aldi terus-terusan mencium pipi putri kecilnya itu.
"Sayang!" Seru Aira memanggil Alia dari jarak yang cukup jauh.
"Bunda!" seru Alia seraya turun dari pangkuan Aldi, kemudian berlari menghampiri Aira.
Aira berjongkok mensejajarkan wajah mereka.
"Sayang, malam ini kamu boleh menginap bersama ayah, besok Bunda jemput ya," ucapnya seraya mengacak rambut putrinya.
"Iya Bunda." sahutnya dengan riang.
"Jangan nakal ya sayang, tidur tepat waktu dan ngak boleh menyusahkan Ayah," nasehat Aira, seraya memeluk putrinya.
"Iya Bunda."
Aldi berjalan mendekati keduanya.
"Aira, bisa kita bicara sebentar saja?" Aldi.
Aira melepas pelukakannya." Maaf saya tidak punya Waktu," sahutnya ketus kemudian beranjak meninggalkan mereka.
Aldi menatap sedih kepergian Aira yang begitu saja di hadapannya, " Aira sudah jauh berbeda." gumannya seraya melirik kembali ke Alia yang sepertinya heran melihat keduanya yang terkesan menghindar.
Aldi menepis perasaan sedihnya, ia kembali menggendong Alia.
"Ayo sayang, ikut Ayah pulang, di sana Oma dan Opa pasti senang karna kehadiran kamu."
"Iya ayah." Alia pun melingkarkan lenganya keleher Aldi, ia sungguh merasa bahagia karna memiliki ayah yang menyanyanginya, sama seperti harapannya selama ini.
__ADS_1
Bersambung, tetap dulung author ya, boleh dong bagi hadiah dan vote nya 😆