Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Mencari Jejak Mu


__ADS_3

Aira memotong sayuran untuk makan malam keluarganya.


"Mbok, bagaimana dengan usaha keripik usus kita Mbok?"tanya Aira pada si mbok yang ada di sampingnya.


"Alhamdullilah Non, sekarang produk kita sudah memasuki pasar tradisional juga swalayan, hanya saja terkendala bahan baku saja Non," papar Si mbok.


"Kenapa Mbok, apa pabrik pemotongan ayam itu tak lagi mencukupi pasokan kita?"Aira.


"Ngak Non, permintaan kripik kita banyak Non, apa lagi di toko oleh-oleh, sedangkan bahan bakunya semakin sulit untuk di dapatkan, "papar Simbok.


"Oh gini saja Mbok, suruh satu orang untuk berkeliling keliling di pasar tradisional kan biasanya ada tuh yang jual Ayam di meja, nah suruh beli saja usus nya kepada penjual ayam potong, kan lumayan jadinya kalau satu pasar tradisional bisa memotong lebih dari seribu ekor, kan lumayan mbok, itu satu pasar kalau sepuluh lebih lumayan lagi," terang Aira.


"Iya juga sih ya Non, sejak bupati di pegangg oleh pak Edo, di sekitar kampung kita ini mengalami kemajuan Non, fasilitas juga lengkap," papar simbok.


"Ehm Gitu ya mbok?" guman Aira.


"Mohon maaf Non, kenapa sih Non menolak lamaran pak bupati dan beberapa pemuda di kampung ini, Non ngak kepikiran untuk menikah lagi?"


" Sayang Non, hidup cuma sekali loh," ujar Simbok.


"Belum Mbok, Aira fokus kerja dan membesarkan Alia saja. soal jodoh mah biar saja Tuhan yang atur.


"Masih trauma ya Non? atau ngak bisa move on dari mas Aldi? he he he." terka si mbok.


"Iya Mbok dua-duanya bener tuh," sahut Aira jujur ia pun melempar senyum kearah mbok.


"Udah kalau masih cinta rujuk saja Non, mbok yakin mas Aldi masih cinta kok sana Non Aira, apalagi Non Aira telah melahirkan anak untuk mas Aldi," saran Simbok.


"Itu kayak nya ngak mungkin deh, ini tuh sudah enam tahun perpisahan kami, Aira rasa mas juga sudah menikah dan punya anak lagi, lelaki seperti mas Aldi mana tahan hidup kesepian, apalagi dia punya segalanya dan banyak wanita yang memimpikan untuk jadi istrinya," papar Aira.


"Ya sudah kalau gitu Non Aira cari pendamping yang baru saja, misalnya rekan seprofesinya, siapa tahu dapat pak polisi" Mbok .


"Iya Mbok, mungkin tunggu Alia remaja kali ya mbok, jadi ngak perlu diurus lagi, karna Alia juga sudah besar," Aira.


Saat sedang ngobrol, Aira teringat sesuatu.


"Eh Aira sampai lupa mbok, tadi pagi Aira ketemu mas Heru mbok,"


"Mas Heru, aduh simbok kangen banget sama anak simbok yang satu itu, Mas Heru apa kabarnya Non, masih ganteng kan? he he he" kelakarnya.


"Masih ganteng dan masih jomblo juga Mbok, hehe,"sahut Aira.


"Way, Heran deh mas Heru itu gak ada yang mau atau dia yang ngak demen perempuan sih. masih betah saja ngejomblonya,"dengus mbok.


"Kalau ngak ada yang mau ngak mungkin mbok, orang dia ganteng, keren, baik lagi,"sahut Aira.


"Mungkin belom sampai kali Mbok, jodohnya," sahut Aira.


Aira berhenti sejenak karna tak mendengar suara Alia.


"Mbok Alia kemana ya kok sepi sih?"tanya Aira seraya mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


"Ngak tahu Non, tadi Mbok lihat kataknya dia sedang belajar."


"Aira lihat dulu ya Mbok," cetus Aira sambil melepaskan pisaunya.


Aira menuju kamarnya melihat Aira sedang asik menggambar dengan krayonnya.


"Sayang lagi gambar apa?"tanya Aira seraya mendekat, ia pun duduk di samping Alia.


"Eh bunda, coba lihat gambar Alia, ini Alia sedang gambar ayah, bunda, dan Alia," ucapnya seraya menunjukan gambar kedua orang tua yang menggandeng tangan anaknya.


Aira melihat ke arah gambar tersebut, ia pun tersenyum.


"Bunda, apa ayah mau menerima Alia sebagai anaknya? tanya Alia dengan nada lirih.


"Emangnya kenapa sayang?"tanya Aira sambil mengusap rambut sang putri.


Bibir Alia mengkerucut," Ayah pasti ngak sayang sama Alia kan Bunda, kalau ayah sayang, kenapa sampai sekarang ayah belum pulang?" tanya dengan wajah yang sendu.


"Ngak sayang. Ayah pasti sayang sama Alia, karna Alia anak yang pinter, cantik dan baik hati," ucap Aira dengan mata yang mulai memerah.


"Kalau gitu, Alia akan hadiah kan lukisan ini untuk ayah, biar ayah ngak pergi lagi dari kita,"ucapnya dengan nada polos.


Aira sekuat mungkin menahan air matanya agar tak terlihat sedih di hadapan Alia.


Iya sayang kamu boleh simpan lukisan ini, sebagai hadiah untuk ayah kamu, saat kamu bertemu kamu bertemu denganya," ucap Aira yang beranjak dari kamar Alia.


Aira menjauh dari Alia agar ia tak melihat jika dirinya sedang menangis.


Aira pun keluar dari kamarnya.


***


Satria dan Pak Darman sedang mendiskusikan rentang lamaran resmi anak-anak mereka.


Tiba-tiba saja, nada dering handphone Aldi, memutus pembicaraan mereka.


Aldi merogoh sakunya, dan melihat siapa yang menelponnya.


"Hallo, Mas" sapa Aldi yang menerima sambungan telpon dari Heru.


"Aldi, mas Heru ada kabar baik untuk kamu, tadi pagi Mas bertemu Aira Di," papar Heru di seberang telpon.


Aldi yang tadinya berwajah cemberut seketika berubah jadi sumringah.


"Hah, Apa Mas, Aira? yang bener Mas?" tanya Aldi meyakinkan.


"Bertemu di mana mas?" tanya Aldi bersemangat.


"Ini di jalan melati km 75,"


"Trus Mas? bagaimana keadaan Aira dan anak Aldi mas?" tanya Aldi semakin bersemangat.

__ADS_1


"Aira dan anak kamu sepertinya sehat-sehat saja Di, anak kalian ternyata perempuan dan sekarang sudah bersekolah di taman kanak-kanak, " papar Heru.


"Oh Alhamdullilah, trus apa Aira sudah menikah lagi mas?"tanya Aldi tak sabar.


"Katanya sih belum, soalnya dia baru pulang dari pendidikan militernya," sahut Heru.


"Aira sudah jadi poisi Di,"imbuh Heru lagi.


Aldi tersrnyumseraya menarik napas leganya, mendengar keadaan Aira dan anak mereka baik-baik saja.


"Syukurlah sekarang dia bisa mewujudkan cita-citanya."


"Ok mas, malam ini juga Aldi kesana, " cetus Aldi.


"Tapi Di_"


"Mas Heru kehilangan jejak, Aira sengaja tak memberi tahu di mana tempat tinggalnya." Heru.


Aldi menahan air mata bahagianya, ngak apa Mas, "Setidaknya Aldi masih punya harapan, malam ini Aldi langsung berangkat, sesampainya di sana kita langsung mencarinya, Aldi akan cari Aira dan anak Aldi sampai ketemu mas," ujarnya dengan mata yang memerah serta semangat yang bergelora.


Aldi menutup telponnya.


"Sayang, tunggulah Mas Aldi pasti menjemputmu," ucap Aldi seraya menyimpan handphonenya kembali di saku celananya.


Aldi menghapus titik air matanya,ia pun langsung menemui Satria dan sahabatnya.


Pa, Aldi ngak bisa menerima lamaran ini, Aira dan anak Aldi sudah bertemu," ucapnya seraya langsung berlalu dari mereka, Aldi pun langsung menuju mobilnya.


"Aldi tunggu Di!"tahan Satria,


"Kamu ngak ada sopan-sopannya, bersikaflah lebih baik, ngak usah langsung pergi dengan meyelonong," papa kan ngak enak.


"Sudalah Pa, papa saja yang mewakili Aldi, Aldi buru-buru," ujarnya seraya menuju mobil mereka.


Satria masuk kedam guna menemui Sahabatnya tersebut, melihat wajah Darman yang terlihat kesal, Satria menjadi tak enak.


Satria duduk kembali di samping Maya.


"Ada apa pak Satria? kenapa Aldi pergi begitu saja?"ucap Darman dengan nada sedikit tinggi.


"Maaf Pak, Aldi sudah menemukan Anak dan mantan istrinya, namun bapak tak perlu khawatif, saya masih punya satu putra, bagaimana jika Tania di jodohkan dengan putra sulung saya?"tanya Satria dengan nada yang tak enak hati.


"Ehm, saya lihat dulu dan tanya kan dengan Tania dan keluarga kami yang lain, apa mereka setuju " Pak Darman.


Baiklah pertemuan selanjutnya saya akan bawa Heru, putra saya kemari, ucap Satria.


"Ok, pak Satria, semoga kita bisa menjalin kekeraban," ucap Pak Darman.


Sementara Tania bersedih karna mendapat penolakan terang-terangan dari Aldi.


Bersambung, di tunggu ya dukungannya selalu reader.

__ADS_1


__ADS_2