
Romeo dan Tari memasuki sebuah mall, Romeo langsung memarkirkan mobilnya pada basements.
Setelah keluar dari mobil, keduanya menuju lift untuk sampai kelantai dasar mall tersebut.
Setelah panel dinding menunjukan angka satu, pintu lift pun terbuka.
Dengan hati-hati Tari melangkahkan kakinya keluar dari lift.
"Kita belanja di mana? mau belanja apa dulu?"tanya Romeo pada Tari.
"Ehm, apa saja boleh Rom, toko yang kita lalui terlebih dahulu, toko itulah yang kita singgahi," sahut Tari.
Romeo hanya membalas anggukan dari pernyataan Tari.
Mereka berjalan beriringan melewati ubin-ubin dinggin dan licin tersebut.
Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya mereka menjumpai toko sepatu dengan barand impor.
"Kita masuk kesini saja Rom, "tunjuk Tari pada sebuah toko sepatu dengan beberapa merk dagang internasional.
Tari dan Romeo memasuki toko sepatu yang ada dihadapanya saat ini, saat melihat deretan sepatu dan sendal import tersebut, ia justru binggung memilih yang mana,
"Yang mana ya Rom?" Tanya Tari sambil melirik-lirik sepatu yang akan ia pilih.
"Ya loh nanya gue, mana gue tahu Tar," sahut Romeo.
"Loh suka yang mana Rom? Gue pilih sesuai selera loh saja Rom,"
Tari.
"Ya kok selera gue Tar, mana gue tahu selera loh yang mana?" Lagian sepatu dan sendal cewek gue kan ngak ngerti."
"Pilih aja Rom, menurut loh yang bagus dan yang loh suka,karna mulai sekarang.. apa yang loh suka, akan jadi kesukaan gue," ucap Tari menatap mata Romeo berbinar.
Romeo jadi salah tingkah saat Tari menatap matanya dengan berbinar,.akhirnya ia pun menuruti keinginan Tari.
"Ya sudah jika memang seperti itu yang lo mau, lo duduk saja, biar gue pilih,"ucap Romeo.
Romeo menghampiri rak sepatu wanita setelah melihat lihat, pilihanya jatuh pada sneaker,.sendal highheel dan selop dengan heel sedang.
Romeo membawa ketiga alas kaki tersebut ke hadapan Tari.
"Yang ini Tar," ucap Romeo.
Tari tersenyum melihat alas kaki yang di pilihkan Romeo.
"Ya sudah Rom yang itu saja, "ucap Tari sambil tersenyum.
"Hah ngak lo pass-in dulu Tar?"
"Ehm Iya." Tari menunduk untuk melapas sepatu ketsnya, karna kerah baju nya lumayan lebar, hingga saat ia menunduk kerah dari kaosnya tersebut turun dan memperlihatkan belahan kedua bukit kembarnya.
Romeo yang tanpa sengaja melihatnya.
"Tar, loh duduk saja yang tegak, sepatu loh biar gue yang buka dan pasangkan," ucap Romeo yang langsung berjongkok melepas sepatu yang di gunakan oleh Tari.
"Tapi Rom,_"cegah Tari karena sungkan.
"Ngak apa,."ucapnya sambil melepas bagian sepatu sisi yang lainya.
Tanpa sungkan Romeo meraih sneakers tersebut dan memasang pada kaki yang Tari yang tertutupi kaos kaki.
Tari tersenyum melihat sikaf Romeo yang tiba-tiba Romantis, bahkan ia tak sunggkan untuk melepas dan mengenakan sepatu pada kakinya.
Perasaan nya begitu bahagia, sesuatu yang biasa, jika di lakukan oleh seseorang yang istimewa maka akan terasa sangat luar biasa.
Baginya apa pun yang dilakukan Romeo terhadapnya adalah sesuatu yang luar biasa.
Setelah mencoba semua barang pilihanya dan pas dengan ukuran kaki Tari, Romeo langsung menuju meja kasir untuk membayar.
Tari berdiri dan berinisiatif untuk membeli sebuah sepatu yang akan di gunakan untuk resepsi prrnikahan mereka, ia berjalan menuju dan melihat-lihat rak sepatu pria,
Setelah melihat-lihat akhirnya ia menemukan sepatu kulit berkualitas tinggi yang berada dalam rak khusus,meski dengan harga yang cukup fantastis namun itu tak masalah lagi bagi Tari, karna saat ini kehidupanya, berbeda sekali dengan kehidupanya yang sebelum ini.
"Mbak tolong lihat sepatu yang itu, "ucap Tari sambil menunjuk sepatu incaranya.
__ADS_1
"Sebentar ya mbak, etalasenya di kunci,.karna sepatu yang ada di sini itu sepatu kualitas tinggi dan hanya di impor dua pasang setiap bulan saja," ucap pelayan toko, kemudian ia pergi ke meja kasir dan kembali lagi setelah beberapa saat.
Beberapa saat kemudian wanita tersebut kembali dan membuka kunci etalase, meski sudah di kunci, namun sepatu tersebut hanya di pajang sebelah saja.
Tari meraih sepatu yang di inginkanya dan langsung tertarik saat melihat dan menilik sepatu tersebut
Saat ini Tari memegang kartu unlimited, ia bisa membeli apa saja dengan kartu ajaib itu.
Saat sedang menanyakan pasangan sepatu tersebut kepada pelayan toko, Romeo yang sudah sibuk mencari keberadaan Tari langsung menghampirinya.
karna toko tersebut sangat luas dengan sekat sekat rak dan etalase tempat penyimpanan sepatu.
Romeo yang merasa sulit untuk menemukan Tari,ia pun melihat monitor cctv yang ada di meja kasir untuk menemukan keberadaanya.
"Ah ternyata loh di sini Tar," dengus Romeo.
Hm, tersenyum kearah Romeo, "Kenapa loh takut kehilangan gue," sahut Tari spontan.
"Baru saja sebentar gue tinggalin, udah panik saja," seroloh Tari kemudian sambil tersenyum simpul kearah Romeo.
"Ehm Ngak juga sih," cetus Romeo sambil memanyunkan sedikit bibirnya.
"Lo kenapa ada di sini Tar, ini kan Rak khusus sepatu cowok ?" tanya Romeo mengulangi pertanyaannya.
"Ehm gue beli sepatu ini Rom, untuk loh pakai saat resepsi kita nanti," ucap Tari yang memperlihatkan sepasang sepatu kulit impor dengan harga mendekati Dua puluh juta tersebut.
Romeo melihat sepatu yang di tenteng Tari dengan mengerutkan dahi.
Ia meraih sepatu tersebut dan melihat nominal yang tertera pada lebel harganya.
Mata Romeo mebulat sempurna saat melihat harga fantastatis untuk sebuah alas kaki tersebut.
"Gila,.ini mahal baget buat gue!, sepatu loh tiga pasang saja ngak setara sama sepatu ini, loh mau meledek gue?! tanya Romeo yang sedikit tersinggung.
"Gue ngak maulah."
Romeo pun berlalu begitu saja dari tari setelah menyerahkan sepatu tersebut ke penjaga toko yang berdiri di dekat mereka.
Tari sedikit kaget melihat reaksi Romeo.
"Mbak sepatunya jadi ngak? "Tanya pelayan toko tersebut yang menghentikan langkah kaki Tari.
"Bentar ya mbak, bujuk orangnya dulu," sahut Tari yang kemudian kembali mengejar Romeo.
"Rom, tunggu Rom! ucap Tari sambil menarik lengan Romeo agar dia berhenti.
Romeo tetap tetap berjalan seraya meraih paper bag yang ada di meja kasir.
"Rom, please Rom, sumpah Rom gue ngak ada maksud apa-apa Rom, "ucap Tari panik ketika Romeo terus berjalan tanpa memperdulikanya, hingga mereka keluar dari toko tersebut, tapi ia tak menyerah dan terus mengejar Romeo yang berjalan semakin cepat.
"Rom, please!" Tari menyentak tangan Romeo lebih kuat dan kali ini Romeo berhenti.
Romeo memutar bola mata malasnya ketika wajahnya berhadapan dengan Tari.
"Rom, dengar penjelasan gue dulu Rom, sungguh gue ngak pernah niat membandingkan antara pemberian loh dan apa yang akan gue berikan pada loh Rom."
"Gue ngak pernah membandingkan sesuatu dengan materi Rom, apa yang gue berikan itu tulus , gue hanya ingin memberikan yang terbaik untuk loh, Rom, "ucap Tari yang kemudian menarik tangan Romeo.
"Rom, gue cinta sama lu dengan perasaan yang tulus, apa gue ngak boleh memberikan yang terbaik untuk loh , meski pun hanya bisa lewat materi?"tanya tari yang menghadap ke wajah Romeo langsung.
Tari menatap mata Romeo dengan berbinar, tapi Romeo membuang wajahnya.
"Gue tahu Tar, bokap gue ngak sekaya bokap loh, dan gue juga ngak bisa menghadiah kan loh barang-barang mewah," ucap Romeo tanpa menoleh kearah Tari.
"Tapi Rom, gue ngak pernah membandingkan loh, gue juga ngak pernah merasa gue berubah sedikit pun , meski gue sekarang tinggal bersama dengan orang tua yang memiliki kekayaan jauh lebih banyak dari orang tua gue sebelumnya, gue masih orang yang sama Rom, orang yang mencintai loh dengan tulus, "ucap Tari tanpa jeda.
Titik bening perlahan menetes di pipi mulus tanpa blush on tersebut.
"Gue bahkan rela meninggalkan kemewahan dan kekayaan yang di miliki keluarga gue dan memilih hidup sederhana bersama loh Rom setelah kita menikah nanti, gue juga akan makan dan pakai hanya dari nafkah yang loh berikan untuk gue sebagai istri Rom, " ucap Tari dengan tulus, air mata semakin deras menetes di pipinya.
Mendengar ucapan tulus Tari, Romeo yang awalnya memaling kan wajah, kini kembali menatap wajah sendu milik Tari.
Romeo perlahan menghapus titik air mata yang menetes di pipi Tari.
"Maafin gue ya Tar, guenya saja yang terlalu baper, "ucapnya lirih.
__ADS_1
Tari tersenyum dan langsung memeluk Romeo.
"Iya Rom, kalau lo ngak suka dan tersinggung, pasti gue ngak akan mengulanginya lagi, "ucap Tari dalam rangkulan Romeo.
"Iya Tar," sahut Romeo singkat, setelah beberapa saat mereka pun melepas kan pelukanya.
"Ya udah biar lo ngak baper lagi, gue traktir es krim aja deh," ucap Tari sambil tersenyum.
"Iya deh." Romeo menggangguk,.
Tari menggandeng mesra tangan Romeo berjalan menuju stan es krim.
Meski terlihat mesra, namun tak ada sepatah kata pun yang kembali keluar dari mulut mereka.
Saat akan menuruni tangga eskalator mereka berpapasan dengan Ranti, mantan pacar terakhir Romeo yang masih mengejar-ngejarnya sampai sekarang.
Melihat Romeo, Ranti langsung menghadang langkah keduanya.
"Romeo? Loh kenapa jalan sama Tari sih?.pakai gandengan lagi?! "Hardiknya.
Romeo menarik nafas panjang sambil memutar bola mata malasnya.
Sementara Tari memandang dengan tatapan sinis kearah Ranti.
"Eh Tar kenapa loh jalan sama cowok gue?"tanya Ranti yang tak mengetahui ikhwal ceritanya.
Meski mereka sudah putus, tapi Ranti beberapa kali ngajak Romeo untuk balikan dan tak mendapat respon apa pun dari Romeo.
"Eh denger ya Ran, Romeo sekarang pacar gue, bahkan kami berdua sekarang sudah bertunangan," sambar Tari menyahut pertanyaan Ranti, sambil memperlihatkan cincin yang ia dan Romeo kenakan.
"Apa? Ngak mungkin lah Romeo suka sama cewek jutek kayak loh, lagian loh kan pacarnya Aldi, atau mungkin karna loh udah ngak laku hingga loh merebut Romeo dari gue? Sarkas Ranti sambil menyilangkan kan kedua lengannya di atas perut.
"Sembarangan loh! " ucap Tari sambil berjalan mendekati Ranti, ia sudah menggabil posisi untuk menjambak rambut Ranti, namun tanganya di tahan oleh Romeo.
"Sudah Tar, ngak usah di ladeni, " ucap Romeo yang menarik tangan Tari dan merangkulnya untuk menjauhi Ranti.
Mata Ranti melotot melihat mantan pacarnya membela mantan musuh bebuyutanya.
Dengan bangga Tari menggandeng mesra lengan Romeo sambil memanyunkan bibirnya untuk memanasi Ranti.
Ranti melihat kepergian mereka dengan wajah yang kesal sekaligus malu.
Tari dan Romeo sampai di stand es krim dan memesan satu mangkok es krim untuk mereka berdua.
Obrolan ringan menemani mereka saat menyantap eskrim tersebut, setelah menghilangkan penatnya sejenak mereka kembali berburu barang hantaran kembali.
Hingga malam menerjab menutupi semesta, mereka baru keluar dari mall tersebut.
Letih mendera sekujur tubuh Tari, ia begitu senang karna telah menghabiskan waktunya berdua saja bersama Romeo.
Sepanjang perjalana tak ada omongan yang keluar dari mulut mereka,.keduanya terlihat sama- sama lelah karna hampir seharian pergi berburu barang untuk persiapan pernikahan mereka.
Setelah sampai di depan rumah Tari, ia pun turun dari mobil dengan hati yang berbunga-bunga.
"Gue seneng banget hari ini, ehm akhirnya rencana pernikahan gue menjadi nyata dan bukan lagi sebagai khayalan belaka, mesti beri tahu Aira nih, "gumanya bermonolog.
Tari melunjak kegirangan, ia pun buru buru menuju kamar Aira untuk menceritakan kejadian yang membuatnya bahagia saat ini.
Namun ketika membuka pintu kamar Aira yang tak terkunci itu, Tari hanya menemukan Aldi yang termangu di atas tempat tidur dengan menunduk dan menutup wajahnya denga telapak tangan..
"Di, mana Aira Di?"tanya Tari sambil duduk di samping Aldi, saat itu ia masih terlihat senang dan tak curiga sedikit pun.
"Di? lo kok diam aja sih Di? Aira mana?!" Tari mengulangi pertanyaanya, karna tak mendapat respon dari Aira
Aldi menggangkat wajahnya dan melirik kearah Tari.
Tari kaget ketika melihat Aldi yang terlihat seperti habis menangis.
"Lo kenapa Di?"tanya Tari dengan nada suara yang rendah, seketika wajahnya ikut sedih melihat Aldi yang bersedih.
"Aira Tar_" ucap Aldi.
Bersambung
jangan lupa dukunganya like, komen, viote nya ya.
__ADS_1
B