
Aira kaget ketika melihat kedatangan Edo dengan membawa beberapa parsel.
"Assalammualaikum," ucap Edo ketika tubuhnya berada di depan pintu.
"Waalaikum salam," sambut mang Ujang.
"Eh Pak Bupati, silahkan masuk Pak," sambut mang Ujang.
Dengan penuh percaya diri Edo, segera masuk kedalam rumah yang sederhana tersebut.
Saat itu Aira masih menggunakan daster, namun kecantikannya tak pudar sedikit pun.
Mang Ujang sedikit sungkan, karna yang ada di hadapannya saat itu adalah orang penting di daerahnya.
Kedua berbasa-basi memulai obrolan ringannya.
Setelah mengobrol beberapa menit, Edo segera menyatakan maksudnya untuk melamar Aira.
"Maaf Pak, kedatangan saya kemari untuk melamar Ryanti Alfaira, berikut saya bawa barang barang seserahan,"ucap Edo dengan percaya diri.
"Oh, kalau untuk urusan itu, saya tidak bisa menerima atau pun menolak, silahkan saja Bapak bertanya langsung pada yang bersangkutan," ujar mang Ujang dengan sopan.
Aira mendengar pembicaraan keduanya, Ia meletakan Alia di tempat tidurnya kemudian pergi keluar menemui Edo.
Melihat kedatangan Aira, Mang Ujang dan para ajudan Edo segera menyingkir dan membiarkan mereka bicara empat mata.
Aira duduk di hadapan Edo dengan anggun namun dengan wajah yang datar.
Edo tersenyum simpul, selangkah lagi ia bisa memiliki Aira, pikirnya.
Edo berdiri dan menghampiri Aira kemudian duduk di sampingnya.
"Ryanty, kedatangan ku kesini untuk melamar mu," ucap Edo dengan gugup.
"Apa masih kurang dua istri untuk mu Mas?"sahut Aira dengan ketus.
"Tapi Ryanti, bukannya kau tahu sejak dulu aku menyukai mu dan mencintaimu, sekarang apa salahnya jika aku melamar mu, bukannya kau sekarang seorang janda?" tanya Edo.
Aira memicingkan matanya melihat kearah Edo, "Aku memang janda Mas, tapi kau pria beristri, dan itu salah, "sanggah Aira.
__ADS_1
"Aira bukankah hukum islam memperboleh kan umatnya untuk berpoligami, dan selama ini aku sudah menjalankan poligami hampir dua tahun, kedua istri ku tetap akur," paparnya dengan sedikit memajukan tubuhnya melihat mimik wajah dari lawan jenisnya.
Aira masih terlihat datar pandangan matanya lurus kearah depan entah apa yang dipikirnya saat itu.
"Aku juga sudah ijin dengan istri-istri ku untuk bisa menikahi mu," terangnya lagi.
"Ryanti, aku akan menikahi mu secara sah, dengan demikian kau akan menjadi ibu Bupati." bujuk Edo.
Aira tetap diam sambil menatap sinis lelaki yang duduk di sampingnya.
Edo mengeluarkan cincinya," Lihatlah Ryanti, aku masih menyimpan cincin ini, berharap suatu saat kau aku bisa menyematkannya pada jari manis mu."
Edo menarik tangan Aira tanpa sungkan, dengan maksud menyematkan cincin tersebut, tapi langsung di tepis Aira.
"Mas aku bukan wanita yang haus jabatan, aku juga ngak mau jadi penyebab rusaknya rumah tangga mu! aku ngak mau menyakiti wanita lain! dan yang lebih penting aku tak mau di madu!"cetus Aira dengan tatapan sinis dan bibir mengkerucut.
"Baiklah jika kau tak mau dimadu, aku bersedia menceraikan kedua istri ku," ucap Edo yakin.
Aira menatap wajah Edo dengan mata yang memerah," Begitu mudahnya kau menceraikan istrimu yang telah memberi anak pada mu! apa kau tahu sakit dan sulitnya menggandung! apa kau tahu mas sakitnya saat melahirkan, apa kau tahu Mas , bagaimana pengorbanan seorang istri yang melahirkan anak-anaknya untuk mu! tega sekali kau menceraikan mereka hanya demi cinta di masa lalumu!" Mata Aira yang memerah kini berlinang air mata.
Aira mengatur napasnya, melihat Edo dengan tatapan nanarnya.
Edo menelan salivanya mendengar katakata dari Aira.
"Aku pernah menikam ayahmu mas karna melecehkan ku, dan aku tak ingin mengulanginya kepada mu, sebaiknya kau pergi dari sini," ucap Aira tegas seraya menunjuk kearah pintu keluar.
Edo terdiam sejenak, kemudian ia pun beranjak dari tempat duduknya dan pulang dengan membawa kegagalan.
Aira langsung masuk kedalam kamarnya, perlakuan Edo mengingatkannya dengan mantan suaminya yang dengan mudah mengucapkan kata cerai terdapnya.
Air pun kembali meneteskan air matanya, "Ternyata semua lelaki sama," dengus Aira.
Kabar di tolaknya lamaran pak Bupati menjadi tranding topik di daerah meteka.
Para pemuda yang awalnya ingin mempersunting Aira, harus berpikir masak-masak dan siap-siap kecewa.
Jika seorang yang memiliki kekuasaan dan kedudukan tinggi saja tidak di terima apalagi mereka.
Memangnya apa kurangnya dari seorang Edo, muda, kaya, tampan dan memiliki kekuasaan.
__ADS_1
Jika lelaki yang mendekati kata sempurna saja di tolak, apalagi mereka yang tidak setara sama sekali.
***
Waktu berlalu begitu cepat, kini Alia berusia tepat setahun.
Tak ada perayaan mewah yang mereka lakukan, hanya pembacaan doa selamat dan berbagi makanan kepada yayasan yatim piatu yang berada di sekitar kampung mereka.
Kini Alia menjadi gadis kecil yang cantik, sebagai ibu Aira terus berusaha merawat dan mengajarkan hal yang baru untuk Alia.
Alia kini sudah bisa berjalan dengan tertatih, ia juga sudah bisa mengucapkan kosakata tertentu.
Seperti mengucap kata bunda, Mbah maam dan sebagainya.
Setiap harinya Aira mengabadikan momennya bersama Alia dengan merekam dan memvideokannya.
Setiap momen berharga mulai dari Alia belajar tiarap, duduk dan berjalan.
Setelah memfoto Alia, ia juga mencetaknya double untuk setiap foto dan memasukannya di kedua album foto yang berbeda.
Suatu saat ia ingin memberi Aldi album tersebut, agar Aldi bisa melihat momen-momen penting yang terjadi pada anaknya.
Disaat Alia sedang aktif-aktifnya, Aira mendapat email dari instasi Akpol, karna tahun ini mereka menawarkan Aira untuk menjadi salah satu taruna di akademi tersebut.
Kebimbangan terus melanda Aira, jika ia menerima beasiswa tersebut, berarti ia harus menninggalkan Alia dan hanya enam bulan sekali baru bisa pulang.
Namun sebalik itu ada prestasi yang menunggunya di sana, cita-cita yang menjadi impian banyak orang kini justru terbuka lebar untuknya.
Hanya ada dua pilihan baginya, meninggalkan Alia dan masuk akademi polisi, atau tetap berada di sisinya.
Aira terus merenung memikirkannya ia pun berkonsultasi dengan simbok.
"Mbok, bagaimana ya, penerimaan taruna bintara telah terbuka, dan Aira mendapat undangan masuk untuk berkuliah disana, tapi Aira ragu untuk meninggalkan Alia," ungkap Aira.
"Menurut simbok, Non Aira ikut pendidikan saja, bukannya keluar dari sana Non Aira bisa menjadi salah satu perwira polisi."
"Untuk Alia si mbok dan mang ujang yang akan menjaganya, Alia sudah seperti cucu kami sendiri, Non Aira tak perlu khawatir."
"Kejar saja cita-cita Non Aira, Simbok dan Alia akan menunggu Non disini, jika Non sudah lulus dari sana, bukan kah itu akan suatu hal yang membanggakan untuk mbok, dan juga Alia,"saran Simbok.
__ADS_1
"Iya Mbok Aira akan pikirkan hal itu,"ucap Aira.
Bersambung, mohon dukungannya ya reader, like komen dan vote, hadiah juga boleh.