
Hari menujukan pukul sepuluh malam, Aldi melamun di tempat tidur, meski merasa lelah, namun matanya tak jua mau merapat, ia membayangkan betapa Aira kedingin tidur beralas ubin tanpa kasur, sedang dirinya berada dalam kamar yang luas dengan fasilitas maksimal.
Aldi meringkuk sembari menikmati hembusan angin malam, suasana dingin membuatnya bersandar dengan memeluk lututnya.
Hingga waktu menunjukan dini hari, namun matanya belum juga mampu terlelap,ia mencoba memaksakan diri agar bisa terlelap hingga menjelang subuh, akhirnya ia pun bisa terlelap sendiri.
Bias cahaya mentari tak mampu menembus jendela yang tertutupi oleh gorden berwarna kuning kentang tersebut, namun ketukan pintu seketika membuat Aldi tersadar dari buain mimpinya.
"Aldi "tok, tok, tok ketukan pintu membuat Aldi bergegas.
Iya mas, aku mandi dulu, sahutnya dari dalam kamar.
Aldi menuntaskan ritual mandinya, dan setelah berpakaian lengkap ia pun bergegas turun menemui Heru.
Aldi menarik kursi meja makan dan duduk berhadapan dengan Heru.
Melihat Aldi yang hanya termenung, Heru pun menyodorkan piring yang berisi roti yang sudah ia olesi selai, "Sarapan dulu Di," ucap Heru yang kemudian kembali menyodorkan susu coklatnya pada Aldi.
"Lagi ngak laper Mas," sahut Aldi dengan tatapan mata yang kosong.
"Aldi, kamu harus jaga kondisi tubuh kamu, karna kalau kamu sakit, siapa yang akan mengupaya hukum untuk Aira."
Aldi mengangguk tanganya meraih sepotong roti dengan selai kacang tersebut dan menyuap ke mulutnya.
"Jadi bagaimana hari ini Di, mas Akan ikut kamu kekantor polisi terlebih dahulu, siapa tahu kamu butuh bantuan untuk mencairkan dana jaminan untuk Aira."
"Iya Mas sebaiknya begitu, oh ya Mas bagaimana rencana pernikahan Mas dan Tari?"Tanya Aldi yang baru teringat jika rencana pernikahan tersebut tak lama lagi.
"Mas Heru sebenarnya ingin menggundur tanggalnya hingga masalah Aira selesai, tapi mama kamu tetap ngotot dengan rencana semula." sahut Heru sambil mengunyah makanan.
"Mama tuh memang egois, anak sendiri ada masalah bukanya bantuin, jenguk atau besuk Aira kek, nanyain kabar Aira juga enggak," dengus Aldi.
"Padahal semua ini tuh terjadi juga karna mama yang maksa aku untuk mengusir Aira," ucap Aldi dengan air mata yang mulai meleleh.
"Aku lagi sedih saja mama ngak perduli, istri ku keguguran aja mama ngak hirau, apa sih maunya," guman Aldi, ia pun menyapu air matanya.
"Ya sudalah Di, kita berangkat saja yuk, pak Hilman jam delapan sudah berada di kantor polisi." pungkas Heru.
Mereka pun melakukan pergerakan menuju garasi.
__ADS_1
***
Doni sedang mengangancing kemejanya, matanya melirik kearah ponsel saat mendengar panggilan masuk dari seseorang.
Dengan tangan kirinya ia meraih handphone dan menatap layar handphonenya tersebut.
"Nyokap Romeo?" Doni langsung menyambut panggilan tersebut.
"Hallo Ma," ucap Doni.
"Doni, Romeo ngak pulang lagi semalaman, kamu tahu ngak Romeo kemana, mama khawatir dia bikin ulah lagi Doni, jangan-jangan dia bawa kabur Aira lagi,"ucap Suci tanpa jeda.
"Kalau bawa Aira kabur lagi, kayaknya ngak mungkin Ma, Aira berada di penjara, mungkin Romeo berada di kantor polisi kali Ma, kemaren katanya mau menemani Aira di penjara,"ungkap Doni.
"Apa? bener-bener si Romeo ngak ada otaknya, aduh padahal dia sudah janji ngak akan gangguin Aira lagi Don." sangah Suci.
"Gini aja Ma, sebentar lagi Doni ke polsek, ntar kalau Romeo ada di sana, Doni langsung telpon Mama ya," pungkas Doni.
Doni kembali meletakan handphonenya ke atas nakas.
"Romeo, Romeo, kapan loh berhenti nyusahin gue, " seloroh Doni, ia pun tersenyum geli membayakan tabiat Romeo yang semakin hari semakin aneh saja.
Setelah membersih kan tubuh dengan ritual mandi di pagi hari, Aira pun merasa segar kembali, Aira membongkar isi tas untuk menemukan barang yang ia cari,, untung saja semua perlengkapan nya sudah ada di dalam koper, jadi ia tak harus menunggu Aldi datang untuk mengganti pakaianya dengan pakaian yang bersih.
Aira melihat Romeo yang masih tersandar di dinding yang terbuat dari jeruji besi, seulas senyum mekar di bibirnya, karna kehadiran Romeo yang menemaninya semalam, perasaan Aira sedikit tenang, Romeo memang selalu ada, saat dirinya merasa sendiri, merasa sedih, kehadiran Romeo mendapat tempat tersendiri di hatinya, begitu pun Romeo sesuatu tempat di relung hatinya hanya terukir oleh nama Aira, entah sampai kapan Aira akan lengser sebagai Ratu dalam singgahsana hatinya, meski Romeo dan Aira sadar mereka tak mungkin saling memiliki.
Aira mendekati Romeo, ia hendak membangunkannya, tapi urung, karna di lihatnya Romeo masih pulas tertidur, semalaman Romeo menjaganya, mengipasinya, dan menepak nyamuk yang akan hinggap di tubuhnya, kehadiranya di penjara sudah di persiapkanya dengan matang, bahkan di dalam ranselnya, ia sudah menyiapkan selimut dan lotion anti nyamuk dan beberapa cemilan dan minuman soda untuk mereka nikmati sambil mengobrol, tak ada lagi tangisan dan kesepian, hanya terdengar tawa dan canda saat mereka menghabiskan malam dengan ngobrol bersama.
Bagaimana ada orang yang rela berkorban sebesar itu untuk dirinya, padahal Romeo tahu sendiri jika dirinya hanya mencintai Aldi.
Kedatangan seorang di pagi hari menganget kan Aira.
"Rianty!" seru Edo memanggil Aira, seketika Aira sadar dari lamunanya.
"Mau apa kemari?" sergah Aira, ia pun mundur beberapa langkah.
Romeo tersadar saat Aira memekik ketakutan melihat kehadiran Edo.
"Rianty kamu tenang dulu, aku tak bermaksud menyakiti kamu, ucap Edo sembari mendekat hingga tubuhnya hampir menempel di diding jeruji tersebut.
__ADS_1
Romeo menerjabkan matanya dan bergegas bangkit saat ia melihat Aira seperti ketakutan.
"Aira kamu kenapa?" tanya Romeo yang langsung mendekati Aira.
"Rianty, kedatangan ku kesini bukan untuk mengintimidasi kamu, tapi untuk menguak fakta, apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan bapak ku," papar Edo.
Aira mulai melonggar, selama mengenal Edo, Edo memang tak pernah bersikaf kasar terhadapnya.
"Kemarilah Rianty, aku ingin bicara padamu, aku tak mungkin menyakiti mu, aku hanya ingin kau bicara dengan jujur," ujar Edo meyakinkan Aira.
Aira pun mendekat, dengan langkah pelan ia menghampiri Edo dan kini jarak mereka hanya sejengkal dengan tiang besi sebagai pembatas.
Romeo terus mengawasi keduanya seraya bersikaf waspada terhadap pergerakan Edo.
"Katakan Rianty, apa sebenarnya yang terjadi?kenapa kau tega menusuk bapak ku, padahal dia selalu bersikaf baik terhadap mu?" tanya Edo hati-hati.
Aira menelan salivanya, dengan hati yang mantap ia akan membeberkan siapa sebernarnya Retno itu kepada Edo.
"Memang benar Mas, Pak Retno selalu bersikaf baik, santun dan dermawan, tak hanya dengan Rianty tapi juga dengan teman-teman Rianty yang lainya, dan kebaikanya ternyata ada maksud yang tersembunyi, Retno adalah iblis yang bertopeng malaikat, ia memanfaat keluguan gadis-gadis remaja sebagai pemuas ***** bejat nya," papar Aira,
Sorot matanya tajam kearah Edo, seakan-akan ada dendam kesumat yang belum terbalaskan olehnya.
"Apa maksud kamu Rianty?" Tanya Edo sambil menyeritkan dahi.
"Asal tahu saja Mas, banyak teman Aira yang menjadi korban, salah satunya Sarah, Pak Retno membujuk Sarah agar melepas kegadisanya dengan imbalan uang lima juta dan sebuah handphone keluaran terbaru, dan dengan bodohnya Sarah mau melepaskan kegadisanya untuk pak Retno, karna Sarah sendiri memang begitu menginginkan handphone tersebut, di tambah dengan uang senilai lima juta, ia bisa membeli pakaian yang bagus, tas sepatu, tapi ternyata tak hanya sekali, bahkan hampir setiap hari Retno melampiaskan hasratnya tersebut kepada Sarah, hingga Sarah hamil di usia lima belas tahun," ungkap Aira dengan sesal.
"Setelah mengetahui dirinya hamil, Retno malah enggan menikahinya, malah menyaran kan agar Sarah menggugurkan kandunganya, Dan setelah bosan dengan Sarah, Pak Retno mendekati Rianty Mas, awalnya Rianty tak mengetahui niat buruk pak Retno dan tetap mengganggap nahwa pak Retno adalah manusia yang berhati malaikat, ia terus memberi Rianty baju baru, dan uang untuk jajan.
"Setelah mendengar curahan hati Sarah, Rianty baru menyadari maksud dari pak Retno sebenarnya, Rianty pun menjauh dari Retno, dan malangnya, Sarah meninggal setelah menggugurkan kandunganya dengan dukun beranak suruhan pak Retno."
"Rianty semakin takut, orang tua Sarah tak mengetahui jika Retnolah yang telah menghamili Sarah, mereka menyangka Sarah melakukanya dengan kekasihnya, dengan menyerupai sosok malaikat pak Retno berdalil akan mengungkap kasus tersebut kepada pihak keluarga Sarah, meski Rianty sendiri mengetahui semua kebusukan Retno, tapi Rianty takut untuk mengungkapkanya, dan ternyata bukan hanya Sarah, ada juga beberapa gadis belia yang rela menyerahkan kehormatanya karna iming-iming dan bujuk rayu pak Retno, ia sengaja mencari gadis dari keluarga miskin untuk di manfaatkanya, termasuk Rianty Mas, karna Rianty sendiri sudah mengetahui kebejatan pak Retno, Rianty mencoba menghindarinya, tapi Retno tak menyerah, ia sengaja menjebak bapak Aira agar berjudi dan meminjam uang pada pak Retno hingga puluhan juta, dan karna bapak tak mampu membayarnya maka ia meminta Rianty sebagai alat pembayar hutangnya, bapak pun memaksa Rianty unyuk menikah sirih dengan pak Retno, tapi Rianty menolak dan kabur," papar Aira dengan sedih, perasaanya terasa sakit saat mengungkap fakta tersebut kembali, seperti mengorek luka lama.
Edo tergaman, berkali-kali ia menelan salivanya antara percaya dan tidak, tapi jika melihat kondisi Aira saat itu, ia yakin Aira tak berbohong.
lalu apakah Edo akan mencabut tuntutanya terhadap Aira, episode selanjutnya ya, jangan lupa dukunganya ya, like, komen, vote dan bunga ya reader.
eh jangan skip dulu, udah mampir di novel yang satu ini belum. kisah seorang pelakor bernama jeje, tapi menurut jeje ia punya alasan tersendiri kenapa dirinya menjadi pelakor,🙊 shuuuut bakalan banyak adegan herundangnya reader, awas basah ya 🙌
Jerat Cinta Jessica
__ADS_1