Kenapa Harus Menikah Dengan Mu

Kenapa Harus Menikah Dengan Mu
Bertemu camer


__ADS_3

Keluarga Romeo sedang menikmati makan malam keluarga, selain kedua orang tuanya, Romeo, Nadira dan Igun juga ada di sana, mereka sangat jarang berkumpul bersama, apalagi Romeo, ia selalu sibuk dengan urusanya dan konten-kinten yang ia buat bersama Doni.


Makan malam saat ini, begitu istimewa karna, hari ini mereka akan membicarakan pernikahan antara Nadira dan Igun.


"Gun, bulan depan Nadira sudah wisuda, rencana nya Om akan mempercepat pernikahan kalian, bagaimana menurut mu?" tanya Om Hendro.


Igun mengangguk pertanda setuju, meski sebenarnya ia keberatan jika pernikahan mereka di percepat.


"Saya terserah Om saja, yang mana baiknya," jawab Igun.


"Iya Pah, sebaiknya begitu, karna kalau tidak, Kak Igun bisa kecantol sama salah satu pasien rumah sakit jiwa," sahut Romeo sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


"Ha, pasien rumah sakit jiwa ? emang ada orang yang kecantol dengan orang gila?" tanya Om Hendri.


"Ada lah Pah, buktinya Kak Igun, ia mesra-mesraan sama salah satu pasien di sana," tambah Romeo dengan santai.


"Apa benar begitu Gun? jangan-jangan karna sering bertemu dan mengobati orang gila, kamu keturan gila lagi," cetus nya sambil tertawa kecil.


"Ngak kok Om, pasien itu ngak gila, cuma mengalami trauma berat, dia Igun temukan di pinggi jalan, sedang meringkuk dengan berbagai luka, saat di dekati, ia ketakutan makanya dia langsung Igun bawa ke rumah sakit, dan setelah beberapa kali konsultasi dengan fisikiater, perlahan keadaanya pun membaik, Igun hanya ingin melakukan pendekatan saja, karna ia trauma jika melihat laki-laki mendekatinya," papar Igun.


"Hati-hati loh Gun, kamu juga ngak boleh terlalu akrab dengannya, bisa-bisa ia ketergantungan dengan mu," papar tante Yeni.


"Iya Kak Gun, trauma cinta itu lebih sulit mengobatinya, kan kasihan si Aira, kalau terlanjur cinta sama Kak Gun," tambah Romeo.


"Kok kamu tahu namanya segala Rom? jangan-jangan kamu yang suka sama dia ?" sahut Nadira, berusaha membela Igun.


"Ihs..., ngak level tuturnya," ia pun berdiri dan meninggalkan mereka semua.


"Pa, akhir-akhir ini Romeo tuh aneh, ia seperti menghindari kita, dan mobil Papa katanya masih di bengkel, tapi saat Mama desak mau mengeluarkan mobil itu dari bengkel, Romeo malah marah-marah sama Mama, Pa."


"Ah paling juga di gadaikan atau sudah di jualnya, Mama sih selalu memanjakan Romeo." Om Hendiri.


Romeo masih binggung bagaimana caranya agar ia mengatakan pada Papa dan Mamanya, jika mobil mereka sudah di jual, akibat kalah taruhan.


"Aduh gue harus bagaimana nih, belum lagi si Aldi nantangin gue, kalau sampai gue ngak bisa ngeluarin Aira dari rumah sakit jiwa, Ya Tuhan, tolongin gue, kali ini saja," katanya pada diri sendiri.


"Hus, besok gue harus ngajak Aldi menemui Aira, masalah ini harus cepat selesai, bisa gila gue, "


Keesokan hari nya.


Seorang pria datang membawa berkas-berkas di dalam amplok besar berwarna coklat, pria tersebut menklaim bahwa Aira adalah putri kandung nya.

__ADS_1


Ia pun bermaksud ingin membawa Aira keluar dari tempat itu, karna semua dokumen dan akta kelahiran Aira, ada di tangganya, bukti tertulis memang menunjukan bahwa ia adalah ayah kandung Aira


Igun membawa Aira menemui lelaki itu, tapi saat Aira melihatnya, Aira justru ketakutan, ia pun memeluk erat Igun dari belakang.


"Tenang Aira, kamu kenal dia ?" tanya Igun.


"Aira hanya mengangguk dengan takut, Igun menggenggam erat tangan Aira," Aira, jawab dengan jujur siapa lelaki ini?" tanya nya hati-hati.


Aira masih takut, ia tak menjawab pertanyaan Igun, tapi Igun kembali mempertanyakan hal yang sama.


"Ayo Aira, Aira jawab dengan jujur, siapa laki-laki ini ?" tanya Igun.


"Bapak Aira," jawab nya.


Laki-laki itu tersenyum puas.


"Tuh kan Aira ini anak kandung saya, ayo kita pulang Aira," ajaknya.


Tapi Aira tidak mau, ia menggelengkan kepalanya sambil menangis.


Saat tegang seperti itu, trio rusuh datang menemui Igun, siapa lagi kalau bukan Romeo, Aldi dan Doni.


Melihat Igun, di sebuah ruangan, tanpa basa-basi mereka masuk keruangan itu, tanpa permisi.


"Hai Aira," sapa Romeo sok ramah.


"Kalian kok kenal sama Aira, kalian siapa ?" tanya Pria yang ada di hadapan mereka.


"Oh ini dia calon suaminya Aira," ucap Romeo sambil menepuk pundak Aldi.


"Eh..., sembarangan loh," sahut Aldi.


"Udah Di, lo ngaku saja, kedangan teman saya ke sini untuk melamar Aira," ujar Romeo santai, ia tak mengira jika Pria yang ada di hadapanya itu, adalah Ayah kandung Aira.


"Mau melamar anak saya?" tak hanya lelaki yang ada di hadapanya yang kaget, tapi juga Igun.


"Ha..., "Mereka kaget, karna tak menyangka jika lekaki tersebut ayah dari Aira, niat mereka tadi hanya bercanda.


Kebetulan ada bapak nya Aira, sekalian gue gab lo Di, mampus lo, lo kawinin tuh Sira atau lo serahin mobil lo ke gue, batin Romeo.


"Tuh Di, kebetulan ada bokapnya, lo ngomong sendiri kalau loh cinta sama Aira dan pingin nikahin dia," sahut Romeo.

__ADS_1


Sialan Romeo, gue belum ambil keputusan eh melutnya sudah cerocos duluan, batin Aldi.


Sementara, lelaki itu, hanya terpaku menatap ke tiga pria tersebut.


"Apa kalian serius ingin menikahi putri ku?" tanya lelaki itu.


Belum Aldi menjawab, Romeo sudah menyahut.


"Tentu serius Pak, teman saya ini hanya malu, bapak tenang saja, Aldi ini, anak orang kaya dan terpandang di kota ini, jadi sudah tentu dia bisa membahagiakan putri bapak," sahut Romeo.


Wah, menarik, jika anak muda ini menikahi Aira, aku bisa minta mahar yang besar,dan aku tak perlu susah payah memaksa Aira untuk menjajakan tubuhnya, batin Pria ini.


"Kalau begitu, jika memang kamu ingin menikahi putri saya, silahkan datang ke alamat ini, dan kita bicarakan di rumah saya saja, sementara saya harus mengurus surat menyurat, untuk mengeluarkan Aira dari tempat ini," tuturnya ia pun berlalu.


Sementara Aldi hanya terbengong, ia sendiri tak tahu harus bagaimana.


Igun berdiri, ia menggenggam erat tangan Aira.


"Aldi apa benar kamu ingin menikahi Aira?" tanya nya dengan geram.


"Iya Kak, " jawab Aldi dengan gugup, jika ia tak memilih Aira, maka ia harus merelakan mobil lamborgininya.


Lagi pula, ayah Aira sepertinya tidak keberatan, dan Aira juga seperti gampang diatur dan mudah di kendali kan.


Banyak keuntungan bagi Aldi jika ia menikahi Aira, pertama Aldi sudah memenuhi syarat dari kontrak taruhannya, sehingga mobilnya akan aman, dan yang kedua, Papa Aldi pernah berjanji, akan membagi warisan secara adil antara ia dan Heru, jika Aldi sudah menikah, dan yang ke tiga, ia akan tetap bebas, seperti bujangan saat ia menikahi Aira, Aira hanya akan jadi pajanganya, dan ia akan bebas kencan dengan wanita nana pun yang ia sukai, mengingat Aira masih terlalu lugu dan gampang untuk di bohongi.


Come on Aldi, tunggu apalagi, batinya senang.


please


๐ŸŽlike


๐ŸŽkomen


dan vote


๐ŸŽhadiah juga boleh.


agar author semangat up nya.๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†


Mampir juga di karya author lainya dengan judul : ketika takdir menyatukan aku dan mereka.

__ADS_1



__ADS_2