
Malam sebelumnya.
Keluarga Hadi berkumpul di ruang tenggah untuk membicarakan lamaran untuk Tari.
"Kali ini kamu ngak boleh menolak Rom, mama sama papa sudah sepakat untuk mempercepat pernikahan kamu!" Suci.
Romeo menatap tajam kearah lawan bicaranya, "Mama kok jadi suka ngatur seperti ini sih?!"
"Mama ngak akan ngatur atau ikut campur dengan kehidupan kamu Rom,seandainya saja kamu bisa menjadi anak yang baik, kamu sadar Rom, apa yang sudah kamu lakukan! Kamu Mama beri kebebasan malah kebablasan, Mama beri kamu mobil, kamu pakai untuk taruhan, mama beri kamu uang yang banyak, kamu ngak bisa menyimpan dan mama beri kamu jodoh yang baik, kamu malah bawa kabur istri orang, mama bawa kamu ke pesantren biar kamu tobat, kamu malah kabur, Mama sudah ngak tahu bagaimana caranya untuk mendidik kamu Rom! " cecar Suci.
"Romeo ngak mau Ma!" teriaknya sambil berlalu dari Suci, Romeo berjalan cepat menuju garasi dan masuk kedalam mobil.
"Rom kamu mau kemana?!" Teriak Susi yang melihat Romeo memutar mobilnya untuk dapat keluar dari tempat tersebut.
Brum suara kasar mobil meninggalkan garasi.
Susi hanya bisa menepak jidatnya melihat kelakuan putranya tersebut.
Mobil Romeo melaju di atas permukaan jalan beraspal, dengan pikiran yang melayang entah kemana, Romeo melajukan mobilnya, ia sendiri belum punya tujuan kemana arahnya.
Romeo pun memutar jalan melewati jalan yang biasa ia tempuh menuju bengkel.
Butuh sepuluh menit untuk sampai, sesampainya di sana ia langsung di sambut oleh Doni yang heran melihat Romeo yang menghampirinya.
"Tumben banget loh datang ke sini malam-malam, setahu gue, sejak loh putus cinta,
lo jadi anak rumahan," hehe cetus Doni dengan tertawa terkekeh.
Romeo keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil dengan keras.
"Kenapa loh Rom?" tanya Doni yang melihat wajah cemberut Romeo.
"Biasalah nyokap gue, mau ngejodohin gue lagi, huh" dengusnya, ia pun duduk di samping Doni.
"Ha ha, lo kayak ngak laku aja Rom, di lempar sana sini, ya sudahlah tinggal nurut saja gitu kok ribet."
"Enak banget loh ngomong ya, gue belum siap aja," sahut Romeo.
"Loh bukan belum siap Rom, gue rasa ada sesuatu yang lo tunggu hingga loh ngak mau buka hati loh untuk orang lain." Ujar Doni sambil melirik kearah Romeo.
Romeo menundukan kepalanya, "Kok loh tahu sih Don?"tanya Romeo dengan lirih.
"Ya tahu lah, lo kan belum pernah seperti ini sebelum nya."
"Apa sih Rom yang loh tunggu?" tanya Doni dengan wajah yang serius.
Romeo tak menjawab, ia hanya menatap wajah Doni sebentar kemudian memalingkan nya kembali, sembari menghempaskan nafasnya dengan kasar.
"Mungkin menurut sebagian orang ini tuh lebay Don, terlalu berlebihan, tapi emang seperti itu kenyataanya, gue masih berharap Aira menepati janjinya, setelah setahun pernikahannya dengan Aldi, dia akan kembali sama gue, "sahut Romeo lirih.
Doni menarik nafas panjang dan menghempaskanya, menatap lekat kearah lawan bicaranya.
"Lo berharap mereka berpisah?" tanya Doni meyakinkan.
Romeo terdiam ia pun menundukan wajahnya," Gue ngak yakin saja sama Aldi Don, bagaimana jika suatu saat Aldi kembali menyakiti Aira? Dan meninggalkan nya? Gue ngak yakin Aldi bisa jadi suami yang setia, Aldi itu punya segalanya, ganteng, muda, dan kaya raya,dia pewaris tunggal dari mamanya, juga salah satu pewaris dari bokapnya, dia bisa mendapatkan wanita mana pun yang ia mau, dan pasti banyak wanita yang akan merebutnya dari Aira, apalagi loh tahu sendirikan Aldi orangnya mudah tergoda," papar Romeo.
"Gue ngak mau aja saat Aira butuh seseorang untuk menjaga dan melindungi dia, saat itu gue ngak bisa, karna gue sudah memiliki pasangan hidup,"imbuhnya sambil menatap wajah Doni.
"Tapi sampai kapan Rom? Lo jangan jadi orang yang egois, orang tua loh juga pasti ingin melihat loh bahagia, punya istri dan anak, ya menurut gue jalani aja apa adanya, toh semua Tuhan yang ngatur," ujar Doni memberi nasehat sambil menepuk-nepuk pundak Romeo.
Romeo mengusap wajah kasarnya, "Lo tahu ngak Don? gue mau di jodohin sama siapa?"
"Siapa?" Doni bertanya balik.
"Sama Tari Don,." pungkas nya sambil menarik nafas berat dan menghempaskanya.
"Tari? hehe ternyata dunia tak lebih lebar dari daun kelor ya," Doni pun tertawa terkekeh.
"Ah sudalah, gue numpang nginap di sini ya, gue malas untuk pulang." Romeo bangkit dan langsung menuju lantai dua kamar Doni.
Doni menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu, ia pun menyusul Romeo.
***
Pagi harinya Romeo terbangun, hari sudah menunjukan pukul delapan pagi, kepalanya terasa sakit karna tak terbiasa bangun siang, karna tadi malam ia baru tidur menjelang subuh.
Setelah menerjabkan matanya, ia pun bangkit kemudian meliuk kan pinggang nya dengan senam yang ringan.
Romeo meraih handphonenya karna melihat ada panggilan masuk, senyum mendadak terkembang di wajahnya, ia pun bangkit dan menuju kamar mandi.
Setelah siap dengan stelan kaos dan celana pendek bewarna coklat, ia pun segera turun untuk menemui Doni yang sudah berada di bengkel.
__ADS_1
"Don, gue cabut ya!" ucapnya sambil melambaikan tangan kearah Doni.
"Mau kemana loh?" tanya Doni.
"Ada deh," sahutnya dengan hati yang senang, ia pun masuk kedalam mobil.
***
Aira dan Tari sudah berada di dalam mobil,
Aira tersenyum menatap Tari sejenak, tapi Tari membuang wajahnya menatap keluar jendela, ia merasa heran bagaimana bisa gadis sepolos Aira, bisa menaklukan 2 playboy sekaligus, sekelas Aldi dan Romeo.
"Mbak Tari kenapa sih? kok senyum-senyum sendiri?" tanya Aira.
Tari memperlebar senyumnya, "Aku heran aja Aira, gadis seperti kamu bisa menjadi pawang dua buaya darat itu."
"Maksudnya apa?"tanya Aira tak mengerti.
"Udah deh, otak loh memang lemot." sergah Tari bercanda.
Aira memanyunkan bibirnya, setelah perjalanan setegah jam mereka pun sampai.
Mobil berhenti di sebuah Taman pinggir kota.
"Mbak Tari tunggu di sini saja ya, kalau bang Romeo datang, nanti Aira rekam obrolan kami, biar ngak salah paham," ucap Aira seraya membuka pintu mobil.
"Iya lo jangan genit-genit ya sama calon laki gue, awas loh," ancam Tari dengan menunjukan kepalan tanganya.
"Cih...calon laki, udah ngebet banget kayaknya, hehe, tenang aja, tapi kalau Aira khilaf maafin ya, abisnya bang Romeo menggemeskan sih," sahutnya Aira sambil tertawa terkekeh.
"Ish awas loh, gue telpon Aldi kalau lo macem-macem."
"Telpon aja, Aira ngak takut kok, paling rencana kita batal, dan bang Romeo bakalan di ambil cewek lain." Aira semakin memanasi Tari.
"Iya iya deh, dah sana loh pergi! selesaikan urusan loh dengan baik,"ucap Tari sambil menutup pintu mobil, ia pun masuk kembali ke dalam mobil guna mengawasi gerak gerik Aira dari kejauhan.
Aira berjalan menuju bangku yang ada di taman tersebut. meski hari cerah namun karna pohonya yang rindang, bangku tersebut jadi tempat yang pas untuk menunggu seseorang.
Aira duduk di kursi tersebut, untuk menghilangkan kejenuhanya, ia pun merogoh saku tasnya untuk mendapatkan handphone.
Tapi saat ia sedang menatap layar handphonenya, ia di kejutkan dengan seseorang yang menutup maranya, Aira menghirup aroma dari parfum yang ia kenal, seketika ia menebak dan menyebutkan nama orang tersebut.
Romeo melepaskan telapak tanganya yang menutupi mata Aira, ia pun duduk di samping Aira sambil melempar senyum.
"Hai Aira, ada apa nih?.kok tiba-tiba ngajak abang ketemuan?.kangen ya?"
Aira tersenyum simpul, jujur saja ia memang kangen dengan Romeo.
"Iya bang kangen," sahut Aira polos.
"Kalau gitu sini peluk abang." Romeo merentangkan tanganya.
"Ish, memangnya kalau kangen harus pelukan ya bang? ngak lah."
"Trus kita ngapain enaknya, biar bisa hilang kangen nya?" tanya Romeo yang memandang lekat wajah Aira.
"Kita ngobrol aja bang," jawab Aira.
Romeo tersenyum kembali sambil terus memandang wajah Aira, hingga membuat Aira malu dan menundukan kepalanya.
"Kamu makin cantik saja Aira," cetus Romeo menatap Aira dengan berbinar.
"Aira jadi malu bang, ngomong yang lain aja deh," kilahnya.
"Mau ngomong apa ya? bilang kangen udah, bilang cantik juga sudah, kalau bilang sayang boleh ngak ya? seloroh Romeo sambil nyengir.
Aira tersipu mendengar ucapan Romeo yang terdengar lucu.
"Hehe, ngak kok bang, Aira juga sayang sama abang, " sahut Aira dengan tersipu.
Perasaan Romeo berbunga-bunga saat Aira mengucapkan hal tersebut.
"Masak sih?" Romeo jadi baper.
"Iya, masak abang ngak percaya sih?" ucapnya dengan nada manja.
"Percaya kok," sambil mencubit pipi Aira, kedua nya pun saling melempar senyum
kemudian mereka menundukan kepalanya masing masing, sejenak suasana menjadi hening,
Melihat Romeo yang diam, Aira meraih tangganya dan menggenggam tangan Romeo," Bang boleh kah Aira meminta satu permintaan ? tanya Aira.
__ADS_1
Romeo tersenyum ia semakin mendekati Aira, hingga wajah mereka semakin dekat.
"Tentu saja, Aira mau minta apa? Bulan bintang atau matahari?" Tanya Romeo yang memulai gombalanya.
"Ish abang, Aira tak akan meminta sesuatu yang tak sanggup abang berikan," ucapnya sambil memukul pelan dada Romeo ia pun tersenyum, kata-kata Romeo memang mampu membuatnya salah tingkah.
"Siapa bilang abang tak mampu, bahkan yang lebih berat dari itu, abang sanggup melakukanya untuk kamu," ucap Romeo dengan mata yang tak lekang menatap manik mata Aira.
"Oh ya? Emangnya apa yang lebih berat dari membawakan bintang dan bulan untuk Aira? Tanya Aira tersipu, Aira harus bisa menahan rasa gugupnya karna tatapan sendu milik Romeo.
"Yang lebih berat dari semua itu, adalah melepaskan mu, untuk bersama dengan yang lain, " ucap Romeo tegas.
Aira tersipu malu,
Deg deg ..jantung Aira memompa kencang seiring lajunya aliran darah yang membuatnya seperti kehilangan arah.
Sungguh kata-kata tersebut hampir saja membuatnya lupa dengan bumi yang sedang ia pijak atau langit yang sedang ia junjung.
Sebuah ungkapan yang membuatnya merasa begitu bearti, tapi hatinya telah memilih untuk tetap setia pada pasangannya.
Aira menelan salivanya, seketika ia menjadi gerogi, ia coba untuk membuang pandanganya agar tak menatap manik indah dari netra pria tampan dan romantis di hadapanya.
Romeo tersenyum ketika melihat gelagat Aira yang telah di buatnya salah tinggah.
Untuk mempersingkat waktu Aira pun menarik nafas sambil mengaitkan rambut nya di belakan daun telinga.
"Ayo kamu mau minta apa?"tanya Romeo
Aira menggigit pelan bibir bagian bawahnya.
"Aira...Aira minta abang bisa membuka hati untuk Mbak tari bang," ujarnya sambil menatap mata Romeo.
Romeo tersenyum sejenak kemudian tertawa kecil.
"Siapa yang menyuruhmu meminta itu pada ku Aira?" Senyum Romeo menyeringai.
"Ehm enggak ada yang menyuruh Bang, semua ini atas inisiatif Aira sendiri Bang," jawab Aira gelagapan.
Romeo diam sejenak, ia mengalihkan pandanganya ketempat berbeda.
"Aku tak bisa Aira, jujur saja abang masih menunggu mu Aira, kau ingat kita pernah berjanji, setelah setahun pernikahan mu dengan Aldi, kau akan kembali bersama dengan ku, kau ingat kan Aira kita sama-sama berjanji pada malam itu?"
Romeo kembali menatap mata Aira, seolah ingin menginginkan jawabannya.
Aira tergaman mendengar kata-kata Romeo matanya membulat dengan sempurna, ia pun mengatur nafas agar tetap tenang saat bicara pada Romeo.
"Tapi keadaan saat itu berbeda dengan saat ini Bang, saat itu Aira tak mencintai mas Aldi, tapi sekarang kami sudah saling mencintai dan berjanji akan menjaga pernikahan kami, meski seperti apa pun hebatnya badai yang akan menghantam rumah tangga kami, kami akan melaluinya bersama, Mas Aldi adalah pangeran yang selalu Aira impikan selama ini, dan Aira sangat bahagia hidup bersama dengan nya saat ini, bahkan ... sekarang Aira merasa ngak akan bisa hidup tanpa mas Aldi," papar Aira dengan mata yang berkaca-kaca.
Romeo melihat kembali kearah Aira, bulir bening pun menetes di kedua pipinya.
"Aku merasa heran kenapa orang mudah sekali untuk mengucap janji, tapi lebih mudah untuk mengingkarinya, jika saja aku tahu saat itu akan mengingkarinya, maka harusnya aku tak melepaskan mu menikah dengannya Aira, Aku sudah mencoba tapi tetap tak bisa melupakan mu," ucap Romeo lirih, ia menundukan wajahnya sambil menghapus titik Air mata yang perlahan menetes kembali di pipinya.
Romeo bukan type pria cengeng, tapi jika mengena di hatinya ia juga bisa menangis.
Aira kembali menelan salivanya sambil kembali menatap mata Romeo, "Maaf Bang, Aira tak sengaja menyakiti Abang, terima kasih, karna selama ini abang selalu ada untuk Aira, kini Aira sudah menemukan kebahagian Aira bersama Mas Aldi dan Aira juga ingin Abang merasa bahagia bang," ucap Aira.
"Bang, Aira minta Abang bisa menerima mbak Tari, Aira tahu persis bagaimana perasaan mbak Tari terhadap Abang, mbak Tari sangat mencintai abang, " tutur Aira sambil meraih tangan kanan Romeo dan menakupnya dengan kedua tangannya.
Romeo terdiam, melihat Aira yang begitu mengharap padanya.
"Tolonglah bang demi Aira, demi mbak Tari dan untuk abang sendiri, Aira ingin kita menjadi saudara Bang," ucap Aira mengiba sambil mencium punggung tangan Romeo dan kembali menakup dengan kedua telap tanganya.
Romeo menatap mata sendu Aira dengan lekat, melihat keinginan Aira yang begitu kuat, ia seolah tak mampu untuk menolaknya.
"Baik lah Aira, jika Aira merasa bahagia apa pun akan abang lakukan," ucap Romeo
"Beneran bang!" ucap Aira senang, ia pun tanpa sadar melompat dan memeluk Romeo, tentu saja tubuh Aira langsung di sambut Romeo dengan bahagia, Romeo melepaskan rasa rindu yang selalu menghantuinya, ia pun memeluk Aira dengan penuh perasaan, Romeo medekapnya dengan penuh perasaan dan cintanya, menumpahkan segala rasa yang sudah lama terpendam, ia menikmati kehangatan yang di berikan oleh orang yang ia cintai detik-demi detik yang mengalir begitu saja dalam dekapan Aira, Romeo menutup matanya sejenak, untuk merasakan perasaan rindu dan rasa ingin memilikinya pada Aira, semua terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan, dan ia tak ingin tersadar dari mimpi tersebut, namun Romeo kembali tersadar saat ia merasa seseorang menarik tubuhnya dan langsung menghempaskanya ke bawah.
Buk..., Akh, Romeo menyeringai saat merasakan pukulan seseorang mendarat di wajahnya.
"Abang!" teriak Aira.
mohon dukunganya ya reader yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong hehe.
Like
komen
vote
hadiah.
__ADS_1